بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً وَإِنْ تَبَاعَدَتْ بِهِمُ الدِّيَارُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا الرِّفْقَ فِيْ زَمَنِ الْغَضَبِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita sama-sama membaca kabar dari Iran, dari Gaza, dari Ukraina — dan mungkin sebagian dari kita mulai merasa lelah mengikutinya, sementara sebagian lain justru mulai terpancing emosi setiap kali membuka linimasa. Ada satu pesan singkat yang ingin saya bagikan malam ini, sebelum kita pulang.
Siapa di sini yang pekan ini pernah merasa dadanya sesak membaca berita dari luar negeri, lalu tanpa sadar ikut berkomentar dengan nada yang lebih keras dari biasanya? Saya juga pernah. Maka mari kita dengar ayat ini bersama:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
QS. Al-Hujuraat: 10 — "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."
Ayat ini turun bukan untuk membahas negara mana yang benar dalam sebuah perang. Ayat ini membahas sesuatu yang jauh lebih dekat: bagaimana sikap kita ketika sesama orang beriman berselisih atau terpisah oleh keadaan. Tugas kita bukan menambah runcing, tugas kita mendamaikan — dan itu dimulai dari hal sesederhana cara kita berkomentar di grup keluarga.
Ayat ini juga tidak meminta kita menunggu sampai semua pihak berdamai dulu baru kita boleh merasa tenang. Ketenangan hati kita bukan bergantung pada berhentinya perang di luar sana — ketenangan itu bergantung pada apakah hati kita sendiri sedang berbuat islah, atau justru diam-diam ikut memperkeruh.
Coba pikirkan, jamaah — berapa banyak dari kita yang di grup keluarga besar, setiap ada kabar dari luar negeri, langsung ikut membalas dengan emoji marah atau komentar sindiran ke saudara yang pendapatnya berbeda? Kelihatannya sepele. Tapi justru di situlah islah diuji — bukan di meja perundingan internasional yang tidak akan pernah kita duduki, melainkan di grup WhatsApp keluarga yang kita buka setiap hari.
Pekan ini kita dengar kabar sanksi baru dijatuhkan atas Iran, disusul seruan yang mengejutkan dari dalam Iran sendiri: ajakan berdamai kepada tetangga-tetangganya dan seruan persatuan umat menghadapi tekanan yang sama-sama dirasakan. Kabar yang sampai ke kita juga menyebut pernyataan yang saling menajam antara Israel dan Iran, sementara di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon, penderitaan warga sipil terus berlanjut tanpa jeda yang jelas.
Yang mungkin lebih dekat ke hati kita: pekan ini juga ramai kabar delapan warga negara Indonesia yang dilaporkan bergabung dengan legiun asing di pihak Rusia. Terlepas dari apa pun alasan mereka, kabar ini menyentil kita semua — bahwa hati yang sedang kosong atau sedang mencari sesuatu untuk dipegang bisa terseret sangat jauh, bahkan sampai ke medan perang yang tidak ada hubungannya dengan mereka sama sekali. Saya tidak sedang menghakimi mereka malam ini — saya justru mengajak kita semua bertanya ke dalam diri sendiri: kalau hati yang kosong bisa terseret sejauh itu, apa yang sedang mengisi hati kita sekarang, dan apakah itu cukup kuat untuk menahan kita tetap di jalan yang benar?
Ada satu doa kecil yang saya suka amalkan setiap kali dunia terasa terlalu ramai dan terlalu berat:
اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ
Riyad as-Salihin 1453 — "Ya Allah, dengan kekuasaan-Mu kami memasuki waktu pagi, dengan-Mu kami memasuki waktu petang, dengan-Mu kami hidup, dengan-Mu kami mati, dan kepada-Mu kebangkitan."
Doa ini sederhana tapi menancap dalam, jamaah. Ia mengingatkan bahwa hari kita — sepagi apa pun mulainya, seberat apa pun beritanya — dimulai dan diakhiri bersama Allah, bukan bersama linimasa. Kalau pagi ini kita bangun dan langsung disambut headline yang membuat dada sesak, doa ini menaruh kita kembali pada tempat yang benar: bahwa kendali sesungguhnya ada pada Allah, bukan pada algoritma yang memutuskan berita mana yang muncul duluan di layar kita.
Dan di situlah letak ujian sebenarnya pekan ini — bukan pada apa yang terjadi di Timur Tengah atau di Eropa Timur, sebab itu semua di luar kendali kita. Ujian sesungguhnya ada pada apa yang terjadi di dalam dada kita sendiri setiap kali kita membaca kabar itu: apakah kita membiarkannya membuat kita mendoakan, atau membiarkannya membuat kita membenci. Itulah sebabnya menjaga hati bukan pekerjaan sekali jadi — ia pekerjaan setiap kali kita membuka aplikasi berita, setiap hari, selama pekan-pekan ke depan ini masih terasa berat.
Maka pulang dari sini malam ini, coba empat hal kecil dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, sebelum membagikan kabar apa pun tentang konflik ini, tahan sejenak dan tanyakan pada diri sendiri apakah sumbernya benar-benar jelas — kalau ragu, lebih baik tidak usah dibagikan. Kedua, ganti satu unggahan yang isinya kemarahan dengan satu doa yang isinya harapan, sekecil apa pun doa itu. Ketiga, kalau ada anggota keluarga yang belakangan ini menunjukkan tanda mulai terseret ke arah yang mengkhawatirkan — entah kemarahan berlebihan atau kekaguman aneh pada kekerasan — ajak bicara dari hati ke hati, bukan dengan menghakimi. Keempat, kalau grup keluarga mulai memanas soal isu ini, jadilah orang pertama yang mengetik pesan yang mendinginkan suasana, bukan yang menambah bara.
Ayat yang kita baca tadi ditutup dengan janji rahmat, bukan janji kemenangan. Semoga pekan ini kita termasuk orang-orang yang lebih memilih mendamaikan daripada memanaskan, dan karenanya layak mendapat rahmat itu.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا عَامِرَةً بِالرَّحْمَةِ لَا بِالْغَضَبِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
