بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita mendengar kisah seorang anak yang kena razia seragam sekolah karena roknya dianggap terlalu pendek, dan langsung dicoret spidol permanen di depan teman-temannya. Ada satu pertanyaan kecil yang mengganggu saya sejak membaca kisah itu: kenapa koreksi terhadap kesalahan kecil sering berubah menjadi cara yang justru mempermalukan?
Ayat atau dalil yang ingin saya bagikan malam ini datang dari nasihat ulama tentang adab seorang guru terhadap muridnya:
[التاسع] أن يلازم الإنصاف في بحثه وخطابه ويسمع السؤال من مورده على وجهه وإن كان صغيرًا ولا يترفع على سماعه فيحرم الفائدة. وإذا عجز السائل عن تقرير ما أورده أو تحرير العبارة فيه لحياء أو قصور ووقع على المعنى عبر عن مراده وبين وجه إيراده ورد على من عليه ثم يجيب بما عنده أو يطلب ذلك من غيره ويتروى فيما يجيب به رده. وإذا سئل عن ما لم يعلمه قال لا أعلمه، أو لا أدري؛ فمن العلم أن يقول لا أعلم، وعن بعضهم: لا أدري نصف العلم، وعن ابن عباس رضي الله عنهما: إذا أخطأ العالم لا أدري أصيبت مقالته وقيل: ينبغي للعالم أن يورث أصحابه لا أدري لكثرة ما يقولها. قال محمد بن عبد الحكم: سألت الشافعي رضي الله عنه عن المتعة أكان فيها طلاق أو ميراث أو نفقة تجب أو شهادة؟ فقال: والله ما ندري. واعلم أن قول المسئول لا أدري لا يضع من قدره كما يظنه بعض الجهلة، بل يرفعه لأنه دليل عظيم على عظم محله وقوة دينه وتقوى ربه
Di antara isinya: seorang guru hendaknya senantiasa berlaku adil (inshaf) dalam pembahasan dan ucapannya, mendengarkan pertanyaan dari penanya sebagaimana adanya — walaupun ia masih kecil — dan tidak menyombongkan diri sehingga menghalangi faedah. Dan jika seorang guru ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, hendaknya ia berkata, "Aku tidak tahu" — sebab, sebagaimana dikatakan sebagian ulama salaf, mengatakan "aku tidak tahu" adalah setengah ilmu.
Siapa di sini yang pernah merasa lebih memilih diam daripada mengaku belum paham? Saya kira kita semua pernah. Di kelas, di kajian, bahkan di pekerjaan — mengakui "aku belum tahu" sering terasa seperti mengaku kalah. Padahal, jamaah sekalian, justru sebaliknya: dalil tadi mengajarkan bahwa kejujuran mengakui ketidaktahuan adalah tanda ilmu, bukan tanda kebodohan.
Pekan ini kita juga mendengar kabar tentang budaya keras di masa orientasi kampus, di mana mahasiswa baru ditegur bahkan untuk hal sesopan mengucapkan "izin bertanya". Bayangkan bagaimana suasana seperti itu membentuk kebiasaan diam — bukan karena tidak punya pertanyaan, tapi karena bertanya terasa berisiko. Ada juga kabar tentang deretan pengajar yang menceritakan ucapan-ucapan pedas dari murid mereka, namun tetap memilih ikhlas mengajar meski upahnya tak seberapa. Dua kabar ini menunjukkan dua sisi mata uang yang sama: ruang belajar yang sehat membutuhkan keberanian untuk jujur dari kedua arah — murid yang berani mengaku belum paham, dan guru yang menciptakan suasana aman untuk pengakuan itu.
Ada satu dalil lagi yang ingin saya sampaikan, sedikit berbeda sudut tapi masih berkaitan erat. Dalam pembahasan tentang penyakit hati, disebutkan sebuah perumpamaan:
يريد مالا فترك الحراثة والتجارة والكسب ويتعطل، وقال: إن الله كريم رحيم وله خزائن السموات والأرض وهو قادر على أن يطلعني على كنز من كنوز أستغني به عن الكسب، فقد فعل ذلك لبعض عباده، فأنت إذا سمعت كلام هذين الرجلين استحمقتهما وسخرت منهما، وإن كان ما وصفاه من كرم الله تعالى وقدرته صدقا وحقا، فكذلك يضحك عليك أرباب البصائر في الدين إذا طلبت المغفرة بغير سعى لها، والله وتعالى يقول: (وَأَن لَيسَ لِلإِنسان إِلا ما سَعى) ، ويقول: (إِنَما تُجزونَ ما كُنتُم تَعملون) ويقول (إنّ الأَبرارَ لَفي نَعيم، وَإنّ الفُجارَ لَفى جَحيم) . فإذا لم تكن تترك السعي في طلب العلم والمال اعتمادا على كرمه، فكذلك لا تترك التزود للآخرة، ولا تفتر؛ فإن رب الدنيا واللآخرة واحد، وهو فيهما كريم رحيم، وليس يزيد له كرم بطاعتك وإنما كرمه سبحانه وتعالى في أن ييسر لك طريق الوصول الى الملك المقيم والنعيم الدائم المخلد، بالصبر على ترك الشهوات أياما قلائل، وهذا نهاية الكرم. فلا تحدث نفسك بتهويسات البطالين، واقتد بأولى العزم.
Perumpamaannya kurang lebih begini: ada orang yang menginginkan harta tapi meninggalkan usaha, lalu berdalih Allah Maha Pemurah dan bisa saja memberinya rezeki tanpa ia bersusah payah. Disebutkan bahwa orang seperti ini akan dianggap keliru — sebab Allah Ta'ala sendiri berfirman bahwa manusia hanya mendapat apa yang ia usahakan. Kalau kita hubungkan dengan pekan ini, pola yang sama muncul di dunia pendidikan: keinginan mendapat nilai baik tanpa proses belajar yang jujur, entah lewat mencontek kunci jawaban atau jalan pintas lainnya. Mengakui belum paham, lalu bersungguh-sungguh belajar, jauh lebih terhormat daripada berpura-pura sudah paham atau mengambil jalan pintas untuk terlihat pintar.
Jamaah sekalian, sebenarnya dua dalil ini bicara tentang hal yang sama dari dua arah: kejujuran. Jujur mengakui belum paham, dan jujur berusaha untuk benar-benar paham — bukan berpura-pura, dan bukan mengambil jalan pintas. Keduanya sama-sama membutuhkan keberanian, dan keduanya sama-sama lebih mulia di sisi Allah dibanding kepura-puraan yang menutupi kekosongan.
Malam ini, sebelum kita pulang, mari kita bawa tiga langkah kecil. Pertama, kalau besok ada anak atau murid kita yang belum paham sesuatu, jangan buru-buru menegur — tanya dulu dengan lembut, apa yang membuatnya bingung. Kedua, kalau kita sendiri belum paham sesuatu pekan ini — di kajian, di pekerjaan, di mana pun — beranikan diri bertanya, jangan dipendam karena gengsi. Ketiga, kalau kita orang tua, mulai malam ini biasakan bertanya ke anak, "hari ini ada yang belum kamu paham?" — bukan hanya "nilainya berapa?"
Semoga Allah mudahkan kita menjadi pembelajar yang jujur dan pengajar yang lembut. Sebagai penutup, mari kita panjatkan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا . اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا
"Ya Allah, jadikanlah di hatiku cahaya, di lisanku cahaya, jadikanlah di pendengaranku cahaya, jadikanlah di penglihatanku cahaya, jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, jadikanlah dari atasku cahaya dan dari bawahku cahaya. Ya Allah, berikanlah aku cahaya."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
