بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini saya membaca beberapa cerita tentang orang-orang yang kehilangan uang karena tertipu akun yang mengaku aplikasi kecerdasan buatan terpercaya, berpindah-pindah identitas setiap kali ketahuan. Ada satu pesan kecil yang ingin saya bagikan malam ini, dan mudah-mudahan menempel sampai pekan depan.
Pernahkah saudara merasa harus punya reaksi tentang segala hal yang lewat di layar? Ada kabar baru, ada video baru, ada tangkapan layar baru — dan rasanya kalau kita diam saja, kita ketinggalan, atau dianggap tidak peduli. Jempol kita bergerak lebih cepat daripada pikiran kita mempertimbangkan. Padahal, saudara-saudara, salah satu pelajaran paling berani dalam tradisi keilmuan kita justru sebaliknya: berani diam sejenak. Berani bilang, "saya belum tahu".
Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, ada satu bab yang mengajarkan adab seorang alim — orang berilmu — ketika ditanya tentang sesuatu yang ia tidak ketahui:
«لَا أَعْلَمُ» أَوْ «لَا أَدْرِي»
"Aku tidak tahu" atau "aku tidak mengerti" — begitu hendaknya ia menjawab, tanpa dipaksakan menjawab asal ada jawaban. (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / التاسع)
Kitab ini bahkan mengutip perkataan salaf:
لَا أَدْرِي نِصْفُ الْعِلْمِ
"Mengatakan aku tidak tahu adalah setengah ilmu." Setengah ilmu, saudara-saudara — bukan kelemahan, bukan aib, justru setengah dari ilmu itu sendiri. Disebutkan pula dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma: jika seorang yang berilmu keliru lalu mengatakan "aku tidak tahu", ucapannya itu justru tepat, bukan sesuatu yang perlu ia sesali.
Bandingkan dengan kebiasaan kita hari ini. Begitu ada kabar baru masuk — entah tentang penipuan yang lagi ramai, entah tentang aplikasi yang katanya berbahaya — kita merasa harus segera bereaksi: membalas, membagikan, memberi komentar. Diam sebentar saja rasanya seperti kesalahan. Padahal justru di situlah bahayanya. Kabar yang kita sebar tanpa kita pastikan, meski niat kita baik, tetap punya akibat kalau ternyata keliru. Niat baik saja tidak cukup kalau kita tidak berhenti sejenak untuk memastikan.
Coba bayangkan satu grup keluarga di WhatsApp. Seseorang mengirim pesan panjang tentang modus penipuan baru, lengkap dengan nama aplikasi dan cara kerja yang mengerikan. Semua orang di grup langsung ikut mengirim ulang ke grup lain — adik ke temannya, ibu ke arisan, bapak ke rekan kerja. Beberapa jam kemudian, baru ketahuan sebagian informasinya salah, dicampur dari beberapa kejadian berbeda yang digabung jadi satu cerita yang lebih menakutkan dari aslinya. Yang menyebar duluan bukan yang paling benar — yang menyebar duluan adalah yang paling cepat dikirim, oleh orang yang paling yakin dirinya sudah tahu.
Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sangat tegas menjaga kebenaran, bahkan tentang pujian atas dirinya. Dalam kitab Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah, disebutkan sebuah riwayat singkat:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani berlebihan memuji putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya." (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم)
Bahkan pujian yang berlebihan pun beliau tolak, sekalipun pujian itu terasa manis di telinga. Kalau Rasulullah ﷺ — manusia paling mulia — begitu berhati-hati menjaga kebenaran tentang dirinya sendiri, bagaimana dengan kita, yang setiap hari meneruskan kabar tentang orang lain, tentang kejadian yang bahkan tidak kita saksikan sendiri?
Jamaah yang saya hormati, malam ini saya mengajak kita semua mempraktikkan satu kalimat sederhana pekan ini: "saya belum tahu, saya cek dulu". Ucapkan itu di grup keluarga kalau ada kabar mencurigakan. Ucapkan itu ke diri sendiri sebelum jempol kita menekan tombol bagikan. Ucapkan itu tanpa malu, karena seperti kata salaf tadi, itu justru setengah dari ilmu.
Mari kita tutup malam ini dengan doa singkat, memohon agar Allah menjaga lisan dan jari kita dari ikut menyebarkan sesuatu yang belum pasti kebenarannya.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَثَبَّتُ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ، وَيَتَبَيَّنُ قَبْلَ أَنْ يَنْقُلَ، وَاحْفَظْنَا مِنْ أَنْ نَكُوْنَ سَبَبًا فِيْ نَشْرِ مَا لَا نَعْلَمُ صِحَّتَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
