Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumAqidah & IbadahKamis, 3 September 2026

Kultum — "Hujan Belum Turun, Sudahkah Hati Kita Ikut Diperiksa?"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini saya ingin mengajak kita merenung sebentar — bukan soal hujan yang belum juga turun di sejumlah daerah, tapi soal sesuatu yang justru lebih jarang kita periksa: hati kita sendiri. Jangan-jangan, saat tanah di luar sana mengering, ada bagian dari hati kita yang diam-diam ikut kering juga.

Coba kita dengar dulu satu ayat pendek dari Al-Qur'an, yang sepintas hanya menggambarkan salah satu kenikmatan surga:

وَمَآءٍۢ مَّسْكُوبٍۢ

"Dan air yang tercurah." (QS. Al-Waaqia: 31)

Ayat ini bagian dari gambaran nikmat yang menanti penghuni surga — dan menariknya, dari sekian banyak kenikmatan yang bisa disebut, air yang mengalir bebas termasuk salah satu yang Allah pilih untuk digambarkan. Kita yang hidup di dunia, yang keran airnya masih menyala setiap pagi, mungkin tidak pernah menyadari betapa besar nikmat itu — sampai pekan-pekan ini, ketika sebagian saudara kita harus benar-benar berhemat air, kita baru tersadar: hal sesepele "air yang tercurah" itu ternyata layak disebut Allah sebagai kenikmatan surga.

Nah, dari sini saya ingin ajak kita masuk ke inti renungan malam ini. Ada satu hadits yang menurut saya sangat pas untuk kita bawa pulang pekan ini, sebuah peringatan yang sangat jujur tentang bagaimana hati manusia bisa "kering" tanpa disadari pemiliknya:

سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخَمْسَ: يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ، وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْخَلْقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ

"Akan datang pada umatku suatu zaman ketika mereka mencintai lima hal dan melupakan lima hal: mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai kehidupan dan melupakan kematian, mencintai istana dan melupakan kubur, mencintai harta dan melupakan hisab, mencintai makhluk dan melupakan Sang Khalik." (Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3))

Jamaah, coba kita jujur pada diri sendiri malam ini. Bukan berarti mencintai dunia itu haram — kita tetap butuh bekerja, butuh rumah, butuh menabung untuk anak-anak. Yang diperingatkan hadits ini bukan kecintaan itu sendiri, tapi ketika kecintaan itu tumbuh sendirian, tanpa ditemani ingatan akan pasangannya. Cinta dunia tanpa ingat akhirat. Cinta hidup tanpa ingat mati. Itulah kekeringan yang sebenarnya lebih berbahaya daripada kekeringan tanah manapun.

Ini juga menjawab satu perdebatan yang pekan ini ramai kita lihat: apakah beribadah sambil berharap pahala itu pamrih? Begini, jamaah — hadits tadi tidak pernah bilang "haram mencintai harta" atau "haram berharap pahala." Yang jadi masalah adalah ketika harapan pahala itu menjadi satu-satunya alasan, dan rasa syukur serta cinta kepada Allah tidak pernah tumbuh menyertainya. Berharap pahala itu tangga yang sah dalam ibadah kita. Tapi jangan berhenti di tangga itu saja. Naik terus, sampai ibadah kita bukan lagi karena mengejar sesuatu, tapi karena kita memang mencintai Yang kita sembah.

Ada satu ayat lagi yang saya kira cocok untuk melengkapi renungan ini, tentang betapa rapuhnya sesuatu yang kita anggap pasti:

أَوْ يُصْبِحَ مَآؤُهَا غَوْرًۭا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبًۭا

"Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi." (QS. Al-Kahf: 41)

Ayat ini awalnya bicara tentang kebun yang dibanggakan seseorang, yang ternyata bisa hilang airnya kapan saja tanpa aba-aba. Begitu juga dengan kesehatan, harta, bahkan usia kita — semua bisa "surut" tanpa pemberitahuan. Fatwa yang belum kita patuhi sepenuhnya, ilmu yang belum sempat kita cari, permintaan maaf yang belum kita sampaikan — jangan ditunda, karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu ikut surut bersama waktu.

Saya juga ingin sedikit menyentuh soal fatwa yang sempat kita singgung di awal tadi. Kadang kita berpikir, "ah, itu kan cuma soal suara sound system pas hajatan, nggak sepenting itu." Tapi coba renungkan — kalau untuk hal yang tampak kecil saja kita sudah enggan menaati, bagaimana dengan hal-hal besar yang lebih berat timbangannya? Ketaatan itu ibarat otot: dilatih dari yang ringan dulu, baru kuat menghadapi yang berat. Jangan remehkan hal kecil, jamaah, karena dari situlah kualitas ketaatan kita yang sesungguhnya terlihat.

Jamaah yang saya hormati, sebelum saya tutup, saya ingin ajak kita melakukan tiga hal kecil malam ini juga, tidak perlu menunggu esok. Pertama, periksa kembali niat ibadah kita — bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk menambah satu lapis rasa syukur di atas harapan pahala yang sudah ada. Kedua, kalau di lingkungan kita masih terdampak kemarau, ajak keluarga menghemat air malam ini juga — matikan keran yang menetes, cukupkan air wudhu tanpa berlebihan. Ketiga, kalau selama ini kita punya kebiasaan "sok tahu" saat berdebat soal agama di grup keluarga atau media sosial, coba malam ini kita diam sejenak, dan katakan pada diri sendiri: mungkin saya perlu belajar dulu sebelum bicara.

Semoga Allah menjadikan kita golongan yang mencintai dunia tanpa lupa akhirat, mencintai hidup tanpa lupa mati, dan mencintai sesama makhluk tanpa lupa kepada Sang Pencipta.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا بَاسِطَةً بِالرَّحْمَةِ لَا قَاسِيَةً بِالْغَفْلَةِ، اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ فِيْ أَرْضِنَا، وَاسْقِ قُلُوْبَنَا الْيَقِيْنَ فِيْ صُدُوْرِنَا، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحِبُّ الدُّنْيَا وَيَنْسَى الْآخِرَةَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan