Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumHukum & KeadilanKamis, 3 September 2026

Kultum — "Memperbaiki, Bukan Sekadar Menyesal"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, saya membaca satu demi satu kabar tentang sidang korupsi, kericuhan, dan kecurigaan publik — dan satu pertanyaan kecil terus mengganggu saya: seberapa jujur saya sendiri ketika tidak ada yang mengawasi?

Pertanyaan itu yang membawa saya ke satu ayat pendek dalam surah Ash-Shu'ara. Allah menyebut satu ciri orang yang berbuat kerusakan:

ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

"Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS. Ash-Shu'araa: 152)

Perhatikan, ayat ini tidak hanya mencela orang yang berbuat rusak. Ia mencela dua hal sekaligus: merusak, dan tidak memperbaiki. Ada orang yang merusak sedikit tapi lalu bertaubat dan memperbaiki — Allah masih membuka pintu untuknya. Yang paling berat adalah yang terus merusak tanpa pernah berhenti memperbaiki apa yang sudah ia rusak.

Coba kita renungkan sejenak, jamaah. Kenapa Allah memilih menyandingkan dua sifat ini — merusak dan tidak memperbaiki — alih-alih cukup menyebut "orang yang merusak" saja? Karena Allah tahu, hampir setiap manusia pernah merusak sesuatu, entah sengaja atau tidak. Yang membedakan kualitas seorang hamba bukan pada apakah ia pernah salah, tetapi pada apa yang ia lakukan setelah menyadari kesalahannya itu.

Pekan ini, kabar tentang sidang korupsi dan kericuhan membuat banyak dari kita geram. Tapi izinkan saya jujur malam ini: godaan "merusak tanpa memperbaiki" itu bukan monopoli pejabat yang sedang disidang. Godaan itu ada di skala yang jauh lebih kecil, di dekat kita sendiri.

Berapa banyak dari kita yang pernah "meminjam" uang kas RT atau kas pengajian untuk kebutuhan mendadak, berniat mengganti, lalu lupa? Berapa banyak dari kita yang menjanjikan sesuatu ke anak, ke pasangan, ke rekan kerja, lalu ketika janji itu tidak ditepati, kita anggap selesai begitu saja tanpa benar-benar memperbaikinya? Itulah bentuk kecil dari "yufsiduna fil ardhi wa la yushlihun" — merusak, lalu diam saja.

Atau yang lebih sering lagi — berapa banyak dari kita yang di grup WA keluarga besar ikut menyebarkan potongan video atau tuduhan yang belum jelas kebenarannya, lalu ketika ternyata salah, kita cuma diam, tidak pernah mengirim klarifikasi susulan? Itu juga bentuk "merusak lalu tidak memperbaiki" — merusak nama baik orang lewat informasi yang keliru, lalu tidak repot-repot mengoreksinya karena merasa "ah, kan cuma di grup keluarga". Saya sendiri pernah begitu, jamaah, dan baru sadar setelah orang yang saya ikut curigai ternyata benar-benar tidak bersalah.

Ini yang membuat saya merenung: mungkin kita tidak akan pernah diperiksa lembaga antikorupsi atau disidang di pengadilan. Tetapi setiap kita, dalam skala masing-masing, punya semacam neraca kerusakan dan perbaikan sendiri yang sedang dicatat. Neraca itu tidak butuh kamera pengawas, tidak butuh media yang meliput. Ia dicatat oleh Yang Maha Melihat, dan akan dibuka kembali kelak, sekecil apa pun isinya.

Yang membedakan orang yang bertaubat dengan orang yang sekadar menyesal adalah tindakan memperbaiki. Menyesal itu perasaan; memperbaiki itu perbuatan. Allah tidak menilai kita dari seberapa dalam penyesalan kita, tetapi dari seberapa nyata perbaikan yang kita lakukan setelahnya.

Kabar baiknya, prinsip yang sama berlaku untuk bangsa kita. Setiap sidang yang berjalan, setiap kasus yang diusut, adalah bentuk ikhtiar memperbaiki kerusakan — meski pelan, meski melelahkan untuk diikuti. Tugas kita bukan hanya menonton dari jauh sambil mencibir, tetapi turut menjaga agar proses perbaikan itu tidak berhenti — lewat doa, lewat suara yang tertib, lewat menjadi teladan kecil di lingkungan masing-masing.

Izinkan saya cerita sedikit pengalaman pribadi, jamaah. Beberapa waktu lalu saya sempat salah paham dengan tetangga gara-gara masalah sepele — parkir motor yang menghalangi jalan keluar-masuk gang. Saya diam saja, tidak menegur, hanya menggerutu dalam hati setiap kali lewat di depan rumahnya. Sampai suatu hari saya sadar, diam saya itu bukan kesabaran — itu cuma "merusak hubungan lalu tidak memperbaiki". Setelah saya beranikan diri mengobrol baik-baik, ternyata selesai dalam lima menit. Kadang yang menahan kita memperbaiki bukan masalahnya yang besar, tapi gengsi kita yang terlalu besar.

Saya cerita ini bukan untuk pamer sudah menjadi baik, jamaah — justru sebaliknya, supaya kita sama-sama sadar, memperbaiki itu sering kali jauh lebih sederhana daripada yang kita bayangkan. Yang membuatnya terasa berat biasanya bukan langkahnya, melainkan keputusan untuk mulai melangkah.

Maka sebelum kita pulang malam ini, saya mengajak kita semua melakukan satu hal kecil: ingat satu "kerusakan kecil" yang belum kita perbaiki — utang yang belum dibayar, janji yang belum ditepati, kata-kata kasar yang belum diminta maaf — dan mulai perbaiki itu pekan ini juga, sebelum ia menjadi kebiasaan yang kita bawa terus tanpa sadar.

Jamaah yang saya muliakan, mari kita bawa pulang satu pesan sederhana malam ini: jangan biarkan diri kita menjadi bagian dari yang merusak tanpa memperbaiki — baik dalam skala bangsa, maupun dalam skala rumah tangga kita sendiri. Keadilan yang besar dimulai dari keberanian memperbaiki hal-hal kecil yang selama ini kita biarkan retak. Tidak perlu menunggu jadi orang besar dulu untuk mulai memperbaiki — mulai saja dari yang kita bisa jangkau malam ini.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُصْلِحُ وَلَا يُفْسِدُ، وَاغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا مِنَ التَّقْصِيْرِ، وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan