Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsSosial & KeluargaKamis, 3 September 2026

Kisah Pendek — "Duduk di Jalan yang Ia Pilih"

Pekan ini banyak orang bicara tentang siapa yang bersedia mendengar, dan siapa yang memilih membuang muka. Di tengah kesibukan Madinah yang selalu ramai oleh orang-orang yang ingin bertemu dengannya, ada satu kebiasaan kecil Nabi Muhammad ﷺ yang jarang diceritakan orang — bukan soal perang, bukan soal hukum, hanya soal bagaimana beliau memperlakukan satu permintaan sederhana dari seseorang yang datang membawa persoalan. Imam at-Tirmidzi rahimahullah menghimpun kisah ini dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ, dari riwayat Anas bin Malik.

Madinah siang itu ramai seperti biasa. Debu jalanan naik setiap kali unta atau kaki-kaki telanjang lewat. Orang-orang datang dan pergi dari sekitar rumah Nabi ﷺ — sebagian membawa pertanyaan tentang shalat, sebagian membawa keluhan tentang tetangga, sebagian hanya ingin melihat wajah beliau dari dekat. Anas bin Malik, pembantu rumah tangga Nabi ﷺ yang paling sering berada di dekat beliau, ada di sana, memperhatikan semuanya seperti biasa.

Di antara kerumunan itu, seorang perempuan dari kalangan Anshar berjalan mendekat. Tidak ada yang istimewa dari caranya berjalan. Ia bukan tokoh penting, bukan istri seorang pembesar. Ia berhenti tepat di hadapan Nabi ﷺ, dan tanpa basa-basi panjang, mengatakan apa yang dibawanya.

إنّ لي اليك حاجة

"Aku punya satu keperluan denganmu," katanya.

Jawaban Nabi ﷺ datang cepat, dan justru itulah yang membuat kisah ini diingat berabad-abad kemudian. Beliau tidak menyuruhnya menunggu. Tidak menyuruhnya datang lagi besok. Tidak mengarahkannya ke salah satu sahabat untuk didengar lebih dulu.

اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس إليك

"Duduklah di jalan Madinah mana pun yang engkau suka — aku akan duduk bersamamu di sana," jawab beliau.

Bukan beliau yang menentukan tempat. Bukan beliau yang menyuruhnya datang ke majelis resmi, ke tempat yang sudah disiapkan, ke jam yang sudah ditentukan. Perempuan itu yang memilih. Pemimpin umat, orang paling sibuk di seluruh Madinah, menyerahkan sepenuhnya pilihan tempat kepada seorang perempuan yang bahkan namanya tidak banyak dicatat sejarah.

Riwayat Imam Muslim menambahkan satu detail kecil yang mengubah seluruh warna kisah ini. Nabi ﷺ tidak hanya duduk di jalan itu bersamanya di tengah keramaian — beliau menyingkir sedikit ke bagian jalan yang lebih sepi, menunggu sampai perempuan itu selesai menyampaikan seluruh keperluannya. Alasannya dicatat sederhana oleh para perawi: supaya tidak ada orang lain yang mendengar keluhannya, selain beliau sendiri.

Tidak ada yang tahu persis apa yang disampaikan perempuan itu siang itu. Barangkali soal rezeki yang seret. Barangkali soal rumah tangga yang berat. Anas bin Malik, yang menyaksikan semuanya dari kejauhan, tidak mencatat isi pembicaraan itu — hanya caranya. Dan mungkin memang itu yang paling penting untuk diingat: bahwa keperluannya sendiri tetap menjadi miliknya, tidak berpindah menjadi milik orang banyak, tidak menjadi cerita yang beredar di jalan-jalan Madinah setelah itu.

Debu di jalan itu perlahan mengendap lagi. Perempuan itu berjalan pulang, entah dengan hati yang lebih ringan atau tidak — riwayat tidak mencatatnya. Yang dicatat hanya bahwa ia pernah didengar, sepenuhnya, oleh orang paling sibuk di kotanya, tanpa seorang pun yang lain perlu tahu apa yang ia bawa.

Pelajaran

Yang diingat dari kisah ini bukan jawaban atas keperluan perempuan itu — riwayat bahkan tidak mencatatnya. Yang diingat adalah caranya didengar. Nabi ﷺ tidak meminta perempuan itu bicara di depan orang banyak, tidak menyuruhnya menceritakan persoalannya dua kali, tidak membiarkan orang lain menerka-nerka apa yang sedang ia hadapi. Beliau memberi ruang, memberi waktu, dan menjaga agar keperluan itu tetap menjadi rahasia antara mereka berdua. Ini adalah wajah lain dari tawadhu' — bukan hanya rendah hati di hadapan Allah, tetapi juga rendah hati dalam cara mendengarkan manusia yang paling biasa sekalipun, dengan penuh perhatian dan tanpa membuat persoalannya menjadi tontonan. Sebuah pelajaran kecil, dari jalan Madinah yang berdebu, tentang bagaimana seharusnya kita hadir untuk orang yang datang membawa beban — dengan telinga yang penuh, dan mulut yang tahu kapan harus diam.

Sumber Asli

Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم

حدثنا عليّ بن حجر. حدثنا سويد بن عبد العزيز «3» عن حميد عن أنس بن مالك رضي الله عنه: «أن امرأة «4» جاءت الى النبيّ صلى الله عليه وسلم فقالت له: إنّ لي اليك حاجة. فقال: اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس «5» إليك» «6». أخرجه البخاري ومسلم.

في رواية مسلم زيادة: فخلا معها في بعض الطريق حتى فرغت من حاجتها، والغرض من البعد حتى لا يسمع بشكواها أحد غيره صلى الله عليه وسلم.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan