بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati — ratusan santri dirawat karena keracunan makanan program pangan, kabut asap kembali menyesakkan udara Kalimantan, dan gempa mengguncang Flores — ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini.
Ada satu hadits yang menurut saya sangat pas untuk pekan seperti ini. Rasulullah ﷺ bersabda,
سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخَمْسَ: يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ، وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْخَلْقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ
"Akan datang atas umatku suatu zaman, mereka mencintai lima dan melupakan lima: mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai kehidupan dan melupakan kematian, mencintai istana dan melupakan kubur, mencintai harta dan melupakan hisab, mencintai makhluk dan melupakan Sang Pencipta." (Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3))
Coba kita tanya diri sendiri malam ini: siapa di sini yang pekan ini sempat merasa takut — takut sakit, takut kehilangan, takut mendengar kabar buruk lagi — tapi begitu kabar itu lewat dari linimasa, rasa takut itu ikut hilang tanpa bekas apa-apa di dalam hati?
Itulah yang disentil hadits ini. Bukan salah kalau kita mencintai hidup — itu fitrah, dan Islam tidak pernah memerintahkan kita membenci dunia. Yang jadi masalah adalah ketika cinta itu membuat kita lupa total pada pasangannya: bahwa hidup ini ada batasnya, bahwa kesehatan yang kita nikmati hari ini adalah titipan yang bisa diambil kapan saja, sebagaimana kita saksikan sendiri pekan ini — betapa cepatnya tubuh yang sehat berubah jadi tubuh yang terbaring di rumah sakit, betapa cepatnya rumah yang berdiri kokoh berubah jadi reruntuhan.
Saya sendiri kadang begini, jamaah — dengar kabar duka, ikut sedih sebentar, lalu lanjut scroll ke video berikutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Bukan karena tidak peduli, tapi karena kita memang dilatih zaman ini untuk cepat melupakan. Padahal setiap kabar sakit dan kabar musibah yang sampai ke telinga kita sebenarnya adalah undangan — undangan untuk berhenti sejenak, mengingat bahwa giliran kita pasti datang, dan bertanya pada diri sendiri: kalau malam ini adalah malam terakhir, apakah saya sudah menunaikan amanah yang dititipkan kepada saya?
Yang saya ajak pekan ini sederhana saja. Jangan tunggu sakit dulu baru ingat sehat itu nikmat. Jangan tunggu ada yang meninggal dulu baru ingat kita juga akan mati. Malam ini, sebelum tidur, coba luangkan lima menit — bukan untuk scroll lagi, tapi untuk benar-benar bertanya pada diri sendiri: apa yang sudah saya siapkan untuk hari ketika giliran saya tiba?
Jamaah yang dirahmati Allah, itulah pesan yang bisa saya sampaikan malam ini. Semoga Allah menjaga kesehatan kita, keluarga kita, dan saudara-saudara kita yang sedang diuji, dan semoga Dia tidak membiarkan kita termasuk orang-orang yang mencintai lima dan melupakan lima itu.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَارْحَمْ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَذَكِّرْنَا بِالْمَوْتِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَنَا بَغْتَةً، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
