بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Allah berfirman dalam QS. Saad: 42:
ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌۭ وَشَرَابٌۭ
"Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum."
Ayat ini adalah jawaban Allah atas seorang hamba yang diuji dengan kesulitan panjang, sebagaimana termaktub dalam rangkaian ayat tentang Nabi Ayyub 'alaihissalam. Jawaban itu tidak datang sebagai penjelasan mengapa ujian itu menimpanya. Jawaban itu datang sebagai jalan keluar — dan jalan keluar itu ternyata sedekat hentakan kaki. Allah tidak selalu membuka rahasia di balik sebuah ujian. Tapi Allah menjanjikan bahwa pertolongan-Nya, ketika tiba, bisa lebih dekat dari yang kita sangka.
Kita membawa ayat ini ke mimbar pekan ini karena sebuah kisah yang beredar luas belakangan ini, tentang seorang lelaki yang usahanya sedang runtuh. Utangnya sudah mencapai hitungan miliar rupiah. Dan di tengah keruntuhan itu, istrinya mengajukan gugatan cerai. Ketika kabar ini sampai ke orang-orang di sekitarnya, respons yang muncul bukan uluran tangan, melainkan sebuah label yang merendahkan — ia disebut "mokondo", julukan yang lahir dari kegagalan finansialnya, bukan dari siapa dirinya sebenarnya. Dikabarkan bahwa di ruang sidang, ia bahkan nyaris tidak sanggup membela diri.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, perhatikan betapa cepatnya sebuah kejatuhan berubah menjadi bahan olok-olok. Seseorang yang sedang kehilangan segalanya — usaha, kepercayaan diri, mungkin juga pernikahannya — justru ditambahkan satu beban lagi: kehilangan penghormatan dasar dari orang-orang yang mengenalnya. Islam tidak pernah mengajarkan bahwa kegagalan usaha adalah aib yang layak ditertawakan. Rezeki, sebagaimana kita ketahui, adalah bagian dari qadar Allah yang tidak selalu sejalan dengan usaha atau kebaikan seseorang. Nabi Ayyub 'alaihissalam sendiri, seorang hamba yang dicintai Allah, mengalami ujian yang panjang sebelum pertolongan Allah datang sedekat hentakan kaki, sebagaimana termaktub dalam ayat tadi. Kalau seorang nabi bisa diuji sepanjang itu, apakah kejatuhan seorang pengusaha di tengah kita hari ini layak dijadikan bahan tertawaan?
Pekan yang sama, satu kisah lain sampai kepada kita — kali ini bukan tentang kejatuhan, melainkan tentang sesuatu yang tersembunyi lebih lama lagi. Ada seorang ustadzah yang telah bertahun-tahun mengajar rutin di sebuah masjid. Murid-muridnya bercerita bahwa mereka sudah lama menyadari pakaian yang beliau kenakan telah usang, dipakai berulang kali. Beliau tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta. Ia terus datang, terus mengajar, sementara kebutuhannya sendiri dibiarkan tak terucap.
Ada pula kisah seorang anak yang menuliskan kenangan tentang ibunya yang telah wafat — seorang dosen yang sempat menjabat wakil dekan sekaligus memimpin sebuah divisi penelitian, namun perannya di rumah sebagai istri dan ibu tidak pernah ia kurangi sampai akhir hayatnya. Dan ada kisah seorang remaja yang menembus kampus teknik ternama di usia empat belas tahun — pencapaian yang oleh banyak orang langsung dibaca sebagai bukti kejeniusan tunggal, padahal di baliknya hampir selalu ada orang tua atau pendidik yang menata ulang hidupnya sendiri demi memberi ruang tumbuh bagi anak itu.
Empat kisah ini — seorang ibu yang memikul dua dunia, seorang lelaki yang jatuh lalu diejek, seorang ustadzah yang kebutuhannya lama terlihat namun belum direspons, seorang remaja yang prestasinya dibaca sebagai keajaiban tunggal — sesungguhnya berbicara tentang satu hal yang sama: betapa banyak beban yang dipikul manusia tanpa pernah ditunjukkan, dan betapa cepat kita, sebagai orang yang menyaksikan dari luar, salah membaca apa yang kita lihat. Kita melihat kegagalan lalu menertawakannya. Kita melihat pakaian usang lalu membiarkannya. Kita melihat prestasi lalu memuji individunya saja. Yang jarang kita lakukan adalah berhenti sejenak dan bertanya: apa yang tidak terlihat di balik ini semua?
Jamaah yang berbahagia, izinkan khatib mengajak kita masuk lebih dalam kepada satu sikap batin yang menjadi jawaban atas semua ini: husnuzhan kepada Allah — sangkaan baik, terutama pada saat dunia terasa runtuh. Rasulullah ﷺ bersabda, mengabarkan firman Allah dalam sebuah hadits qudsi, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 2675a:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، - وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ - قَالاَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً " .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: Allah 'azza wa jalla berfirman, "Aku di sisi sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya, Aku mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di kerumunan, Aku mengingatnya di kerumunan yang lebih baik darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari kecil."
Perhatikan pola dalam hadits qudsi ini, jamaah sekalian: semakin seorang hamba melangkah kepada Allah, semakin cepat dan semakin besar Allah menyambutnya kembali — dari sejengkal menjadi sehasta, dari sehasta menjadi sedepa, dari berjalan menjadi disambut dengan berlari kecil. Ini bukan hadits untuk orang yang sedang lapang. Ini hadits untuk orang yang sedang di titik paling rendah dalam hidupnya — sebab di situlah "mengingat-Ku" menjadi paling sulit dan paling berharga. Lelaki yang usahanya runtuh dan diejek oleh lingkungannya tadi, kalau ia membalikkan wajahnya kepada Allah di titik itu, bukan menjauh dari-Nya karena merasa gagal — maka janji dalam hadits ini berlaku baginya: Allah menyambutnya lebih cepat dari langkahnya sendiri.
Tapi hadits ini juga berbicara kepada kita yang menyaksikan dari luar, jamaah. Sangkaan baik bukan hanya sangkaan kepada Allah tentang nasib kita sendiri, ia juga seharusnya membentuk sangkaan kita kepada orang lain yang sedang diuji. Jika Allah menyambut hamba-Nya yang jatuh dengan kedekatan yang bertambah, betapa janggalnya jika kita, sesama makhluk, justru menjauh dan mengejek orang yang sedang Allah sambut itu.
Mengapa kita begitu mudah lupa untuk bersikap seperti ini? Nasihat ulama, sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3), memberi salah satu jawabannya. Dikisahkan sebagian ahli ibadah bermunajat:
(إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي. فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ)
"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh kepada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman buruk telah membantuku dalam maksiat. Maka tolonglah aku, wahai Penolong orang-orang yang minta tolong — jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau?" Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah ﷺ bersabda:
«سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخَمْسَ: يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ، وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْخَلْقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ»
"Akan datang pada umatku suatu masa yang mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara: mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai kehidupan dan melupakan kematian, mencintai istana dan melupakan kubur, mencintai harta dan melupakan hisab, mencintai makhluk dan melupakan Sang Khalik." Munajat ini dan sabda ini berbicara tentang akar yang sama: ketika cinta dunia menutupi pandangan kita, kita berhenti melihat manusia sebagai makhluk yang akan dihisab bersama kita, dan mulai melihat mereka hanya lewat kacamata kegagalan atau keberhasilan duniawinya. Dari situlah lahir olok-olok kepada orang yang jatuh, dan lahir pula sikap acuh kepada orang yang butuh tapi tidak pernah terlihat "menarik" untuk dibantu.
Jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita bawa cermin ini kepada kisah ustadzah yang pakaiannya telah lama usang tadi. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam kitab Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah, membuka satu bab khusus — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم — untuk memperlihatkan betapa sederhana dan keras kehidupan dunia yang dijalani Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya. Bab itu menghimpun riwayat-riwayat tentang rasa lapar yang biasa beliau ﷺ rasakan, makanan beliau yang sangat sederhana, dan keadaan para sahabat di awal Islam. Baginda Nabi ﷺ sendiri, pemimpin umat ini, hidup dalam kesederhanaan material yang nyata — bukan karena Allah tidak mampu melapangkannya, melainkan karena kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari apa yang tampak pada pakaian atau mejanya. Ustadzah yang pakaiannya usang itu berada dalam barisan yang mulia ini — bukan barisan yang layak dikasihani sebagai objek, melainkan barisan yang layak diteladani sekaligus diperhatikan kebutuhannya.
Lalu bagaimana dengan kisah remaja yang menembus kampus teknik di usia empat belas tahun, dan ibu yang memikul dua dunia sekaligus? Di sini, nasihat dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim memberi kita satu prinsip yang relevan. Disebutkan bahwa Sufyan ats-Tsauri rahimahullah biasa berjalan menemui Ibrahim bin Adham dan memberi faedah kepadanya, dan Abu 'Ubaid berjalan menemui 'Ali bin al-Madini untuk memperdengarkan kepadanya kosakata-kosakata asing dalam hadis — dua ulama besar yang tidak menunggu didatangi, melainkan aktif mendatangi orang lain untuk memberi manfaat. Kitab itu juga mengutip Imam asy-Syafi'i rahimahullah yang berkata: "Andaikan diwasiatkan kepada manusia yang paling berakal, niscaya ia akan diserahkan kepada para zuhad. Aku tidak tahu siapa yang lebih berhak atas hal ini daripada ulama dengan akal yang lebih dan sempurna." Prinsip zuhud di sini bukan berarti menolak dunia sama sekali, melainkan tidak membiarkan penilaian dunia — status, prestasi yang tampak, atau kekurangan yang tampak — menjadi ukuran akhir tentang siapa yang mulia. Ibu yang memikul dua dunia sekaligus, yang karier serta rumah tangganya berjalan sampai akhir hayat tanpa keluhan, adalah gambaran nyata dari kesungguhan yang justru paling banyak bekerja ketika paling sedikit disorot — persis seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abu 'Ubaid yang memberi manfaat tanpa menunggu diminta. Dan remaja yang menembus ITB di usia empat belas tahun pantas mendapat apresiasi, tapi apresiasi itu harus disertai kejujuran untuk menyebut siapa saja yang telah mendatanginya dengan cara yang sama sepanjang jalan itu.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, kalau kita menariknya menjadi satu benang, khutbah ini sesungguhnya mengajak kita kepada tiga pergeseran cara pandang. Pertama, pergeseran dari menghakimi kegagalan menjadi menyertai orang yang gagal — karena kita tidak pernah tahu siapa yang sedang disambut Allah lebih dekat justru pada titik terendahnya. Kedua, pergeseran dari sekadar menyadari kebutuhan orang lain menjadi benar-benar bertindak atasnya — karena mengetahui tanpa bertindak bukanlah kepedulian, hanya informasi yang dibiarkan menganggur. Ketiga, pergeseran dari memuji hasil semata menjadi mengakui proses dan orang-orang di baliknya — karena tidak ada pencapaian yang benar-benar berdiri sendiri.
Di Indonesia hari ini, ketiga pergeseran ini punya tempat yang sangat nyata: di grup keluarga yang mudah menyebarkan gosip tentang tetangga yang bangkrut, di lingkungan masjid yang punya pengajar setia namun jarang ditanya kabarnya, di rumah-rumah yang membesarkan anak berprestasi tanpa pernah menyebut siapa yang berkorban untuknya. Perubahan besar jarang dimulai dari kebijakan; ia dimulai dari cara kita memandang orang yang paling dekat dengan kita.
Maka, jamaah yang dirahmati Allah, khatib mengajak kita kepada beberapa langkah nyata pekan ini. Pertama, kepada siapa pun yang mengenal seseorang yang sedang jatuh secara finansial atau rumah tangga, hubungi orang itu pekan ini — bukan untuk menasihati, cukup untuk hadir dan bertanya kabar. Kedua, di lingkungan masjid atau majelis masing-masing, kenali satu sosok yang telah lama melayani tanpa banyak bicara — guru ngaji, marbot, pengurus lama — dan pastikan kebutuhannya benar-benar diketahui, bukan hanya "disadari". Ketiga, saat keluarga merayakan pencapaian seorang anak, luangkan waktu menyebut siapa saja yang ikut berjasa di baliknya — supaya anak itu sendiri tumbuh dengan rasa syukur, bukan rasa superior. Keempat, latih diri menahan komentar merendahkan tentang siapa pun yang sedang gagal, termasuk di ruang percakapan keluarga atau grup pertemanan — sebab lisan yang ringan mengejek orang jatuh adalah lisan yang lupa bahwa dirinya sendiri suatu hari bisa berada di posisi yang sama. Kelima, jadikan husnuzhan kepada Allah sebagai kalimat yang diucapkan justru ketika keadaan berat, bukan hanya ketika keadaan sudah membaik.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan khatib menegaskan kembali inti pesan pekan ini dari sisi yang berbeda. Husnuzhan kepada Allah bukan kalimat penghibur yang kita ucapkan sesudah ujian selesai. Ia adalah sikap yang justru paling dibutuhkan tepat di tengah ujian — saat usaha runtuh, saat rumah tangga terguncang, saat pakaian yang kita kenakan sudah tidak lagi baru. Semakin berat keadaan, semakin besar pula peluang untuk mendekat kepada Allah dengan langkah yang, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi tadi, akan disambut jauh lebih besar dari langkah kita sendiri.
Tegaskan pula, jamaah, bahwa tugas kita bukan hanya menjaga hati sendiri, tapi juga menjaga cara kita memandang orang lain. Setiap kali kita mendengar kabar tentang seseorang yang jatuh, ada dua pilihan yang tersedia bagi lisan dan hati kita: ikut menjatuhkan lebih dalam lewat label dan olok-olok, atau menjadi salah satu tangan yang menopang. Setiap kali kita menyadari ada seseorang di sekitar kita yang telah lama menahan diri untuk tidak meminta, ada dua pilihan yang sama: membiarkan kesadaran itu berhenti sebagai perasaan, atau menerjemahkannya menjadi tindakan sebelum pekan ini berakhir.
Dan tegaskan yang terakhir, jamaah yang dimuliakan Allah: setiap pencapaian yang kita banggakan — pada diri sendiri maupun pada anak-anak kita — selalu punya jejak orang lain di baliknya. Mengakui jejak itu bukan mengurangi nilai pencapaian, justru menyempurnakannya dengan kejujuran dan rasa syukur yang semestinya.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ وَاكْشِفْ ضُرَّهُمْ وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْبَلَاءَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
اَللّٰهُمَّ ارْفَعِ الضِّيْقَ عَنْ كُلِّ مَنْ عَسُرَ عَلَيْهِ أَمْرُهُ، وَأَكْرِمْ مَنْ خَدَمَ عِبَادَكَ فِي الْخَفَاءِ، وَأَحْسِنْ إِلَيْهِ كَمَا أَحْسَنَ وَلَمْ يَسْأَلْ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ الظَّنَّ بِكَ فِيْ كُلِّ حَالٍ.
Rasulullah ﷺ mengabarkan, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 6389, bahwa doa yang paling sering beliau ﷺ panjatkan adalah:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
"Ya Allah, Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
