Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumLingkungan & BencanaKamis, 3 September 2026

Kultum — "Waspada Tanpa Menghakimi Sesama"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita dikepung kabar dari segala arah — asap yang membuat sesak napas, tanah yang berguncang, air yang menjebol sebuah danau jauh di utara, dan kemarau yang membuat sumur-sumur mengering. Rasanya baru kemarin kita membahas satu bencana, sekarang sudah muncul kabar bencana yang lain lagi, seolah linimasa kita tidak diberi jeda untuk bernapas. Di tengah semua kabar ini, ada satu pesan kecil yang ingin saya bagikan malam ini: tentang bagaimana seharusnya kita bersikap ketika kabar buruk datang bertubi-tubi dari segala penjuru, tanpa kita larut dalam kecemasan yang berlebihan atau justru menjadi tumpul dan tidak peduli sama sekali.

Pernahkah saudara memperhatikan, begitu mendengar kabar bencana, kita cenderung ingin segera tahu "siapa yang salah" sebelum bertanya "siapa yang perlu dibantu"? Rasulullah ﷺ pernah memberi sebuah perumpamaan yang menggambarkan pola semacam ini dengan sangat tajam:

مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا قَالَ فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ هَلُمَّ عَنِ النَّارِ هَلُمَّ عَنِ النَّارِ فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا

"Perumpamaanku seperti seorang laki-laki yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekitarnya, kupu-kupu dan binatang-binatang yang masuk ke api mulai berjatuhan ke dalamnya. Ia mencoba menghalangi mereka, namun mereka mengalahkannya dan terjun ke dalamnya. Ia berkata: itulah perumpamaanku dan perumpamaan kalian. Aku memegang ikat pinggang kalian, menjaga kalian dari neraka. Marilah menjauh dari neraka! Marilah menjauh dari neraka! Tetapi kalian mengalahkan aku, terjun ke dalamnya." (Sahih Muslim 2284c)

Hadits ini aslinya berbicara tentang bagaimana Rasulullah ﷺ berusaha keras menahan umatnya dari dosa, namun sebagian tetap menerjang masuk. Yang bisa kita ambil dari perumpamaan ini, dalam konteks pekan ini, adalah soal pola: peringatan yang berulang, yang diabaikan berulang, hingga akibatnya datang juga. Karhutla yang membakar Kalimantan dan Sumatra bukan bencana yang datang tiba-tiba tanpa peringatan. Setiap tahun peringatan yang sama diulang — jangan bakar lahan, jaga titik api — dan setiap tahun pula sebagian orang tetap menerjang masuk ke dalamnya, seperti kupu-kupu yang sudah diperingatkan namun tetap terjun.

Tapi jamaah sekalian, di sinilah letak kehati-hatian yang perlu kita jaga. Ada perbedaan besar antara menyoroti pola yang berulang dengan menuduh orang tertentu. Aparat sendiri menyatakan sejumlah kasus dugaan pembakaran lahan pekan ini tengah diproses secara hukum — itu jalur yang benar, jalur pembuktian, bukan jalur tuduhan yang kita lempar dari kursi masing-masing tanpa bukti. Kalau ada video atau tulisan yang menuduh pihak tertentu tanpa bukti jelas, sebaiknya kita tidak ikut menyebarkannya — cukup berhenti di layar kita sendiri, tidak perlu diteruskan ke grup keluarga atau grup pengajian.

Yang lebih rumit lagi, pekan ini kita juga menyaksikan sebagian orang menyebut badai yang melanda Aceh sebagai azab. Saya ingin luruskan ini malam ini, karena ini menyentuh akidah kita secara langsung: musibah yang menimpa seorang mukmin bukan surat vonis dosa. Ia adalah ujian — dan bagi yang bersabar, ia menjadi penghapus dosa dan jalan pahala. Coba bayangkan seorang ibu di Aceh yang baru saja kehilangan atap rumahnya, lalu membuka linimasa dan membaca orang lain menyebut musibahnya sebagai hukuman atas dosa. Betapa berat beban itu, ditumpuk di atas beban yang sudah ia pikul. Untungnya, pekan ini kita juga menyaksikan banyak orang lain yang justru maju membela — mengingatkan bahwa tidak pantas menghakimi orang yang sedang berduka. Itu tanda baik, dan tugas kita adalah menguatkan suara yang membela itu, bukan diam saja seolah tidak berkepentingan.

Ada hadits lain yang bisa menjadi renungan kita malam ini — bukan tentang azab, tapi tentang harta yang kita kejar. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَقِيءُ الأَرْضُ أَفْلاَذَ كَبِدِهَا أَمْثَالَ الأُسْطُوَانِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَيَجِيءُ الْقَاتِلُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قَتَلْتُ. وَيَجِيءُ الْقَاطِعُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قَطَعْتُ رَحِمِي. وَيَجِيءُ السَّارِقُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قُطِعَتْ يَدِي ثُمَّ يَدَعُونَهُ فَلاَ يَأْخُذُونَ مِنْهُ شَيْئًا

"Bumi akan memuntahkan kepingan-kepingan jantungnya seperti tiang-tiang dari emas dan perak. Datang pembunuh seraya berkata, 'Untuk inilah aku membunuh.' Datang pemutus silaturahim seraya berkata, 'Untuk inilah aku memutus tali kerabatku.' Datang pencuri seraya berkata, 'Untuk inilah tanganku dipotong.' Kemudian mereka meninggalkannya, tidak mengambil sesuatu pun darinya." (Sahih Muslim 1013)

Bayangkan gambaran ini, jamaah — harta yang dulu begitu diperjuangkan, bahkan dengan cara yang merugikan orang lain, pada akhirnya ditinggalkan begitu saja karena pemiliknya sadar ia tak menyelamatkan apa-apa. Ini pengingat yang jujur untuk kita semua, ketika pertanyaan tentang ada-tidaknya keuntungan di balik kebakaran hutan pekan ini ramai diperbincangkan: keuntungan yang lahir dari kerusakan, cepat atau lambat, tidak akan pernah terasa sebagai keberkahan bagi pemiliknya.

Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, jamaah. Pekan ini kita juga menyaksikan Gunung Sinabung meletus, sementara di belahan dunia lain, sebuah danau yang terbentuk dari lelehan es jebol dan menyapu desa-desa di perbatasan Nepal dan Tibet. Kita mungkin merasa jauh dari kedua tempat itu — tidak ada saudara atau kenalan di sana. Tapi coba renungkan: ketika Rasulullah ﷺ dalam hadits tadi menahan umatnya dari terjun ke api, apakah beliau hanya peduli pada orang-orang yang ada di depan mata beliau saja, atau pada setiap orang yang berpotensi celaka? Kepedulian kita seharusnya juga begitu — tidak berhenti pada siapa yang kita kenal, melainkan menjangkau siapa saja yang sedang kesusahan, di mana pun mereka berada, sedekat Aceh atau sejauh Nepal sekalipun.

Jamaah yang saya hormati, mari kita bawa pulang malam ini satu sikap sederhana: waspada tanpa menghakimi. Waspada terhadap pola kerusakan yang terus berulang, tapi tidak menghakimi individu tanpa bukti. Waspada menjaga lisan dari label azab, tapi tetap peka terhadap tanda-tanda yang Allah berikan lewat alam. Dan yang paling penting, jangan sampai kesibukan kita berkomentar membuat kita lupa bertindak — mendoakan, membantu, dan menjaga bumi yang dititipkan kepada kita. Bencana pekan ini akan berlalu dari linimasa dalam beberapa hari, digantikan topik lain yang lebih ramai. Tapi dampaknya bagi saudara-saudara kita yang terdampak tidak akan berlalu secepat itu — dan di situlah kepedulian kita seharusnya justru bertahan lebih lama daripada tren yang sedang viral.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُنْكُوْبِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَحْفَظُ أَمَانَتَكَ فِي الْأَرْضِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan