Ketika bencana pekan ini mengingatkan begitu banyak orang pada rasa lapar dan kehilangan, ada satu kisah lama yang tiba-tiba terasa dekat. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam «Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah» — Bab tentang Penghidupan Rasulullah ﷺ, menghimpun sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang satu malam yang dimulai dengan lapar dan berakhir dengan sebuah pelajaran yang tidak pernah dilupakan.
Malam itu ganjil. Rasulullah ﷺ keluar rumah pada jam yang biasanya beliau tidak pernah keluar — jam ketika tidak ada seorang pun yang akan bertemu dengannya di jalan.
Di luar, Abu Bakr sudah berdiri.
"Apa yang membawamu keluar, wahai Abu Bakr?" tanya Rasulullah ﷺ.
"Aku keluar untuk menjumpai Rasulullah, memandang wajahnya, dan mengucap salam," jawab Abu Bakr.
Belum lama mereka berdiri, Umar datang menyusul.
"Apa yang membawamu keluar, wahai Umar?"
"Lapar, wahai Rasulullah," jawab Umar, jujur tanpa berbasa-basi.
Rasulullah ﷺ terdiam sebentar, lalu berkata, "Aku juga merasakan sebagian dari itu."
Tiga orang paling mulia di kalangan mereka berdiri di jalan sunyi itu, sama-sama menahan perut yang kosong. Tidak ada yang menutup-nutupi. Tidak ada yang malu mengaku lapar di hadapan yang lain.
Mereka pun berjalan bersama menuju rumah Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan, seorang Anshar yang dikenal memiliki banyak kebun kurma dan kambing, namun tidak punya pembantu di rumahnya. Sesampainya di sana, rumah itu kosong. Hanya istrinya yang ada.
"Ke mana suamimu?" tanya mereka.
"Sedang pergi mencarikan kami air yang sejuk," jawab sang istri.
Tidak lama kemudian, Abu al-Haitsam pulang memikul sebuah qirbah — kantung kulit berisi air — penuh sampai hampir tumpah. Begitu melihat siapa yang menunggu di rumahnya, ia meletakkan kantung air itu, lalu berlari memeluk Nabi ﷺ, menciumnya, menyebut ayah dan ibunya sendiri sebagai tebusan bagi keselamatan beliau.
Ia segera membawa ketiga tamunya ke kebunnya, menghamparkan tikar untuk mereka duduk, lalu bergegas ke sebuah pohon kurma dan kembali membawa setandan penuh, masih ranum bergantungan di tangkainya.
"Tidakkah engkau pilihkan dulu untuk kami yang sudah matang?" tanya Nabi ﷺ, sambil tersenyum.
"Wahai Rasulullah," jawab Abu al-Haitsam, "aku sengaja membiarkan begitu, agar kalian sendiri yang memilih — mau yang sudah ranum, atau yang masih muda."
Mereka pun makan kurma itu bersama, dan minum dari air yang baru saja dipikul. Lalu Rasulullah ﷺ mengucapkan satu kalimat yang kelak diingat selamanya oleh siapa pun yang mendengarnya:
هَذَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تَسْأَلُونَا عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ! ظِلٌّ بَارِدٌ، وَرُطَبٌ طَيِّبٌ، وَمَاءٌ بَارِدٌ
"Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, inilah di antara nikmat yang akan ditanyakan kepada kalian pada hari kiamat! Naungan yang sejuk, kurma yang manis, dan air yang dingin."
Abu al-Haitsam hendak buru-buru menyembelihkan hewan untuk mereka. Tapi Nabi ﷺ mencegahnya. "Jangan sembelihkan kami hewan yang masih menghasilkan susu." Maka disembelihkanlah seekor anak kambing muda, dan mereka makan bersama untuk kedua kalinya malam itu.
Di sela makan itu, Nabi ﷺ bertanya, "Apakah engkau punya pembantu?"
"Tidak," jawab Abu al-Haitsam.
"Kalau begitu, bila datang kepada kami tawanan perang, datanglah kepada kami," kata Nabi ﷺ.
Tidak lama berselang, dua orang tawanan datang kepada Nabi ﷺ, disertai seorang ketiga. Abu al-Haitsam pun dipanggil.
"Pilihlah salah satu dari keduanya," kata Nabi ﷺ.
"Wahai Rasulullah, pilihkanlah untukku," jawab Abu al-Haitsam, mempercayakan pilihannya kepada Nabi ﷺ sepenuhnya.
"Orang yang dimintai pendapat itu dipercaya," jawab Nabi ﷺ. "Ambillah yang ini — aku melihatnya rajin shalat. Perlakukanlah ia dengan baik."
Abu al-Haitsam pulang, menceritakan kepada istrinya apa yang baru saja disabdakan Nabi ﷺ. Istrinya berkata, "Engkau tidak akan benar-benar menunaikan apa yang dikatakan Nabi tentang orang ini, kecuali engkau memerdekakannya."
"Kalau begitu, ia bebas," jawab Abu al-Haitsam, tanpa ragu sedikit pun.
Mendengar itu, Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau seorang khalifah, kecuali ia memiliki dua jenis orang dekat: yang satu menyuruhnya pada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran, dan yang satu lagi tidak pernah berhenti berusaha merusaknya. Barangsiapa dijaga dari orang dekat yang buruk, sungguh ia telah benar-benar dijaga."
Pelajaran
Malam itu dimulai dengan tiga orang mulia yang sama-sama lapar, tidak ada yang menyembunyikannya, dan berakhir dengan satu kalimat yang membalik cara kita memandang kecukupan: naungan yang sejuk, kurma yang manis, air yang dingin — hal-hal yang begitu biasa hingga jarang kita syukuri — ternyata termasuk nikmat yang akan ditanyakan kelak. Pekan ini, ketika saudara-saudara kita di Kalimantan kehilangan udara bersih untuk bernapas, di Flores kehilangan atap rumah, dan di lembah-lembah Nepal kehilangan air bersih yang dulu mengalir tenang, kalimat Nabi ﷺ ini terasa jauh lebih tajam maknanya. Sesuatu yang bagi kita hanyalah rutinitas — segelas air dingin, tempat teduh, semangkuk makanan — adalah kemewahan yang sedang tidak dimiliki banyak orang saat ini. Kisah ini juga menunjukkan bahwa lapar tidak mengurangi kemuliaan siapa pun, dan berbagi apa yang ada — sesedikit apa pun — bisa menjadi jalan menuju kebaikan yang jauh lebih besar dari yang disangka, sebagaimana kebaikan Abu al-Haitsam berujung pada pembebasan seseorang.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم
354- حدثنا محمد بن إسماعيل. حدثنا آدم بن أبي سلمة بن أبي إياس. حدثنا شيبان (أبو معاوية). حدثنا عبد الملك بن عمير عن ابن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال: «خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في ساعة لا يخرج فيها ولا يلقاه فيها أحد، فأتاه أبو بكر فقال: ما جاء بك يا أبا بكر؟ قال: خرجت ألقى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنظر في وجهه، والتسليم عليه، فلم يلبث أن جاء عمر، فقال ما جاء بك يا عمر؟ قال الجوع يا رسول لله. قال صلى الله عليه وسلم وأنا قد وجدت بعض ذلك. فانطلقوا إلى منزل أبي الهيثم بن التيّهان الأنصاريّ «وكان رجلا كثير النخيل والشاء ولم … يكن له خدم فلم يجدوه فقالوا لامرأته: أين صاحبك؟ فقالت : انطلق يستعذب لنا الماء فلم يلبثوا أن جاء أبو الهيثم بقربة يزعبها فوضعها، ثم جاء يلتزم النبي (صلى الله عليه وسلم) ويفديه بأبيه وأمّه، ثم انطلق بهم إلى حديقته فبسط لهم بساطا، ثم انطلق إلى نخلة فجاء بقنو فوضعه، فقال النبي (صلى الله عليه وسلم) : أفلا تنقّيت لنا من رطبه؟ فقال يا رسول الله إني أردت أن تختاروا أو تخيروا من رطبه وبسره، فأكلوا وشربوا من ذلك الماء. فقال (صلى الله عليه وسلم) هذا والذي نفسي بيده من النعيم الذي تسألونا عنه يوم القيامة! ظل بارد، ورطب طيّب، وماء بارد. فانطلق أبو الهيثم ليصنع لهم طعاما فقال النبي (صلى الله عليه وسلم) : لا تذبحنّا لنا ذات درّ، فذبح لهم عناقا أو جديا، فأتاهم بها، فأكلوا، فقال (صلى الله عليه وسلم) : هل لك خادم؟ قال لا. قال: فإذا أتانا سبي فأتنا؛ فأتى (صلى الله عليه وسلم) برأسين معهما ثالث. فأتاه أبو الهيثم فقال النبي (صلى الله عليه وسلم) : اختر منهما. فقال يا رسول الله اختر لي، فقال النبي (صلى الله عليه وسلم) : إن المستشار مؤتمن، خذ هذا، فإنّي رأيته يصلي، واستوص به معروفا، فانطلق أبو الهيثم الى امرأته فأخبرها بقول رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فقالت امرأته: ما أنت ببالغ حقّ ما قال فيه النبي (صلى الله عليه وسلم) إلّا بأن تعتقه، قال فهو عتيق، فقال (صلى الله عليه وسلم) : إن الله لم يبعث نبيا ولا خليفة إلّا وله بطانتان: بطانة تأمره بالمعروف وتنهاه عن المنكر، وبطانة لا تألوه خبالا، ومن يوق بطانة السوء فقد وقي ».
