أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini banyak kabar yang membuat kita perlu membaca ulang siapa saja yang diam-diam berada di sekitar kita — orang yang mungkin sedang berjuang sendirian tanpa pernah bilang apa-apa. Malam ini saya ingin mengajak kita bicara soal itu, karena topik ini jarang sekali diangkat, padahal terjadi di sekeliling kita nyaris setiap pekan, kepada orang-orang yang mungkin sangat dekat dengan kita.
Coba kita tanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita benar-benar bertanya kabar kepada tetangga atau teman yang belakangan jarang muncul di grup, jarang ikut kumpul, jarang membalas pesan? Kita sering menganggap diam itu tanda baik-baik saja. Padahal, dalam Al-Qur'an, Allah subhanahu wa ta'ala justru menyandingkan dua kelompok yang sama-sama berhak atas kepedulian kita — yang berani meminta, dan yang memilih diam.
لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ
"Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (QS. Al-Ma'aarij: 25)
Al-mahrum dalam ayat ini adalah orang yang kesulitan tapi menahan diri untuk meminta — entah karena harga diri, entah karena malu, entah karena tidak tahu harus mengadu ke mana. Ayat ini seperti menegur kita pelan-pelan: jangan menunggu orang mengetuk pintu dulu baru kita peduli. Justru orang-orang yang paling diam itulah yang sering paling butuh diperhatikan.
Pekan ini, pola al-mahrum ini terasa sangat nyata. Begitu banyak kabar tentang orang-orang yang terjerat pinjaman online sampai ratusan juta rupiah — bukan karena mereka jahat atau boros, tapi karena bunga yang terus menumpuk sampai tak terkejar. Dan yang menarik, banyak dari mereka memilih menghilang. Ada yang berhenti membalas chat, ada yang keluar dari grup arisan, ada yang tidak lagi datang ke pengajian rutin. Bukan karena mereka tidak butuh teman — justru sebaliknya, mereka butuh sekali. Tapi rasa malu itu sering lebih kuat daripada keberanian untuk bilang, "saya sedang kesulitan."
Ada satu utas yang cukup jujur saya temukan pekan ini — seseorang bertanya kepada pembacanya: kalau sahabat sendiri terjebak pinjol sebesar itu, apakah kita akan tetap bertahan atau justru menjauh? Pertanyaan itu jujur, tapi juga menyedihkan, karena artinya banyak dari kita memang pernah terpikir untuk menjauh dari orang yang sedang kesulitan. Padahal, jamaah, justru di saat itulah kehadiran kita paling berarti.
Islam sebenarnya sudah memberi jalan yang sangat jelas soal ini. Ada sebuah hadits yang menyebutkan golongan yang dibolehkan meminta-minta, salah satunya:
وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ
"Seorang lelaki yang ditimpa musibah yang menghancurkan hartanya — halal baginya meminta hingga ia mendapatkan penopang hidup." (Sahih Muslim 1044, dari Qabishah bin Mukhariq al-Hilali radhiyallahu 'anhu)
Coba perhatikan, jamaah — Rasulullah ﷺ sendiri yang menghalalkan seseorang meminta tolong ketika hartanya hancur oleh musibah. Kalau Rasulullah ﷺ saja memberi ruang sebesar itu bagi orang yang kesulitan untuk mengaku dan meminta bantuan, kenapa kita — sesama manusia biasa — justru sering membuat orang semakin takut untuk jujur soal kesulitannya?
Coba kita bayangkan sejenak: kalau ada tetangga yang tiba-tiba cerita soal kesulitannya kepada kita, apakah reaksi pertama kita rasa ingin tahu — "utangnya berapa sih, kok bisa sampai segitu?" — atau rasa ingin membantu — "apa yang bisa saya lakukan sekarang?" Dua reaksi ini kelihatannya mirip, tapi rasanya sangat berbeda bagi orang yang menerimanya. Reaksi pertama membuat orang merasa diadili, reaksi kedua membuat orang merasa didampingi. Kultum malam ini bukan untuk mengajari kita menghakimi siapa yang salah dalam urusan pinjol, melainkan untuk melatih reaksi kedua itu supaya jadi kebiasaan kita sehari-hari.
Dan bukan hanya soal utang. Pekan ini juga ada kabar yang lebih pribadi menyentuh kita — tentang seseorang yang dikhianati kepercayaannya lewat relasi yang dijalin secara anonim, sampai ia diperas menggunakan sesuatu yang direkam tanpa sepengetahuannya. Korbannya laki-laki, dan itu penting kita catat, karena kerentanan semacam ini bisa menimpa siapa saja, bukan hanya satu golongan. Saya tidak akan membahas detailnya di sini, jamaah — bukan itu yang penting. Yang penting: orang-orang yang mengalami hal semacam ini juga sering memilih diam, karena takut disalahkan, takut dihakimi, takut ceritanya malah jadi bahan omongan. Mereka juga al-mahrum yang disebut dalam ayat tadi — yang butuh kita dekati dengan lembut, bukan kita interogasi dengan rasa penasaran.
Ini bukan berarti kita harus jadi psikolog, atau harus punya jawaban atas semua masalah orang lain, jamaah. Cukup jadi orang yang hadir, yang tidak buru-buru menghakimi, dan yang membuat orang lain merasa aman untuk berkata jujur kapan pun mereka siap — bahkan kalau itu butuh waktu berminggu-minggu sebelum mereka akhirnya berani bicara.
Jadi jamaah, izinkan saya mengajak kita semua satu hal sederhana malam ini. Pikirkan satu nama — satu tetangga, satu teman lama, satu saudara — yang belakangan ini terasa menghilang. Bukan untuk menyelidiki masalahnya, bukan untuk bertanya, "kamu kena pinjol, ya?" — cukup kirim satu pesan singkat, "apa kabar, kangen ngobrol sama kamu." Kadang itu saja sudah cukup membuka pintu yang selama ini tertutup rapat oleh rasa malu.
Semoga Allah menjadikan kita jamaah yang peka terhadap yang diam, bukan hanya yang ramai. Semoga Allah melapangkan hati saudara-saudara kita yang sedang kesulitan untuk berani jujur, dan melapangkan hati kita untuk menyambut kejujuran itu tanpa menghakimi.
اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي
"Ya Allah, rahmatilah aku, berilah aku rezeki, berilah aku kesehatan, dan berilah aku petunjuk." (Bulugh al-Maram 347)
Kita tutup dengan doa penutup majelis yang biasa kita baca bersama:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
