Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPemerintahan & KebijakanKamis, 3 September 2026

Khutbah Jumat — "Istana Boleh Megah, Amanah Tak Boleh Runtuh"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيزَانَ الْعِبَادِ، وَجَعَلَ كُلَّ رَاعٍ مَسْؤُولًا عَمَّنْ يَرْعَاهُ يَوْمَ التَّنَادِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْأَمِينُ الصَّادِقُ الَّذِي بَعَثَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah.

Allah Ta'ala berfirman di dalam Kitab-Nya:

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

"Agar Allah menegakkan yang hak dan membatalkan yang batil, sekalipun orang-orang yang berbuat dosa itu tidak menyukainya." (QS. Al-Anfal: 8)

Ayat ini turun dalam konteks pertarungan antara kebenaran dan kebatilan yang tampak jelas di medan perang. Namun maknanya jauh lebih luas dari itu: bahwa di setiap zaman, akan selalu ada usaha untuk mengaburkan mana yang hak dan mana yang batil, dan tugas kita sebagai umat yang beriman adalah tidak ikut arus pengaburan itu — melainkan berpegang pada kejernihan, betapapun deras arus yang berusaha menenggelamkannya.

Pekan ini, kejernihan itu diuji dengan cara yang sangat konkret. Sebuah video menyebar luas dengan klaim bahwa sebuah rancangan undang-undang tentang perampasan aset hasil korupsi telah disahkan, seolah perjuangan panjang publik menuntut keadilan sudah membuahkan hasil. Padahal kenyataannya, pembahasan rancangan itu masih berjalan; pejabat yang berwenang baru menyatakan optimisme bahwa ia akan disahkan pada tahun-tahun mendatang. Klaim yang beredar itu — betapapun ia lahir dari harapan yang tulus akan keadilan — tetaplah sebuah ketidakbenaran yang menyesatkan, dan kita, sebagai umat yang diperintahkan untuk menegakkan yang hak, tidak boleh ikut menyebarkannya hanya karena ia terasa menyenangkan untuk dipercaya.

Di waktu yang hampir bersamaan, ribuan warga berkumpul di depan gedung wakil rakyat menuntut agar rancangan undang-undang itu segera disahkan. Ini adalah tuntutan yang lahir dari kerinduan yang sah: kerinduan akan keadilan bagi harta rakyat yang dirampas oleh tangan-tangan yang berkhianat pada amanahnya. Namun kerinduan yang benar tidak boleh dicampur dengan informasi yang keliru — sebab keadilan yang sejati dibangun di atas kebenaran, bukan di atas harapan yang dibungkus seolah-olah sudah menjadi kenyataan.

Pekan ini juga kita mendengar kabar yang menyayat: program bantuan pangan bergizi yang dirancang untuk memperbaiki asupan anak-anak dan keluarga justru menimbulkan gelombang keracunan massal di sejumlah titik. Badan yang bertanggung jawab terpaksa menghentikan sementara sejumlah dapur penyelenggara sambil menunggu hasil investigasi. Kita tidak meragukan niat baik di balik program semacam ini — memberi makan yang lapar adalah bagian dari amanah kepemimpinan yang paling mendasar. Namun niat baik saja tidak cukup. Amanah menuntut lebih dari sekadar niat; ia menuntut pelaksanaan yang aman, pengawasan yang sungguh-sungguh, dan kesediaan untuk berhenti sejenak ketika ada yang keliru, alih-alih menutup-nutupinya demi menjaga citra.

Kabar lain yang sampai kepada kita pekan ini adalah tentang data yang dipakai untuk menentukan siapa yang berhak menerima bantuan sosial. Sejumlah rumah tangga yang sesungguhnya rentan justru salah ditempatkan pada kategori yang membuat mereka kehilangan hak atas bantuan yang semestinya mereka terima. Yang lebih menyayat hati, koreksi atas kesalahan semacam ini kerap kali baru bergerak setelah kasusnya viral dan menjadi bahan pembicaraan luas — seolah birokrasi baru mendengar jeritan warga ketika jeritan itu sudah cukup keras didengar publik, bukan sejak awal ketika data itu pertama kali salah dicatat.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, keempat peristiwa ini — godaan untuk mempercayai kabar yang menyenangkan tapi keliru, tuntutan keadilan yang sah, program bantuan yang niatnya baik namun pelaksanaannya melukai, dan data yang salah menempatkan yang rentan — semuanya bertemu pada satu benang yang sama: amanah. Amanah untuk menyampaikan kebenaran walau ia tidak seindah kabar yang viral. Amanah untuk melaksanakan kebijakan dengan pengawasan yang sungguh-sungguh. Amanah untuk memastikan yang paling lemah tidak terlupakan oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Maka pada khutbah pekan ini, marilah kita renungkan bersama satu tema besar: bahwa kekuasaan — dalam bentuk apa pun ia hadir, entah kekuasaan politik, kekuasaan mengelola anggaran, atau bahkan kekuasaan kecil sebagai pengurus RT dan pengelola kas pengajian — selalu membawa dua kemungkinan yang bertolak belakang. Ia bisa menjadi ladang amal yang menyelamatkan, atau ia bisa menjadi istana megah yang pada akhirnya runtuh membawa penghuninya ke dalam kehinaan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan umatnya tentang bahaya yang justru datang bukan dari luar, melainkan dari dalam hati manusia sendiri. Di dalam kitab Nashaihul Ibad disebutkan sebuah peringatan Nabi ﷺ yang tegas:

سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخَمْسَ: يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ، وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْخَلْقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ

Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan datang atas umatku suatu masa, mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara: mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai kehidupan dan melupakan kematian, mencintai istana-istana dan melupakan kubur-kubur, mencintai harta dan melupakan hisab, dan mencintai makhluk serta melupakan Sang Pencipta."

Perhatikan baik-baik susunan hadits ini, ma'asyiral muslimin. Bukan istana itu sendiri yang dicela — sebab tempat tinggal yang layak bukanlah aib. Yang dicela adalah cinta kepada istana yang membuat lupa pada kubur; cinta kepada harta yang membuat lupa pada hisab. Istana dan kubur sesungguhnya berdiri berdampingan dalam kehidupan setiap manusia — hanya jarak waktu yang memisahkan keduanya. Yang membedakan orang yang selamat dari yang binasa bukanlah berapa besar istananya, melainkan apakah ia masih ingat bahwa di ujung jalan yang sama menantinya kubur yang sempit. Ketika sebuah jabatan, sebuah kursi kepemimpinan — bahkan kursi kepemimpinan organisasi keagamaan sekalipun — mulai dicintai untuk dirinya sendiri, bukan untuk amanah yang dipikulnya, di situlah lima kecintaan yang keliru mulai menggantikan lima ingatan yang seharusnya kita jaga.

Pekan ini kita menyaksikan pergantian kepemimpinan sebuah organisasi keagamaan besar, dan wacana publik yang menyertainya justru mempertanyakan hal yang sama: apakah kursi kepemimpinan, betapa pun mulia sejarah dan tujuannya, tetap membawa godaan yang identik dengan kursi kekuasaan mana pun di dunia ini? Jawabannya, menurut hadits yang kita baca barusan, adalah ya. Tidak ada kursi yang kebal dari godaan mencintai posisi itu sendiri. Yang membedakan adalah kesadaran pemegangnya: apakah ia terus mengingat bahwa jabatan itu adalah amanah sementara yang akan dipertanggungjawabkan, atau ia mulai memperlakukannya sebagai istana abadi yang layak dipertahankan dengan segala cara.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, peringatan yang sama juga datang dalam bentuk yang lebih tegas lagi. Dalam Sahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits yang menggambarkan sebuah masa yang akan datang pada akhir umat ini:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: يَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي خَلِيفَةٌ يَحْثِي الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا

Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan ada pada akhir umatku seorang khalifah yang menghambur-hamburkan harta dengan limpah, tidak menghitungnya sama sekali." (Sahih Muslim 2913a)

Yang menarik dari riwayat ini, ma'asyiral muslimin, adalah percakapan yang menyertainya. Perawi hadits ini, Jabir bin Abdillah, ditanya oleh murid-muridnya: "Apakah menurutmu itu adalah Umar bin Abdul Aziz?" — merujuk pada khalifah yang justru dikenal karena kezuhudannya, karena keadilannya yang legendaris dalam mengelola harta negara. Jabir dan sahabatnya menjawab dengan tegas: "Bukan." Perhatikan betapa dalamnya pelajaran ini: umat yang mendengar hadits tentang penguasa yang menghambur harta tanpa perhitungan justru segera teringat pada sosok penguasa yang berlawanan — penguasa yang justru dikenal karena kehati-hatiannya pada setiap dirham yang dikeluarkannya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa sejarah selalu menyimpan dua jenis pemimpin: yang menghambur tanpa hisab, dan yang menghitung setiap keping karena sadar bahwa kelak ia akan dihisab. Pekan ini, ketika kita mendengar klaim penghematan anggaran negara, atau ketika kita membaca angka-angka besar yang berkaitan dengan program pemerintah, pertanyaan yang seharusnya muncul di hati kita bukanlah sekadar "berapa besar angkanya", melainkan "apakah pengelolaannya dilakukan dengan kesadaran hisab, atau dengan sikap menghambur tanpa perhitungan?"

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jika istana dan harta adalah dua godaan yang mengancam siapa pun yang diberi kekuasaan, maka ukuran yang paling jujur untuk menilai apakah seseorang selamat dari godaan itu bukanlah pada seberapa megah pidatonya, melainkan pada bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang paling lemah di antara rakyatnya. Dalam Sahih Muslim diriwayatkan sebuah peristiwa yang menggambarkan hal ini dengan sangat hidup:

فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوِ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنَ الْفَاقَةِ

Diriwayatkan dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya: pada suatu pagi, datanglah kepada Rasulullah ﷺ serombongan orang yang bertelanjang kaki, compang-camping, hanya berbalut kain kasar bergaris, menyandang pedang di pundak mereka. Maka wajah Rasulullah ﷺ berubah karena melihat kefakiran yang mereka tanggung. (Sahih Muslim 1017a)

Perhatikan reaksi Rasulullah ﷺ, ma'asyiral muslimin. Beliau tidak berpaling dari pemandangan yang tidak nyaman itu. Wajahnya berubah — tanda kepedulian yang tulus, bukan kepedulian yang dipertontonkan. Beliau kemudian masuk sejenak, keluar kembali, memerintahkan azan dan iqamah, shalat, lalu berkhutbah mengajak umatnya bersedekah, hingga seorang demi seorang membawa apa yang mereka punya untuk dibagikan kepada rombongan yang fakir itu. Inilah teladan kepemimpinan yang sejati: kepekaan yang segera bergerak menjadi tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan simpati yang berhenti di bibir.

Pekan ini, kita mendengar kabar tentang data kependudukan yang dipakai untuk menyalurkan bantuan sosial justru salah menempatkan sejumlah keluarga yang sesungguhnya rentan — misalnya seorang janda yang bekerja serabutan mengantar pesanan justru dikategorikan sebagai keluarga mampu, sehingga haknya atas bantuan tertunda. Jika kita membandingkan reaksi Rasulullah ﷺ yang wajahnya berubah karena melihat kefakiran, dengan sebuah sistem yang baru bergerak mengoreksi kesalahannya setelah viral di media sosial, kita menemukan jarak yang jauh antara dua jenis kepekaan: kepekaan yang muncul dari hati yang tulus, dan kepekaan yang muncul hanya karena tekanan sorotan publik. Amanah kepemimpinan yang sesungguhnya seharusnya lebih dekat pada yang pertama — sebuah kepekaan yang bergerak sebelum viral, bukan sesudahnya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, semua yang telah kita bahas — cinta istana yang melupakan kubur, harta yang dihambur tanpa hisab, dan kepekaan yang seharusnya menjadi wajah kepemimpinan — pada akhirnya kembali pada satu pertanyaan yang paling mendasar: untuk apa sebenarnya kita menginginkan sebuah posisi, sebuah amanah, sebuah kursi kepemimpinan? Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, disebutkan sebuah nasihat penting tentang niat, yang aslinya ditujukan kepada para penuntut ilmu, namun maknanya berlaku luas untuk siapa pun yang memikul amanah apa pun:

حسن النية في طلب العلم بأن يقصد به وجه الله تعالى والعمل به وإحياء الشريعة، وتنوير قلبه وتحلية باطنه والقرب من الله تعالى يوم القيامة. ولا يقصد به الأغراض الدنيوية من تحصيل الرياسة والجاه والمال، ومباهاة الأقران، وتعظيم الناس له، وتصديره في المجالس ونحو ذلك، فيستبدل الأدنى بالذي هو خير

Disebutkan dalam kitab ini: hendaknya niat yang baik dalam menuntut ilmu ditujukan semata untuk wajah Allah Ta'ala, untuk mengamalkannya, dan untuk menghidupkan syariat — bukan untuk tujuan-tujuan duniawi seperti memperoleh kepemimpinan, kedudukan, dan harta, berbangga di hadapan sesama, serta ingin diagungkan dan didahulukan dalam majelis-majelis. Sebab siapa yang menukar tujuan yang mulia dengan tujuan yang rendah semacam itu, ia telah menukar yang lebih baik dengan yang lebih rendah.

Kitab ini juga mengutip perkataan seorang ulama besar, Abu Yusuf rahimahullah, yang berkata: "Wahai kaum, inginkanlah dengan ilmu kalian — Allah Ta'ala. Sungguh aku tidak pernah duduk di suatu majelis dengan niat tawadhu, kecuali aku tidak berdiri sampai aku ditinggikan di atas mereka. Dan aku tidak pernah duduk di suatu majelis dengan niat ingin ditinggikan di atas mereka, kecuali aku tidak berdiri sampai aku dipermalukan."

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, inilah rahasia yang luar biasa: kerendahan hati yang tulus justru mengangkat derajat seseorang, sementara ambisi untuk ditinggikan justru berujung pada kehinaan. Prinsip ini bukan hanya berlaku bagi penuntut ilmu, tetapi bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan — baik kepemimpinan sebuah negara, sebuah organisasi keagamaan, sebuah program bantuan sosial, maupun kepemimpinan sekecil rukun tetangga. Ketika niat kita murni untuk menunaikan amanah, Allah akan menjaga dan meninggikan kita pada waktunya. Namun ketika niat bergeser menjadi cinta pada posisi, pada pengakuan, pada harta yang menyertainya, di situlah benih kehancuran mulai ditanam, betapapun ia tidak terlihat pada hari ini.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dari seluruh yang telah kita renungkan bersama, ada beberapa hal yang bisa kita bawa pulang sebagai amal nyata pekan ini. Pertama, biasakan diri untuk memverifikasi kabar sebelum ikut menyebarkannya, terutama kabar yang menyenangkan hati kita — sebab kegembiraan yang dibangun di atas ketidakbenaran tidak akan bertahan lama. Kedua, jika kita memegang amanah sekecil apa pun — bendahara pengajian, pengurus RT, panitia kegiatan sosial — biasakan mencatat dan mempertanggungjawabkan setiap rupiah, sekecil apa pun jumlahnya, sebagai latihan hisab sebelum hisab yang sesungguhnya datang. Ketiga, latihlah kepekaan yang bergerak sebelum ramai dibicarakan orang — jika ada tetangga yang kesulitan, jangan tunggu sampai kesulitannya viral untuk baru kita membantu. Keempat, periksa kembali niat kita setiap kali menerima amanah atau posisi baru, sekecil apa pun itu — apakah kita menginginkannya karena ingin menunaikan kebaikan, atau karena ingin dikenal dan dihormati. Kelima, jadikan momentum pergantian kepemimpinan yang kita saksikan pekan ini — baik di organisasi keagamaan maupun di lembaga negara — sebagai pengingat untuk mendoakan siapa pun yang memegang amanah, agar Allah menjaga mereka dari godaan istana dan mendekatkan mereka pada kesadaran kubur.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمَّا بَعْدُ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan saya menegaskan kembali inti dari apa yang telah kita renungkan di khutbah pertama. Amanah adalah ujian yang tidak pandang bulu — ia bisa datang dalam bentuk kursi kepemimpinan sebuah organisasi keagamaan yang usianya hampir seabad, atau dalam bentuk kepercayaan mengelola anggaran negara yang bernilai triliunan, atau bahkan dalam bentuk sekecil kepercayaan mengelola kas pengajian ibu-ibu di kampung kita. Skala boleh berbeda, tetapi ujiannya sama: apakah kita mencintai amanah itu sendiri karena Allah, atau kita mulai mencintai kenyamanan, pengakuan, dan kekuasaan yang menyertainya.

Kita juga telah merenungkan bahwa kebenaran informasi adalah bagian dari amanah itu sendiri. Zaman ini memudahkan siapa pun menyebarkan klaim yang belum tentu benar hanya dalam hitungan detik. Sebuah video yang mengklaim sebuah kebijakan telah disahkan, padahal kenyataannya masih dalam pembahasan, mengajarkan kita bahwa kegembiraan yang salah tempat tetap saja sebuah ketidakjujuran. Kita dituntut untuk menjadi umat yang tabayyun — memeriksa dulu sebelum menyebarkan — bukan umat yang mudah terhanyut oleh kabar yang terasa menyenangkan hati.

Kita telah pula merenungkan bahwa kepemimpinan yang sejati diukur dari kepekaannya pada yang paling lemah. Wajah Rasulullah ﷺ yang berubah melihat kefakiran umatnya adalah teladan yang seharusnya menjadi ukuran bagi setiap pemimpin, dari yang memimpin sebuah negara hingga yang memimpin sebuah rukun tetangga: seberapa cepat kita bergerak ketika melihat penderitaan, tanpa menunggu penderitaan itu menjadi viral lebih dulu untuk mendorong kita peduli.

Dan pada akhirnya, kita kembali pada pertanyaan tentang niat. Setiap amanah yang kita pikul — besar maupun kecil — adalah kesempatan untuk memilih antara dua jalan: jalan yang dibangun di atas niat mencari wajah Allah, atau jalan yang dibangun di atas cinta pada kedudukan dan pengakuan. Marilah kita pekan ini memeriksa kembali setiap amanah yang ada di pundak kita, sekecil apa pun itu, dan meluruskan niat kita di hadapan Allah sebelum niat yang keliru itu berbuah penyesalan yang terlambat.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ، وَاكْشِفْ عَنْهُمُ الْكَرْبَ وَالضَّرَّاءَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَنْ سَقِمَ مِنْ إِخْوَانِنَا بِسَبَبِ الطَّعَامِ الَّذِي كَانَ يُرْجَى مِنْهُ الْبَرَكَةُ فَصَارَ بَلَاءً، اَللّٰهُمَّ عَافِهِمْ وَاشْفِهِمْ، وَوَفِّقْ مَنْ يُشْرِفُ عَلٰى بَرَامِجِ إِطْعَامِ النَّاسِ لِلْأَمَانَةِ وَحُسْنِ الرِّقَابَةِ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الضُّعَفَاءَ وَالْفُقَرَاءَ الَّذِيْنَ أَخْطَأَتْهُمُ الْبَيَانَاتُ فَحُرِمُوا حَقَّهُمْ، اَللّٰهُمَّ أَوْصِلْ إِلَيْهِمْ حُقُوْقَهُمْ وَاجْعَلْ مَنْ يَتَوَلَّى أُمُوْرَهُمْ رَحِيْمًا بِهِمْ عَادِلًا فِيْ حَقِّهِمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِمَنِ اسْتَرْعَيْتَهُمْ عَلَيْهِ، وَجَنِّبْهُمْ حُبَّ الْقُصُوْرِ وَذَكِّرْهُمُ الْقُبُوْرَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَارْحَمْ عُلَمَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا وَجَمِيْعَ مَنْ عَلَّمَنَا خَيْرًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan