Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita menyaksikan pergantian kepemimpinan di sebuah organisasi keagamaan besar, dan yang menarik bukan hasilnya, melainkan cara publik membicarakannya — banyak yang bertanya-tanya apakah kursi kepemimpinan, sebesar apa pun nilai historisnya, tetap membawa godaan yang sama seperti kursi kekuasaan mana pun di dunia ini. Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan satu kisah pendek dari salah satu sahabat Nabi ﷺ yang menjawab pertanyaan itu dengan sangat jujur.
Pernahkah kita membayangkan, orang yang pernah kelaparan sampai harus mengikat batu di perutnya, suatu hari nanti duduk di kursi yang paling dihormati di kotanya? Itulah yang terjadi pada sebagian sahabat Nabi ﷺ. Dalam Sahih Muslim, diriwayatkan sebuah khutbah dari Utbah bin Ghazwan radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang pernah diutus Umar bin Khattab memimpin sebuah wilayah baru. Dalam khutbahnya, beliau berkata:
"Sesungguhnya dunia telah mengumumkan keterputusannya dan berpaling dengan cepat. Tidak tersisa darinya kecuali seperti sisa minuman di dasar wadah, yang pemiliknya menuang-nuangkannya sedikit demi sedikit. Kalian akan berpindah darinya menuju negeri yang tidak akan lenyap — maka berpindahlah dengan sebaik-baik bekal yang ada pada kalian... Kami diberitahu bahwa jarak antara dua daun pintu surga adalah perjalanan empat puluh tahun, dan akan datang suatu hari ketika pintu itu penuh sesak oleh kerumunan." (Sahih Muslim 2967a)
Jamaah, itu baru pembukanya. Yang membuat saya merinding setiap kali membaca riwayat ini adalah kelanjutan ceritanya, yang disampaikan sendiri oleh Utbah tentang masa lalunya. Ia bercerita bahwa dulu, di masa-masa awal Islam, ia adalah salah satu dari tujuh orang yang menyertai Rasulullah ﷺ tanpa makanan selain dedaunan pohon, sampai mulut mereka terluka karena kasarnya makanan itu. Ia bahkan pernah merobek selembar kain menjadi dua, memakai separuh untuk dirinya dan separuh lagi untuk sahabatnya, Sa'ad bin Abi Waqqash. Lalu Utbah menutup ceritanya dengan kalimat yang menjadi inti kultum kita malam ini — bahwa hari itu, tidak ada satu pun dari mereka, para sahabat yang dulu kelaparan itu, kecuali telah menjadi pemimpin atas suatu wilayah. Dan Utbah sendiri, yang dulu mengikat batu ke perutnya karena lapar, kini berkhutbah sebagai penguasa sebuah kota.
Bayangkan posisi Utbah saat itu, jamaah. Ia sedang berdiri di atas kursi kekuasaan, dihormati, ditaati, punya wewenang atas rakyatnya. Tapi apa yang ia lakukan dengan kursi itu? Bukannya membanggakannya, ia justru mengingatkan dirinya sendiri dan jamaahnya bahwa dunia ini fana, bahwa kekuasaan yang ia pegang hari ini hanyalah sisa minuman di dasar wadah — sedikit, dan akan segera habis. Inilah yang membedakan pemimpin yang selamat dari godaan kursi: bukan karena ia tidak pernah merasakan kemiskinan, bukan karena ia berasal dari keluarga yang sudah biasa berkuasa — justru sebaliknya, ia pernah merasakan lapar yang paling dalam, dan justru karena itu ia tahu persis betapa fananya kenyamanan yang kini ia nikmati.
Ini yang saya kira relevan dengan apa yang kita saksikan pekan ini. Siapa pun yang baru menerima amanah kepemimpinan — entah memimpin organisasi besar, memimpin sebuah lembaga, atau bahkan memimpin sebuah RT kecil — sebenarnya sedang diuji dengan pertanyaan yang sama seperti yang dihadapi Utbah: apakah kursi ini akan membuat kita lupa dari mana kita berasal, atau justru menjadi pengingat bahwa semua ini titipan sementara?
Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, jamaah — dan mungkin kita semua pernah mengalaminya — begitu diberi sedikit saja kelonggaran, sedikit saja kenyamanan, seberapa cepat kita lupa pada masa-masa sulit yang pernah kita lewati? Seberapa cepat kita mulai memperlakukan kenyamanan itu sebagai hak, bukan sebagai titipan? Utbah mengajarkan kita bahwa obatnya bukan menolak kenyamanan, melainkan terus mengingat bahwa jarak antara dua daun pintu surga saja empat puluh tahun perjalanan — betapa kecilnya kursi dunia yang sedang kita banggakan dibanding perjalanan panjang menuju akhirat itu.
Jamaah, malam ini, sebelum kita pulang, mari kita bawa tiga hal sederhana. Pertama, bagi yang sedang diberi amanah apa pun pekan ini — sekecil apa pun — ingatlah dari mana kita berasal, ingatlah masa-masa ketika kita belum memilikinya. Kedua, jangan menunggu sampai kita berada di puncak untuk mulai bersyukur dan berbagi; mulai malam ini, sisihkan sesuatu untuk yang masih dalam kondisi seperti kita dulu. Ketiga, setiap kali kita merasa mulai nyaman dengan sebuah posisi, ucapkan dalam hati apa yang diucapkan Utbah: dunia ini hanya sisa minuman di dasar wadah — jangan sampai kita mengira ia akan bertahan selamanya.
Ya Allah, jadikan kami hamba yang tidak lupa diri ketika diberi kelapangan, dan jadikan kami hamba yang bersabar ketika diuji kesempitan.