Ringkasan Eksekutif
Pekan ini empat peristiwa dengan watak yang sangat berbeda berhenti pada satu pertanyaan yang sama: hak siapa yang sedang berkurang ketika kita merasa sedang membela yang benar.
Di depan Gedung DPR, aksi unjuk rasa besar terkait RUU Perampasan Aset berujung kericuhan di kawasan Pejompongan, dengan laporan pembakaran dan perusakan fasilitas. Di Kalimantan dan Sumatera, kebakaran hutan dan lahan kembali meluas disertai kabut asap, bersamaan dengan kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah daerah. Di Jombang, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama berlangsung, termasuk proses pemilihan kepengurusan. Di ruang sidang, perkara dugaan korupsi kuota haji masih berjalan, di tengah rangkaian penindakan dugaan korupsi lain.
Empat renungan pekan ini tidak menilai siapa benar dan siapa salah pada satu peristiwa pun. Bukan itu kerja tadabbur. Yang dikerjakannya lebih sunyi: mengembalikan setiap peristiwa kepada satu ayat, lalu membiarkan ayat itu bertanya kepada kita.
Ayat pertama menutup sebuah nasihat kepada laki-laki yang berkelimpahan dengan larangan mencari kerusakan di bumi — dan larangan itu berdiri persis setelah perintah berbuat baik. Ayat kedua menutup sebuah surah dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab siapa pun kecuali dengan diam: seandainya airmu surut, siapa yang mendatangkan air mengalir. Ayat ketiga menyebut musyawarah bukan sebagai teknik rapat, melainkan sebagai sifat orang beriman, disandingkan dengan shalat dan menafkahkan rezeki. Ayat keempat membuka surahnya bukan dengan celaan kepada perampok, melainkan kepada orang yang menuntut takarannya penuh lalu menakar orang lain kurang sedikit.
Empat-empatnya bekerja ke dalam, bukan ke luar. Itulah sebabnya keempatnya layak dibaca pelan-pelan, di ruang yang tidak ramai, oleh orang yang bersedia lebih dahulu menakar dirinya sendiri.
Poin Kunci
- Kemarahan yang lahir dari melihat ketidakadilan tidak dicela oleh ayat pekan ini; yang ditutup rapat adalah pintu ketika kemarahan itu berubah menjadi kerusakan di bumi.
