Di tengah pekan yang dipenuhi kabar tentang harga yang naik dan emas simpanan yang digadaikan, ada satu pemandangan dari empat belas abad silam yang layak diingat kembali. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ, menghimpun beberapa potret kecil tentang bagaimana manusia paling mulia di muka bumi memperlakukan harta dan kedudukannya sendiri.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pembantu setia Rasulullah ﷺ selama bertahun-tahun, mengenal betul kebiasaan harian junjungannya. Rasulullah ﷺ menjenguk orang sakit. Beliau menghadiri jenazah. Beliau menunggangi keledai. Dan beliau memenuhi undangan seorang budak — bukan hanya undangan para pembesar Madinah.
Bukan kuda gagah dengan pelana berhias yang beliau tunggangi hari itu. Ketika pertempuran Bani Quraizhah berkecamuk dan debu mengepul di sepanjang jalan Madinah, Rasulullah ﷺ datang ke medan yang menegangkan itu di atas seekor keledai — kekangnya hanya seutas tali dari sabut kurma, pelananya pun dari sabut kurma. Pemimpin tertinggi umat, yang satu perintahnya menggerakkan ribuan pasukan, memilih tunggangan yang bahkan orang biasa pun mungkin merasa segan menaikinya. Suara langkah keledai itu pelan, jauh dari gemuruh derap kuda perang, namun para sahabat yang berjalan di sampingnya tidak pernah merasa pemimpinnya kurang berwibawa karenanya.
Anas melanjutkan kisahnya. Rasulullah ﷺ, jika diundang makan roti gandum kasar dengan lemak yang baunya sudah berubah karena disimpan lama, beliau tetap datang memenuhi undangan itu. Roti gandum kasar bukan hidangan istimewa — ia makanan paling sederhana yang biasa disantap orang-orang berkecukupan pas-pasan di Madinah. Yang lebih menusuk hati siapa pun yang mendengarnya: baju besi Rasulullah ﷺ tergadai di tangan seorang tetangga Yahudi, dan beliau wafat sebelum sempat menebusnya kembali.
Ada satu kenangan lagi yang disimpan Anas, tidak kalah menyentuh. Ketika Rasulullah ﷺ menunaikan haji, beliau tidak menunggangi kendaraan termahal yang bisa didapatkan seorang pemimpin umat. Beliau naik di atas pelana yang sudah using, mengenakan kain penutup yang nilainya bahkan tidak sampai empat dirham. Dan di tengah perjalanan suci itu, di antara debu dan terik matahari padang pasir, beliau memanjatkan doa yang begitu jujur — Ya Allah, jadikanlah haji ini haji yang tidak tercampur riya' dan tidak tercampur sum'ah, tidak untuk dilihat orang, dan tidak untuk didengar orang.
