Ada satu hal yang tidak dimiliki cucu-cucu Rasulullah ﷺ: waktu yang cukup panjang bersama kakek mereka. Hasan bin Ali baru berusia tujuh tahun ketika kakeknya wafat. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah, menghimpun bagaimana Hasan, ketika sudah beranjak dewasa, berusaha mengumpulkan kembali sosok kakeknya — potongan demi potongan, dari orang-orang yang masih mengingatnya.
Hasan mendatangi pamannya dari pihak ibu, seorang lelaki bernama Hind bin Abi Hala. Hind dikenal di antara keluarga sebagai orang yang paling teliti kalau menggambarkan sesuatu — matanya menangkap detail yang orang lain lewatkan. Hasan memintanya bercerita tentang rupa Rasulullah ﷺ, dan ia sangat ingin mendengarnya.
Hind diam sebentar, lalu mulai bicara pelan-pelan, seperti membuka kembali sebuah laci ingatan yang sudah lama tidak disentuh.
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم فخما مفخّما
"Beliau itu berwibawa, sungguh berwibawa," katanya. Lalu, seolah kata-kata biasa belum cukup mewakili apa yang ia ingat, Hind menambahkan satu gambaran yang lebih hidup, sebelum akhirnya bercerita panjang lebar tentang segala yang masih ia ingat:
يتلألأ وجهه تلألؤ القمر ليلة البدر، فذكر الحديث بطوله
"Wajahnya bercahaya, seperti cahaya bulan purnama di malam empat belas." Begitu Hind memulai, dan cerita itu berlanjut panjang — ia tidak menyisakan satu pun detail yang ia ingat.
Tapi anehnya, Hasan tidak langsung membagikan apa yang ia dengar kepada siapa pun — bahkan kepada Husain, adiknya sendiri. Ia menyimpannya sendirian untuk beberapa waktu, seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang berharga dan belum siap melepaskannya ke tangan orang lain.
قال الحسن: فكتمتها الحسين زمانا، ثم حدّثته فوجدته قد سبقني إليه. فسأله عما سألته عنه، ووجدته قد سأل أباه عن مدخله ومخرجه وشكله فلم يدع منه شيئا.
"Aku menyimpannya dari Husain untuk sementara waktu," kata Hasan mengenang. "Lalu aku ceritakan juga kepadanya — dan ternyata ia sudah lebih dulu sampai ke sana." Husain, adiknya, ternyata sudah menanyakan hal yang sama kepada Hind. Bukan hanya itu — ia bahkan sudah melangkah lebih jauh, mendatangi ayah mereka sendiri, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan bertanya langsung tentang bagaimana Rasulullah ﷺ menjalani hari-harinya di rumah, cara beliau keluar menemui orang banyak, sampai bentuk kesehariannya secara utuh. Tidak ada yang Husain lewatkan.
قال الحسين: فسألت أبي عن دخول رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: كان إذا أوى إلى منزله جزّأ دخوله ثلاثة أجزاء جزءا لله وجزءا لأهله، وجزءا لنفسه. ثم جزّأ جزأه بينه وبين النّاس فيردّ ذلك بالخاصة على العامة
"Aku bertanya kepada Ayah," kata Husain, "tentang bagaimana Rasulullah ﷺ ketika masuk ke rumahnya." Ali menjawab dengan tenang, seperti mengingat sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari dirinya sendiri: "Kalau beliau pulang ke rumah, beliau membagi waktunya menjadi tiga bagian — satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarganya, dan satu bagian untuk dirinya sendiri. Bagian yang untuk dirinya sendiri itu pun kemudian beliau bagi lagi antara dirinya dan orang banyak; beliau kembalikan kepada masyarakat luas apa yang ia peroleh dari orang-orang dekatnya."
Husain tidak berhenti di situ. Ia terus bertanya, dan Ali terus menjawab — tentang bagaimana Rasulullah ﷺ mendahulukan orang yang datang dengan kebutuhan mendesak, bagaimana beliau selalu berpesan agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tentang bagaimana di luar rumah, lisannya terjaga, tidak berkata kecuali yang perlu; bagaimana beliau memuliakan orang baik dari kalangan mana pun tanpa pilih kasih; bagaimana majelisnya selalu tenang, tidak ada suara yang ditinggikan, tidak ada aib seseorang yang dibongkar di sana. Setiap orang yang duduk bersamanya merasa dirinya yang paling dimuliakan — bukan karena diistimewakan, tapi karena tidak seorang pun dibuat merasa kalah dari yang lain.
Dua bersaudara itu, yang sama-sama kehilangan kakeknya terlalu dini, akhirnya sama-sama memegang gambaran yang lebih utuh tentang seorang kakek yang sangat sedikit sempat mereka kenal secara langsung — satu potongan dari seorang paman yang teliti mengingat rupa, satu potongan lagi dari seorang ayah yang hidup bertahun-tahun di sisi kakek mereka.
Pelajaran
Yang paling mudah dilupakan dari kisah ini adalah betapa sederhana pembagian yang disebutkan Ali bin Abi Thalib: satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga, satu bagian untuk diri sendiri — dan baru sisa dari sisa itulah yang dibagikan kepada urusan umat yang jauh lebih besar. Rasulullah ﷺ memikul tanggung jawab risalah untuk seluruh manusia, namun jatah waktu untuk keluarganya di rumah tidak pernah menjadi bagian yang dikorbankan lebih dulu ketika hari terasa penuh. Ia bukan sisa dari kesibukan, ia adalah bagian yang berdiri sendiri, sejak awal dijatah, bukan menunggu apa yang tersisa setelah semua urusan lain selesai. Bagi siapa pun yang pekan ini merasa waktunya habis untuk pekerjaan, untuk membalas pesan, untuk menyelesaikan urusan orang lain — kisah dua cucu yang mengumpulkan kembali sosok kakek mereka ini menyisakan satu pertanyaan yang layak dibawa pulang: bagian mana dari waktu kita hari ini yang benar-benar, tanpa bisa diganggu gugat, adalah milik keluarga kita?
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم فخما مفخّما … يتلألأ وجهه تلألؤ القمر ليلة البدر، فذكر الحديث بطوله.
قال الحسن: فكتمتها الحسين زمانا، ثم حدّثته فوجدته قد سبقني إليه. فسأله عما سألته عنه، ووجدته قد سأل أباه عن مدخله ومخرجه وشكله فلم يدع منه شيئا. قال الحسين: فسألت أبي عن دخول رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: كان إذا أوى إلى منزله جزّأ دخوله ثلاثة أجزاء جزءا لله وجزءا لأهله، وجزءا لنفسه. ثم جزّأ جزأه بينه وبين النّاس فيردّ ذلك بالخاصة على العامة.
