Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 27 Agustus 2026

Kultum — "Berani Bilang: Saya Belum Tahu"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini timeline kita ramai oleh orang-orang yang tampil sangat yakin — yakin soal siapa yang salah dalam kasus kampus yang lagi ramai, yakin soal siapa yang pantas disalahkan dalam urusan guru dan gaji, yakin soal banyak hal yang sebetulnya belum tentu mereka pahami betul. Malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sejenak dari kepastian itu, dan bicara tentang satu kalimat yang justru semakin langka: "saya belum tahu."

Coba kita tanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita dengan tenang mengakui tidak tahu sesuatu, tanpa buru-buru menutupinya dengan opini asal supaya kelihatan tetap pintar? Rasanya makin jarang, ya. Media sosial membuat kita terbiasa harus selalu punya sikap, selalu punya komentar, seolah diam atau mengaku tidak tahu itu memalukan.

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-Alaq: 5)

Ayat pendek ini sebenarnya punya pesan yang cukup menampar kalau kita renungkan pelan-pelan: setiap kita, sehebat apa pun kelihatannya hari ini, memulai dari titik yang sama — tidak tahu. Ilmu itu pemberian, bukan bawaan lahir yang otomatis bikin kita berhak sok tahu tentang segalanya. Kalau Allah sendiri menggambarkan diri-Nya sebagai Yang mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya, artinya posisi kita sebagai manusia memang selalu di titik "belum tahu" lebih dulu, sebelum di titik "tahu."

Nah, ada satu kitab adab keilmuan klasik yang membahas persis soal ini, judulnya Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — adab bagi yang mengajar dan yang belajar. Salah satu bagiannya menulis begini:

لَا أَدْرِي نِصْفُ الْعِلْمِ

"Mengatakan 'aku tidak tahu' adalah setengah ilmu." Adab al-'Alim wa al-Muta'allim

Setengah ilmu, jamaah. Bukan aib, bukan kekurangan — setengah ilmu. Kitab ini bahkan mencatat bahwa Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, kalau seorang yang berilmu keliru lalu ia mengatakan "aku tidak tahu," maka ucapannya itu justru tepat. Coba renungkan logikanya: orang yang jujur mengaku tidak tahu, ilmunya lebih aman daripada orang yang sok tahu lalu keliru dan menyesatkan orang lain yang mempercayainya.

Sekarang mari kita tarik ke kabar yang sedang ramai pekan ini. Kabar tentang operasi tangkap tangan yang menyeret nama pucuk pimpinan sebuah kampus — kalau kita renungkan, salah satu akar dari kasus semacam ini seringkali adalah rasa terlalu yakin bahwa "aturan itu untuk orang lain, bukan untuk saya," "saya di posisi ini, saya yang paling tahu apa yang boleh dan tidak boleh." Rasa yakin berlebihan itu, kalau dibiarkan tumbuh di posisi yang punya kuasa, bisa menjelma jadi keberanian melanggar amanah. Sebaliknya, orang yang masih punya ruang untuk berkata "saya bisa salah, saya perlu diawasi, saya butuh orang lain mengoreksi saya" — biasanya justru lebih terjaga.

Begitu juga kabar tentang guru honorer dan status PPPK. Sering kita dengar komentar yang sangat yakin — "guru zaman sekarang kurang berjuang," atau sebaliknya "pemerintah tidak pernah peduli guru" — padahal berapa banyak dari kita yang benar-benar tahu detail kebijakan di baliknya sebelum ikut berkomentar keras? Bukan berarti kita dilarang bersikap. Tapi ada bedanya antara bersikap dengan tetap rendah hati mengakui yang belum kita ketahui, dengan bersikap sambil berpura-pura sudah paham semuanya.

Ada satu ajaran lain dari kitab yang sama yang juga pas untuk zaman kita: seorang pengajar dilarang berbicara di bidang yang tidak ia kuasai, apa pun alasannya — kitab ini menyebutnya sebagai "permainan dalam agama" kalau sampai terjadi. Adab al-'Alim wa al-Muta'allim Bayangkan kalau prinsip ini kita bawa ke linimasa kita sendiri — berapa banyak dari kita yang berkomentar panjang lebar soal hukum, soal kebijakan pendidikan, soal ekonomi, padahal kita sendiri belum pernah benar-benar mempelajarinya? Bukan berarti orang biasa dilarang bersuara. Tapi ada beda antara menyuarakan keresahan sebagai warga biasa, dengan berbicara seolah-olah ahli di bidang yang sama sekali belum pernah kita pelajari.

Jamaah, "la adri" — aku tidak tahu — ini juga jadi obat yang bagus untuk zaman penuh informasi yang belum tentu benar. Ketika ada kabar viral, ketika ada tuduhan yang beredar cepat sebelum jelas duduk perkaranya, sikap paling aman dan paling berilmu justru adalah menahan diri dari ikut menyebar sebelum kita benar-benar tahu. Rasanya lambat, kurang seru, tidak seheboh ikut menghakimi lebih dulu — tapi itulah setengah ilmu yang tadi kita bicarakan.

Maka pulang dari sini malam ini, saya ajak kita semua satu hal kecil saja: pekan ini, coba hitung berapa kali kita berhasil mengatakan "saya belum tahu, biar saya cari tahu dulu" — baik ke anak kita yang bertanya, ke rekan kerja yang berdiskusi, atau ke diri sendiri sebelum ikut berkomentar di media sosial. Bukan untuk membuat kita diam selamanya, tapi supaya ketika kita akhirnya bicara, yang keluar adalah sesuatu yang benar-benar kita ketahui, bukan sekadar supaya terdengar yakin.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang rendah hati terhadap ilmu — berani mengaku belum tahu, dan bersemangat mencari tahu dengan cara yang benar.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا صَادِقًا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan