Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsPemerintahan & KebijakanKamis, 3 September 2026

Kisah Pendek — "Dua Bisikan di Telinga Setiap Pemimpin"

Setiap orang yang diberi kepercayaan memimpin — besar atau kecil — akan selalu dikelilingi orang-orang yang membisikkan nasihat ke telinganya. Pertanyaannya bukan apakah bisikan itu ada, tapi bisikan yang mana yang didengarkan. Kisah berikut, dihimpun Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — Bab tentang Penghidupan Rasulullah ﷺ, dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada kekuasaan: rasa lapar.

Suatu hari, di jam yang biasanya sepi, Rasulullah ﷺ keluar rumah sendirian. Tidak ada yang menemani, tidak ada yang menunggu di jalan.

Tiba-tiba Abu Bakar muncul.

"Apa yang membawamu keluar, wahai Abu Bakar?"

"Aku keluar untuk bertemu Rasulullah ﷺ, memandang wajahnya, dan memberi salam."

Belum lama berselang, Umar datang pula.

"Apa yang membawamu keluar, wahai Umar?"

الجوع يا رسول لله

"Lapar, ya Rasulullah," jawab Umar, singkat dan jujur.

Rasulullah ﷺ tidak menyembunyikan keadaannya sendiri. "Aku pun merasakan hal yang sama," katanya. Tiga orang yang paling dihormati di Madinah, berdiri bersama di jalan, sama-sama lapar, sama-sama tidak punya apa yang bisa dimakan di rumah masing-masing.

Mereka bertiga lalu berjalan ke rumah Abu al-Haytham bin at-Tayyihan, seorang Anshar yang memiliki banyak pohon kurma dan kambing, tapi tidak punya pelayan. Abu al-Haytham sedang tidak di rumah — ia pergi mencari air segar untuk keluarganya. Istrinya menyambut ketiga tamu itu dengan hangat, dan tidak lama kemudian sang suami pulang membawa kantong air penuh. Melihat siapa yang datang, ia langsung memeluk Nabi ﷺ, menyebut ayah-ibunya sendiri sebagai tebusan — ungkapan cinta paling dalam yang dikenal orang Arab saat itu.

Abu al-Haytham menggelar tikar di kebunnya, lalu memetik seikat kurma dari pohonnya. Rasulullah ﷺ bertanya kenapa tidak dipilihkan yang matang saja. Abu al-Haytham menjawab, ia sengaja membawa campuran matang dan setengah matang, supaya tamunya bisa memilih sendiri sesukanya. Mereka makan kurma, minum air segar itu, dan Rasulullah ﷺ berkata:

هذا والذي نفسي بيده من النعيم الذي تسألونا عنه يوم القيامة

"Inilah — demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya — sebagian dari kenikmatan yang akan ditanyakan kepada kalian kelak di hari kiamat: naungan yang sejuk, kurma yang segar, dan air yang dingin."

Abu al-Haytham hendak menyembelih seekor kambing untuk menjamu mereka, tapi Rasulullah ﷺ mencegahnya menyembelih kambing perah — sebab susunya masih dibutuhkan keluarga itu sehari-hari. Maka disembelihlah seekor kambing muda yang bukan penghasil susu. Mereka makan bersama.

Selesai makan, Rasulullah ﷺ bertanya apakah Abu al-Haytham punya pelayan. Jawabnya tidak. "Kalau ada tawanan yang datang kepada kami, datanglah," kata Nabi ﷺ. Tidak lama, datang kepada beliau dua orang tawanan — ditambah satu lagi, jadi tiga. Abu al-Haytham pun datang untuk memilih.

"Pilihkan untukku, ya Rasulullah," katanya, menyerahkan keputusan itu sepenuhnya kepada Nabi ﷺ.

إن المستشار مؤتمن

"Sesungguhnya orang yang dimintai pendapat itu memegang amanah," jawab Rasulullah ﷺ. "Ambil yang ini — aku melihatnya rajin shalat. Perlakukanlah ia dengan baik."

Abu al-Haytham pulang dan menceritakan pesan Nabi ﷺ itu kepada istrinya. Sang istri mendengarkan, lalu menjawab dengan satu kalimat yang mengubah segalanya:

"Engkau tidak akan benar-benar menunaikan apa yang disabdakan Nabi ﷺ tentangnya, kecuali dengan satu cara — bebaskan dia."

"Kalau begitu, ia bebas," jawab Abu al-Haytham.

Dan di penghujung kisah inilah Rasulullah ﷺ menutup pertemuan sore itu dengan satu kalimat yang jauh melampaui soal lapar, kurma, dan seorang pelayan yang dibebaskan:

إن الله لم يبعث نبيا ولا خليفة إلا وله بطانتان: بطانة تأمره بالمعروف وتنهاه عن المنكر، وبطانة لا تألوه خبالا، ومن يوق بطانة السوء فقد وقي

"Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang nabi, dan tidak pula mengangkat seorang khalifah, kecuali ia memiliki dua bathanah — dua lingkaran orang dekat: satu bathanah yang menyuruhnya kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran, dan satu bathanah lagi yang tidak henti-hentinya berusaha mencelakakannya. Dan siapa yang dijaga Allah dari bathanah yang buruk, sungguh ia telah benar-benar dijaga."

Pelajaran

Perhatikan urutan kisah ini: dimulai dari tiga orang paling mulia di Madinah yang sama-sama menahan lapar tanpa gengsi mengakuinya, lalu ditutup dengan nasihat tentang siapa yang boleh membisikkan sesuatu ke telinga seorang pemimpin. Ada benang yang menghubungkan keduanya. Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya tidak pernah kehilangan kejujuran mereka meski kelaparan; keju­juran yang sama itulah yang membuat Rasulullah ﷺ bisa berkata jujur pula tentang tawanan yang dipilihnya — "aku melihatnya rajin shalat", bukan alasan yang dibuat-buat. Dan ketika Abu al-Haytham menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Nabi ﷺ dengan berkata "pilihkan untukku", Rasulullah ﷺ tidak menganggap remeh kepercayaan itu — beliau menyebutnya sendiri sebagai amanah. Setiap pemimpin, besar atau kecil, sesungguhnya terus-menerus dikelilingi dua jenis bisikan itu: yang menariknya kepada kebaikan, dan yang diam-diam ingin menjerumuskannya. Pekan yang baru saja kita lewati — dengan pergantian pemimpin di berbagai tempat, dengan pertanyaan tentang siapa yang layak dipercaya mengelola harta dan program besar — sesungguhnya sedang menanyakan hal yang sama seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ sore itu di kebun Abu al-Haytham: bathanah mana yang sedang didengarkan.

Sumber Asli

Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — 50: Bab tentang Penghidupan Rasulullah ﷺ (Hadis ke-354)

حدثنا محمد بن إسماعيل. حدثنا آدم بن أبي سلمة بن أبي إياس. حدثنا شيبان (أبو معاوية). حدثنا عبد الملك بن عمير عن ابن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال: «خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في ساعة لا يخرج فيها ولا يلقاه فيها أحد، فأتاه أبو بكر فقال: ما جاء بك يا أبا بكر؟ قال: خرجت ألقى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنظر في وجهه، والتسليم عليه، فلم يلبث أن جاء عمر، فقال ما جاء بك يا عمر؟ قال الجوع يا رسول لله. قال صلى الله عليه وسلم وأنا قد وجدت بعض ذلك. فانطلقوا إلى منزل أبي الهيثم بن التيّهان الأنصاريّ وكان رجلا كثير النخيل والشاء ولم … يكن له خدم فلم يجدوه فقالوا لامرأته: أين صاحبك؟ فقالت: انطلق يستعذب لنا الماء فلم يلبثوا أن جاء أبو الهيثم بقربة يزعبها فوضعها، ثم جاء يلتزم النبي صلى الله عليه وسلم ويفديه بأبيه وأمّه، ثم انطلق بهم إلى حديقته فبسط لهم بساطا، ثم انطلق إلى نخلة فجاء بقنو فوضعه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أفلا تنقّيت لنا من رطبه؟ فقال يا رسول الله إني أردت أن تختاروا أو تخيروا من رطبه وبسره، فأكلوا وشربوا من ذلك الماء. فقال صلى الله عليه وسلم: هذا والذي نفسي بيده من النعيم الذي تسألونا عنه يوم القيامة! ظل بارد، ورطب طيّب، وماء بارد. فانطلق أبو الهيثم ليصنع لهم طعاما فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لا تذبحنّا لنا ذات درّ، فذبح لهم عناقا أو جديا، فأتاهم بها، فأكلوا، فقال صلى الله عليه وسلم: هل لك خادم؟ قال لا. قال: فإذا أتانا سبي فأتنا؛ فأتى صلى الله عليه وسلم برأسين معهما ثالث. فأتاه أبو الهيثم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اختر منهما. فقال يا رسول الله اختر لي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إن المستشار مؤتمن، خذ هذا، فإنّي رأيته يصلي، واستوص به معروفا، فانطلق أبو الهيثم الى امرأته فأخبرها بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت امرأته: ما أنت ببالغ حقّ ما قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم إلّا بأن تعتقه، قال فهو عتيق، فقال صلى الله عليه وسلم: إن الله لم يبعث نبيا ولا خليفة إلّا وله بطانتان: بطانة تأمره بالمعروف وتنهاه عن المنكر، وبطانة لا تألوه خبالا، ومن يوق بطانة السوء فقد وقي»

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan