Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumToleransi & Lintas-ImanKamis, 27 Agustus 2026

Kultum — "Iman yang Mengalir sampai ke Jalan Tetangga"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ النَّاسَ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِيَتَعَارَفُوْا، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ مَعَ مَنْ وَافَقَنَا وَمَنْ خَالَفَنَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ بُعِثَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini, di tengah gema Peringatan Maulid Nabi dan sebuah kesaksian yang saya baca dari saudara kita yang pernah menjadi satu-satunya Muslim di sebuah dusun di Nusa Tenggara Timur, ada satu pesan kecil yang ingin saya bagikan malam ini.

Siapa di sini yang pernah, sekali saja dalam hidupnya, menyingkirkan batu atau sampah dari jalan yang dilewati banyak orang — tanpa berpikir siapa yang akan lewat setelahnya, Muslim atau bukan? Kalau pernah, saudara-saudaraku, malam ini saya ingin memberi tahu: tindakan sekecil itu punya tempat dalam iman kita, menurut Rasulullah ﷺ sendiri.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الإيمان بضع وسبعون، أو بضع وستون شعبة: فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان

"Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang — atau lebih dari enam puluh cabang — yang paling tinggi adalah pernyataan 'tidak ada yang berhak disembah selain Allah,' dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman." (Riyad as-Salihin 125)

Coba renungkan rentang hadits ini, saudara-saudaraku. Dari kalimat tauhid yang paling agung, sampai ke tindakan menyingkirkan duri dari jalan — keduanya disebut dalam satu tarikan napas sebagai bagian dari iman yang sama. Bukan dua kategori terpisah, satu untuk urusan akidah dan satu untuk urusan sosial, melainkan satu kontinum yang tidak terputus.

Mengapa hadits ini penting untuk kita renungkan pekan ini? Karena kita hidup di lingkungan yang majemuk. Jalan yang kita bersihkan, trotoar yang kita rapikan, got yang kita keruk bersama tetangga — semua itu dilewati Muslim dan non-Muslim tanpa dibedakan. Rasulullah ﷺ tidak bersabda "menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilewati sesama Muslim." Beliau bersabda "menyingkirkan gangguan dari jalan" — titik. Jalan itu netral; siapa pun yang lewat mendapat manfaatnya. Dan justru karena netral itulah, tindakan itu tetap dihitung sebagai cabang iman.

Saya sering mendengar sebagian dari kita membedakan mana kebaikan yang "berpahala" dan mana yang "sekadar keramahan sosial." Membantu tetangga Muslim yang kesulitan, misalnya, dianggap otomatis berpahala. Tapi membantu tetangga yang berbeda agama, entah kenapa, kadang dianggap sekadar basa-basi sosial yang tidak masuk hitungan akhirat. Hadits yang kita baca tadi membantah anggapan ini secara langsung. Cabang iman yang paling rendah — menyingkirkan gangguan dari jalan — tidak disyaratkan hanya untuk kepentingan sesama Muslim. Ia disebut secara umum, untuk siapa pun yang mendapat manfaatnya.

Kita sering lebih sibuk memperdebatkan siapa yang paling pantas disebut "toleran" di media sosial, sampai lupa menyapu selokan depan rumah sendiri yang airnya melimpah ke got tetangga yang kebetulan bukan seiman dengan kita. Iman yang besar kadang kalah oleh iman yang kecil yang justru sering kita lewatkan begitu saja.

Ini sejalan dengan apa yang Allah firmankan tentang orang-orang yang tidak memerangi kita karena agama: kita diperintahkan berbuat baik dan adil kepada mereka, dan Allah menyukai orang yang berlaku adil (QS. Al-Mumtahana: 8). Dua dalil ini, satu tentang cabang iman yang paling kecil, satu tentang perintah yang lebih besar, sebenarnya berbicara tentang hal yang sama: iman kita tidak berhenti di batas identitas kelompok. Ia mengalir ke ruang bersama, ke jalan yang kita lewati sama-sama, ke tetangga yang kebetulan berbeda keyakinan.

Saudara-saudaraku, ini bukan ajakan untuk mencampuradukkan akidah. Tauhid tetap yang paling tinggi, dan itu tidak bisa ditawar. Tapi antara tauhid yang paling tinggi dan menyingkirkan batu dari jalan yang paling rendah, ada satu garis lurus yang menghubungkan keduanya — garis itu bernama iman yang hidup, bukan iman yang hanya berhenti di lisan. Kalau kita menjaga tauhid tapi mengabaikan hak tetangga yang berbeda agama untuk hidup nyaman di lingkungan yang sama, ada sesuatu yang timpang dalam pemahaman kita tentang iman itu sendiri.

Malam ini, sebelum kita pulang, saya mengajak kita semua melakukan sesuatu yang sangat kecil: pekan ini, lakukan satu tindakan yang membuat ruang bersama — gang, trotoar, halaman masjid yang berbatasan dengan rumah tetangga — sedikit lebih baik untuk siapa pun yang lewat, tanpa peduli agamanya. Itu bukan tindakan besar. Tapi menurut Rasulullah ﷺ, itu adalah cabang iman.

Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang menjaga cabang iman sekecil apa pun, dan jangan jadikan kami orang yang merasa cukup dengan iman di lisan saja.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُمِيْطُ الْأَذَى عَنِ النَّاسِ، وَيَبَرُّ وَيُقْسِطُ إِلٰى مَنْ لَمْ يُقَاتِلْنَا فِيْ دِيْنِنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan