Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsEkonomi & BisnisKamis, 3 September 2026

Kisah Pendek — "Ketika Sang Nabi Memilih Sederhana"

Di tengah pekan yang dipenuhi kabar tentang harga yang naik dan emas simpanan yang digadaikan, ada satu pemandangan dari empat belas abad silam yang layak diingat kembali. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ, menghimpun beberapa potret kecil tentang bagaimana manusia paling mulia di muka bumi memperlakukan harta dan kedudukannya sendiri.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pembantu setia Rasulullah ﷺ selama bertahun-tahun, mengenal betul kebiasaan harian junjungannya. Rasulullah ﷺ menjenguk orang sakit. Beliau menghadiri jenazah. Beliau menunggangi keledai. Dan beliau memenuhi undangan seorang budak — bukan hanya undangan para pembesar Madinah.

Bukan kuda gagah dengan pelana berhias yang beliau tunggangi hari itu. Ketika pertempuran Bani Quraizhah berkecamuk dan debu mengepul di sepanjang jalan Madinah, Rasulullah ﷺ datang ke medan yang menegangkan itu di atas seekor keledai — kekangnya hanya seutas tali dari sabut kurma, pelananya pun dari sabut kurma. Pemimpin tertinggi umat, yang satu perintahnya menggerakkan ribuan pasukan, memilih tunggangan yang bahkan orang biasa pun mungkin merasa segan menaikinya. Suara langkah keledai itu pelan, jauh dari gemuruh derap kuda perang, namun para sahabat yang berjalan di sampingnya tidak pernah merasa pemimpinnya kurang berwibawa karenanya.

Anas melanjutkan kisahnya. Rasulullah ﷺ, jika diundang makan roti gandum kasar dengan lemak yang baunya sudah berubah karena disimpan lama, beliau tetap datang memenuhi undangan itu. Roti gandum kasar bukan hidangan istimewa — ia makanan paling sederhana yang biasa disantap orang-orang berkecukupan pas-pasan di Madinah. Yang lebih menusuk hati siapa pun yang mendengarnya: baju besi Rasulullah ﷺ tergadai di tangan seorang tetangga Yahudi, dan beliau wafat sebelum sempat menebusnya kembali.

Ada satu kenangan lagi yang disimpan Anas, tidak kalah menyentuh. Ketika Rasulullah ﷺ menunaikan haji, beliau tidak menunggangi kendaraan termahal yang bisa didapatkan seorang pemimpin umat. Beliau naik di atas pelana yang sudah using, mengenakan kain penutup yang nilainya bahkan tidak sampai empat dirham. Dan di tengah perjalanan suci itu, di antara debu dan terik matahari padang pasir, beliau memanjatkan doa yang begitu jujur — Ya Allah, jadikanlah haji ini haji yang tidak tercampur riya' dan tidak tercampur sum'ah, tidak untuk dilihat orang, dan tidak untuk didengar orang.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Padahal di sekelilingnya, ribuan jamaah haji berjalan dengan tunggangan dan pakaian terbaik yang mereka mampu, bersiap memasuki momen paling agung dalam hidup mereka. Di tengah lautan manusia itu, pemimpin mereka justru tampil paling sederhana, seolah sengaja tidak ingin menonjol di antara umatnya sendiri.

Bayangkan: manusia yang paling mulia, yang paling dicintai umatnya, yang sekali perintah bisa dituruti ribuan orang, justru paling waspada terhadap satu penyakit hati yang sering kita anggap sepele — keinginan dilihat dan dipuji orang lain atas kebaikan yang kita lakukan.

Pelajaran

Tiga potret ini — keledai bertali sabut, roti gandum dengan lemak yang sudah berubah bau, baju besi yang tergadai hingga wafat, dan haji dengan pelana using — bukan cerita tentang kemiskinan yang dipaksakan. Rasulullah ﷺ adalah pemimpin sebuah negeri, yang jika mau, bisa memiliki kendaraan dan pakaian terbaik yang tersedia pada zamannya. Yang beliau pilih bukan kekurangan, melainkan kebebasan — bebas dari ketergantungan hati pada kemewahan, bebas dari kebutuhan untuk tampil lebih dari yang seharusnya. Ketika pekan ini kita mendengar kabar tentang harga yang naik, emas yang digadaikan, dan usaha besar yang tiba-tiba goyah, potret ini mengingatkan pada satu hal sederhana: kedudukan seseorang di sisi Allah tidak pernah diukur dari kendaraan yang ia naiki atau baju yang ia kenakan, melainkan dari kejujuran hatinya menerima apa yang ada, dan kewaspadaannya menjaga niat dari riya' dalam setiap amal — termasuk dalam cara ia mencari dan membelanjakan hartanya.

Sumber Asli

Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعود المريض ويشهد الجنائز ويركب الحمار ويجيب دعوة العبد. وكان يوم بني قريظة على حمار مخطوم «2» بحبل من ليف وعليه إكاف «3» من ليف

كان النّبيّ صلى الله عليه وسلم يدعى إلى خبز الشعير والإهالة السّنخة «5» فيجيب. ولقد كان له درع «6» عند يهوديّ فما وجد ما يفكّها حتى مات

Lihat Briefing Mingguan