Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPekerja & Pertanian RakyatKamis, 3 September 2026

Kultum — "Kaya Diuji, Miskin Pun Diuji"

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, kita mendengar kabar tentang komisi ojek daring yang katanya sudah diturunkan, tentang pabrik tekstil yang pailit, tentang koperasi desa yang tiba-tiba sepi kerja. Ada satu pesan kecil yang ingin saya bagikan malam ini, dari sebuah doa yang mungkin sudah sering kita dengar tapi jarang kita renungkan maknanya.

Saudara-saudara sekalian, 'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah menceritakan doa yang biasa dipanjatkan Rasulullah ﷺ. Doa ini termaktub dalam:

Sahih al-Bukhari 6377 —

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ، وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى، وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ قَلْبِي بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا، كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Rasulullah ﷺ biasa berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka dan azab neraka, dari fitnah kubur dan azab kubur, serta dari keburukan fitnah kekayaan, dan keburukan fitnah kemiskinan... Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, dosa, dan lilitan utang."

Coba kita perhatikan, jamaah — dalam satu tarikan napas doa ini, Rasulullah ﷺ meminta perlindungan dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan sekaligus. Bukan salah satu saja. Kita ini biasanya membayangkan bahwa yang perlu diwaspadai hanya kemiskinan — takut miskin, takut kekurangan, takut tidak bisa membayar cicilan. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekayaan pun punya fitnahnya sendiri: bisa membuat lupa diri, bisa membuat sombong, bisa membuat lalai dari yang memberi rezeki. Siapa di antara kita yang pekan ini sempat berpikir, "yang penting saya kaya dulu, urusan iman belakangan"? Itulah persis fitnah yang diminta perlindungannya oleh Rasulullah ﷺ.

Kita mungkin bertanya-tanya, kenapa dua hal yang tampak berlawanan ini justru disatukan dalam satu doa yang sama? Menurut saya, jamaah, karena keduanya sebenarnya menguji hal yang sama: seberapa besar hati kita bergantung pada Allah, bukan pada jumlah di rekening. Orang kaya yang hatinya bergantung pada hartanya akan gelisah begitu hartanya berkurang sedikit saja. Orang susah yang hatinya bergantung pada penghasilannya akan putus asa begitu penghasilannya seret. Keduanya sama-sama kehilangan sandaran yang sebenarnya, yaitu Allah. Yang berbeda hanya bentuk ujiannya, bukan intinya.

Yang menarik, setelah menyebut dua fitnah yang berlawanan arah ini, doa itu ditutup dengan permohonan perlindungan dari kemalasan dan lilitan utang. Bukan kebetulan. Karena baik orang kaya maupun orang yang sedang kesulitan, sama-sama bisa terjerembab pada dua hal ini: malas berusaha, dan terlilit utang yang tidak dikelola dengan bijak. Pengemudi ojek yang penghasilannya belum sesuai harapan, bisa tergoda pinjaman online yang menjanjikan jalan pintas. Pengurus koperasi desa yang kehilangan penghasilan, bisa tergoda putus asa dan berhenti mencoba. Doa ini seperti mengingatkan kita: apa pun posisi ekonomi kita hari ini, kaya atau susah, dua godaan yang sama tetap mengintai — dan keduanya hanya bisa dijaga dengan kerja yang jujur dan hati yang tidak tergesa-gesa.

Jamaah yang saya muliakan, saya sendiri pernah merasakan momen ketika penghasilan sedang seret, dan yang terpikir bukan "bagaimana saya berusaha lebih baik," tapi "kenapa nasib saya begini." Padahal doa yang kita baca tadi mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa ujian itu punya dua wajah, dan kita tidak pernah tahu wajah mana yang sedang kita hadapi sekarang akan berubah jadi wajah yang lain esok hari. Yang kaya bisa jatuh, yang susah bisa diangkat. Yang tetap sama hanyalah kewajiban kita untuk terus berikhtiar dengan jujur, dan terus berlindung kepada Allah dari sikap hati yang rusak — entah karena kelebihan, entah karena kekurangan.

Coba kita lihat sekeliling kita pekan ini. Ada saudara kita yang ladangnya kering karena kemarau panjang, ada yang kebunnya terancam kabut asap, ada yang baru saja kehilangan pekerjaan karena tempatnya bekerja tutup. Kalau kita di posisi mereka, godaan paling besar bukan cuma rasa sedih — tapi juga godaan untuk berhenti berusaha, atau sebaliknya, tergoda jalan pintas yang menjerumuskan ke utang yang tidak jelas ujungnya. Di sinilah doa yang kita bahas malam ini terasa sangat pas: ia bukan doa yang diucapkan sekali lalu selesai, tapi doa yang perlu terus kita ulang, apalagi di masa-masa seperti sekarang, supaya hati kita tidak diam-diam bergeser ke salah satu dari dua fitnah itu tanpa kita sadari.

Maka pekan ini, mari kita bawa pulang satu pesan sederhana: kalau Allah sedang melapangkan rezeki kita, jangan sampai lupa diri. Kalau Allah sedang menyempitkan rezeki kita, jangan sampai putus asa apalagi lari ke utang yang menjerat. Baca doa ini setiap selesai shalat, bukan sekadar hafalan, tapi sebagai pengingat harian bahwa hati kita sedang dijaga dari dua arah sekaligus. Dan kalau di sekitar kita ada yang sedang diuji dengan salah satu dari dua fitnah ini — entah kelapangan yang membuatnya lupa, entah kesempitan yang membuatnya putus asa — jangan hanya didoakan dari jauh, tapi didekati, ditemani, dan dibantu semampu kita.

Sebelum kita tutup, satu hal terakhir yang ingin saya titipkan: doa ini bukan mantra yang cukup dihafal, tapi cermin untuk memeriksa hati kita sendiri malam ini. Coba tanya pada diri masing-masing — sedang berada di posisi mana saya sekarang, lapang atau sempit? Dan apakah hati saya sedang aman dari dua fitnah yang disebutkan Rasulullah ﷺ tadi, atau justru sedang perlahan tergelincir ke salah satunya tanpa saya sadari?

Ya Allah, jauhkan kami dari fitnah kekayaan yang melalaikan dan fitnah kemiskinan yang membuat putus asa, jauhkan kami dari kemalasan dan lilitan utang yang menjerat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan