بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, ada satu kisah yang terus terngiang di kepala saya pekan ini. Tentang seorang ustadzah yang mengajar rutin bertahun-tahun di sebuah masjid. Murid-muridnya bercerita bahwa mereka sudah lama menyadari pakaian yang beliau kenakan sudah usang, dipakai berulang kali. Sudah lama tahu. Malam ini saya ingin berbagi satu pertanyaan dari situ, bukan jawaban yang gampang.
Pertanyaannya begini: kalau murid-muridnya sudah "lama tahu", kenapa jaraknya bisa sepanjang itu antara tahu dan bertindak?
Saya kira jawabannya bukan karena mereka jahat atau tidak peduli. Justru karena orang yang seperti ustadzah ini biasanya tidak pernah membuat dirinya "mudah dibantu". Ia tidak pernah cerita kesulitannya di grup WhatsApp pengajian. Ia tidak pernah menunda kelas karena alasan pribadi. Ia selalu datang, selalu siap, selalu memberi lebih dari yang diminta. Dan justru karena itu, kita — sebagai orang yang menerima kebaikannya — jadi lupa bahwa orang yang selalu memberi juga seorang manusia yang bisa kehabisan.
Saya yakin, di masjid kita sendiri, di majelis kita sendiri, ada sosok seperti ini. Mungkin marbot yang selalu datang paling pagi. Mungkin pengurus lama yang tidak pernah absen piket kebersihan. Kita hafal wajahnya, hafal suaranya, tapi mungkin tidak hafal bagaimana kabarnya sebenarnya. Ini bukan salah siapa-siapa secara khusus — ini pola yang gampang terjadi di semua komunitas, termasuk komunitas yang isinya orang-orang baik sekalipun.
Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam kitab Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah, mengumpulkan satu bab khusus tentang kehidupan Rasulullah ﷺ yang menggambarkan betapa sederhana dan keras kehidupan dunia yang beliau ﷺ jalani bersama para sahabatnya — rasa lapar yang biasa beliau ﷺ rasakan, makanan yang sangat sederhana. Nabi kita sendiri, pemimpin terbaik umat manusia, hidup dalam kesederhanaan material yang nyata. Jadi kalau ada orang di sekitar kita yang hidup sederhana sambil terus melayani, dia sedang berada di jalan yang sangat mulia — bukan jalan yang layak kita anggap wajar begitu saja.
Nah, ini bagian yang saya suka: Rasulullah ﷺ tidak hanya hidup sederhana, beliau ﷺ juga mengajarkan kita mendoakan orang yang melayani kita. Sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 2042a, beliau ﷺ mengajarkan doa untuk orang yang menjamu dan mencukupi kebutuhan kita:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ
"Ya Allah, berkahilah mereka pada apa yang Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka."
Doa ini bukan cuma kata-kata sopan sesudah makan di rumah orang. Ini contoh bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk membalas kebaikan orang yang melayani — bukan dengan tetap diam menikmati layanannya, tapi dengan aktif mendoakan dan, kalau mampu, aktif membantu balik. Mendoakan itu penting, tapi mendoakan sambil tetap membiarkan ustadzah kita memakai baju yang sama selama bertahun-tahun, itu doa yang belum selesai kerjanya.
Jadi, saya ajak diri saya sendiri dan jamaah semua malam ini: siapa satu orang di lingkungan kita yang selama ini melayani tanpa pernah meminta? Bukan pertanyaan retorik — coba benar-benar sebut satu nama dalam hati, sekarang juga.
Dalam 24 jam ke depan, ada tiga hal kecil yang bisa kita lakukan. Satu, kirim pesan langsung menanyakan kabar orang itu — bukan basa-basi, tapi pertanyaan yang benar-benar menunggu jawaban. Dua, kalau memungkinkan, siapkan sesuatu yang konkret — bukan selalu uang, bisa juga waktu, tenaga, atau barang yang memang dibutuhkan. Tiga, ajak satu orang lain di komunitas untuk sama-sama memperhatikan, supaya ini bukan cuma niat baik kita sendirian yang gampang padam.
Yang dijaga tanpa diminta, pada akhirnya, adalah tugas kita untuk menjaganya balik — juga tanpa diminta.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ وَالِدَيْنَا وَأَهْلَنَا، وَبَارِكْ لِمَنْ خَدَمَ إِخْوَانَنَا فِي الْخَفَاءِ وَلَمْ يَسْأَلْ شَيْئًا، اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
