Pekan ini banyak cerita tentang orang-orang yang menyembunyikan kesulitannya sendiri sambil terus memberi kepada orang lain. Sebelum cerita-cerita itu, ada satu kisah yang jauh lebih tua, dari rumah tangga Rasulullah ﷺ sendiri. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم, menghimpun satu riwayat pendek dari sahabat Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu.
Musim itu keras di Madinah. Ladang kurma belum berbuah penuh. Persediaan menipis di banyak rumah — termasuk rumah para muhajirin yang baru saja hijrah, meninggalkan hampir semua harta mereka di Makkah.
Lapar jadi tamu yang datang setiap hari. Sebagian sahabat mulai melakukan sesuatu yang aneh tapi biasa di masa itu: mengikatkan batu ke perut mereka. Bukan untuk makanan pengganti — hanya untuk menahan rasa perih yang datang dari perut yang kosong terlalu lama.
Suatu hari, sekelompok sahabat berkumpul. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ. Mereka mengadukan lapar yang mereka tanggung. Satu per satu, mereka menyingkap kain dari perut mereka masing-masing, menunjukkan satu batu yang terikat di sana.
شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْجُوعَ، وَرَفَعْنَا عَنْ بُطُونِنَا عَنْ حَجَرٍ حَجَرٍ
"Kami mengadukan rasa lapar kepada Rasulullah ﷺ, dan kami menyingkap dari perut kami masing-masing satu batu."
Rasulullah ﷺ diam sejenak. Lalu beliau ﷺ melakukan hal yang tidak ada satu pun dari mereka duga.
Beliau ﷺ menyingkap kainnya sendiri.
فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَطْنِهِ عَنْ حَجَرَيْنِ
"Maka Rasulullah ﷺ menyingkap dari perutnya dua batu."
Dua. Bukan satu.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tahu itu sebelumnya. Rasulullah ﷺ, yang setiap hari mereka temui, yang memimpin salat mereka, yang mengajar mereka, yang menjawab pertanyaan mereka satu demi satu — ternyata menanggung lapar yang lebih berat dari mereka semua, dan tidak pernah sekali pun mengatakannya.
Tidak ada keluhan sebelum itu. Tidak ada isyarat. Hanya kain yang tersingkap, dan dua batu yang selama ini tersembunyi di baliknya.
Pelajaran
Yang membuat kisah ini melekat bukan jumlah batunya, melainkan urutannya. Para sahabat mengadu dulu, baru Rasulullah ﷺ membuka kainnya. Beliau ﷺ tidak pernah lebih dulu memamerkan bahwa dirinya lebih lapar — kalau saja para sahabat tidak mengadu hari itu, mungkin dua batu itu tidak pernah diketahui siapa pun. Ada orang-orang yang menanggung lebih berat dari yang terlihat, dan mereka tidak menunggu pengakuan untuk terus memberi. Bagi yang memimpin, mengajar, atau melayani orang lain hari ini, kisah ini adalah cermin: beban yang tidak diceritakan bukan berarti tidak ada. Dan bagi yang berada di sekeliling seorang pemimpin atau pengajar, kisah ini adalah pengingat untuk sesekali bertanya lebih jauh dari sekadar "apa kabar" — sebab jawaban yang jujur kadang baru muncul kalau ada yang benar-benar bertanya.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم
الشمائل المحمدية للترمذي ط إحياء التراث 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ. حَدَّثَنَا سَيَّارٌ. حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي مَنْصُورٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ أَبِي طَلْحَةَ قَالَ: «شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْجُوعَ وَرَفَعْنَا عَنْ بُطُونِنَا عَنْ حَجَرٍ حَجَرٍ، فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَطْنِهِ عَنْ حَجَرَيْنِ»
