بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini banyak dari kita mendengar cerita tentang tetangga atau kerabat yang kehilangan uang karena tertipu, dan tentang keluarga yang mulai berhemat air karena kemarau panjang. Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan satu hal sederhana yang mudah luput di tengah semua itu.
Coba jujur pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita benar-benar berhenti mengerjakan sesuatu, hanya karena orang tua atau pasangan memanggil nama kita?
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
QS. At-Tahrim: 6 — "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Kata "peliharalah" di ayat ini — qu anfusakum wa ahlikum — sering kita baca sebagai perintah menyediakan nafkah dan fasilitas. Padahal maknanya lebih luas dari itu: menjaga juga berarti hadir. Hadir ketika dipanggil, bukan hanya hadir ketika dibutuhkan uangnya.
Coba pikirkan, jamaah: berapa banyak dari kita yang merasa sudah menjaga keluarga karena tagihan terbayar, karena kebutuhan sekolah anak terpenuhi, karena rumah punya atap yang tidak bocor — tapi lupa bahwa yang paling dicari anak dan pasangan kita sebenarnya bukan itu saja. Mereka mencari waktu kita. Mereka mencari mata kita yang benar-benar menatap, bukan menatap layar sambil sesekali mengangguk. Menjaga dalam arti yang diajarkan ayat ini jauh lebih mahal dari sekadar uang — ia menuntut kehadiran yang utuh.
Pekan ini kita mendengar kabar seorang warga kehilangan uang jutaan rupiah karena tertipu jual-beli akun aplikasi palsu — pelakunya terus berganti nama akun agar tidak terlacak. Ada juga kabar dari beberapa daerah yang mulai kekeringan, membuat keluarga harus berhemat air untuk kebutuhan sehari-hari. Dua kabar yang berbeda bentuk, tapi sama-sama menunjukkan rumah tangga kita pekan ini sedang diuji dari luar — oleh orang yang berniat jahat, dan oleh alam yang tidak bersahabat.
Tapi ada ujian lain yang jarang kita sadari, karena datangnya bukan dari luar, melainkan dari kesibukan kita sendiri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menceritakan kisah seorang ahli ibadah bernama Juraij:
فَأَتَتْهُ أُمُّهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ. فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلاَتِي. فَأَقْبَلَ عَلَى صَلاَتِهِ … فَقَالَتِ اللَّهُمَّ لاَ تُمِتْهُ حَتَّى يَنْظُرَ إِلَى وُجُوهِ الْمُومِسَاتِ
Sahih Muslim 2550b — Ibunya datang memanggil namanya saat ia sedang shalat. Dalam hati ia bertanya, "Ya Rabbi, ibuku atau shalatku?" — lalu memilih meneruskan shalatnya. Setelah dipanggil berulang kali dengan pilihan yang sama, sang ibu akhirnya berdoa, "Ya Allah, jangan Engkau matikan ia sampai ia melihat wajah-wajah wanita pelacur."
Jamaah, Juraij bukan sedang bermalas-malasan. Ia sedang beribadah — sesuatu yang mulia. Tapi ia keliru menimbang: mengira menjawab ibunya berarti membatalkan shalatnya, padahal cukup sepatah kata lalu ia bisa melanjutkan. Berapa banyak dari kita mengulangi kekeliruan ini dalam bentuk yang lebih sederhana — ponsel yang sedang dibalas ketika orang tua menelepon, pekerjaan yang "sebentar lagi selesai" ketika pasangan memanggil dari ruang sebelah?
Yang menarik dari doa sang ibu bukan soal adil atau tidaknya doa itu, tapi soal betapa beratnya bobot hati seorang orang tua yang merasa terus-menerus dinomorduakan. Kesibukan yang tampak baik, termasuk ibadah, bisa membuat kita tanpa sadar menomorduakan orang yang seharusnya kita nomorsatukan setelah Allah dan Rasul-Nya.
Yang juga menarik, Juraij tidak salah karena niatnya buruk. Niatnya baik — ia ingin tetap khusyuk di hadapan Allah. Tapi niat baik saja ternyata tidak cukup kalau ia dipakai untuk membenarkan mengabaikan hak orang lain, apalagi hak seorang ibu. Ini pelajaran yang sering kita lewatkan: kita suka membenarkan diri dengan "kan niat saya baik", padahal yang dilihat Allah bukan cuma niat, tapi juga akibatnya kepada orang yang punya hak atas perhatian kita.
Malam ini, sebelum kita pulang, saya mengajak kita melakukan tiga hal kecil. Pertama, kalau nanti ada panggilan dari orang tua atau pasangan, jawab di panggilan pertama — jangan tunggu sampai ketiga kalinya. Kedua, cek bersama keluarga apakah ada transaksi atau tawaran mencurigakan yang perlu diwaspadai bersama, sebagai kebiasaan terbuka, bukan urusan yang dipendam sendirian. Ketiga, kalau ada tetangga yang kesulitan air pekan ini, jangan tunggu diminta — tawarkan bantuan lebih dulu.
Menjaga rumah, jamaah, bukan hanya menjaga rumah dari ancaman di luar. Ia juga berarti menjaga diri kita sendiri dari kesibukan yang membuat kita lupa siapa yang paling berhak atas perhatian kita malam ini.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُبَادِرُ إِلَى بِرِّ وَالِدَيْهِ وَإِحْسَانِ أَهْلِهِ، وَاحْفَظْ بُيُوتَنَا مِنْ كُلِّ مَكْرٍ وَخَدِيْعَةٍ، وَاسْقِنَا مِنْ فَضْلِكَ سُقْيَا رَحْمَةٍ لَا سُقْيَا عَذَابٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
