Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKonflik & GeopolitikKamis, 3 September 2026

Khutbah Jumat — "Islah Saat Dunia Memilih Kubu"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, banyak dari kita datang ke masjid pekan ini dengan pikiran yang sudah penuh sebelum khutbah ini dimulai — penuh oleh kabar dari luar negeri yang seperti tidak pernah berhenti mengalir di layar ponsel kita. Di tengah kepenuhan itu, mari kita dengarkan satu ayat yang Allah letakkan bukan sebagai jawaban atas siapa yang benar dalam setiap perselisihan dunia, melainkan sebagai penjelasan tentang siapa kita satu sama lain.

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

QS. Al-Hujuraat: 10 — "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Perhatikan urutannya, jamaah: Allah tidak memulai ayat ini dengan perintah memilih pihak. Allah memulai dengan sebuah fakta — bahwa orang-orang beriman itu bersaudara — baru kemudian memberi tugas: perbaikilah hubungan di antara mereka. Dan tugas itu ditutup dengan janji rahmat, bukan janji kemenangan atas pihak lain. Ayat ini akan menjadi benang yang kita pegang sepanjang khutbah pekan ini, karena pekan ini benar-benar menuntutnya.

Perhatikan juga bahwa ayat ini tidak berbicara tentang persaudaraan sebagai perasaan yang datang dan pergi sesuka hati, melainkan sebagai fakta yang sudah ada, suka atau tidak suka. Kita tidak diminta untuk merasa bersaudara — kita diberi tahu bahwa kita memang bersaudara, dan dari fakta itulah kewajiban islah lahir. Ini penting dipahami, jamaah, karena godaan terbesar pekan ini bukan datang dari orang yang menolak ayat ini, melainkan dari orang yang setuju dengan ayat ini di atas kertas namun lupa menerapkannya justru pada saat yang paling dibutuhkan — yaitu saat sedang marah.

Dari berita pekan ini kita ketahui bahwa tekanan internasional terhadap Iran kembali menguat lewat sanksi-sanksi baru, dan dari dalam Iran sendiri muncul seruan yang tidak biasa: ajakan kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk untuk berdamai, disertai seruan agar negeri-negeri Muslim bersatu menghadapi tekanan yang dirasakan bersama. Ramai pula diperbincangkan pekan ini pernyataan keras dari pihak Israel terhadap Iran, disertai sinyal kesiapan untuk bertindak sendiri tanpa menunggu pihak lain — dan Iran, di sisi lain, menyatakan diri siap menghadapi tekanan itu jika tidak mereda. Kabar yang sampai kepada kita ini punya satu pola yang sama: setiap pernyataan tajam dari satu pihak seperti memantik balasan yang sama tajamnya dari pihak seberang.

Mungkin ada di antara kita yang mengikuti perkembangan ini dengan asumsi bahwa kita harus segera menentukan pihak mana yang layak didukung penuh dan pihak mana yang layak dikutuk penuh. Godaan ini wajar, jamaah — kita manusia, dan hati kita secara alami condong ketika membaca kabar yang terasa tidak adil. Tetapi ayat yang kita baca di awal khutbah ini tidak meminta kita menjadi juri atas setiap kalkulasi politik antar-negara. Ayat itu meminta sesuatu yang justru lebih murni: bahwa terlepas dari analisis siapa lebih agresif dan siapa lebih defensif dalam eskalasi ini, sikap kita sebagai orang beriman tetap sama — mendoakan yang lemah, menyerukan keadilan, dan menahan diri dari kebencian yang membabi buta kepada siapa pun.

Bersamaan dengan itu, kabar dari Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon terus sampai kepada kita — bukan sebagai kabar baru yang mengejutkan, melainkan sebagai kabar yang berlanjut, pekan demi pekan, tentang warga sipil yang menanggung akibat dari keputusan yang bukan mereka yang buat. Dan pekan ini pula, kabar yang mungkin terasa lebih dekat ke rumah kita sendiri: dilaporkan delapan warga negara Indonesia bergabung dengan legiun asing di pihak Rusia dalam perang yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah air, memunculkan pertanyaan yang belum terjawab tentang status kewarganegaraan mereka.

Ada satu bahaya tersembunyi dalam kabar yang berlangsung lama seperti kabar dari Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon, jamaah. Ketika sebuah krisis terus berlanjut pekan demi pekan, ada risiko nyata bahwa hati kita mengeras — bukan karena kita berhenti peduli, melainkan karena terlalu lama peduli tanpa tahu harus berbuat apa membuat hati mencari jalan pintas: melupakan, atau sebaliknya, marah tanpa arah yang jelas. Keduanya sama-sama menjauhkan kita dari respons yang diminta ayat tadi.

Satu prinsip yang tidak boleh kita tawar dalam menyikapi semua ini, jamaah: nyawa manusia yang tidak berdosa itu suci, di sisi mana pun ia berada. Ini bukan prinsip yang berlaku hanya untuk saudara seiman kita, dan bukan pula prinsip yang gugur karena kewarganegaraan atau kebijakan pemerintahnya. Seorang anak yang tidak tahu apa-apa tentang sanksi, tentang aliansi, tentang siapa memulai dan siapa membalas, tetap punya hak untuk hidup yang tidak boleh direnggut atas nama kalkulasi politik apa pun. Prinsip inilah yang seharusnya menjadi ukuran kita menilai setiap pihak yang terlibat dalam konflik-konflik ini — bukan seberapa dekat pihak itu dengan simpati kita.

Jamaah yang dirahmati Allah, khutbah ini tidak akan mencoba menghakimi siapa yang benar dalam setiap kalkulasi politik antar-negara itu — itu bukan tempat kita, dan itu bukan yang Allah minta dari ayat yang baru kita baca. Yang Allah minta jauh lebih dekat dan justru lebih berat: bahwa di hadapan sesama orang beriman, tugas kita bukan memilih kubu, melainkan mendamaikan. Dan di hadapan siapa pun yang lemah dan tertindas — dari bangsa mana pun ia berasal — tugas kita adalah menjaga keadilan tetap tegak, bukan menukarnya dengan kemarahan yang terasa memuaskan sesaat.

Mari kita perdalam ini, jamaah. "Berbuat islah" yang diperintahkan ayat tadi bukan berarti diam dan berpura-pura tidak ada yang salah di dunia ini. Islah adalah kerja aktif — mendamaikan bukan pekerjaan orang yang pasif. Tetapi islah juga bukan pekerjaan yang boleh dilakukan dengan hati yang berat sebelah. Justru karena kita wajar punya simpati yang condong ke satu arah ketika membaca kabar dari luar negeri pekan ini, ayat ini mengingatkan kita bahwa persaudaraan iman menuntut ketegasan yang sama pada keadilan, siapa pun yang diuntungkan atau dirugikan olehnya. Ini bukan sikap netral yang dingin — ini sikap adil yang justru menuntut hati yang hangat, tapi tidak buta.

Mari kita bicarakan ini lebih terus terang, jamaah, sebab basa-basi tidak akan membantu kita di sini. Ada di antara kita yang, karena alasan yang bisa dipahami, merasa lebih dekat hatinya kepada satu pihak dalam ketegangan ini dibanding pihak lainnya. Itu manusiawi. Tetapi keadilan yang diminta Islam bukan keadilan yang berhenti tepat di batas simpati kita. Kalau pihak yang kita sukai melakukan kezaliman, keadilan tetap menuntut kita mengakuinya sebagai kezaliman. Dan kalau pihak yang tidak kita sukai memiliki hak yang sah, keadilan tetap menuntut kita mengakui hak itu. Inilah beban yang lebih berat daripada sekadar memilih kubu — dan inilah justru yang membedakan sikap seorang mukmin dari sikap seorang partisan.

Untuk memahami bagaimana ketegasan dan kelembutan ini berjalan bersama, mari kita lihat bagaimana Rasulullah ﷺ sendiri bersikap ketika sebagian sahabatnya ditahan dan disiksa pada masa awal dakwah di Makkah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ ketika mengangkat kepala dari ruku' pada rakaat terakhir, biasa berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ، اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Sahih al-Bukhari 1006 — "Ya Allah, selamatkanlah 'Ayyasy bin Abi Rabi'ah. Ya Allah, selamatkanlah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid. Ya Allah, selamatkanlah orang-orang mukmin yang lemah."

Perhatikan, jamaah, cara Nabi ﷺ mendoakan mereka: beliau menyebut nama-nama sahabatnya satu per satu, bukan sekadar doa umum yang cepat diucapkan lalu dilupakan. Dan setelah menyebut nama-nama itu, beliau tidak berhenti di lingkaran orang-orang yang beliau kenal — beliau melanjutkan dengan mendoakan "al-mustadh'afin minal-mu'minin", orang-orang mukmin yang lemah, sebuah kategori yang jauh lebih luas dari sekadar sahabat-sahabatnya. Inilah yang bisa kita ambil sebagai teladan pekan ini: kepedulian kita terhadap saudara-saudara yang tertindas — di Gaza, di Tepi Barat, di Lebanon, atau di mana pun — semestinya berbentuk doa yang spesifik dan bertahan, bukan sekadar emosi sesaat yang menguap begitu linimasa berganti topik.

Bayangkan, jamaah, betapa dekatnya urusan itu bagi Rasulullah ﷺ, sampai-sampai beliau menyisipkannya di dalam shalat — momen paling khusyuk dalam sehari semalam. Ini mengajarkan bahwa mendoakan yang tertindas bukan urusan sampingan yang cukup dipikirkan sesekali di waktu senggang, melainkan sesuatu yang layak menempati bagian paling khusyuk dari ibadah kita. Bagi kita di Indonesia tahun ini, itu bisa berarti menyisipkan satu kalimat doa untuk mustad'afin di setiap sujud terakhir shalat lima waktu, bukan menunggu momen viral untuk baru teringat mendoakan mereka.

Sekarang mari kita lihat sisi yang lain: bagaimana Rasulullah ﷺ bersikap ketika kaum muslimin generasi pertama berada dalam kondisi yang sangat genting, jauh dari berimbang. Riwayat lain menyebutkan doa beliau ﷺ:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

Sahih Muslim 1763 — "Ya Allah, penuhilah untukku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, datangkanlah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kelompok kaum muslimin ini binasa, Engkau tidak akan disembah lagi di bumi."

Perhatikan kalimat doa ini baik-baik, jamaah. Rasulullah ﷺ tidak berdoa meminta kemenangan yang gagah atau meminta musuh dihancurkan seluruhnya. Yang beliau ucapkan justru kalimat yang jujur mengakui kerapuhan: mengakui bahwa "kelompok kecil ini" bisa saja binasa, lalu menyerahkan sepenuhnya kelangsungan agama ini kepada Allah — bukan kepada perhitungan kekuatan sendiri. Ini adalah pelajaran penting untuk pekan ini: tidak satu pun dari kita berada di posisi untuk memastikan bagaimana ujung dari setiap ketegangan antar-negara yang kita baca beritanya. Yang diminta dari kita bukan menjadi peramal hasil akhir sebuah konflik, melainkan menjadi hamba yang menyerahkan hasilnya kepada Allah sambil tetap melakukan apa yang memang menjadi bagian kita: berdoa, berbuat adil, dan menjaga hati.

Ini juga sebuah pelajaran tentang batas kerendahan hati kita sebagai umat. Betapa sering kita, di ruang diskusi maupun di kolom komentar, berbicara seolah-olah memiliki kepastian penuh tentang bagaimana sebuah konflik akan berakhir, siapa yang akan menang, dan kapan itu akan selesai. Rasulullah ﷺ sendiri, dengan kedudukan kenabian yang jauh melampaui kita, tidak berbicara dengan kepastian semacam itu — beliau berbicara dengan kepasrahan yang jujur kepada Allah. Kalau seorang nabi memilih pasrah alih-alih memastikan, sepatutnya kita juga belajar berhenti berkata pasti tentang sesuatu yang sesungguhnya di luar jangkauan kita.

Dan menjaga hati inilah yang menjadi ujian tersendiri pekan ini, jamaah — sebab fitnah tidak selalu datang berupa sanksi dan ketegangan yang jauh di sana. Fitnah juga datang lebih halus, lebih dekat, menyusup ke hati kita sendiri lewat linimasa yang kita gulir setiap malam. Ada doa yang diajarkan untuk keadaan seperti ini:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ أَنْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا

Sahih Muslim 5971 — "Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kembali murtad ke belakang atau difitnah dari agama kami."

Doa ini mengajarkan bahwa yang paling perlu kita jaga bukan hanya keselamatan fisik, tetapi keutuhan hati dan arah hidup kita sendiri. Kabar pekan ini tentang delapan warga negara Indonesia yang dilaporkan bergabung dengan legiun asing di pihak Rusia adalah pengingat yang keras tentang ini: entah apa yang membuat medan perang yang jauh itu terasa cukup menarik untuk didatangi, kerentanan yang sama — hati yang sedang mencari sesuatu untuk dipegang erat — juga bisa dimanfaatkan secara lebih diam-diam, tanpa seorang pun perlu meninggalkan kamarnya sendiri. Ia bisa berbentuk kemarahan yang terus dipupuk, atau kebencian kepada sesama Muslim Indonesia yang kebetulan bersimpati berbeda arah dalam membaca berita yang sama.

Kita perlu jujur bertanya, jamaah, apa yang sebenarnya dicari seseorang ketika ia rela menyeberangi benua untuk ikut berperang dalam konflik yang bukan miliknya. Kemungkinan besar bukan semata-mata ideologi. Sering kali yang dicari adalah rasa punya arti, rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri — kebutuhan yang sesungguhnya sangat manusiawi, dan sangat Islami kalau disalurkan dengan benar. Persoalannya bukan pada kebutuhan itu sendiri, melainkan ke mana kebutuhan itu disalurkan. Ayat yang kita baca di awal khutbah ini sesungguhnya menawarkan jawaban yang jauh lebih tenang untuk kebutuhan yang sama: menjadi bagian dari persaudaraan iman yang luas, yang perannya bukan mengangkat senjata di medan yang jauh, melainkan mendamaikan dan menjaga keadilan di mana pun kita berpijak.

Ada satu hal lagi yang perlu kita jujur akui, jamaah: pekan ini, di antara kabar-kabar resmi yang sampai kepada kita, ikut beredar pula klaim-klaim yang belum jelas asal-usulnya — sebagian bahkan sengaja dibuat dramatis supaya cepat dibagikan orang. Ini bukan hal baru, tetapi menjadi lebih berbahaya justru saat suasana sudah panas seperti sekarang, karena klaim yang belum jelas kebenarannya jauh lebih mudah dipercaya ketika ia sejalan dengan kemarahan yang sudah lebih dulu ada di dada kita. Prinsipnya sederhana namun sering kita lupakan: kalau kita tidak yakin sebuah kabar itu benar, diam lebih baik daripada menyebarkannya — sebab lisan dan jari kita kelak akan ditanya, bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan, tetapi juga tentang apa yang kita teruskan kepada orang lain.

Ada satu kata lagi yang perlu kita renungkan pekan ini: hikmah. Hikmah bukan berarti pintar berargumen atau tahu banyak analisis geopolitik. Hikmah, dalam pengertian yang paling sederhana, adalah tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam, tahu kapan harus bertindak dan kapan harus menunggu, tahu porsi yang tepat untuk setiap keadaan. Banyak dari kita pekan ini merasa perlu punya pendapat tentang segala hal yang terjadi di dunia — padahal hikmah kadang justru terlihat dari keberanian untuk berkata "saya belum cukup tahu untuk berkomentar tentang ini", lalu memilih mendoakan alih-alih berdebat.

Jamaah yang dimuliakan Allah, khutbah pekan ini pada akhirnya bukan tentang menyelesaikan ketegangan Amerika Serikat dengan Iran, bukan tentang siapa yang akan menang di front mana pun, dan bukan tentang siapa yang paling pantas kita bela di media sosial. Khutbah ini tentang menjadi seperti apa kita, sebagai jamaah, selagi semua itu terjadi jauh dari sini. Ada dua jalan yang mudah diambil dan sama-sama keliru: mati rasa karena kabar buruk terlalu banyak untuk dicerna, atau memanas dan ikut memilih kubu tanpa benar-benar memahami duduk perkaranya.

Mati rasa berbahaya karena ia mematikan kepedulian yang sesungguhnya diperintahkan Allah — seorang mukmin semestinya tetap tergerak hatinya melihat penderitaan saudaranya, bukan menjadi kebal karena terlalu sering melihatnya. Tetapi memanas tanpa kendali juga berbahaya, sebab kemarahan yang tidak dikendalikan mudah sekali berubah arah — dari mengutuk kezaliman menjadi mengutuk seluruh bangsa, dari membela yang tertindas menjadi membenarkan cara-cara yang justru bertentangan dengan keadilan itu sendiri. Islam tidak menawarkan jalan tengah yang lembek di antara keduanya, melainkan jalan ketiga yang justru lebih menuntut: peduli sepenuhnya, tetapi tetap adil sepenuhnya. Ayat yang membuka khutbah ini menawarkan jalan ketiga itu — islah yang aktif, disertai rahmat yang tidak pilih kasih.

Tiga hal yang telah kita renungkan bersama pekan ini sesungguhnya satu kesatuan, jamaah: mendoakan yang tertindas secara spesifik sebagaimana diteladankan Rasulullah ﷺ, menyerahkan hasil akhir kepada Allah tanpa berlagak tahu segalanya, dan menjaga hati serta lisan dari fitnah yang menyusup lewat linimasa. Ketiganya adalah wajah berbeda dari satu sikap yang sama — sikap hamba yang tahu batas dirinya, yang tahu mana yang menjadi wewenangnya dan mana yang menjadi wewenang Allah semata.

Ada satu hal yang patut kita syukuri di tengah semua ini, jamaah: kita, sebagai Muslim Indonesia, tidak sedang menjadi pihak yang berperang. Jarak itu adalah nikmat, bukan alasan untuk tidak peduli — justru jarak itu memberi kita ruang yang jarang dimiliki mereka yang berada di tengah konflik: ruang untuk berpikir jernih, mendoakan dengan tenang, dan bersikap adil tanpa harus mempertaruhkan nyawa sendiri. Nikmat ini seharusnya disyukuri dengan menggunakannya sebaik-baiknya — bukan justru diisi dengan kemarahan yang meniru-niru kemarahan orang yang benar-benar berada di medan perang, padahal kita duduk aman di rumah kita sendiri.

Maka pekan ini, mari kita jadikan beberapa hal ini sebagai amal nyata. Pertama, hidupkan kembali doa qunut atau doa khusus untuk saudara-saudara yang tertindas di setiap shalat kita, mengikuti teladan Rasulullah ﷺ yang mendoakan secara spesifik, bukan sekadar dalam hati yang samar — kalau perlu, tuliskan nama tempat atau kelompok yang ingin didoakan di secarik kertas kecil, supaya doa itu tetap spesifik dan tidak menguap jadi perasaan umum belaka. Kedua, salurkan kepedulian terhadap Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon lewat lembaga kemanusiaan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya lewat unggahan yang menguras emosi tanpa menyalurkan bantuan — luangkan waktu memeriksa rekam jejak lembaga itu sebelum menitipkan sedekah kita padanya. Ketiga, sebelum membagikan kabar apa pun tentang konflik ini, tahan sejenak dan pastikan sumbernya jelas — jangan menjadi corong bagi klaim yang belum tentu benar, sebab lisan dan jari kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang disebarkan. Keempat, jaga cara kita bicara tentang pihak mana pun yang terlibat dalam konflik ini — boleh mengutuk kezaliman, tetapi jangan sampai kebencian pada satu pihak membuat kita kehilangan keadilan dalam kata-kata kita sendiri. Kelima, perhatikan anak dan anggota keluarga muda kita — ajak mereka bicara tentang apa yang mereka lihat di media sosial soal perang ini, alih-alih membiarkan mereka mencerna sendirian kabar yang berat, dan tanyakan sesekali bagaimana perasaan mereka setelah menonton kabar-kabar itu. Keenam, perbanyak istighfar dan doa untuk pemimpin-pemimpin negeri Muslim agar diberi hikmah, sebab hanya Allah yang benar-benar menguasai hasil akhir dari semua ketegangan ini — bukan strategi kita, dan bukan pula opini kita di media sosial.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan saya menegaskan kembali satu hal dari khutbah pertama: tugas kita pekan ini bukan menyelesaikan ketegangan antar-negara yang jauh di sana. Tugas kita jauh lebih kecil dalam skala, tapi tidak lebih ringan dalam bobot — menjaga agar hati kita sendiri, rumah kita sendiri, dan lingkungan terdekat kita sendiri tetap menjadi tempat yang mendamaikan, bukan tempat yang menambah panas dunia yang sudah cukup panas. Kalau setiap rumah tangga Muslim di Indonesia menjaga hal sekecil ini dengan sungguh-sungguh, bayangkan berapa banyak permusuhan kecil yang tidak pernah lahir, berapa banyak silaturahmi yang tidak pernah putus hanya karena berbeda pandangan soal perang di negeri orang.

Ingatlah bahwa doa yang kita panjatkan untuk saudara-saudara yang tertindas bukan doa yang cukup diucapkan sekali lalu selesai begitu linimasa berganti topik pekan depan. Rasulullah ﷺ menyebut nama-nama sahabatnya berulang kali dalam qunut beliau, pekan demi pekan, sampai mereka benar-benar selamat. Semoga kita termasuk orang-orang yang doanya untuk Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon tidak berhenti begitu kabar itu tidak lagi viral.

Ingatlah pula bahwa persaudaraan yang diminta ayat tadi tidak berhenti pada sesama yang berpikiran sama dengan kita. Ada kalanya justru saudara seiman kita sendiri, yang duduk semeja saat berbuka atau se-shaf saat shalat, membaca berita pekan ini dengan simpati yang berbeda arah dari simpati kita. Islah yang diperintahkan Allah berlaku juga di sini — bukan hanya islah antara negara-negara yang jauh, melainkan islah antara kita dan saudara terdekat yang kebetulan berbeda sudut pandang.

Dan ingatlah pula bahwa kita boleh merasa tidak berdaya menghadapi besarnya berita dunia pekan ini — tidak berdaya menghentikan sanksi, tidak berdaya menghentikan perang, tidak berdaya mengubah keputusan negara-negara besar. Tetapi ketidakberdayaan atas hal-hal besar itu tidak pernah membebaskan kita dari tanggung jawab atas hal yang justru sepenuhnya ada di tangan kita: bagaimana lisan kita bicara tentang semua ini, dan bagaimana hati kita menyikapinya. Itulah wilayah yang akan ditanya Allah kepada kita kelak — bukan wilayah kebijakan luar negeri yang bahkan tidak pernah kita ikut merumuskannya.

Semoga Allah menjadikan kita, jamaah, sebagai golongan yang disebut dalam ayat di awal khutbah ini — golongan yang berbuat islah, dan karenanya berhak atas rahmat-Nya.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، وَفِيْ كُلِّ أَرْضٍ يُسْفَكُ فِيْهَا دَمُ الْأَبْرِيَاءِ.

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَنْ فَقَدَ بَيْتَهُ وَأَهْلَهُ بِسَبَبِ الْحُرُوْبِ، وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِلصُّلْحِ لَا لِلْفِتْنَةِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ أَنْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَقِ قُلُوْبَنَا مِنَ الْغِلِّ وَالْحِقْدِ وَالتَّعَصُّبِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَلَا يُفْسِدُ بَيْنَهُمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan