Peristiwa. Pekan ini aksi unjuk rasa besar terkait RUU Perampasan Aset berlangsung di depan Gedung DPR dan berujung kericuhan di kawasan Pejompongan, dengan laporan pembakaran dan perusakan fasilitas.
Renungan ini tidak menilai pihak mana pun dan tidak menyatakan aksi itu sah atau tidak sah. Ada ruang lain untuk pertanyaan semacam itu, dan ruang itu bukan di sini. Yang ingin dibaca justru sesuatu yang lebih dekat kepada kita masing-masing: keadaan batin siapa pun yang pernah marah karena melihat ketidakadilan. Itu bukan keadaan yang aneh bagi seorang mukmin. Pertanyaannya bukan apakah kita boleh marah, melainkan apa yang masih berdiri di bumi setelah kemarahan itu lewat.
Ayat pekan ini datang dari tempat yang tidak diduga. Ia bukan seruan kepada orang yang sedang marah, melainkan nasihat kepada orang yang sedang berkelimpahan.
Ayat.
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
(QS. Al-Qasas: 77)
Tafsir. Ibn Katsir membuka penjelasannya dengan menempatkan kalimat ini pada tempatnya. Ia bukan firman yang berdiri sendiri, melainkan nasihat yang diucapkan orang-orang saleh dari kaum Qarun kepada Qarun. Ibn Abbas, sebagaimana dikutip Ibn Katsir, menyebut Qarun berasal dari kaum Musa dan merupakan anak pamannya; sejumlah ahli tafsir awal lain juga menyebutnya sepupu Musa. Allah memberinya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya saja memberatkan sekumpulan orang kuat.
Kepada orang seperti itulah kaumnya yang saleh berkata — dengan cara menasihati dan menunjuki, kata Ibn Katsir — jangan terlalu bangga, yakni jangan sombong dan berbangga diri dengan hartamu. Ibn Abbas memaknai orang yang dicela di situ sebagai mereka yang bergembira berlebihan dan menyombongkan diri; Mujahid menyebut mereka orang yang angkuh dan gegabah, yang tidak bersyukur atas apa yang Allah berikan (Tafsir Ibn Kathir on 28:77).
Baru sesudah itu datang empat kalimat yang menjadi ayat pekan ini.
Yang pertama, carilah negeri akhirat pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu. Ibn Katsir memaknainya: pakailah harta besar dan nikmat melimpah yang Allah berikan itu untuk beribadah kepada Tuhanmu dan mendekat kepada-Nya melalui aneka amal saleh yang mendatangkan pahala di dunia dan di akhirat.
Yang kedua, janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia. Di sini Ibn Katsir merinci: yaitu apa yang Allah izinkan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan pasangan. Ia menutup rinciannya dengan kalimat yang jarang dikutip orang — Tuhanmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, keluargamu punya hak atasmu, dan tamumu punya hak atasmu; maka tunaikan hak masing-masing.
Ath-Thabari mencatat bahwa ahli tafsir terbelah dua dalam membaca kalimat kedua itu. Sebagian — Ibn Abbas, Mujahid, dan Ibn Zayd di antaranya — memahaminya sebagai: jangan tinggalkan bagianmu di dunia untuk kaupakai beramal bagi akhiratmu. Ibn Zayd menambahkan bahwa yang akan kaudapati di akhirat hanyalah apa yang kaudahulukan di dunia dari rezeki yang Allah berikan. Sebagian yang lain — Qatadah, al-Hasan, dan Ibn Jurayj — memahaminya sebagai: jangan tinggalkan mencari bagian rezekimu yang dibenarkan, sebab di dalamnya ada kecukupan bagimu. Al-Hasan meringkasnya dalam satu kalimat pendek: dahulukan yang lebih, tahan yang mencukupimu (Tafsir al-Tabari on 28:77).
Yang ketiga, berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Ibn Katsir memaknainya: berbuat baiklah kepada makhluk-Nya sebagaimana Dia telah berbuat baik kepadamu. Ath-Thabari menambahkan sisi belanjanya: nafkahkanlah harta pemberian Allah itu pada jalan dan salurannya yang benar, sebagaimana Allah telah melapangkan dan meluaskannya untukmu.
Yang keempat, janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Ibn Katsir memaknainya: jangan jadikan tujuanmu menyebarkan kerusakan di bumi dan mencelakakan makhluk Allah. Menurut Ath-Thabari, ayat ini melarang mencari apa yang Allah haramkan atasmu berupa kezaliman terhadap kaummu sendiri. Dan penutup ayatnya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan, ia baca sebagai: Allah tidak menyukai para pencari kezaliman dan kemaksiatan.
Tadabbur & Ibrah. Yang paling mudah terlewat dari ayat ini adalah urutannya.
Larangan berbuat kerusakan tidak berdiri sendirian sebagai peringatan yang dingin. Ia diletakkan persis setelah perintah berbuat baik, dan perintah berbuat baik itu sendiri diletakkan setelah pengakuan bahwa dunia punya bagian yang tidak perlu dibuang. Ayat ini tidak sedang menuntut manusia menjadi tanpa kepentingan. Ia sedang menata arah: apa yang ada di tangan diarahkan ke akhirat, hak-hak di sekitar ditunaikan, kebaikan dibalas dengan kebaikan — dan baru di ujung semua itu larangan tadi dijatuhkan.
Maka satu ibrah yang ingin dibawa pulang pekan ini: kemarahan yang benar tidak diuji pada seberapa keras suaranya, melainkan pada apa yang masih berdiri di bumi setelah ia lewat.
Nasihat ini mula-mula ditujukan kepada seseorang yang merasa punya segala alasan untuk merasa aman. Kalimat-kalimatnya ternyata sama tajamnya bagi siapa pun yang merasa punya segala alasan untuk marah. Dua keadaan itu punya kesamaan yang tidak enak diakui: keduanya sama-sama membuat orang merasa berhak. Dan justru pada titik merasa berhak itulah ayat ini menyelipkan rem.
Ath-Thabari membaca larangan tersebut dengan pilihan kata yang perlu direnungkan: kezaliman terhadap kaum sendiri. Bukan terhadap musuh yang jauh, melainkan terhadap orang-orang yang berbagi tanah, jalan, dan ruang publik yang sama. Kerusakan di bumi kerap ditanggung oleh orang yang tidak ikut memutuskan apa pun, dan tidak jarang oleh orang yang paling sedikit punya cara untuk memulihkannya.
Ayat ini juga tidak menyuruh orang beriman berhenti peduli pada dunia. Ibn Katsir justru menahan tafsirnya di situ: bagianmu dari dunia tidak dihapus, ia diberi hak. Yang diubah bukan kepedulian, melainkan arah dan cara.
Renungan ini tidak menjatuhkan penilaian atas peristiwa pekan ini, tidak kepada siapa pun yang turun ke jalan, tidak kepada siapa pun yang bertugas menjaganya. Ia bekerja ke arah yang berlawanan: ke dalam. Pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman — ketika kita merasa paling benar, apa yang paling mungkin kita rusak?
Tanya-Jawab
T: Kalau saya membaca ayat ini, apakah artinya saya tidak boleh marah ketika melihat ketidakadilan?
J: Yang disorot ayat ini menurut Ibn Katsir adalah tujuan perbuatan, bukan rasa yang muncul di dada: "jangan jadikan tujuanmu menyebarkan kerusakan di bumi dan mencelakakan makhluk Allah." Ath-Thabari menajamkannya sebagai larangan mencari kezaliman atas kaum sendiri. Untuk menilai status satu tindakan tertentu, itu wilayah ulama dan kanal Fiqh, bukan renungan seperti ini.
T: Bagaimana memahami "janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia"? Apakah itu izin mengejar dunia sepuasnya?
J: Ath-Thabari mencatat dua pembacaan ahli tafsir: sebagian memaknainya "jangan tinggalkan beramal di dunia untuk akhiratmu", sebagian lain "jangan tinggalkan mencari bagian rezekimu yang dibenarkan, sebab di dalamnya ada kecukupan". Ibn Katsir merincinya sebagai apa yang Allah izinkan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan pasangan, lalu langsung mengingatkan bahwa Tuhanmu, dirimu, keluargamu, dan tamumu masing-masing punya hak atasmu.
T: Saya bukan orang berharta seperti Qarun. Apakah nasihat ini masih mengenai saya?
J: Ibn Katsir memaknai "berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu" sebagai berbuat baik kepada makhluk-Nya sebagaimana Dia berbuat baik kepadamu — dan ukuran kebaikan yang diterima setiap orang berbeda. Ath-Thabari menyebut sisi praktisnya: menafkahkan pemberian Allah pada saluran yang benar. Keduanya tidak mensyaratkan jumlah tertentu, sehingga ayat ini tidak menunggu seseorang menjadi kaya lebih dahulu.
T: Apa maksud "Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" di penghujung ayat ini?
J: Ath-Thabari membacanya: Allah tidak menyukai para pencari kezaliman dan kemaksiatan. Ibn Katsir menyebut mereka sebagai orang yang menjadikan penyebaran kerusakan di bumi sebagai tujuannya. Untuk penerapan pada perkara pribadi yang rinciannya hanya kita sendiri yang tahu, tanyakanlah kepada ahli tafsir atau ulama yang bisa mendengar duduk perkaranya.
Penutup. Bagian ini adalah renungan tadabbur berbantuan AI; untuk pendalaman dan keputusan pribadi, rujuklah ahli tafsir serta ulama tepercaya.
