Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPendidikan & SDMKamis, 3 September 2026

Khutbah Jumat — "Mendidik dengan Usaha dan Adab"

Khutbah Pertama

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَسْتَعِيْنُهُ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, dalam kitab Bidayatul Hidayah, pada pembahasan tentang penyakit hasad, disebutkan sebuah ayat yang menjadi peringatan bagi siapa saja yang berharap hasil tanpa usaha. Allah Ta'ala berfirman, sebagaimana dikutip dalam kitab tersebut:

وَأَن لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

"Dan bahwasanya tidaklah bagi manusia kecuali apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm: 39)

Ayat ini sederhana, tapi maknanya menghunjam. Manusia hanya akan menuai apa yang benar-benar ia tanam dengan usahanya sendiri — tidak ada jalan pintas yang benar-benar sampai, dan tidak ada hasil yang benar-benar bertahan tanpa proses yang jujur untuk mencapainya. Pekan ini, ma'asyiral muslimin rahimakumullah, prinsip ini terasa relevan sekali dengan apa yang ramai diperbincangkan di sekitar kita tentang dunia pendidikan.

Kabar yang sampai kepada kita pekan ini dimulai dari sebuah cerita yang menyayat: seorang ibu menuliskan kegetirannya karena anaknya terkena razia seragam sekolah, rok sang anak dicoret dengan spidol permanen di depan teman-temannya karena dianggap terlalu pendek — padahal bukan karena sengaja dipendekkan. Bayangkan, jamaah sekalian, seorang anak yang mungkin sekadar salah ukuran, atau pakaiannya menyusut setelah dicuci berkali-kali, harus menanggung penanda permanen di tubuhnya di hadapan teman-teman sebayanya. Koreksi yang seharusnya mendidik justru berubah menjadi hukuman yang mempermalukan.

Dari dunia kampus, kabar lain sampai kepada kita: budaya militeristik dalam masa orientasi mahasiswa baru masih dikeluhkan. Seorang mahasiswa bercerita bagaimana temannya ditegur keras oleh seniornya hanya karena mengucapkan kalimat sopan seperti "izin masuk" atau "izin bertanya" — seolah kesantunan justru dianggap kesalahan yang harus diluruskan dengan bentakan. Di tempat lain, kita juga mendengar bagaimana mahasiswa yang tampil dalam sebuah potret bersama tokoh nasional harus menanggung konsekuensi keras dari organisasi kampusnya sendiri — mengundurkan diri, bahkan diskors. Pola yang sama terlihat: yang muda dikoreksi bukan dengan penjelasan yang menumbuhkan pengertian, melainkan dengan rasa takut yang memaksa kepatuhan.

Di sisi lain, ramai pula diperbincangkan pekan ini persoalan yang berbeda wajah, tapi berakar sama: siapa yang benar-benar terjangkau oleh pendidikan yang adil. Perdebatan tentang sistem zonasi terus berlanjut — jalur prestasi memang masih dibuka, tapi kuota lebih dominan mengikuti domisili, sehingga orang tua yang punya sumber daya lebih leluasa mencari celah sementara yang tidak punya pilihan hanya bisa menerima. Pada saat yang sama, kabar tentang orang tua yang rela mengantre sejak dini hari demi mendapatkan kursi bimbingan belajar untuk anaknya turut menjadi perbincangan, berdampingan dengan kegelisahan tentang biaya sekolah swasta yang terus menanjak sejak usia dini.

Ada satu kisah lagi yang layak kita renungkan bersama, jamaah yang berbahagia: seseorang menceritakan ulang pengalamannya bertahun silam bersekolah di sekolah negeri, ketika ia dan teman-temannya yang beragama Kristen tidak pernah memiliki guru agama sendiri sepanjang masa sekolah — sampai nilai rapor mereka nyaris kosong karena pelajaran itu memang tidak pernah diajarkan kepada mereka. Ini bukan kisah tentang akidah kita, jamaah sekalian, tapi tentang keadilan yang lebih mendasar: setiap anak, apa pun agamanya, berhak atas pengajaran yang dijanjikan kurikulum untuknya. Ketika hak itu tidak ditunaikan bertahun-tahun, itu adalah kezaliman sistemik yang seharusnya kita akui sebagai kezaliman — bukan karena mereka seagama dengan kita, tapi karena Islam mengajarkan kita mengenali ketidakadilan di mana pun ia berada, termasuk ketika yang dirugikan bukan saudara seiman kita.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, dua persoalan ini — cara kita mengoreksi yang muda, dan siapa yang terjangkau oleh pendidikan yang adil — sebenarnya bertaut pada satu akar yang sama dengan ayat pembuka khutbah ini. Ketika pendidikan direduksi menjadi kepatuhan sesaat dan status yang direbut dengan jalan pintas, kita kehilangan makna asli dari usaha yang disebutkan Allah dalam ayat tadi: bahwa yang bernilai adalah proses yang ditempuh dengan jujur, bukan hasil yang direbut dengan memalukan orang lain atau menyingkirkan yang tidak seberuntung kita.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita dalami lebih jauh bagaimana Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkan koreksi yang tidak mempermalukan — bahkan kepada orang yang benar-benar bersalah kepada beliau.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan:

أَنَّ امْرَأَةً، يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَجِيءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ أَرَدْتُ لأَقْتُلَكَ ‏.‏ قَالَ ‏"‏ مَا كَانَ اللَّهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ أَوْ قَالَ ‏"‏ عَلَىَّ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ قَالُوا أَلاَ نَقْتُلُهَا قَالَ ‏"‏ لاَ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏

Artinya: "Bahwasanya seorang perempuan Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ dengan kambing beracun. Beliau memakannya sedikit. Lalu perempuan itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau menanyainya. Ia menjawab, 'Aku ingin membunuhmu.' Beliau bersabda, 'Allah tidak akan membiarkanmu menguasai itu.' Para sahabat berkata, 'Bolehkah kami bunuh ia?' Beliau menjawab, 'Tidak.'" (Sahih Muslim 2190a)

Perhatikan, jamaah sekalian: perempuan itu jelas bersalah, bahkan mengakui niatnya sendiri untuk membunuh. Para sahabat pun sudah siap menjatuhkan hukuman setimpal. Tetapi Rasulullah ﷺ menahan tangan mereka. Beliau tidak membiarkan amarah yang wajar — karena nyawa beliau memang terancam — berubah menjadi tindakan yang melampaui batas keadilan. Koreksi yang beliau ﷺ contohkan bukan koreksi yang lahir dari amarah yang dilepas begitu saja, melainkan koreksi yang tetap terukur meski wajar untuk marah.

Bandingkan ini, jamaah yang berbahagia, dengan kabar razia seragam yang kita bicarakan tadi. Seorang anak yang mungkin sekadar salah ukuran rok, dicoret spidol permanen di tubuhnya di depan teman-temannya. Tidak ada nyawa yang terancam di sana, tidak ada niat jahat yang perlu ditahan. Yang ada hanyalah pelanggaran kecil terhadap aturan seragam — namun caranya dikoreksi jauh melampaui bobot pelanggarannya sendiri, dan meninggalkan bekas yang tidak sebanding dengan kesalahan yang mungkin bahkan tidak disengaja. Jika Rasulullah ﷺ menahan diri saat nyawanya benar-benar terancam, bukankah sepatutnya kita jauh lebih berhati-hati saat mengoreksi kesalahan yang jauh lebih ringan pada anak-anak kita sendiri?

Dalil kedua yang ingin kita renungkan datang dari nasihat para ulama tentang adab seorang guru terhadap muridnya. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim disebutkan:

والله تعالى أعلم. ورد في حديث النبي - صلى الله عليه وسلم - التصريح تارة والكناية أخرى. [السابع] إذا فرغ الشيخ من شرح درس فلا بأس بطرح مسائل تتعلق به على الطلبة يمتحن بها فهمهم وضبطهم لما شرح لهم، فمن ظهر استحكام فهمه له بتكرار الإصابة في جوابه شكره، ومن لم يفهمه تلطف في إعادته له، والمعنى بطرح المسائل أن الطالب ربما استحيا من قوله لم أفهم إما لرفع كل الإعادة على الشيخ أو لضيق الوقت أو حياء من الحاضرين أو كيلا تتأخر قراءتهم بسببه. ولذلك قيل: لا ينبغي للشيخ أن يقول للطالب هل فهمت إلا إذا أمن من قوله نعم قبل أن يفهم، فإن لم يأمن من كذبه لحياء أو غيره فلا يسأله

Di antara isinya: jika seorang guru selesai menjelaskan suatu pelajaran, tidak mengapa ia melemparkan pertanyaan kepada murid-muridnya untuk menguji pemahaman mereka. Siapa yang tampak paham dengan jawabannya yang benar berulang kali, ia disyukuri. Namun siapa yang belum memahami, sang guru dianjurkan lemah lembut dalam mengulangi penjelasannya — sebab boleh jadi murid itu malu mengakui "aku belum paham", entah karena segan merepotkan gurunya, karena waktu yang sempit, atau karena malu di hadapan teman-temannya.

Jamaah Jumat rahimakumullah, nasihat ini ditulis untuk hubungan guru dan murid dalam majelis ilmu, tapi maknanya jauh lebih luas dari itu. Ia mengajarkan kita bahwa ketidaktahuan atau kesalahan seorang pembelajar — entah itu murid yang belum paham pelajaran, mahasiswa baru yang belum hafal tata krama kampus tertentu, atau anak yang salah memahami aturan seragam — pertama-tama adalah persoalan yang wajar dalam proses belajar, bukan aib yang harus dipermalukan di depan umum. Rasa malu yang membuat seorang pembelajar enggan mengakui kekurangannya justru harus dijaga oleh yang mengoreksinya, bukan dimanfaatkan untuk mempermalukannya lebih jauh. Guru yang bijaksana, sebagaimana disebutkan dalam kitab ini, justru mengulang penjelasannya dengan lemah lembut ketika muridnya belum paham — bukan menegurnya di depan seisi kelas.

Dalil ketiga membawa kita ke persoalan yang tidak kalah penting: siapa yang layak dipercaya untuk mengajar. Masih dalam kitab yang sama, disebutkan peringatan keras bagi siapa yang mengajar tanpa kelayakan:

ظالمًا وبإصراره عليه فاسقًا فإنه متى لم يكن أهلاً لما شرطه الواقف في وقفه أو لما يقتضيه عرفٌ مثله كان بإصراره على تناول ما لا يستحقه فاسقًا، فإن كان في الوقف أن يكون المدرس عاميًا أو جاهلاً لم يصح شرطه، وإن شرط جعل ناقص مخصوص مدرسًا سقط اسم الفسق وحظر الإثم، ويبقى التنقص به والاستهزاء به بحاله، ولا يرضى ذلك لنفسه أريب، ولا يتعاطاه مع الغنى عنه لبيب، ولا يَظْهَرُ مِنْ واقفٍ شَرَطَ قَصْدُ ذلك قصد الانتفاع ولا يؤول أمر وقفه إلا إلى ضياع، وأقل مفاسد ذلك أن الحاضرين يفقدون الإنصاف لعدم من يرجعون إليه عند الاختلاف لأن رب الصدر لا يعرف المصيب فينصره أو المخطئ فيزجره. وقيل لأبي حنيفة رحمه الله: في المسجد حلقة ينظرون في الفقه, فقال: ألهم رأس؟ قالوا: لا، قال: لا يفقه هؤلاء أبدًا، ولبعضهم في تدريس من لا يصلح: تصدر للتدريس كل مهوس ... جهول يسمى بالفقيه المدرس فحق لأهل العلم أن يتمثلوا ... ببيت قديم شاع في كل مجلس لقد هزلت حتى بدا من هزالها ... كلاها وحتى سامها كل مفلس.

Di antara maknanya: seseorang yang mengajar padahal tidak layak untuk itu — tidak sesuai syarat yang semestinya — jatuh dalam kezaliman, bahkan disebutkan sebagai bentuk kefasikan jika ia terus-menerus melakukannya. Disebutkan pula akibatnya bagi jamaah yang hadir: mereka kehilangan keadilan (inshaf), karena tidak ada rujukan yang benar-benar layak dipercaya ketika terjadi perselisihan pemahaman.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, prinsip ini mengingatkan kita bahwa mutu pengajaran bukan perkara remeh. Pekan ini ramai pula dibicarakan pentingnya kesejahteraan dan penghargaan bagi para guru — sebab guru yang dibebani tanggung jawab besar namun tidak dihargai selayaknya akan kesulitan mempertahankan mutu pengajarannya. Prinsip yang sama juga mengingatkan kita untuk berhati-hati pada godaan sebaliknya: mengejar status sekolah atau bimbingan belajar semata karena nama besarnya, tanpa memastikan bahwa yang mengajar di dalamnya benar-benar memiliki kelayakan dan ketulusan mendidik. Kelayakan itulah yang seharusnya kita cari — bukan sekadar label yang mahal.

Dalil keempat, sekaligus menutup rangkaian dalil khutbah ini, membawa kita kembali ke pertanyaan paling mendasar: untuk apa sebenarnya ilmu itu dicari. Dalam kitab Thalathat al-Usul, saat menjelaskan makna kalimat tauhid, disebutkan kisah dan pendirian Nabi Ibrahim 'alaihissalam sebagaimana dikutip dari firman Allah Ta'ala:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ ۞ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ ۞ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (Tuhan) yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu)." (QS. Az-Zukhruf: 26-28)

Nabi Ibrahim 'alaihissalam mewariskan kepada keturunannya bukan status atau kedudukan duniawi, melainkan satu kalimat yang kekal: pengenalan yang benar kepada Allah. Inilah, jamaah sekalian, yang semestinya menjadi ukuran akhir dari setiap usaha pendidikan yang kita perjuangkan — bukan sekadar ijazah, peringkat sekolah, atau kursi bimbingan belajar yang kita perebutkan sejak dini hari, melainkan ilmu yang benar-benar mengantarkan pemiliknya mengenal Rabb-nya dan bermanfaat bagi sesamanya. Jika usaha keras kita dalam mendidik anak-anak kita tidak diarahkan ke sana, kita berisiko memenangkan kompetisi yang salah.

Dari keempat dalil ini, jamaah Jumat yang berbahagia, ada beberapa langkah nyata yang bisa kita ambil pekan ini:

Pertama, bagi orang tua dan pendidik, biasakan mengoreksi kesalahan anak secara pribadi dan empat mata, bukan di depan teman-temannya. Tegur substansinya, bukan permalukan orangnya.

Kedua, bagi pengurus sekolah dan kampus, tinjau ulang prosedur penegakan aturan — dari razia seragam hingga masa orientasi mahasiswa baru — agar tidak ada lagi metode yang meninggalkan bekas fisik atau psikis yang tidak sebanding dengan pelanggarannya.

Ketiga, bagi kita semua yang punya anak usia sekolah, alihkan sebagian energi yang biasa kita curahkan untuk berebut kursi bimbel atau sekolah favorit, menjadi energi untuk mendampingi anak belajar dengan tenang di rumah.

Keempat, bagi yang memiliki kelebihan rezeki, pertimbangkan turut membantu meringankan beban pendidikan anak-anak yang kurang beruntung di sekitar kita — baik lewat zakat, infak, atau dukungan langsung ke sekolah dan pesantren terdekat.

Kelima, mari kita doakan dan hormati para guru di sekitar kita, apa pun jenjangnya, sebagai bentuk pengakuan atas beratnya amanah yang mereka pikul.

Keenam, jaga niat anak-anak kita dalam belajar agar tidak berhenti pada nilai dan gelar semata, tapi terus diarahkan pada ilmu yang bermanfaat, sebagaimana diwariskan Nabi Ibrahim 'alaihissalam kepada keturunannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan saya menutup khutbah ini dengan menegaskan kembali beberapa hal yang telah kita renungkan bersama.

Pertama, koreksi yang benar tidak pernah membutuhkan mempermalukan orang yang dikoreksi. Rasulullah ﷺ menahan diri bahkan ketika nyawanya sendiri yang terancam; para ulama mengajarkan kelembutan bahkan kepada murid yang belum paham. Bila teladan-teladan ini menuntun kita pada kesabaran sebesar itu, maka razia seragam yang berujung penandaan permanen di tubuh seorang anak, atau bentakan kepada mahasiswa baru yang sekadar bersikap sopan, sesungguhnya jauh dari cara yang diajarkan agama kita untuk mendidik.

Kedua, pendidikan yang adil bukan sekadar slogan. Ketika kuota zonasi menyempit bagi sebagian orang, ketika biaya sekolah menanjak tak terjangkau bagi yang lain, dan ketika ada anak-anak yang bertahun-tahun tidak mendapat pengajaran agamanya sendiri, kita sedang bicara tentang amanah yang belum tertunaikan secara merata. Pada level yang paling dekat dengan kita, kepedulian ini bisa dimulai dari anak-anak di lingkungan sendiri yang mungkin belum seberuntung anak-anak kita.

Ketiga, ingatlah selalu bahwa tujuan akhir dari setiap usaha pendidikan yang kita perjuangkan adalah ilmu yang bermanfaat dan mengantarkan pemiliknya semakin mengenal Allah — bukan sekadar status, peringkat, atau gengsi yang berhenti di dunia semata.

Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk menjadi pendidik dan orang tua yang mengoreksi dengan adab, dan menjadi pembelajar yang mengejar ilmu dengan usaha yang jujur.

Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ…

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أَبْنَاءَنَا الطُّلَّابَ، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ مَا يُهِيْنُ كَرَامَتَهُمْ، وَيَسِّرْ لَهُمْ طَلَبَ الْعِلْمِ النَّافِعِ.

اَللّٰهُمَّ أَكْرِمْ مُعَلِّمِيْنَا، وَبَارِكْ فِيْ أَرْزَاقِهِمْ، وَاجْعَلْ عِلْمَهُمْ نُوْرًا يَهْدِيْ بِهِ الْأَجْيَالَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan