الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبُيُوتَ سَكَنًا وَجَعَلَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ رَحِمَ أَهْلَهُ وَأَحْسَنَ إِلَى زَوْجِهِ وَوَلَدِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita satukan kembali niat untuk terus meningkatkan takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun: menjaga hubungan dengan orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
QS. Ar-Room: 21 — "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
Perhatikan bagaimana Allah menempatkan ayat ini di antara ayat-ayat kekuasaan-Nya yang lain — di antara penciptaan langit dan bumi, di antara perbedaan bahasa dan warna kulit manusia, disebutlah satu ayat tentang pasangan hidup. Ini bukan kebetulan, jamaah. Allah ingin kita menyadari bahwa ketenangan yang kita rasakan bersama pasangan — sesederhana apa pun bentuknya, secangkir teh yang disiapkan tanpa diminta, tawa kecil setelah hari yang berat — adalah bagian dari tanda kebesaran-Nya, setara dengan gunung yang menjulang dan lautan yang terbentang. Persoalannya, ayat ini ditutup dengan syarat: "bagi kaum yang berpikir." Tanda ini hanya terlihat oleh mereka yang mau merenungkannya. Bagi yang tidak pernah berhenti sejenak untuk mensyukurinya, pasangan hanya akan terasa sebagai rutinitas, bukan sebagai anugerah.
Jamaah yang dimuliakan Allah, rumah biasanya adalah ruang yang paling tertutup dari pandangan orang lain. Yang terjadi di dalamnya — kelelahan sepulang kerja, kesalahpahaman kecil, cara kita berbicara pada pasangan atau menjawab panggilan orang tua — jarang diketahui siapa pun selain penghuninya sendiri. Tapi pekan ini kita menyaksikan beberapa hal yang biasanya tersembunyi itu justru terangkat ke ruang terbuka.
Sebagian dari kita mendengar kabar tentang warga yang kehilangan uang karena tertipu — ada yang kehilangan jutaan rupiah lewat modus jual-beli akun aplikasi yang ternyata palsu, dengan pelaku yang terus berganti identitas agar tak terlacak. Yang menarik, mereka yang tertipu itu tidak memilih diam menanggung malu sendirian; mereka membagikan pengalamannya secara terbuka, memperingatkan tetangga di dunia maya agar tidak mengalami hal serupa. Kerugian pribadi diubah menjadi penjagaan bersama — sebuah naluri baik yang lahir dari pengalaman pahit.
Pekan ini kita juga mendengar kabar tentang kekeringan yang mulai mencekik sejumlah wilayah, memaksa keluarga menghitung ulang hal paling mendasar dalam hidup mereka: air bersih untuk minum, memasak, dan mandi. Rumah yang semestinya menjadi tempat paling nyaman, pekan ini menjadi tempat orang harus berhemat dan berhitung.
Dan pekan ini pula, ramai diperbincangkan kabar renggangnya sebuah rumah tangga milik seorang figur publik. Kita tidak perlu — dan tidak sepatutnya — ikut membahas detail rumah tangga orang lain yang tidak kita ketahui duduk perkaranya. Tapi kabar ini mengingatkan kita pada satu hal penting: rumah tangga yang tampak baik-baik saja dari luar, bisa saja sedang menanggung beban yang tidak terlihat siapa pun. Dan ketika beban itu akhirnya pecah ke permukaan, banyak orang lebih cepat berkomentar daripada mendoakan.
Kalau kita perhatikan baik-baik, jamaah, ketiga kabar ini sebenarnya punya benang yang sama: kepercayaan yang diuji dari berbagai arah sekaligus. Orang yang tertipu kehilangan kepercayaan pada orang asing yang mereka temui di dunia maya. Keluarga yang kesulitan air kehilangan kepastian bahwa kebutuhan paling dasar mereka akan terpenuhi. Dan rumah tangga yang jadi bahan obrolan publik itu, kehilangan sesuatu yang lebih halus: ruang privat untuk memperbaiki diri tanpa disaksikan orang banyak. Tiga bentuk kehilangan yang berbeda, tapi sama-sama mengarah pada satu pertanyaan besar: di tengah dunia yang membuat kepercayaan terasa makin mahal, di mana sebenarnya kita masih bisa berpijak dengan yakin?
Tiga kabar ini berbeda bentuknya, tapi menyentuh hal yang sama: rumah tangga kita, pekan ini, sedang diuji dari berbagai arah — oleh pihak yang tak bisa dipercaya, oleh kondisi yang di luar kendali kita, dan oleh sorotan orang lain yang menilai tanpa mengenal. Ayat yang baru kita baca menjawab semua itu dengan satu penegasan: Allah menciptakan pasangan kita bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai tanda kekuasaan-Nya — sebuah rancangan yang di dalamnya Dia sisipkan mawaddah dan rahmah, ketenangan dan kasih sayang. Tapi tanda ini, sebagaimana disebutkan di ujung ayat, hanya benar-benar dipahami oleh "kaum yang berpikir" — orang yang mau merenungkannya, bukan orang yang menganggapnya otomatis ada tanpa dirawat.
Maka izinkan saya mengajak kita semua merenungkan satu pertanyaan pada khutbah ini: dari mana sebenarnya kita mengukur kesalehan seseorang?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خُلقا، وخياركم خياركم لنسائهم"
Riyad as-Salihin 278 — "Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya."
Perhatikan baik-baik susunan hadits ini, jamaah. Rasulullah ﷺ tidak mengukur kesempurnaan iman seseorang dari panjangnya sujud yang terlihat orang, atau dari seberapa sering namanya disebut sebagai orang saleh di lingkungannya. Beliau mengukurnya dari akhlak — dan akhlak yang paling nyata ujiannya adalah akhlak kepada pasangan, di ruang yang paling tidak diawasi siapa pun. Ini adalah pengukuran yang sangat berbeda dari cara kita hari ini menilai kesalehan seseorang, yang sering kali berhenti pada apa yang tampak: seberapa rajin ia terlihat beribadah, seberapa santun ucapannya di ruang publik, seberapa baik citranya di media sosial. Padahal timbangan yang Rasulullah ﷺ ajarkan justru berlaku sebaliknya — timbangan yang paling jujur ada di rumah, di hadapan orang yang paling mengenal kita apa adanya.
Ini bukan berarti ibadah yang tampak tidak penting. Tapi hadits ini adalah pengingat keras bahwa ibadah yang tampak tidak boleh berdiri sendiri, terpisah dari akhlak yang tersembunyi. Ada orang yang sangat dermawan kepada orang asing tapi kasar kepada istrinya sendiri. Ada orang yang tekun di masjid tapi jarang benar-benar hadir untuk keluarganya di rumah. Rasulullah ﷺ mengoreksi cara pandang seperti ini: kesempurnaan iman diukur dari rumah, bukan dari panggung.
Di zaman kita hari ini, godaan untuk membangun citra di luar rumah jauh lebih besar daripada zaman mana pun sebelumnya. Kita bisa menyusun tampilan diri yang rapi di media sosial, memilih foto yang paling baik, kalimat yang paling bijak untuk dibagikan, bahkan konten dakwah yang paling menyentuh — sementara di rumah, nada bicara kita kepada pasangan bisa jadi jauh lebih kasar daripada nada yang kita pakai untuk menyapa orang asing di kolom komentar. Hadits ini menegur persis kecenderungan ini. Ukuran yang Rasulullah ﷺ ajarkan tidak bisa dipalsukan dengan pengaturan kamera atau pilihan kata yang bagus; ia hanya bisa dibuktikan di ruang yang tidak terekam sama sekali.
Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا۟ ٱلنِّسَآءَ كَرْهًۭا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا۟ بِبَعْضِ مَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّآ أَن يَأْتِينَ بِفَٰحِشَةٍۢ مُّبَيِّنَةٍۢ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا
QS. An-Nisaa: 19 — "Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
Ayat ini luar biasa jujur, jamaah. Ia tidak menjanjikan bahwa pernikahan akan selalu bebas dari rasa kesal atau tidak sepaham. Ia bahkan secara terang-terangan mengakui kemungkinan itu: "fa in karihtumuhunna" — kalau kamu tidak menyukai mereka. Yang diajarkan Al-Qur'an bukan menghapus rasa itu sampai tidak pernah muncul, melainkan mengendalikannya dalam bingkai "'asyiruhunna bil ma'ruf" — bergaullah dengan cara yang patut, apa pun perasaan yang sedang kita rasakan.
Ini pelajaran yang sangat relevan dengan zaman kita, ketika begitu mudah membagikan kekesalan secara terbuka, ketika sebuah rumah tangga bisa berubah jadi bahan obrolan publik hanya dari satu unggahan yang viral. Ayat ini mengajarkan arah yang justru berlawanan: ketika kesal, tahan dulu; ketika tidak sepaham, cari cara bicara yang masih menjaga kebaikan, bukan yang mempermalukan. Sebab, kata ayat ini, boleh jadi yang tidak kita sukai hari ini menyimpan kebaikan besar yang belum kita lihat.
"'Asyiruhunna bil ma'ruf" — bergaullah dengan mereka secara patut — adalah perintah yang sangat konkret kalau kita mau menjabarkannya dalam keseharian. Ia berarti memilih menunda kalimat tajam sampai amarah reda, bukan melontarkannya begitu saja karena "biar lega". Ia berarti membicarakan masalah keuangan rumah tangga dengan angka yang jujur, bukan dengan sindiran berkepanjangan. Ia berarti membagi pekerjaan rumah dan pengasuhan anak sebagai kerja sama, bukan sebagai daftar tuduhan siapa yang kurang berkontribusi. Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga tanpa gesekan — hampir semua rumah tangga punya gesekan — melainkan rumah tangga yang gesekannya diselesaikan dengan cara yang masih menjaga martabat kedua belah pihak.
Sekarang izinkan saya membawa jamaah pada satu riwayat yang mengajarkan hal berbeda, namun berakar dari persoalan yang sama: tentang siapa yang seharusnya kita jawab lebih dulu ketika dua kewajiban tampak bertabrakan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan kepada para sahabat tentang seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil bernama Juraij, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلاَّ ثَلاَثَةٌ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ وَكَانَ جُرَيْجٌ رَجُلاً عَابِدًا فَاتَّخَذَ صَوْمَعَةً فَكَانَ فِيهَا فَأَتَتْهُ أُمُّهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ. فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلاَتِي. فَأَقْبَلَ عَلَى صَلاَتِهِ فَانْصَرَفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلاَتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلاَتِهِ فَانْصَرَفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ. فَقَالَ أَىْ رَبِّ أُمِّي وَصَلاَتِي. فَأَقْبَلَ عَلَى صَلاَتِهِ فَقَالَتِ اللَّهُمَّ لاَ تُمِتْهُ حَتَّى يَنْظُرَ إِلَى وُجُوهِ الْمُومِسَاتِ
Sahih Muslim 2550b — "Tidak ada yang berbicara dalam buaian kecuali tiga orang: 'Isa bin Maryam, dan sahabat Juraij. Dahulu Juraij adalah seorang lelaki yang gemar beribadah; ia membuat tempat ibadah dan tinggal di dalamnya. Suatu hari ibunya datang kepadanya sementara ia sedang shalat. Ibu berkata: 'Wahai Juraij!' Ia berkata (dalam hati), 'Ya Rabbi, ibuku atau shalatku?' Lalu ia tetap menghadap shalatnya. Ibu pun pergi. Esoknya ibu datang lagi sementara ia shalat, memanggil namanya lagi, dan ia mengulang jawaban yang sama, tetap meneruskan shalatnya. Ibu pun pergi lagi. Pada hari ketiga, ibu datang lagi sementara ia shalat, memanggil namanya sekali lagi — dan Juraij tetap memilih meneruskan shalatnya. Maka ibunya berkata: 'Ya Allah, jangan Engkau matikan ia sampai ia melihat wajah-wajah wanita pelacur.'"
Riwayat ini masih panjang dan berlanjut dalam Sahih Muslim, tetapi cukup sampai di titik ini kita menahan perhatian — sebab justru di titik inilah pelajaran yang ingin kita ambil pekan ini berada.
Jamaah yang dirahmati Allah, jangan salah memahami kisah ini sebagai kisah tentang ibu yang kejam kepada anaknya yang saleh. Bukan itu maksudnya. Juraij bukan sedang bermalas-malasan ketika ia memilih meneruskan shalat; ia sedang beribadah, sesuatu yang mulia. Tapi persis di situlah letak pelajarannya: ibadah yang mulia bisa berubah menjadi tabir yang menutupi kita dari kewajiban lain yang juga Allah perintahkan — yaitu menyahut panggilan orang tua. Tiga kali ibunya memanggil, tiga kali pula Juraij memilih diam dan meneruskan shalatnya. Bukan karena ia durhaka, tapi karena ia keliru menimbang: ia mengira menjawab ibunya berarti memutus shalatnya, padahal cukup baginya menjawab sepatah kata, lalu kembali meneruskan ibadahnya. Dan doa seorang ibu yang merasa diabaikan berulang kali — meski Juraij tidak bermaksud durhaka — ternyata cukup berat bobotnya di sisi Allah untuk menjadi ujian besar baginya.
Berapa banyak dari kita, jamaah, yang mengulangi kekeliruan Juraij dalam bentuk yang lebih sederhana? Ponsel yang sedang dibalas pesannya ketika orang tua menelepon. Pekerjaan yang "sebentar lagi selesai" ketika ibu memanggil dari ruang sebelah. Bahkan dzikir dan wirid yang tidak mau kita hentikan barang sejenak untuk menjawab "iya, Bu" atau "iya, Pak". Kesibukan yang tampak baik — termasuk ibadah — bisa membuat kita, tanpa sadar, menomorduakan orang yang seharusnya kita nomorsatukan setelah Allah dan Rasul-Nya.
Perhatikan juga posisi sang ibu dalam riwayat ini, jamaah. Tiga kali ia datang, tiga kali pula ia memanggil nama anaknya dengan harapan yang sama: sekadar didengar sebentar. Bukan permintaan besar, bukan tuntutan yang berat — hanya ingin anaknya menoleh barang sejenak. Doa yang akhirnya ia panjatkan bukan lahir dari kebencian, melainkan dari luka seorang ibu yang merasa terus-menerus tidak dianggap penting, bahkan oleh anak yang begitu saleh dalam ibadahnya. Ini pelajaran bagi kita semua yang punya orang tua yang masih hidup: panggilan yang tampak sepele bagi kita, bisa jadi adalah momen yang mereka tunggu sepanjang hari.
Dari sinilah kita sampai pada penutup argumen khutbah ini. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
QS. At-Tahrim: 6 — "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Ayat ini sering dipahami sepotong sebagai perintah untuk bersikap keras kepada keluarga — meniru sifat "ghilazh" dan "syidad" yang disebutkan pada malaikat. Padahal, jamaah, sifat keras dan tegas itu disebutkan pada malaikat penjaga neraka dalam menjalankan perintah Allah, bukan diperintahkan kepada kita sebagai cara memperlakukan istri dan anak. Yang diperintahkan kepada kita justru kata kerja "qu" — peliharalah, jagalah, lindungilah. Ini ayat tentang tanggung jawab, bukan izin untuk otoriter di rumah sendiri.
Menjaga keluarga dari api neraka berarti membangun rumah yang membuat penghuninya makin dekat kepada Allah, bukan rumah yang membuat penghuninya takut kepada kepala keluarganya. Ia berarti mengajarkan kewaspadaan agar keluarga kita tidak mudah tertipu orang yang berniat jahat. Ia berarti memastikan tetangga yang kesulitan air di musim kemarau ini tidak dibiarkan sendirian, karena "ahlikum" — keluarga yang kita jaga — dalam semangat ayat ini juga meluas kepada mereka yang berada dalam lingkaran tanggung jawab sosial kita. Dan ia berarti menahan lisan kita dari ikut membicarakan aib rumah tangga orang lain yang tidak kita ketahui duduk perkaranya, sebab menjaga kehormatan sesama muslim juga bagian dari menjaga rumah dari api yang sama.
Bagi kita yang hidup di Indonesia hari ini, menjaga keluarga punya bentuk yang sangat konkret. Ia berarti duduk bersama anak dan pasangan membahas aplikasi apa saja yang terpasang di ponsel keluarga, tawaran investasi apa yang sedang beredar di grup WhatsApp, supaya tidak ada anggota keluarga yang sendirian menghadapi rayuan penipuan digital. Ia berarti mengajarkan anak-anak sejak dini bahwa kabar buruk tentang keluarga siapa pun — termasuk keluarga sendiri — tidak perlu disebarluaskan, karena setiap rumah tangga berhak diberi ruang untuk memperbaiki diri tanpa disaksikan seluruh warganet. Dan ia berarti memastikan bahwa dalam kesibukan kita menjaga citra baik keluarga di hadapan orang lain, kita tidak lupa menjaga kehangatan yang sesungguhnya di dalamnya.
Jamaah yang dimuliakan Allah, empat dalil yang telah kita renungkan bersama pekan ini sebenarnya sedang berbicara tentang satu hal yang sama: bahwa jihad yang paling sering luput dari perhatian kita bukan yang besar dan terlihat, melainkan yang kecil dan tersembunyi — cara kita menjawab panggilan orang tua, cara kita bicara pada pasangan ketika sedang kesal, cara kita menjaga tanpa menjadi keras. Iman yang sempurna, kata Rasulullah ﷺ, diukur justru di titik-titik kecil inilah.
Maka pada pekan ini, izinkan saya mengajak jamaah pada beberapa langkah nyata:
Pertama, jawab panggilan orang tua sampai tuntas sebelum melanjutkan apa pun yang sedang kita kerjakan — termasuk ibadah sunnah yang bisa kita lanjutkan sesudahnya. Kalau sedang di tengah pekerjaan, cukup hentikan sejenak, tatap wajah mereka atau angkat telepon dengan penuh perhatian, baru kembali ke pekerjaan setelah keperluan mereka benar-benar selesai kita dengar.
Kedua, sampaikan satu kalimat baik yang spesifik kepada pasangan hari ini — bukan pujian umum, tapi sesuatu yang benar-benar kita hargai darinya. Sebutkan hal konkret: caranya mengurus anak pagi ini, kesabarannya menghadapi hari yang berat, atau sekadar terima kasih karena masih ada di sisi kita.
Ketiga, ketika rasa kesal muncul kepada pasangan, tahan dulu responsnya. Beri jeda sebelum berbicara — tarik napas, hitung sampai sepuluh kalau perlu — dan pilih kata yang masih menjaga kebaikan sebagaimana diajarkan ayat tadi, bukan kata yang kelak kita sesali.
Keempat, jangan ikut menyebarkan atau membahas spekulasi tentang rumah tangga siapa pun yang sedang diuji — arahkan pembicaraan itu menjadi doa, bukan penghakiman. Kalau ada yang mulai membicarakannya di hadapan kita, cukup katakan "semoga Allah mudahkan urusan mereka" dan alihkan pembicaraan.
Kelima, periksa satu tetangga yang mungkin paling kesulitan air pekan ini — terutama lansia yang tinggal sendiri — dan tawarkan bantuan nyata, sekecil apa pun. Tidak perlu menunggu diminta; cukup ketuk pintu dan tanyakan langsung apa yang mereka butuhkan.
Keenam, luangkan waktu bersama keluarga untuk mengecek transaksi atau tawaran mencurigakan yang mungkin masuk pekan ini, sebagai kebiasaan terbuka, bukan aib yang dipendam sendirian. Ajarkan anak-anak dan pasangan untuk selalu bertanya dulu sebelum mengklik atau mentransfer apa pun yang terasa terlalu menggiurkan untuk menjadi nyata.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah, izinkan saya menegaskan kembali beberapa hal yang telah kita renungkan pada khutbah pertama.
Ketenangan dalam pernikahan, sebagaimana disebutkan dalam surat Ar-Rum, bukanlah sesuatu yang datang sekali lalu bertahan selamanya tanpa dirawat. Ia adalah tanda kekuasaan Allah yang harus terus dibaca ulang, direnungkan ulang, dan dihidupkan ulang setiap hari — melalui kalimat baik yang kita pilih, melalui kesabaran yang kita jaga saat kesal, melalui kehadiran yang kita berikan bukan hanya kehadiran fisik.
Kisah Juraij mengingatkan kita bahwa panggilan orang yang paling dekat sering datang di waktu yang paling tidak kita duga — ketika kita sedang sibuk dengan sesuatu yang tampak mulia sekalipun. Jangan menunggu panggilan ketiga untuk baru menoleh. Cukup sekali dipanggil, cukup itu menjadi alasan kita berhenti sejenak.
Dan menjaga keluarga, sebagaimana diperintahkan dalam surat At-Tahrim, bukan tentang menjadi keras atau menakutkan di rumah sendiri. Ia tentang membangun rumah yang aman dari tipu daya orang luar, aman dari fitnah dan gunjingan yang tidak perlu, dan cukup lapang bagi setiap penghuninya untuk tumbuh dekat kepada Allah dengan caranya masing-masing.
Empat dalil yang kita renungkan pekan ini — tentang akhlak yang diukur di rumah, tentang kesabaran dalam ketidaksukaan, tentang panggilan orang tua yang tidak boleh ditunda, dan tentang tanggung jawab menjaga yang tidak boleh berubah jadi kekerasan — sesungguhnya adalah satu ajaran yang sama dilihat dari empat sudut berbeda. Semuanya mengarah pada satu titik: bahwa rumah adalah tempat ujian yang sesungguhnya, jauh lebih jujur daripada mimbar mana pun, jauh lebih jujur daripada linimasa mana pun.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan rumah tangga kita semua rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah, sampai akhir usia kita.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللَّهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاحْفَظْ صِبْيَانَهُمْ وَنِسَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَبَيْنَ أَزْوَاجِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا عَامِرَةً بِذِكْرِكَ، سَاكِنَةً بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَمْوَالَنَا وَأَعْرَاضَنَا مِنْ كُلِّ خَادِعٍ وَمُحْتَالٍ، وَقِنَا شَرَّ كُلِّ مَاكِرٍ وَكَائِدٍ.
اَللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوْرًا، وَاسْقِنَا وَأَغِثْنَا وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
