بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini banyak dari kita mendengar cerita yang mirip: harga cabai naik, harga bahan pokok lain ikut merangkak, dan sebagian dari kita akhirnya membawa emas simpanan ke tempat gadai. Malam ini saya tidak ingin membahas kebijakan besar atau angka-angka ekonomi. Saya ingin mengajak kita bertanya hal yang lebih sederhana: siapa di sini yang pekan ini sempat merasa gelisah membandingkan rezekinya dengan rezeki orang lain?
Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah menyampaikan sebuah nasihat yang menarik. Dalam Nashaihul Ibad, beliau berkata:
حق على العاقل أن يختار سبعا على سبع :الفقر على الغني ،والذل على العز ،والتواضع على الكبر ،والجوع على الشبع ،والغم على السرور ،والدون على المرتفع ،والموت على الحياة.
"Hak atas orang yang berakal: memilih tujuh atas tujuh — fakir atas kaya, hina atas mulia, tawadhu atas sombong, lapar atas kenyang, sedih atas gembira, rendah atas tinggi kedudukan, dan mati atas hidup." (Nashaihul Ibad)
Nasihat ini bukan ajakan untuk sengaja miskin, jamaah — bukan itu maksudnya. Ini adalah ajakan untuk tidak menjadikan kekayaan sebagai ukuran tunggal harga diri kita. Coba kita amati diri kita sendiri: berapa kali dalam sepekan terakhir kita membuka aplikasi belanja atau media sosial, lalu diam-diam membandingkan rumah, kendaraan, atau tabungan kita dengan milik orang lain? Perbandingan semacam ini punya cara halus untuk membuat hati kita gelisah, padahal Allah tidak pernah menilai kita dari angka di rekening.
Saya jadi teringat, di tengah keresahan pekan ini soal usaha besar yang goyah dan investasi yang tiba-tiba merugi, ada satu hal yang justru menenangkan: ketenangan hati orang yang bersandar pada usaha halal, sekecil apa pun hasilnya, jauh lebih tahan lama daripada ketenangan semu orang yang bergantung pada keuntungan yang datang tiba-tiba dan bisa hilang secepat ia datang. Kita mungkin pernah dengar cerita kawan yang untung besar dari trading dalam semalam — tapi jarang kita dengar cerita yang sama tentang kawan yang rugi besar dari jalan yang sama. Bukan berarti berdagang atau berinvestasi itu dilarang; yang perlu kita jaga adalah supaya hati kita tidak menggantungkan ketenangan pada sesuatu yang naik-turun di luar kendali kita.
Saya sendiri kadang bertanya-tanya: kenapa hati kita lebih mudah gelisah soal rezeki dibanding soal ibadah yang mungkin sedang kita tinggalkan? Coba jujur sama diri sendiri — berapa lama kita memikirkan harga emas yang naik-turun, dibanding berapa lama kita memikirkan sholat Subuh yang masih sering telat? Ini bukan menyalahkan, ini cuma ajakan untuk melihat ke mana sebenarnya hati kita paling sering berlabuh. Kalau ternyata lebih sering ke urusan dunia, mungkin itu tanda kita perlu menyeimbangkan lagi — bukan meninggalkan usaha, tapi memberi porsi yang adil juga untuk yang lebih kekal.
Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan doa yang menempatkan rezeki bersama tiga hal lain yang justru lebih mendasar. Dalam sebuah riwayat, beliau berdoa untuk sebagian sahabatnya:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ
"Ya Allah, berkahilah mereka pada apa yang Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka." (Sahih Muslim 2042a)
Perhatikan urutannya, jamaah: bukan "perbanyaklah rezeki mereka", melainkan "berkahilah mereka pada apa yang telah direzekikan". Barokah itu bukan soal jumlah, tapi soal apakah yang sedikit itu cukup, menenangkan, dan membawa kebaikan bagi yang memilikinya. Rezeki yang banyak tapi tidak berkah bisa membuat rumah tangga gelisah sepanjang waktu; rezeki yang pas-pasan tapi berkah bisa membuat satu keluarga tidur nyenyak setiap malam.
Saya juga mau jujur, jamaah — saya sendiri kadang kepikiran hal serupa. Lihat unggahan kawan yang baru beli kendaraan baru atau liburan ke luar negeri, muncul begitu saja rasa "kok saya belum sampai situ ya". Wajar, itu manusiawi. Tapi begitu saya ingat lagi doa yang barusan kita baca — barokah itu soal cukup, bukan soal banyak — rasa itu biasanya mereda. Bukan berarti kita berhenti berusaha lebih baik, tapi kita berhenti mengukur diri dari pencapaian orang lain yang bahkan tidak kita ketahui penuh ceritanya.
Maka pekan ini, mari kita coba satu hal kecil bersama-sama. Malam ini, sebelum tidur, coba hitung bukan berapa yang kita punya, tapi berapa yang sudah cukup untuk kita syukuri. Kalau ada tetangga yang pekan ini kesulitan karena harga naik atau terjerat pinjaman, sapa dan bantu semampu kita — bukan dengan menggurui, cukup dengan hadir. Dan kalau hati kita mulai gelisah membandingkan rezeki dengan orang lain, ingatlah nasihat yang kita dengar tadi: kedudukan yang tinggi di sisi Allah tidak pernah diukur dari angka rekening.
Ketenangan yang sesungguhnya, jamaah yang saya hormati, adalah ketenangan orang yang tahu rezekinya diberkahi Allah, sekecil apa pun jumlahnya, dan tahu bahwa kedudukan yang lebih tinggi di sisi-Nya justru sering datang lewat kesederhanaan yang kita jalani dengan lapang dada.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِعِيْنَ بِعَطَائِكَ، الشَّاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
