Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumSosial & KeluargaKamis, 3 September 2026

Kultum — "Lisan yang Menjaga, Bukan Melukai"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini banyak dari kita menyaksikan betapa cepatnya sebuah kabar menyebar — kabar tentang anak yang terluka, kabar tentang rumah tangga yang retak — bahkan sebelum kita sempat benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Malam ini saya ingin bicara tentang satu hal yang sering kita anggap remeh: lisan kita sendiri.

Coba kita jujur sejenak. Berapa kali pekan ini kita membuka grup keluarga atau grup RT, membaca sebuah kabar yang belum jelas sumbernya, lalu tangan kita lebih cepat menekan tombol "teruskan" daripada bertanya dalam hati, "ini benar atau tidak, ya?" Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam kitab Bidayatul Hidayah, menulis sebuah adab yang terasa sangat pas untuk zaman kita hari ini — meski beliau menulisnya berabad-abad sebelum ada telepon genggam.

Bidayatul Hidayah

ترك الخوض في حديثهم، وقلة الإصغاء إلى أراجيفهم

"Tidak ikut larut dalam pembicaraan mereka, dan sedikit memberi telinga terhadap kabar-kabar dusta dan isu-isu murahan mereka." (Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghazali — adab bergaul dengan orang yang tidak dikenal)

Perhatikan, jamaah — Imam al-Ghazali tidak menyuruh kita membenci orang yang membawa kabar burung. Beliau hanya menyuruh kita menahan diri: tidak larut, dan sedikit memberi telinga. Sesederhana itu. Tidak perlu ceramah panjang, tidak perlu debat di kolom komentar. Cukup tidak larut, dan tidak terlalu mendengarkan.

Pekan ini kita dengar kabar tentang anak-anak yang mengalami kekerasan. Kita dengar kabar tentang santri yang jatuh sakit setelah makan menu program gizi di sebuah pesantren. Kita dengar kabar tentang rumah tangga seorang figur publik yang retak di depan mata semua orang. Tiga kabar yang sangat berbeda, tapi ada satu pola yang sama pada cara kita meresponsnya: rasa ingin tahu yang berlebihan, keinginan untuk ikut berkomentar meski kita tidak tahu detailnya, dan yang paling berbahaya — dorongan untuk ikut menyebarkan, seolah menyebarkan sama dengan peduli.

Padahal, jamaah, menyebarkan bukan peduli. Kadang menyebarkan justru melukai dua kali: sekali oleh kejadian itu sendiri, dan sekali lagi oleh kita yang menjadikannya bahan obrolan.

Coba kita pikirkan sejenak dari sisi anak yang jadi bahan pembicaraan itu. Ia sudah menanggung sesuatu yang berat sendirian. Lalu ciri-cirinya, atau sekolahnya, atau lingkungannya, ikut disebut di grup-grup yang bahkan tidak ia kenal. Ia tidak pernah meminta jadi bahan obrolan siapa pun. Setiap kali kita ikut menyebarkan — bahkan dengan niat baik, bahkan dengan embel-embel "buat jaga-jaga" — tanpa sadar kita menambah satu lagi orang yang tahu, satu lagi kemungkinan lukanya terus mengikutinya ke mana pun ia pergi setelah pekan ini berlalu.

Allah sendiri mengingatkan kita tentang tanggung jawab menjaga yang dekat dengan kita.

QS. At-Tahrim: 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Kita sering membaca ayat ini sebagai perintah menjaga akidah dan ibadah keluarga. Itu benar. Tapi malam ini, mari kita baca dari sisi lain: menjaga keluarga juga berarti menjaga lisan kita sendiri dari kebiasaan yang bisa membakar rumah tangga orang lain — apalagi rumah tangga sendiri. Rumah yang di dalamnya orang tua terbiasa bergosip tentang tetangga, biasanya juga melahirkan anak yang tumbuh dengan lisan yang sama.

Kenapa kita begitu tertarik pada kabar buruk orang lain? Barangkali karena membicarakan aib orang lain membuat kita merasa lebih baik sejenak — merasa hidup kita tidak seburuk itu. Tapi perasaan itu murahan, jamaah, dan tidak bertahan lama. Yang bertahan lama justru rasa bersalah, kalau kita cukup jujur pada diri sendiri untuk mengakuinya.

Ada satu kebiasaan sederhana yang bisa kita mulai malam ini juga: setiap kali dorongan untuk membagikan kabar berat itu muncul, ganti dulu dengan mendoakan. Sebelum jari menekan tombol teruskan, ucapkan dalam hati satu doa singkat untuk orang yang sedang mengalami kabar itu. Rasanya sepele, tapi doa punya efek yang tombol "teruskan" tidak pernah punya — doa tidak menambah orang yang tahu, tidak menambah beban yang dipikul, hanya menambah harapan bahwa Allah meringankan. izinkan saya mengajak kita semua melakukan satu hal sederhana sepulang dari sini. Buka grup percakapan yang paling sering kita buka. Lihat pesan-pesan yang pernah kita teruskan tanpa berpikir dua kali. Dan bertanya pada diri sendiri: apakah ini benar-benar perlu saya sebarkan, atau saya hanya ingin terlihat "tahu duluan"? Kalau jawabannya yang kedua, itu tandanya kita sedang butuh malam ini untuk berhenti sejenak.

Semoga Allah menjaga lisan kita, menjaga keluarga kita, dan menjadikan kita orang yang lebih banyak mendoakan daripada membicarakan.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ فِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ مِمَّنْ يَحْفَظُ لِسَانَهُ عَنْ أَعْرَاضِ النَّاسِ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَنْ تَأَذَّى مِنَ الضُّعَفَاءِ وَالْأَطْفَالِ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِ الْأَزْوَاجِ الْمُتَخَاصِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan