إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ تَعَالٰى، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, izinkan khatib membuka mimbar pekan ini dengan satu pertanyaan sederhana: berapa kali dalam sepekan terakhir kita membaca sesuatu di layar ponsel, merasa yakin itu benar, lalu mengetuk tombol teruskan — sebelum sempat bertanya, dari mana kabar ini sebenarnya datang?
Hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Muslim merekam satu peristiwa yang, empat belas abad kemudian, terasa begitu dekat dengan apa yang kita hadapi setiap hari di ruang digital. Dalam riwayat panjang yang dihimpun dari empat tabi'in — Sa'id bin al-Musayyab, 'Urwah bin az-Zubair, 'Alqamah bin Waqqash, dan 'Ubaidullah bin 'Abdillah bin 'Utbah bin Mas'ud — disebutkan:
…عَنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حِينَ قَالَ لَهَا أَهْلُ الإِفْكِ مَا قَالُوا فَبَرَّأَهَا اللَّهُ مِمَّا قَالُوا…
"…hadits 'Aisyah istri Nabi ﷺ, ketika ahli ifk (penyebar fitnah) mengatakan apa yang mereka katakan, lalu Allah membersihkannya dari tuduhan itu." (Sahih Muslim 2770a)
Inilah yang dikenal sebagai hadits al-Ifk — riwayat tentang fitnah besar yang pernah menimpa 'Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Rasulullah ﷺ. Riwayat ini dibuka dengan cara yang menarik untuk kita renungkan: hasilnya disebut lebih dulu — Allah membersihkan namanya — sebelum peristiwanya diceritakan secara rinci. Seolah para perawi ingin memastikan, apa pun yang terjadi di tengah cerita ini, jangan sampai pendengarnya lupa bagaimana ia berakhir.
'Aisyah radhiyallahu 'anha sendiri yang menceritakan bagaimana peristiwa itu bermula. Rasulullah ﷺ, jika hendak bepergian, biasa mengundi di antara istri-istri beliau; siapa pun yang undiannya keluar, dialah yang menyertai perjalanan. Pada suatu peperangan, undian jatuh kepada 'Aisyah, dan ia pun berangkat bersama Rasulullah ﷺ, diusung dalam haudaj di atas unta. Dalam perjalanan pulang, mendekati Madinah, rombongan diberi isyarat untuk bergerak pada suatu malam. 'Aisyah turun sejenak untuk suatu keperluan, lalu berjalan kembali ke arah rombongan — dan baru di situ ia sadar, kalungnya dari batu zafar telah putus dan hilang. Ia pun berbalik untuk mencarinya.
Di titik inilah riwayat yang sampai kepada kita berhenti, jamaah — dan kita pun berhenti bersamanya, karena bagian selanjutnya dari kisah ini adalah riwayat panjang yang tidak perlu kita ceritakan detail demi detail pada pagi ini. Yang penting bagi kita hanyalah pola yang tersisa dari apa yang sudah kita baca bersama: seorang yang tertinggal karena alasan yang sepenuhnya wajar — mencari barang yang hilang — kemudian menjadi bahan cerita yang, entah bagaimana, berubah bentuk di setiap mulut yang menceritakannya ulang.
Yang membuat kisah empat belas abad lalu ini terasa begitu akrab bagi kita hari ini bukan detail zamannya — bukan unta, bukan haudaj, bukan padang pasir Hijaz — melainkan pola dasarnya: seseorang berada dalam situasi yang bisa dijelaskan dengan wajar, tetapi orang-orang di sekitarnya memilih menceritakan versi yang lebih menarik untuk dibicarakan daripada versi yang benar.
Pekan ini, di lini masa kita, pola yang sama muncul dalam bentuk yang lebih kecil tapi tidak kalah menggelisahkan. Ada warga yang menuliskan pengakuan terbuka: kehilangan uang jutaan rupiah dalam hitungan hari, ditipu oleh sekelompok orang yang berpindah dari satu korban ke korban berikutnya. Ada peringatan yang beredar tentang akun-akun yang mengatasnamakan layanan kecerdasan buatan yang sedang naik daun — meminjam nama yang dipercaya banyak orang, lalu berganti identitas begitu ketahuan, membuat korban baru lebih cepat daripada peringatan sempat menyebar luas. Ada pula percakapan tentang judi daring dan penipuan digital yang terus berganti wajah, sebagian menyeret istilah pemerasan yang membuat korbannya memilih diam karena malu.
Yang menyatukan semua ini bukan teknologinya — kecerdasan buatan, aplikasi, akun media sosial, semua itu hanyalah alat. Yang menyatukan adalah satu kelemahan manusia yang sudah dikenal jauh sebelum ada layar sentuh: kita lebih cepat percaya pada apa yang mengejutkan daripada apa yang benar, dan kita lebih cepat membagikan apa yang menggetarkan hati daripada apa yang sudah kita pastikan sumbernya.
Rasulullah ﷺ hidup di tengah masyarakat yang mengenal betul kekuatan lisan dan cerita dari mulut ke mulut, jauh sebelum ada mesin cetak, apalagi layar ponsel. Justru karena itu, adab menjaga lisan dan adab menjaga apa yang kita dengar mendapat perhatian yang sangat serius dalam warisan keilmuan Islam — jauh melampaui apa yang biasa kita bayangkan sebagai "etika media sosial" hari ini. Salah satu kitab adab klasik, Bidayatul Hidayah, menuliskan panduan bagi siapa pun yang harus bergaul dengan orang-orang yang tidak benar-benar ia kenal, panduan yang empat belas abad kemudian terasa seperti ditulis untuk linimasa kita:
فَإِنْ بُلِيْتَ بِالْعَوَامِّ الْمَجْهُوْلِيْنَ، فَآدَابُ مُجَالَسَتِهِمْ: تَرْكُ الْخَوْضِ فِيْ حَدِيْثِهِمْ، وَقِلَّةُ الْإِصْغَاءِ إِلٰى أَرَاجِيْفِهِمْ، وَالتَّغَافُلُ عَمَّا يَجْرِيْ مِنْ سُوْءِ أَلْفَاظِهِمْ.
"Jika engkau diuji harus bergaul dengan orang awam yang tidak engkau kenal, maka adab duduk bersama mereka adalah: tidak ikut larut dalam pembicaraan mereka, sedikit memberi telinga pada kabar-kabar dusta dan isu-isu murahan mereka, dan berpura-pura tidak mendengar ucapan-ucapan buruk yang berlalu." (Bidayatul Hidayah — أصناف الناس في العلاقة بالمرء / آداب العلاقة بالعوام المجهولين / آداب العلاقة بالاخوان والأصدقاء / شروط الصحبة والصداقة)
Kata kuncinya adalah "أراجيف" — kabar-kabar dusta, isu-isu yang digulirkan tanpa dasar, persis seperti apa yang hari ini kita sebut hoaks atau disinformasi. Resep yang ditawarkan bukan sekadar "jangan percaya", melainkan sesuatu yang lebih tegas: sedikit memberi telinga. Bukan menutup telinga sepenuhnya — kita tetap hidup di tengah masyarakat, tetap perlu tahu apa yang terjadi — tetapi tidak menjadikan setiap kabar yang mengejutkan sebagai sesuatu yang otomatis layak dipercaya, apalagi layak disebarkan lebih jauh.
Jamaah yang dirahmati Allah, dari sini kita bisa melangkah lebih jauh. Persoalan menjaga lisan dan menjaga telinga ini bukan hanya urusan pribadi — ia juga urusan majelis, urusan ruang bersama, termasuk ruang bersama yang hari ini berbentuk grup WhatsApp, kolom komentar, dan forum daring. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, disebutkan salah satu adab menjaga sebuah majelis ilmu:
أَنْ يَصُوْنَ مَجْلِسَهُ عَنِ اللَّغَطِ؛ فَإِنَّ الْغَلَطَ تَحْتَ اللَّغَطِ، وَعَنْ رَفْعِ الْأَصْوَاتِ وَاخْتِلَافِ جِهَاتِ الْبَحْثِ.
"Hendaknya ia menjaga majelisnya dari kegaduhan — sebab kekeliruan bersembunyi di balik kegaduhan — dan dari suara-suara yang ditinggikan serta arah pembahasan yang berserakan." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / السابع)
"Kekeliruan bersembunyi di balik kegaduhan" — kalimat ini layak kita renungkan pelan-pelan. Kegaduhan yang dimaksud di sini bukan hanya suara keras secara harfiah. Di ruang digital kita hari ini, kegaduhan berwujud notifikasi yang datang bertubi-tubi, judul yang ditulis untuk memancing emosi, dan tekanan sosial untuk segera berkomentar sebelum orang lain mendahului. Di tengah kegaduhan semacam itu, kekeliruan memang mudah bersembunyi — bukan karena kita bodoh, tetapi karena kita terburu-buru, dan tergesa-gesa adalah pintu masuk favorit bagi kekeliruan.
Dan di sinilah letak amanah yang sering kita lupakan: setiap kali kita menerima sebuah kabar — entah itu pesan berantai, video pendek, atau tangkapan layar yang terlihat resmi — kita sesungguhnya sedang dititipi sesuatu. Kitab fikih klasik Fath al-Qarib menjelaskan konsep wadi'ah, yaitu barang yang dititipkan kepada seseorang untuk dijaga, dengan satu kalimat pendek yang menjadi fondasi seluruh pembahasannya:
وَالْوَدِيعَةُ أَمَانَةٌ
"Dan al-wadi'ah (barang yang dititipkan) itu adalah amanah." (Fath al-Qarib — كتاب أحكام البيوع وغيرها من المعاملات كقراض وشركة / • الوديعة)
Yang dititipkan dalam fikih klasik biasanya berupa barang: uang, perhiasan, dokumen. Tetapi prinsip di baliknya — bahwa sesuatu yang dipercayakan kepada kita menuntut penjagaan, bukan sekadar kepemilikan sementara — berlaku luas. Data pribadi yang kita bagikan ke aplikasi, nomor yang kita simpan di kontak, cerita yang seseorang percayakan kepada kita lewat pesan pribadi, bahkan kabar yang kita terima dan berpotensi kita teruskan — semua itu, dalam semangat yang sama, adalah titipan. Titipan menuntut kehati-hatian dari orang yang memegangnya, bukan kebebasan untuk memperlakukannya sesuka hati.
Bayangkan sejenak: setiap kabar yang masuk ke ponsel kita adalah wadi'ah kecil. Sebelum kita meneruskannya kepada orang lain — ke grup keluarga, ke grup RT, ke story pribadi — kita sesungguhnya sedang memutuskan apakah titipan ini layak dipindahtangankan, atau justru berbahaya jika ikut kita sebarkan tanpa kita ketahui kebenarannya. Amanah ini kecil di mata banyak orang, tetapi ia berulang puluhan kali sehari, dan pengulangan itulah yang membentuk karakter kita: apakah kita menjadi orang yang berhati-hati menjaga apa yang melewati tangan kita, atau orang yang gegabah karena menganggap meneruskan pesan itu perkara ringan saja.
Ada satu hal lagi yang layak kita renungkan dari hadits al-Ifk tadi. Yang menjadi korban fitnah bukan orang biasa — beliau adalah istri Rasulullah ﷺ sendiri, perempuan yang paling dekat dengan sumber wahyu. Jika seseorang sedekat itu dengan kebenaran pun bisa menjadi korban kabar yang keliru, maka tidak ada seorang pun di antara kita yang benar-benar kebal dari kesalahan yang sama — baik sebagai korban fitnah, maupun, yang lebih perlu kita waspadai, sebagai orang yang tanpa sadar ikut menyebarkannya.
Bagi kita yang hidup di Indonesia hari ini, dengan kepemilikan ponsel pintar yang hampir merata dan kecepatan berbagi yang luar biasa tinggi, pelajaran ini punya bobot yang lebih berat dibanding generasi mana pun sebelumnya. Satu pesan yang kita teruskan bisa sampai ke ratusan orang dalam hitungan menit. Tanggung jawab yang menyertai kecepatan itu jauh lebih besar daripada tanggung jawab seorang penutur cerita di sebuah majelis empat belas abad lalu — dan justru karena itu, adab-adab yang kita bahas pagi ini bukan sekadar sejarah yang indah untuk didengar, melainkan tuntunan yang mendesak untuk dijalankan hari ini juga.
Jamaah yang dimuliakan Allah, pekan ini kita menyaksikan bagaimana korban-korban penipuan digital saling memperingatkan satu sama lain — sebuah naluri yang sesungguhnya sehat, dan patut kita hargai sebagai bagian dari semangat tolong-menolong sesama. Tetapi peringatan itu akan jauh lebih kuat jika kita, sebagai umat, membangun kebiasaan verifikasi sebagai budaya sehari-hari, bukan sekadar reaksi setelah ada yang dirugikan. Verifikasi sebelum percaya, konfirmasi sebelum membagikan, dan keberanian untuk diam sejenak — "saya belum yakin, saya cek dulu" — bukan tanda lemah iman atau kurang peduli. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kehati-hatian yang diajarkan oleh warisan keilmuan kita sendiri, jauh sebelum istilah literasi digital diciptakan.
Maka, jamaah yang dirahmati Allah, izinkan khatib menutup bagian ini dengan beberapa langkah praktis yang bisa kita bawa pulang pekan ini.
Pertama, biasakan jeda sebelum membagikan. Sebelum menekan tombol teruskan pada pesan, video, atau tangkapan layar yang mengejutkan, beri diri kita jeda beberapa detik untuk bertanya: dari mana ini berasal, dan sudahkah kita benar-benar memastikannya?
Kedua, jadikan "saya belum tahu, saya cek dulu" sebagai kalimat yang biasa kita ucapkan, bukan kalimat yang memalukan. Tidak semua kabar harus kita tanggapi seketika itu juga.
Ketiga, perlakukan data dan cerita orang lain sebagai titipan. Sebelum membagikan nomor kontak, cerita pribadi seseorang, atau tangkapan layar percakapan, tanyakan pada diri sendiri: apakah pemiliknya rida jika ini beredar lebih jauh?
Keempat, jika kita atau orang terdekat pernah tertipu, jangan simpan sendirian karena malu. Ceritakan kepada keluarga dan tetangga secukupnya agar mereka ikut waspada — rasa malu yang berlebihan hanya membantu penipu mendapatkan korban berikutnya.
Kelima, ajari anak dan anggota keluarga yang lebih muda untuk mempertanyakan sumber sebelum mempercayai, sebagaimana kita ajari mereka mempertanyakan orang asing yang menawarkan sesuatu di jalan. Kecakapan ini sama pentingnya di dunia digital.
Keenam, jaga lisan dan jari kita dari ikut menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, sekecil apa pun kabar itu terasa, sekalipun hanya di grup keluarga.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, empat belas abad yang lalu, sebuah kalung yang hilang di tengah perjalanan mengawali fitnah yang diabadikan hadits sebagai pelajaran bagi seluruh umat. Hari ini, kalung itu bisa berganti wujud menjadi tangkapan layar, video singkat, atau pesan berantai. Yang tidak berubah adalah tanggung jawab kita: menjaga apa yang kita dengar, memastikan sebelum kita percaya, dan berhati-hati sebelum kita menjadi bagian dari mata rantai yang menyebarkannya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah, izinkan khatib menegaskan kembali beberapa hal dari khutbah pertama tadi, karena pesan yang penting layak diulang dengan sudut yang berbeda.
Pertama, tentang menahan diri dari ikut menyebarkan sesuatu yang belum pasti. Ini bukan sikap pasif atau acuh terhadap sesama. Justru sebaliknya, menahan diri adalah bentuk kepedulian yang lebih dalam, karena kita tidak ingin ikut menambah beban orang lain dengan kabar yang keliru.
Kedua, tentang amanah menjaga apa yang dititipkan kepada kita, baik itu data, cerita, maupun kepercayaan orang lain. Semakin besar kemudahan kita menyebarkan sesuatu hari ini, semakin besar pula amanah yang menyertainya. Kemudahan bukan alasan untuk longgar; kemudahan justru menuntut kehati-hatian yang lebih besar.
Ketiga, tentang keberanian mengatakan "saya belum tahu". Ini salah satu bentuk kejujuran yang paling sering kita lupakan, padahal ia adalah pintu masuk menuju sikap yang lebih tenang dan lebih dewasa dalam menghadapi banjir informasi.
Keempat, tentang tanggung jawab yang bertambah seiring kemudahan menyebarkan bertambah. Rasulullah ﷺ hidup di zaman ketika sebuah kabar butuh waktu berhari-hari untuk berpindah dari satu kota ke kota lain. Kita hidup di zaman ketika kabar berpindah dalam hitungan detik. Semoga kesadaran ini membuat kita lebih berhati-hati, bukan lebih longgar.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan kita golongan yang berhati-hati menjaga lisan dan jari kita, dan menjauhkan kita dari menjadi bagian mata rantai fitnah, dalam bentuk apa pun ia datang.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُرِيَنَا الْحَقَّ حَقًّا وَتَرْزُقَنَا اتِّبَاعَهُ، وَتُرِيَنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَتَرْزُقَنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَتَثَبَّتُوْنَ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمُوْا، وَيَتَبَيَّنُوْنَ قَبْلَ أَنْ يَنْقُلُوْا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيْبَةِ وَالنَّمِيْمَةِ وَنَقْلِ مَا لَمْ نَتَحَقَّقْ مِنْهُ. اَللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا أَنْ نَكُوْنَ عَوْنًا لِلْكَاذِبِيْنَ عَلٰى نَشْرِ كَذِبِهِمْ وَلَوْ بِغَيْرِ قَصْدٍ مِنَّا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَحْفَظُ أَمَانَةَ مَا يُؤْتَمَنُ عَلَيْهِ مِنَ الْكَلَامِ وَالْأَسْرَارِ وَالْحُقُوْقِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ نُحُوْرِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالظُّلْمَ وَالْخَوْفَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَلْهِمْهُمُ الْعَدْلَ وَالْحِكْمَةَ فِيْ كُلِّ قَرَارٍ يَتَّخِذُوْنَهُ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ شَبَابَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ فِتْنَةِ الشَّاشَاتِ وَخِدَاعِ الْمُحْتَالِيْنَ، وَبَصِّرْهُمْ بِمَا يَنْفَعُهُمْ فِيْ دُنْيَاهُمْ وَآخِرَتِهِمْ، وَاجْعَلْهُمْ نَاصِحِيْنَ لِمَنْ حَوْلَهُمْ لَا مُخَادِعِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ عَلَّمَنَا وَرَبَّانَا، كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لِمَنْ سَبَقَنَا بِالْإِيْمَانِ مِنْ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
