Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي بُعِثَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, izinkan khatib membuka mimbar pekan ini dengan sebuah ayat yang berbicara langsung tentang sesuatu yang belakangan terasa dekat dengan keseharian kita:
قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَآؤُكُمْ غَوْرًۭا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَآءٍۢ مَّعِينٍۭ
"Katakanlah: 'Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'" (QS. Al-Mulk: 30)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini adalah pertanyaan retoris yang jawabannya sudah kita ketahui bersama sejak kecil di bangku mengaji: tidak ada satu pun yang bisa mendatangkan air yang mengalir kecuali Allah subhanahu wa ta'ala. Tapi pertanyaan yang tampak sederhana ini menjadi terasa sangat berbeda bobotnya ketika sumur mulai dangkal, ketika sawah mulai retak, dan ketika sebagian saudara kita benar-benar harus berjalan lebih jauh setiap pagi hanya untuk mengambil air.
Pekan-pekan belakangan ini, dari berita yang sampai kepada kita, sejumlah daerah di tanah air mengalami musim kemarau yang cukup terasa. Bukan hanya sawah dan ladang yang terdampak — sebagian warga mulai kembali membicarakan sesuatu yang jarang terdengar di luar musim kering: shalat istisqa, shalat memohon hujan. Ada yang bertanya bagaimana tata caranya, ada yang baru tahu bahwa shalat ini memang disunnahkan Rasulullah ﷺ, dan ada pula yang menggelarnya bersama-sama di lapangan kampung. Fenomena ini sesungguhnya sesuatu yang indah untuk direnungkan: di tengah krisis yang sangat teknis — kekeringan, embung yang mengering, sumber air yang menipis — umat ini secara naluriah kembali kepada ibadah. Itu pertanda baik. Tapi pertanda baik ini perlu kita rawat, supaya tidak berhenti sebagai keramaian sesaat begitu hujan pertama turun.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sering kali kita baru mengingat Allah dengan sungguh-sungguh ketika keadaan sudah terasa mendesak — ini kecenderungan manusiawi yang barangkali kita semua pernah mengalaminya sendiri. Bukan sesuatu yang perlu kita sesali berlebihan, tapi juga jangan dibiarkan menjadi kebiasaan. Yang membedakan seorang mukmin sejati bukanlah ketiadaan kecenderungan ini, melainkan usahanya untuk menjaga kedekatan itu tetap terjaga, bahkan setelah hujan benar-benar turun dan krisis sudah berlalu. Shalat istisqa yang kita gelar pekan ini idealnya bukan sekadar ritual darurat, tetapi pintu masuk untuk kembali rutin bersujud, rutin berdzikir, rutin mengingat Allah — bukan hanya ketika sumur kita mengering.
Pekan ini kabar lain yang sampai kepada kita berbicara tentang jarak antara aturan agama dan praktik sehari-hari. Sebuah fatwa yang sudah dikeluarkan sejak pertengahan tahun lalu oleh lembaga fatwa di Jawa Timur, yang menyatakan haram sebuah kebiasaan mengarak sound system bervolume sangat ekstrem saat hajatan atau pawai kampung — yang kini akrab disebut "sound horeg" — ternyata belum sepenuhnya diikuti masyarakat. Ini bukan berita tentang siapa yang membangkang. Ini pengingat bahwa sebuah hukum agama, sejelas apa pun ia dirumuskan oleh para ulama, tetap membutuhkan waktu, kesabaran, dan keteladanan untuk benar-benar mengubah kebiasaan yang sudah mengakar di tengah masyarakat.
Dan kabar ketiga, yang mungkin paling ramai kita jumpai di linimasa pekan ini, adalah perdebatan yang sebenarnya bukan perdebatan baru: apakah kemiskinan itu sesuatu yang memalukan, apakah boleh kita beribadah sambil berharap pahala, dan mengapa menuntut ilmu agama itu wajib bagi setiap muslim. Tiga pertanyaan ini baik, bahkan penting untuk terus ditanyakan setiap generasi. Yang perlu kita waspadai bukan pertanyaannya, melainkan cara kita menjawabnya di ruang publik — apakah dengan hikmah dan rahmat, atau dengan nada yang membuat pihak lain merasa direndahkan.
Jamaah yang dirahmati Allah, ketiga kabar ini — langit yang kering, fatwa yang belum sepenuhnya dipatuhi, dan perdebatan yang mudah memanas — sebenarnya berbicara tentang satu hal yang sama: iman itu tidak cukup diyakini di dalam hati saja. Iman itu harus tahan uji ketika keadaan tidak sesuai harapan kita, tahan uji ketika aturan terasa merepotkan, dan tahan uji ketika pendapat orang lain berbeda dari pendapat kita. Khutbah pekan ini, izinkan khatib mengajak kita semua merenungkan bagaimana iman yang tahan uji itu dibangun — bukan dari teori, tapi dari tiga hal konkret: cara kita meminta kepada Allah, cara kita menaati apa yang telah disepakati, dan cara kita menuntut ilmu dengan rendah hati.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita mulai dari yang paling terasa pekan ini: langit yang belum juga menurunkan hujan sebagaimana biasanya. Rasa cemas melihat sawah yang mengering adalah rasa yang wajar dan manusiawi — Allah sendiri menciptakan kita dengan naluri untuk khawatir atas apa yang kita butuhkan. Yang membedakan seorang mukmin dari yang lain bukanlah ketiadaan rasa cemas itu, melainkan ke mana ia membawa kecemasannya. Seorang mukmin membawa kecemasannya kepada Allah, bukan kepada keluh kesah yang berhenti di keluh kesah saja.
Ada sebuah riwayat yang sangat relevan untuk kita renungkan bersama pagi ini, tentang bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada para sahabatnya cara memandang hujan yang turun — bukan sekadar sebagai fenomena alam, tetapi sebagai ujian tauhid yang nyata.
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي أَثَرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِي، فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوَاكِبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوَاكِبِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Dari Zaid bin Khalid radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ mengimami kami shalat Subuh di Hudaibiyah, setelah semalam sebelumnya turun hujan. Selesai shalat, beliau menghadap ke arah jamaah dan bertanya, "Tahukah kalian, apa yang difirmankan Rabb kalian?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Rasulullah ﷺ lalu menyampaikan firman Allah dalam hadits qudsi ini: "Pagi ini ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kufur kepada-Ku. Siapa yang berkata, 'Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah,' maka ia beriman kepada-Ku dan mengingkari bintang. Dan siapa yang berkata, 'Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu,' maka ia mengingkari-Ku dan beriman kepada bintang." (Riyad as-Salihin 1731, muttafaqun 'alaih)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, perhatikan betapa dalamnya hadits ini. Bukan tentang apakah hujan itu turun atau tidak — melainkan tentang ke mana hati kita mengarahkan rasa syukur ketika hujan benar-benar turun. Dua orang bisa berdiri di tempat yang sama, basah oleh hujan yang sama, tetapi satu keluar sebagai mukmin dan satu lagi keluar dengan imannya retak — hanya karena kalimat syukur yang keliru arahnya. Inilah yang dimaksud tauhid bukan sekadar akidah verbal: tauhid adalah bagaimana kita membaca setiap peristiwa, sekecil apa pun, sebagai perbuatan Allah semata.
Maka ketika pekan-pekan ini kita berdoa memohon hujan, sesungguhnya kita sedang melatih kembali otot tauhid yang selama musim-musim normal jarang kita gunakan. Kita dipaksa mengingat bahwa air yang selama ini mengalir begitu saja dari keran adalah nikmat yang bisa dicabut kapan saja, dan hanya Allah yang bisa mengembalikannya. Rasulullah ﷺ sendiri pernah mencontohkan bagaimana seorang pemimpin umat merespons krisis kekeringan dengan sungguh-sungguh, bukan dengan keluhan semata. Dalam sebuah riwayat dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, diceritakan:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ، قَالَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرٍو، قَالَ حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ أَصَابَتِ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَبَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا. فَرَفَعَ يَدَيْهِ، وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا وَضَعَهَا حَتَّى ثَارَ السَّحَابُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ صلى الله عليه وسلم فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ، وَمِنَ الْغَدِ، وَبَعْدَ الْغَدِ وَالَّذِي يَلِيهِ، حَتَّى الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
Anas bin Malik berkata: manusia pernah ditimpa paceklik pada zaman Nabi ﷺ. Ketika beliau sedang berkhutbah pada hari Jumat, seorang Arab Badui berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, harta binasa dan keluarga kelaparan, mohonkanlah hujan untuk kami kepada Allah." Rasulullah ﷺ lalu mengangkat kedua tangannya — padahal saat itu tidak terlihat setitik pun awan di langit. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, belum lagi beliau menurunkan kedua tangannya, awan sudah bergumpal bagaikan gunung. Belum lagi beliau turun dari mimbarnya, aku sudah melihat hujan menetes di jenggot beliau ﷺ. Maka kami diberi hujan hari itu, esoknya, lusanya, dan hari sesudahnya, hingga Jumat berikutnya. (Sahih al-Bukhari 933)
Jamaah yang dimuliakan Allah, bayangkan keyakinan yang dimiliki Rasulullah ﷺ pada momen itu. Tidak ada satu pun tanda di langit yang menjanjikan hujan, tetapi beliau tetap mengangkat tangan dengan penuh keyakinan — karena beliau tahu persis kepada siapa ia meminta. Inilah teladan yang perlu kita hidupkan kembali pekan ini: ketika ikhtiar teknis kita — menunggu proyek irigasi, menunggu kebijakan pemerintah, menunggu musim berganti — belum juga membuahkan hasil, jangan biarkan doa menjadi pilihan terakhir yang kita ingat setelah semua cara lain gagal. Jadikan doa sebagai langkah pertama, dan shalat istisqa berjamaah sebagai wujud kebersamaan umat menghadapi ujian yang sama.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari sekarang kita bergeser pada kabar kedua yang sampai kepada kita pekan ini — tentang fatwa yang belum sepenuhnya dipatuhi. Kita perlu jujur mengakui, menaati sebuah aturan yang baru — betapapun jelas dalilnya — memang tidak pernah mudah bagi kebiasaan yang sudah mengakar bertahun-tahun. Tetapi Islam mengajarkan kita bahwa ketaatan itu bukan pilihan yang bisa ditunda sampai terasa nyaman. Ada sebuah prinsip mendasar dalam akidah kita, yang diajarkan sejak awal kepada setiap penuntut ilmu, tentang mengapa kita diciptakan dan mengapa kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. At-Taghabun: 7, sebagaimana dikutip dalam Thalathat al-Usul)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan kita — termasuk seberapa taat kita pada aturan yang sudah disepakati bersama demi kemaslahatan bersama, seperti menjaga ketenangan tetangga dari suara yang berlebihan — kelak akan diberitakan kembali kepada kita di hadapan Allah. Menaati fatwa yang menjaga hak tetangga untuk hidup tenang bukan sekadar urusan hukum formal; itu adalah bagian dari amanah yang akan ditanya pada hari itu. Maka mari kita jadikan pekan ini momentum untuk saling mengingatkan dengan cara yang santun, bukan menghakimi — karena tujuan fatwa itu sendiri adalah kemaslahatan bersama, bukan mempermalukan siapa pun.
Jamaah yang dirahmati Allah, sebenarnya kekeringan yang kita bicarakan di awal khutbah ini dan fatwa yang kita bicarakan barusan berdiri di atas akar yang sama: keduanya soal amanah menjaga apa yang dititipkan Allah kepada kita — baik itu air, ketenangan lingkungan, maupun keseimbangan alam secara umum. Islam mengajarkan bahwa manusia diangkat sebagai khalifah di muka bumi, bukan pemilik mutlak yang boleh memperlakukan bumi semaunya. Setiap keran yang kita biarkan menetes sia-sia, setiap kebisingan yang kita paksakan kepada tetangga, sesungguhnya adalah pertanyaan kecil tentang bagaimana kita menunaikan amanah kekhalifahan itu. Bukan perkara besar yang jauh dari jangkauan kita — justru dimulai dari hal-hal sekecil ini, di rumah masing-masing, di lingkungan masing-masing.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sampailah kita pada kabar ketiga — perdebatan tentang cara beribadah yang benar, yang pekan ini begitu ramai kita saksikan. Sebagian mempertanyakan apakah berharap pahala saat beribadah termasuk pamrih yang mengurangi keikhlasan. Jamaah, mari kita luruskan bersama: berharap pahala dan takut akan siksa adalah dua hal yang dikenal luas dalam ajaran para ulama sebagai bagian sah dari ibadah, bukan sesuatu yang tercela. Yang membedakan tingkatan seorang hamba bukanlah ada-tidaknya harapan itu, melainkan seberapa jauh cinta dan rasa syukur kepada Allah tumbuh melampaui sekadar harapan dan rasa takut. Ini bukan dua kubu yang saling meniadakan — ini adalah tangga yang sama, dan setiap muslim sedang menaikinya di anak tangga masing-masing. Tidak ada yang berhak merasa lebih suci hanya karena berada di anak tangga yang lebih tinggi hari ini.
Adapun perdebatan tentang kemiskinan, jamaah yang dimuliakan Allah, biarlah teladan Rasulullah ﷺ sendiri yang berbicara. Rumah tangga beliau ﷺ, pemimpin umat yang paling mulia, bukanlah rumah tangga yang berkelimpahan. Bahkan diriwayatkan bagaimana salah seorang sahabat mulia, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, pernah begitu lapar hingga jatuh pingsan di antara mimbar Nabi ﷺ dan kamar 'Aisyah radhiyallahu 'anha — dan orang-orang yang lewat mengira ia sedang kerasukan, padahal ia hanya menahan lapar (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم, hadis ke-349). Kesederhanaan hidup di zaman Nabi ﷺ bukan aib yang mereka sembunyikan — ia dicatat, diceritakan, dan diwariskan sebagai kemuliaan. Maka janganlah kita membiarkan siapa pun, di ruang digital maupun di sekitar kita, memperlakukan kesederhanaan atau kekurangan harta sebagai tanda kurangnya iman seseorang.
Dan yang terakhir, tentang kewajiban menuntut ilmu — perdebatan ini akan selalu ada selama umat manusia terus bertanya, dan itu baik. Yang perlu kita jaga adalah adabnya. Ada satu pelajaran yang sangat sederhana namun sering terlupakan dari kitab-kitab adab menuntut ilmu, tentang tiga kata yang justru meninggikan derajat seseorang, bukan merendahkannya:
وَإِذَا سُئِلَ عَنْ مَا لَمْ يَعْلَمْهُ قَالَ: لَا أَعْلَمُهُ، أَوْ لَا أَدْرِي؛ فَمِنَ الْعِلْمِ أَنْ يَقُولَ: لَا أَعْلَمُ. وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: إِذَا أَخْطَأَ الْعَالِمُ لَا أَدْرِي أُصِيبَتْ مَقَالَتُهُ. وَاعْلَمْ أَنَّ قَوْلَ الْمَسْئُولِ لَا أَدْرِي لَا يَضَعُ مِنْ قَدْرِهِ كَمَا يَظُنُّهُ بَعْضُ الْجَهَلَةِ، بَلْ يَرْفَعُهُ؛ لِأَنَّهُ دَلِيلٌ عَظِيمٌ عَلَى عِظَمِ مَحَلِّهِ وَقُوَّةِ دِينِهِ وَتَقْوَى رَبِّهِ
"Jika seseorang ditanya tentang apa yang tidak ia ketahui, hendaklah ia berkata: 'Aku tidak tahu' atau 'aku tidak mengerti' — karena termasuk ilmu adalah mengatakan 'aku tidak tahu'. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: 'Jika seorang alim keliru lalu mengatakan aku tidak tahu, maka ucapannya itu tepat.' Ketahuilah, ucapan orang yang ditanya 'aku tidak tahu' tidak menjatuhkan martabatnya sebagaimana disangka sebagian orang bodoh — justru ia mengangkatnya, karena itu adalah bukti besar atas keluasan kedudukannya, kekuatan agamanya, dan ketakwaannya kepada Rabb-nya." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / التاسع)
Bahkan Imam Syafi'i rahimahullah, salah satu ulama terbesar dalam sejarah fiqih, pernah ditanya oleh muridnya tentang sebuah persoalan hukum, dan beliau menjawab dengan jujur, "Demi Allah, aku tidak tahu." Jamaah, jika seorang imam besar seperti beliau tidak segan mengucapkan itu, mengapa kita — yang ilmunya jauh lebih terbatas — justru merasa harus selalu punya jawaban tegas untuk setiap perdebatan yang muncul di linimasa? Kewajiban menuntut ilmu tidak akan pernah selesai dengan sekali membaca status atau menonton satu video pendek. Ia adalah proses seumur hidup, dan kejujuran mengakui keterbatasan adalah pintu masuknya, bukan aib yang harus ditutupi dengan perdebatan yang membabi buta.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, perhatikan juga bahwa adab ini bukan hanya untuk ulama besar seperti Imam Syafi'i — ia berlaku bagi kita semua, bahkan untuk hal-hal yang sekilas kelihatan sederhana. Ketika seorang anak bertanya kepada orang tuanya soal hukum sesuatu yang belum dikuasai, ketika seorang jamaah ditanya tetangga soal fatwa tertentu, ketika sebuah pertanyaan muncul di forum kajian dan tidak ada yang benar-benar yakin jawabannya — jawaban "saya belum tahu, mari kita cari bersama" jauh lebih mulia daripada jawaban yang terburu-buru hanya demi terlihat pandai. Justru dari sikap rendah hati semacam inilah budaya belajar yang sehat tumbuh di tengah umat, bukan dari perdebatan yang berebut siapa paling benar.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, dari tiga kabar pekan ini, izinkan khatib mengajak kita pada beberapa langkah nyata. Pertama, bagi jamaah yang berada di wilayah terdampak kemarau, mari inisiasi shalat istisqa berjamaah di masjid atau lapangan terdekat, lengkap dengan ajakan bertobat dan bersedekah sebagaimana dituntunkan. Kedua, bagi pengurus masjid dan RT, sampaikan aturan-aturan yang menjaga kemaslahatan bersama — termasuk soal ketertiban suara saat hajatan — dengan dialog yang mendidik, bukan teguran yang mempermalukan di depan umum. Ketiga, saat kita berdiskusi soal ibadah dengan keluarga atau di media sosial, biasakan bahasa "tingkatan" dan bukan bahasa "benar-salah, suci-berdosa". Keempat, biasakan mengucapkan "saya belum tahu, izinkan saya pelajari dulu" ketika ditanya hal yang belum kita kuasai — ini bukan kekalahan, ini kemuliaan. Kelima, jadikan kisah kesederhanaan Rasulullah ﷺ dan para sahabat sebagai bahan cerita untuk anak-anak dan keluarga kita, agar mereka tumbuh memandang kesederhanaan sebagai keteladanan, bukan kekurangan. Keenam, mari mulai menghemat air di rumah masing-masing pekan ini — matikan keran yang tidak perlu, perbaiki yang bocor — sebagai wujud nyata menjaga amanah bumi yang dititipkan Allah kepada kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan khatib mempertegas kembali satu benang yang menyatukan seluruh renungan kita tadi: tauhid bukan sekadar kalimat yang kita ucapkan di lisan, melainkan cara kita membaca setiap peristiwa yang menimpa kita. Ketika hujan turun, seorang mukmin melihat rahmat Allah, bukan kebetulan alam semata. Ketika sebuah aturan disepakati untuk kemaslahatan bersama, seorang mukmin menaatinya sebagai bagian dari amanah, bukan beban yang boleh ditawar-tawar sesuka hati.
Demikian pula ketika kita berhadapan dengan pendapat yang berbeda dari saudara sesama muslim — tentang pamrih dalam ibadah, tentang kemiskinan, tentang bagaimana menuntut ilmu — seorang mukmin yang tauhidnya kokoh tidak akan mudah menjatuhkan vonis kepada saudaranya. Ia akan lebih dulu bertanya, mendengarkan, dan bila perlu, mengakui keterbatasannya sendiri. Sebab hikmah tertinggi dalam berdakwah bukanlah siapa yang paling keras suaranya di ruang digital, melainkan siapa yang paling mampu menyampaikan kebenaran dengan cara yang mendekatkan hati, bukan yang menjauhkan.
Jamaah yang dimuliakan Allah, ingatlah pula bahwa kesederhanaan bukanlah kekurangan yang harus ditutupi. Para sahabat terbaik Rasulullah ﷺ pernah menahan lapar tanpa merasa perlu berpura-pura kenyang di hadapan sesamanya. Kalau generasi terbaik umat ini saja menjalani hidup sesederhana itu dengan kepala tegak, mengapa kita hari ini justru mudah merasa rendah diri hanya karena rezeki belum selapang tetangga? Kemuliaan seorang hamba di sisi Allah tidak pernah diukur dari isi lemari atau garasi rumahnya, melainkan dari ketakwaan yang dijaga diam-diam, jauh dari sorotan.
Semoga kemarau yang sedang kita rasakan pekan-pekan ini menjadi jalan bagi kita untuk kembali dekat kepada Allah — bukan hanya melalui doa yang kita panjatkan, tetapi juga melalui cara kita menjaga air, menjaga lisan, dan menjaga hati kita masing-masing dari kekeringan yang jauh lebih berbahaya: kekeringan iman.
Marilah kita tutup khutbah pekan ini dengan doa bersama.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا. اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا، مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ. اَللّٰهُمَّ أَغِثْ قُلُوْبَنَا بِنُوْرِ الْيَقِيْنِ، كَمَا تُغِيْثُ أَرْضَنَا بِالْغَيْثِ الْمُبِيْنِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ إِذَا مُطِرُوْا قَالُوْا: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ.
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَلِطَاعَةِ مَنْ أَمَرْتَنَا بِطَاعَتِهِ فِيْمَا لَا يُخَالِفُ شَرْعَكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْمَعُ الْحَقَّ فَيَتَّبِعُهُ، وَيَسْمَعُ الْخَطَأَ فَيَجْتَنِبُهُ بِغَيْرِ حَرَجٍ وَلَا كِبْرٍ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، وَجَنِّبْنَا الْجِدَالَ الَّذِيْ يُفَرِّقُ الْقُلُوْبَ وَيُبَاعِدُ بَيْنَ الْإِخْوَةِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَقُلُوْبًا لَا تَأْنَفُ أَنْ تَقُوْلَ لَا نَدْرِيْ فِيْمَا لَا نَدْرِيْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ يُعَانُوْنَ ضِيْقَ الرِّزْقِ وَشِدَّةَ الْعَيْشِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَأَغْنِهِمْ مِنْ فَضْلِكَ، وَلَا تَجْعَلِ الْفَقْرَ فِيْ أَعْيُنِ النَّاسِ سَبَبًا لِاحْتِقَارِهِمْ، فَإِنَّكَ أَكْرَمْتَ أَنْبِيَاءَكَ وَأَوْلِيَاءَكَ بِالزُّهْدِ فِيْ الدُّنْيَا.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَخَاصَّةً فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِحِفْظِ الْمَاءِ وَالْبِيْئَةِ الَّتِيْ اسْتَخْلَفْتَنَا فِيْهَا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مُعَلِّمِيْنَا وَمَنْ عَلَّمَنَا حَرْفًا مِنَ الْعِلْمِ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَهْلِيْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
