Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatHukum & KeadilanKamis, 3 September 2026

Khutbah Jumat — "Adil Ketika Tak Ada yang Mengawasi"

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah pada Jumat ini kita membuka hati dengan satu ayat pendek namun menusuk, dari surah At-Takwir:

بِأَىِّ ذَنۢبٍۢ قُتِلَتْ

"Karena dosa apakah dia dibunuh?" (QS. At-Takwir: 9)

Ayat ini berbicara tentang bayi perempuan yang ditanam hidup-hidup oleh sebagian masyarakat jahiliyah, yang kelak pada Hari Kiamat akan diberi kesempatan bersaksi — ditanya, bukan pelakunya yang ditanya lebih dulu, melainkan korban itu sendiri: karena dosa apa dirinya dihilangkan. Ini adalah gambaran keadilan Allah yang paling menusuk hati — bahwa setiap nyawa yang dirampas, setiap hak yang dizalimi, tidak akan pernah hilang begitu saja dari catatan-Nya, betapapun rapatnya manusia menyembunyikannya.

Ayat ini terasa sangat dekat dengan apa yang kita saksikan sepanjang pekan ini. Dari berita yang sampai kepada kita, sidang atas dugaan korupsi dana kuota haji terus berjalan, dengan pejabat-pejabat tinggi negeri ini dipanggil memberi kesaksian. Dana yang semestinya menjamin kelancaran perjalanan ibadah jutaan saudara kita menuju Baitullah, kini menjadi materi pemeriksaan di ruang sidang. Kita tidak sedang menghakimi siapa pun yang masih menjalani proses hukum — hukum Allah pun mengajarkan kita menahan diri sampai kebenaran benar-benar terang. Namun peristiwa ini mengingatkan kita pada satu hal mendasar: ibadah haji menyentuh titik paling suci dalam kehidupan seorang mukmin, dan siapa pun yang diberi amanah mengelola jalannya ibadah itu sedang memikul beban yang, jika dikhianati, bukan sekadar merugikan negara, tetapi mengganggu hak spiritual saudara-saudara kita sendiri.

Ma'asyiral muslimin, ada kepekaan khusus yang perlu kita jaga ketika berbicara tentang dugaan penyimpangan dana ibadah seperti ini. Di satu sisi, kita tidak boleh menutup mata terhadap kemungkinan penyimpangan — itu sama saja membiarkan amanah dikhianati atas nama menjaga nama baik. Di sisi lain, kita juga tidak boleh membiarkan kecurigaan terhadap oknum tertentu berubah menjadi kecurigaan terhadap ibadah haji itu sendiri, atau terhadap lembaga yang mengurusnya secara keseluruhan. Yang keliru adalah oknum yang menyalahgunakan amanah, bukan sistem penyelenggaraan haji yang telah melayani jutaan jamaah dengan baik selama bertahun-tahun.

Kabar lain yang ramai diperbincangkan pekan ini adalah dugaan korupsi dalam pengadaan perangkat belajar untuk anak-anak sekolah kita. Sekali lagi, ini bukan kasus tunggal — ini pola. Pola yang menunjukkan bahwa amanah publik, di berbagai sektor, masih rentan disalahgunakan oleh segelintir tangan yang lupa bahwa jabatan adalah titipan, bukan hak milik. Sebagian dari kita mungkin membaca kabar semacam ini dengan perasaan lelah — begitu banyak, begitu berulang setiap pekan. Tapi justru di situlah letak ujian keimanan kita: apakah kelelahan itu membuat kita permisif terhadap kezaliman, ataukah justru menguatkan tekad kita untuk tidak menjadi bagian dari pola yang sama, sekecil apa pun amanah yang kita pegang hari ini.

Ironi yang menyayat dari kasus pengadaan perangkat belajar ini, ma'asyiral muslimin, adalah bahwa yang paling dirugikan justru anak-anak yang paling berhak atas pendidikan yang layak — mereka yang seharusnya belajar dengan perangkat yang memadai, tetapi harus menanggung akibat dari keputusan orang dewasa yang bahkan tidak mereka pahami sama sekali. Ini mengingatkan kita bahwa korupsi bukan kejahatan tanpa korban. Korbannya sering kali adalah mereka yang paling tidak berdaya membela diri — anak-anak, generasi yang belum lahir, mereka yang tidak punya suara di ruang sidang mana pun.

Pekan ini kita juga mendengar kabar yang menyesakkan dari sekitar gedung dewan perwakilan rakyat. Menjelang aksi unjuk rasa pada 27 Agustus, aparat keamanan berhasil menyita senjata angin, senjata tajam, dan bahan pembuat bom molotov dari puluhan orang yang diduga hendak menunggangi aksi itu dengan kekerasan; puluhan orang yang diduga provokator turut diamankan. Namun kericuhan tetap tidak terhindarkan — api sempat berkobar, sebagian massa memanjat pagar gedung, dan seorang warga dilaporkan wafat dalam rangkaian peristiwa itu, sebuah kabar duka yang hingga kini masih memerlukan penjelasan resmi yang lebih terang.

Di balik setiap judul berita, ada keluarga yang kehilangan. Mungkin ada anak yang kini tumbuh tanpa salah satu orang tuanya, ada istri atau ibu yang harus menjelaskan kepada anggota keluarganya yang lebih muda mengapa orang yang mereka tunggu tidak kunjung pulang. Sebelum kita larut dalam perdebatan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kericuhan itu, mari sejenak kita diam, dan panjatkan doa untuk mereka yang ditinggalkan — bahwa musibah ini, sepahit apa pun, tidak pernah lepas dari pengetahuan dan rahmat Allah.

Ma'asyiral muslimin, menuntut keadilan adalah bagian dari ajaran Islam yang paling tegas. Tidak ada satu pun ulama yang mengajarkan umat untuk diam di hadapan kezaliman. Tetapi Islam juga mengajarkan bahwa cara menuntut keadilan tidak boleh menyalahi keadilan itu sendiri. Ketika amarah kolektif dibiarkan tak terkendali, yang paling sering menjadi korban bukanlah mereka yang merancang kerusuhan, melainkan orang-orang biasa yang kebetulan berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Islam memiliki pandangan yang sangat tegas tentang bahaya bergerak di bawah panji yang buta — panji yang digerakkan bukan oleh kebenaran, melainkan oleh fanatisme golongan semata. Kita akan renungkan ini lebih dalam sesaat lagi.

Di ranah hukum yang lain, permohonan praperadilan terkait kasus yang melibatkan Febrie Adriansyah ditolak pengadilan pekan ini — satu lagi babak dalam proses hukum yang panjang dan, bagi sebagian orang, terasa lambat. Dan jauh di Kalimantan, penegakan hukum atas kebakaran hutan dan lahan terus berjalan, sementara di ruang publik muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari kebakaran yang berulang setiap musim kemarau? Kita mungkin tidak tahu jawaban pastinya untuk setiap kasus. Tetapi ada satu ayat dalam surah Al-Baqarah yang berbicara tentang bagaimana Allah memperlakukan kebenaran yang sengaja disembunyikan:

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًۭا فَٱدَّٰرَْٰٔتُمْ فِيهَا ۖ وَٱللَّهُ مُخْرِجٌۭ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

"Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan." (QS. Al-Baqara: 72)

Ayat ini turun dalam konteks Bani Israil yang saling menuduh setelah sebuah pembunuhan terjadi di antara mereka, dan tiap pihak berusaha melempar tanggung jawab kepada pihak lain. Allah tidak membiarkan tuduh-menuduh itu menjadi kata akhir — kebenaran pada akhirnya disingkapkan. Prinsip ini menenangkan sekaligus mengingatkan kita: siapa pun yang hari ini merasa berhasil menyembunyikan sesuatu — entah keuntungan dari kerusakan lingkungan, entah peran dalam sebuah kejahatan — cepat atau lambat akan berhadapan dengan penyingkapan itu, jika bukan di pengadilan dunia, maka pasti di pengadilan akhirat yang tidak mengenal kadaluwarsa maupun suap.

Sikap kita terhadap proses yang masih berjalan ini sebaiknya adalah sikap sabar yang aktif, bukan sabar yang pasif. Sabar yang aktif berarti terus mendoakan, terus mengawal lewat cara-cara yang sah dan tertib, dan terus menahan diri dari menyebar tuduhan yang belum terbukti. Sabar yang pasif sebaliknya hanya berhenti pada rasa lelah dan sinisme yang tidak menghasilkan apa pun selain hati yang perlahan mengeras dan kehilangan kepekaan.

Karena itulah, ma'asyiral muslimin rahimakumullah, khutbah pekan ini mengajak kita merenungkan satu hal: keadilan dalam Islam bukan sekadar keadilan yang ditegakkan pengadilan, dan bukan pula keadilan yang baru kita pedulikan ketika kamera menyorot. Keadilan dalam Islam adalah keadilan yang tetap kita jaga sekalipun tidak ada satu manusia pun yang mengawasi — karena kita meyakini, ada Yang senantiasa mengawasi setiap gerak hati dan tangan kita.

Ma'asyiral muslimin, mari kita renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tentang tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ»

"Tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan Arsy-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya." (Nashaihul Ibad — باب السباعي (1/2))

Dan yang disebutkan paling pertama dari tujuh golongan itu adalah imam yang adil. Bukan orang yang paling banyak hartanya, bukan pula yang paling tinggi jabatannya — melainkan yang paling adil dalam kepemimpinannya. Perhatikan urutan ini, ma'asyiral muslimin: keadilan dalam kepemimpinan ditempatkan sejajar dengan pemuda yang menjaga ibadahnya, dengan orang yang menangis karena takut kepada Allah dalam kesendirian, dengan orang yang menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya sendiri tidak mengetahuinya. Artinya, keadilan dalam kepemimpinan bukanlah perkara administratif semata — ia adalah ibadah, ia adalah amal yang ditimbang di sisi Allah setara dengan amal-amal batin yang paling tersembunyi. Ini seharusnya menjadi cara pandang baru bagi kita ketika membaca berita tentang pejabat yang diperiksa, tentang dana yang diselewengkan: yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi institusi, melainkan sebuah ibadah yang gagal ditunaikan.

Di Indonesia hari ini, ma'asyiral muslimin, kita hidup di zaman ketika hampir setiap gerak pejabat publik terekam kamera, tersebar di media sosial, dan diperiksa jutaan mata dalam hitungan jam. Sebagian orang mengira ini akan otomatis membuat pemimpin lebih berhati-hati. Kenyataannya tidak selalu demikian — sebagian orang justru belajar menjadi lebih pandai bersandiwara di depan kamera, sementara di balik layar keputusannya tetap berpihak pada kepentingan sendiri. Inilah kenapa hadits tentang imam yang adil ini begitu relevan bagi kita: standar yang dipakai bukan standar yang terlihat kamera, melainkan standar yang dilihat Allah — standar yang tidak bisa direkayasa dengan pencitraan sebaik apa pun.

Ma'asyiral muslimin, kepemimpinan yang adil ini tidak berdiri di ruang hampa — ia diuji justru ketika berhadapan dengan kelompok yang terorganisir untuk merusaknya. Allah berfirman dalam surah An-Naml tentang sebuah kota yang di dalamnya ada sekelompok kecil orang yang bekerja sama merancang kerusakan:

وَكَانَ فِى ٱلْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍۢ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

"Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan." (QS. An-Naml: 48)

Perhatikan angka yang disebutkan, ma'asyiral muslimin: bukan seratus orang, bukan pula kerumunan yang tidak terorganisir. Sembilan orang saja. Ayat ini mengajarkan kebenaran yang sering luput dari perhatian kita: kerusakan besar jarang lahir dari kekacauan masal yang tidak terarah. Ia justru paling sering lahir dari kelompok kecil yang rapi, yang saling menjaga rahasia, yang tahu persis bagaimana memanfaatkan celah sebuah sistem.

Kabar tentang dugaan korupsi kuota haji dan pengadaan Chromebook yang kita dengar pekan ini mungkin melibatkan lebih dari sembilan orang, mungkin kurang — angka pastinya biarlah menjadi urusan penegak hukum untuk membuktikan. Tetapi pola yang diajarkan ayat ini tetap relevan: korupsi jarang terjadi karena satu orang bertindak sendirian dalam kegelapan total. Ia biasanya membutuhkan pembiaran, kerja sama diam-diam, dan sistem yang cukup longgar untuk membiarkan celah itu dimanfaatkan berulang kali.

Yang menarik, ayat ini juga tidak berhenti pada sembilan orang itu saja — ia menyebut bahwa mereka "tidak mengadakan perbaikan". Ini kembali kepada prinsip yang sudah kita singgung tadi: yang paling berbahaya bukan sekadar merusak, tetapi merusak sambil menutup semua jalan untuk memperbaikinya. Setiap kali kita mendengar upaya menghalang-halangi penyidikan, mengintimidasi saksi, atau melobi agar sebuah kasus dihentikan di tengah jalan, di situlah pola "tidak mengadakan perbaikan" ini hidup kembali.

Bagi kita yang bukan penegak hukum, bukan jaksa, bukan hakim, pelajaran praktisnya bukan tentang bagaimana membongkar kelompok semacam itu — itu tugas institusi yang berwenang, dan kita berdoa semoga mereka diberi keberanian dan kejujuran untuk menuntaskannya. Pelajaran untuk kita adalah menjaga agar diri kita sendiri tidak pernah, walau dalam skala terkecil, menjadi bagian dari kelompok kecil yang "berkumpul untuk merapikan sesuatu yang sebenarnya salah" — entah itu menutupi kesalahan rekan kerja demi solidaritas semu, entah itu ikut serta dalam praktik kecil yang kita tahu batil karena beralasan "toh semua orang juga begitu".

Agar kita tidak mengira standar keadilan ini hanya berlaku bagi pemimpin negara yang jauh dari kita, marilah kita simak sebuah riwayat dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma. Suatu ketika sepulang dari perang Hunain, Rasulullah ﷺ membagikan harta rampasan perang, dan di antara pakaian Bilal terdapat perak yang beliau ambil untuk dibagikan kepada orang-orang. Seorang lelaki lalu berkata kepada beliau:

يَا مُحَمَّدُ اعْدِلْ

"Wahai Muhammad, berlakulah adil."

Bayangkan, ma'asyiral muslimin — seseorang menuduh Rasulullah ﷺ, manusia paling adil yang pernah hidup, tidak berlaku adil. Bagaimana respons beliau? Beliau tidak marah untuk membela harga dirinya sendiri. Beliau bersabda:

وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ

"Celaka engkau! Siapa yang akan adil jika aku tidak adil? Sungguh engkau telah kecewa dan rugi jika aku tidak adil." (Sahih Muslim 1063a)

Bahkan ketika 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu meminta izin untuk menghukum orang yang dianggapnya munafik itu, Rasulullah ﷺ menahannya — sebab beliau tidak ingin manusia berkata bahwa beliau menghukum orang-orang di sekelilingnya sendiri secara sewenang-wenang. Yang bisa kita ambil dari riwayat ini bukanlah detail hukum tentang siapa yang boleh dihukum dan siapa yang tidak — itu wilayah ulama untuk menjelaskan. Yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah sikap batinnya: seorang pemimpin sejati tidak defensif ketika keadilannya dipertanyakan publik. Ia justru membuka diri untuk diperiksa, karena ia tahu keadilan bukan miliknya untuk dipertahankan sebagai harga diri, melainkan amanah yang harus tetap terbuka untuk dikoreksi.

Bandingkan sikap ini, ma'asyiral muslimin, dengan kecenderungan yang sering kita lihat hari ini — pejabat atau tokoh publik yang, begitu dikritik, lebih sibuk mencari siapa yang menyebarkan kritik itu, alih-alih memeriksa apakah kritik itu benar. Bukan berarti setiap kritik harus diterima mentah-mentah tanpa klarifikasi; klarifikasi yang jujur tetap diperlukan. Yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah sikap batin yang terbuka terhadap kemungkinan diri sendiri keliru, bukan sikap yang secara otomatis membela diri sebelum memeriksa substansi kritiknya lebih dahulu.

Ma'asyiral muslimin, sekarang mari kita kembali ke kabar yang menyesakkan tentang kericuhan menjelang aksi 27 Agustus. Islam memiliki peringatan yang sangat keras tentang bahaya bergerak bukan karena kebenaran, melainkan karena fanatisme golongan semata. Jundub bin 'Abdullah al-Bajali radhiyallahu 'anhu meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

"Barangsiapa terbunuh di bawah panji yang buta — ia menyeru kepada fanatisme atau menolong fanatisme — maka itu kematian jahiliyah." (Sahih Muslim 1850)

Panji yang buta di sini bukan berarti panji tanpa tulisan. Ia adalah panji yang tujuannya tidak jelas, yang gerakannya digerakkan oleh siapa yang paling kompak berteriak, bukan oleh siapa yang paling benar. Hadits ini tidak sedang menilai siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kericuhan pekan ini — itu bukan wewenang kita, dan itu bukan wewenang mimbar ini. Tetapi hadits ini memberi kita rambu yang jernih untuk diri kita sendiri: sebelum ikut memviralkan, ikut memihak, ikut memanaskan suasana di lini masa kita masing-masing, tanyakan pada diri — apakah aku sedang membela kebenaran, atau sedang membela golongan? Keduanya terasa sama panasnya di dada, tetapi hanya satu yang diridhai Allah.

Kita juga patut bersyukur, ma'asyiral muslimin, bahwa aparat keamanan berhasil mencegah kericuhan yang lebih besar dengan menyita senjata dan bahan peledak sebelum sempat digunakan, dan mengamankan puluhan orang yang diduga sengaja hendak menunggangi aksi itu dengan kekerasan. Ini mengingatkan kita bahwa menyampaikan pendapat di ruang publik adalah hak yang semestinya dijamin, dan hak itu harus dilindungi dari dua arah sekaligus: dari pembungkaman yang tidak adil, dan dari penunggangan pihak-pihak yang sengaja mencari kerusuhan di tengah niat yang semula lurus. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya diam terhadap kezaliman, tetapi juga tidak pernah mengajarkan bahwa tujuan yang benar menghalalkan cara yang merusak.

Bagi kita yang hidup di Indonesia hari ini, di tengah arus informasi yang deras dan algoritma yang senang memviralkan kemarahan, godaan untuk terseret panji buta ini jauh lebih besar dari zaman Jundub bin 'Abdullah dahulu. Dulu, panji itu perlu kaki untuk berjalan ke medan. Sekarang, panji itu cukup satu ketukan jari untuk dibagikan ke ratusan grup WhatsApp dan lini masa. Itulah mengapa nasihat Nabi ﷺ ini justru semakin relevan bagi generasi kita — generasi yang genggamannya penuh kekuatan untuk menyebarkan kebenaran, tapi juga penuh godaan untuk menyebarkan fanatisme yang dibungkus sebagai kebenaran.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dari renungan ini, ada beberapa langkah nyata yang bisa kita bawa pulang pekan ini — bukan sekadar nasihat untuk direnungkan, melainkan tindakan yang bisa mulai kita jalankan sebelum matahari terbenam hari ini.

Pertama, audit amanah kita sendiri. Sebelum mengomentari korupsi di kementerian atau lembaga negara, periksa dulu amanah sekecil apa pun yang kita pegang — uang kas RT yang kita simpan, dana pengajian yang kita kelola, jam kerja yang kita catat di kantor, bahkan waktu yang kita janjikan kepada keluarga. Buka catatan itu hari ini, dan tanyakan jujur pada diri sendiri: apakah semuanya sudah kita tunaikan sebagaimana mestinya, atau ada yang kita tunda dengan alasan yang sebetulnya hanya kemalasan?

Kedua, tahan diri dari menghakimi pihak yang masih menjalani proses hukum. Kita boleh geram, kita boleh berharap keadilan segera ditegakkan, tetapi jangan sampai amarah itu membuat kita menjatuhkan vonis sendiri di linimasa sebelum pengadilan menjatuhkan putusannya. Doakan agar proses hukum berjalan jujur dan tidak diintervensi, tetapi jangan menjadi hakim jalanan yang sudah memutus bersalah atau tidak bersalah hanya berdasarkan judul berita yang kita baca sepintas.

Ketiga, jauhi arus fanatisme golongan di media sosial. Ketika sebuah isu memanas — entah soal demonstrasi, soal sidang, atau soal kebijakan pemerintah — beri jeda sebelum ikut membagikan atau berkomentar. Tanyakan pada diri sendiri lebih dulu: apakah kita sedang membela kebenaran yang sudah kita periksa faktanya, atau sekadar membela golongan yang kebetulan sama dengan pilihan kita? Satu jeda beberapa detik sebelum menekan tombol bagikan bisa menyelamatkan kita dari ikut menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar.

Keempat, ajarkan kepada keluarga kita bahwa keadilan dimulai dari rumah. Dari cara kita membagi perhatian dan pujian ke anak-anak tanpa pilih kasih, dari cara kita memperlakukan asisten rumah tangga dengan upah dan waktu istirahat yang layak, dari cara kita menagih utang tanpa mempermalukan dan membayar utang tanpa menunda-nunda. Keadilan besar yang kita perjuangkan di ruang publik akan terasa kosong jika di rumah kita sendiri, keadilan itu justru yang paling sering kita abaikan.

Kelima, jadikan masjid ini ruang yang menenangkan, bukan yang memanaskan. Jika ada jamaah yang datang membawa amarah tentang berita pekan ini, sambutlah dengan telinga yang mendengar dan nasihat yang menyejukkan, bukan dengan ikut memperkeruh suasana atau menambah bumbu spekulasi yang belum tentu benar. Masjid semestinya menjadi tempat jamaah pulang dengan hati yang lebih tenang, bukan dengan amarah yang berlipat ganda.

Keenam, jangan berhenti mendoakan mereka yang menjadi korban dalam rangkaian peristiwa pekan ini — baik korban kericuhan, korban kebakaran hutan, maupun korban ketidakadilan yang belum terungkap ke publik. Doa kita mungkin terasa kecil dibandingkan besarnya persoalan, tetapi doa yang tulus tidak pernah sia-sia di sisi Allah, dan seringkali doa itulah yang menjaga hati kita sendiri tetap lembut di tengah berita yang keras.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita akhiri dengan satu hadits yang menenangkan sekaligus meninggikan harapan kita. 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

"Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan ar-Rahman — yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam putusan-putusan mereka, dalam keluarga mereka, dan dalam apa yang mereka pimpin." (Sahih Muslim 1827)

Perhatikan, ma'asyiral muslimin: mimbar cahaya itu bukan hanya untuk presiden atau hakim agung. Ia untuk siapa saja yang adil dalam apa yang dipimpinnya — sekecil apa pun itu. Adil kepada anak-anak kita adalah bagian darinya. Adil kepada karyawan kita adalah bagian darinya. Adil kepada tetangga kita yang berbeda pilihan politik adalah bagian darinya. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka yang duduk di atas mimbar cahaya itu kelak — bukan karena jabatan yang pernah kita pegang di dunia, melainkan karena keadilan yang kita jaga bahkan ketika tidak ada satu pun manusia yang mengawasi.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita jadikan pekan ini sebagai titik mula, bukan sekadar bahan renungan yang menguap begitu saja setelah kita melangkah keluar dari masjid ini. Keadilan yang besar di negeri ini tidak akan pernah tegak hanya dengan menunggu orang lain berubah lebih dulu. Ia tegak ketika cukup banyak dari kita memilih memulainya dari diri sendiri — dari amanah yang kita pegang, dari amarah yang kita kelola, dari rumah tangga yang kita jaga adil. Semoga Allah memudahkan langkah kita menuju itu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan saya menegaskan kembali satu hal dari khutbah pertama: keadilan yang Allah nilai bukanlah keadilan panggung, melainkan keadilan ruang sunyi. Tujuh golongan yang dinaungi Arsy-Nya tadi memiliki satu benang yang sama — semuanya amal yang paling mudah dipalsukan di depan orang lain, tapi paling sulit dipalsukan di hadapan Allah. Imam yang adil bisa saja pura-pura adil di depan kamera, tetapi tidak bisa pura-pura adil di hadapan Allah yang mengetahui isi hatinya saat mengambil keputusan.

Kepada jamaah yang hatinya masih bergejolak melihat kabar-kabar pekan ini — kericuhan, korupsi, kecurigaan — saya ingin mengingatkan bahwa marah terhadap kezaliman adalah tanda iman yang hidup. Yang perlu kita jaga bukan rasa marah itu, melainkan ke mana kita salurkan. Marah yang disalurkan lewat doa, lewat suara yang tertib, lewat teladan yang kita bangun sendiri, adalah marah yang produktif. Marah yang disalurkan lewat kekerasan atau fitnah balasan hanya menambah satu lapis kezaliman baru di atas kezaliman yang sudah ada.

Kepada jamaah yang pekan ini menerima banyak sekali informasi yang belum tentu benar — potongan video tanpa konteks, klaim yang viral tapi belum terverifikasi, angka yang beredar tanpa sumber yang jelas — saya ingin mengingatkan bahwa menyebarkan kabar yang belum kita pastikan kebenarannya adalah bentuk kezaliman tersendiri, sekalipun niat kita baik. Islam mengajarkan kita untuk memastikan dan mengecek lebih dahulu sebelum sebuah kabar kita teruskan kepada orang lain. Kehati-hatian ini bukan kelemahan iman — justru bagian dari keadilan yang kita jaga, sebab di balik setiap kabar yang kita sebarkan tanpa periksa, mungkin ada nama baik seseorang yang ikut dipertaruhkan.

Kepada jamaah yang mendengar kabar duka dari kericuhan dan bencana pekan ini, mari kita jangan berhenti pada rasa iba sesaat yang cepat berlalu. Doakan mereka yang kehilangan, dan jika mampu, ulurkan bantuan nyata kepada yang terdampak di sekitar kita. Keadilan bukan hanya soal menghukum yang bersalah, tetapi juga soal menjaga martabat mereka yang menjadi korban keadaan — korban kericuhan yang tidak mereka rencanakan, korban asap yang tidak mereka undang.

Kepada jamaah yang mulai lelah dan pesimis terhadap proses hukum yang terasa lambat, saya ingin mengingatkan bahwa Allah tidak memerintahkan kita untuk optimis buta, tetapi memerintahkan kita untuk terus berikhtiar dan berdoa tanpa henti. Setiap sidang yang berjalan, setiap praperadilan yang diputuskan, adalah bagian dari proses yang Allah izinkan berjalan di dunia — dan kita punya peran untuk terus mendoakan agar proses itu jujur, bukan menyerah pada sinisme.

Dan kepada jamaah yang sesaat lagi pulang ke rumah masing-masing, bawalah satu pertanyaan sederhana untuk direnungkan bersama keluarga: pada bagian mana dari hidup kita, keadilan paling mudah kita abaikan karena kita pikir tidak ada yang melihat? Jawablah pertanyaan itu dengan jujur, karena Allah sudah menjawabnya lebih dulu.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ، وَاكْشِفْ عَنْهُمُ الْكَرْبَ وَالضَّرَّاءَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ وَالْحَقِّ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِعِبَادِكَ لَا نِقْمَةً عَلَيْهِمْ، وَأَعِذْهُمْ مِنَ الظُّلْمِ وَالْجَوْرِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَنْ ظُلِمَ مِنْ عِبَادِكَ فِيْ هٰذِهِ الْبِلَادِ، وَاجْبُرْ كَسْرَ قُلُوْبِهِمْ، وَاغْفِرْ لِمَنْ تُوُفِّيَ مِنْهُمْ فِيْ فِتْنَةٍ أَوْ كَرْبٍ، وَارْزُقْ أَهْلَهُ الصَّبْرَ وَالسُّلْوَانَ.

اَللّٰهُمَّ اهْدِنَا إِلَى الْحَقِّ فِيْمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ بِإِذْنِكَ، وَجَنِّبْنَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan