Peristiwa. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera kembali meluas pekan ini disertai kabut asap, bersamaan dengan kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah daerah.
Renungan ini tidak menuduh siapa pun sebagai penyebab kebakaran. Menelusuri sebab adalah kerja penyidikan dan pengawasan, bukan kerja tadabbur. Yang dikerjakan di sini jauh lebih sederhana dan jauh lebih personal: memperhatikan satu hal yang biasanya tidak kita rasakan sama sekali selama keran di rumah masih menyala.
Ada jenis nikmat yang begitu setia sehingga berhenti terasa sebagai nikmat. Air termasuk yang paling setia di antaranya. Ia datang tanpa diminta, mengalir tanpa diucapkan terima kasihnya, dan baru terasa ketika ia tidak datang. Ayat pekan ini menutup sebuah surah justru dengan menyentuh titik itu — dan menutupnya bukan dengan pernyataan, melainkan dengan pertanyaan.
Ayat.
قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَآؤُكُمْ غَوْرًۭا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَآءٍۢ مَّعِينٍۭ
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?".
(QS. Al-Mulk: 30)
Tafsir. Ibn Katsir memberi bagian ini judul yang sudah menjelaskan arahnya: pengingat akan nikmat memancarnya air sekaligus ancaman ditariknya nikmat itu — dan ia menyebut seluruhnya sebagai bukti betapa Allah menyayangi makhluk-Nya.
Sebelum ayat ini, kata Ibn Katsir, Nabi diperintahkan mengatakan kepada mereka yang mengingkari nikmat: seandainya Allah membinasakan aku dan orang-orang yang bersamaku, atau justru merahmati kami, siapakah yang dapat menyelamatkan orang-orang kafir dari azab yang pedih? Maknanya, kata Ibn Katsir, selamatkanlah diri kalian sendiri, sebab tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari Allah kecuali tobat, kembali memohon ampun kepada-Nya, dan kembali kepada agama-Nya. Sesudahnya datang pengakuan: Dia Yang Maha Pengasih, kepada-Nya kami beriman dan kepada-Nya kami bertawakal — yakni kami bersandar kepada-Nya dalam seluruh urusan kami (Tafsir Ibn Kathir on 67:30).
Baru sesudah kalimat tawakal itulah ayat penutup surah dijatuhkan.
Ibn Katsir memaknai "jika sumber air kamu menjadi kering" sebagai: jika air itu pergi, lenyap ke kedalaman bumi yang paling bawah, sehingga ia tidak lagi terjangkau oleh kapak-kapak besi maupun oleh lengan-lengan yang kuat. Kata yang dipakai ayat ini, katanya, adalah lawan dari memancar. Lalu "siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu" ia maknai sebagai air yang memancar, mengalir, dan berjalan di permukaan bumi — dan tidak ada satu pun yang sanggup melakukannya kecuali Allah. Semata karena karunia dan kemurahan-Nyalah Dia memancarkan air itu untuk kita dan mengalirkannya ke berbagai penjuru bumi dalam kadar yang sesuai dengan kebutuhan hamba-hamba-Nya, sedikit atau banyak. Maka bagi Allah segala puji dan syukur. Dengan kalimat itu Ibn Katsir menutup tafsir surah Al-Mulk.
Ath-Thabari menempuh jalan yang sama dengan penekanan pada kata-katanya. Allah, katanya, memerintahkan Nabi-Nya berkata kepada kaum yang menyekutukan-Nya: terangkanlah kepadaku, jika air kalian menjadi surut — yakni menghilang ke bawah sehingga timba-timba tidak lagi mencapainya — maka siapakah yang akan mendatangkan air ma'in bagi kalian, yaitu air yang dapat dilihat mata karena tampak di permukaan. Ibn Abbas memaknai air itu sebagai air yang tawar. Sa'id bin Jubair mengulang gambar yang sama: air yang tidak terjangkau timba, dan air mengalir yang tampak. Qatadah memaknai kata pertama sebagai "lenyap" dan kata kedua sebagai "yang mengalir", dan Adh-Dhahhak menyebutkan hal serupa (Tafsir al-Tabari on 67:30). Ath-Thabari pun menutup tafsir surah ini di titik yang sama.
Tadabbur & Ibrah. Perhatikan bahwa ayat ini bukan pernyataan, melainkan pertanyaan. Dan ia pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui semua orang yang mendengarnya. Yang membuatnya berat bukan jawabannya, melainkan kenyataan bahwa ia tidak dapat dijawab dengan apa pun yang ada di tangan kita — tidak dengan alat, tidak dengan biaya, tidak dengan kekuasaan.
Ibn Katsir menyisipkan satu keterangan kecil yang mudah terlewat: air itu dialirkan "dalam kadar yang sesuai dengan kebutuhan hamba, sedikit atau banyak". Artinya air bukan sekadar ada. Ia ditakar. Sesuatu yang ditakar berarti sedang diatur oleh Yang menakarnya, dan sesuatu yang diatur berarti tidak pernah sepenuhnya menjadi milik yang memakainya.
Ath-Thabari memberi gambar yang bahkan lebih rumah tangga daripada itu: timba yang tidak lagi mencapai air. Bukan bencana besar yang megah, melainkan seember yang naik dalam keadaan kosong. Justru gambar sederhana itulah yang pekan ini terasa dekat, ketika kabut asap menebal di sebagian pulau dan air bersih menjadi sulit di sebagian daerah lain.
Satu ibrah yang ingin dibawa pulang: syukur bukan perasaan hangat yang muncul sesekali, melainkan cara kita memperlakukan titipan yang sewaktu-waktu dapat ditarik.
Ada satu hal lagi yang layak diperhatikan dari urutan yang dicatat Ibn Katsir. Kalimat "kepada-Nya kami bertawakal" ditempatkan tepat sebelum pertanyaan tentang air. Seolah-olah tawakal tidak diuji di ruang yang gagah, melainkan di dapur: pada keran, pada sumur, pada hal paling biasa yang selama ini kita anggap pasti.
Ayat ini mula-mula diarahkan kepada mereka yang mengingkari nikmat Tuhan. Kita tidak memindahkannya kepada siapa pun hari ini. Kita membawanya pulang. Sebab pertanyaan itu tidak kehilangan daya ketika ditanyakan kepada orang beriman: seandainya besok pagi air itu surut, apa yang akan kita katakan?
Tanya-Jawab
T: Ayat ini ditujukan kepada orang-orang musyrik. Bagaimana saya membacanya sebagai seorang muslim?
J: Ibn Katsir dan Ath-Thabari sama-sama menyebutkan bahwa seruan itu mula-mula diarahkan kepada mereka yang mengingkari nikmat Allah. Tetapi makna yang keduanya berikan — bahwa tidak ada yang sanggup mendatangkan air mengalir kecuali Allah — berlaku atas siapa pun yang meminum air itu. Untuk penerapan yang lebih rinci pada diri sendiri, rujuklah ahli tafsir yang dapat menuntun bacaannya.
T: Apa sebenarnya arti "sumber air menjadi kering" dalam ayat ini?
J: Ibn Katsir memaknainya sebagai air yang lenyap ke kedalaman bumi yang paling bawah, sehingga tidak terjangkau oleh kapak besi maupun lengan yang kuat. Ath-Thabari memberi gambar yang lebih dekat: air yang surut sehingga timba tidak lagi mencapainya. Keduanya menempatkannya sebagai lawan dari air yang memancar.
T: Kalau air memang bisa hilang, apakah ayat ini sedang meramalkan sesuatu untuk zaman kita?
J: Yang disampaikan kedua mufassir bukan ramalan peristiwa, melainkan penjelasan tentang kuasa dan kasih sayang Allah serta rapuhnya nikmat yang kita pegang. Ibn Katsir bahkan menutupnya dengan pujian dan syukur, bukan dengan ancaman waktu tertentu. Membaca ayat sebagai jadwal kejadian bukan cara membaca yang diajarkan di sini; bila muncul pertanyaan semacam itu, bawalah kepada ahli tafsir.
T: Apa hubungan ayat ini dengan tawakal yang disebut sebelumnya?
J: Ibn Katsir meletakkan pengakuan "kepada-Nya kami bertawakal" — yakni bersandar kepada-Nya dalam seluruh urusan — persis sebelum pertanyaan tentang air. Susunan itu menunjukkan bahwa sandaran seorang mukmin tidak berhenti pada perkara besar, tetapi mencakup hal paling sehari-hari yang selama ini dianggap pasti.
Penutup. Bagian ini adalah renungan tadabbur berbantuan AI; untuk pendalaman dan keputusan pribadi, rujuklah ahli tafsir serta ulama tepercaya.
