إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an, surah Al-Haaqqah ayat 39:
وَمَا لَا تُبْصِرُونَ
"Dan dengan apa yang tidak kamu lihat." (QS. Al-Haaqqa: 39)
Satu penggal ayat ini pendek, tapi menunjuk pada sesuatu yang luas: bahwa perhitungan Allah tidak berhenti pada apa yang tertangkap mata. Ada yang tampak, dan ada yang tidak tampak — dan keduanya sama-sama berada dalam jangkauan pengetahuan-Nya. Ini bukan sekadar kalimat teologis yang abstrak. Ini adalah pengingat yang sangat relevan bagi kita yang hidup di tengah dunia yang setiap harinya dinilai lewat apa yang terlihat: berapa banyak yang menonton, seberapa canggih sebuah alat terlihat bekerja, seberapa halus sebuah hasil tampil di layar.
Pekan ini, ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ada beberapa kabar tentang teknologi yang sampai kepada kita, dan kalau kita renungkan bersama, kabar-kabar ini sebenarnya sedang bicara tentang satu hal yang sama: perbedaan antara apa yang terlihat dan apa yang sesungguhnya terjadi.
Kabar pertama datang dari sekelompok anak muda, mahasiswa di sebuah kampus di Yogyakarta, yang merancang sebuah alat pembayaran digital yang tidak membutuhkan kartu maupun ponsel di tangan penggunanya. Ini adalah teknologi yang lahir dari sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana kalau tidak semua orang punya kartu, tidak semua orang punya ponsel yang selalu menyala, tapi mereka tetap berhak bertransaksi dengan mudah? Alat ini tidak besar, tidak mewah, tidak jadi headline dunia. Tapi ia menjawab kebutuhan yang nyata dan bisa ditunjuk dengan jari.
Kabar kedua datang dari panggung yang jauh lebih besar: sebuah kompetisi robot humanoid tingkat dunia yang digelar di Beijing, mempertemukan mesin-mesin canggih yang dirancang menyerupai gerak manusia, berlomba dalam kelincahan dan kecepatan. Ini adalah tontonan skala raksasa, disorot banyak mata, memukau siapa pun yang menyaksikannya.
Kabar ketiga, dan barangkali yang paling menuntut kita berhenti sejenak, adalah sebuah argumen yang mulai ramai diperbincangkan: bahwa video-video hasil kecerdasan buatan — termasuk video yang justru dibuat untuk menyerukan kepedulian pada lingkungan — memiliki ongkos lingkungannya sendiri yang jarang dihitung, baik oleh pembuatnya maupun oleh kita yang menontonnya.
Coba kita renungkan kabar ketiga ini sejenak, jamaah yang dirahmati Allah. Ada seorang pembuat konten yang berniat baik. Ia ingin menyerukan hemat air, hemat listrik, jangan buang sampah sembarangan. Niatnya baik, pesannya baik, dan videonya — dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan — terlihat rapi dan menarik di layar. Tapi proses membuat video itu sendiri memakai daya komputasi yang tidak kecil, yang punya jejaknya sendiri. Inilah yang tidak tampak: bukan pesannya, bukan niatnya, tapi ongkos di balik proses yang menghasilkan pesan itu.
Di sinilah ayat yang kita baca di awal khutbah ini menemukan tempatnya. Kita, sebagai manusia, cenderung menilai sesuatu dari apa yang tubshirun — apa yang bisa kita lihat, kita ukur, kita tampilkan di layar. Hasil akhir sebuah video, kecepatan sebuah robot, kepraktisan sebuah alat. Tapi Allah mengingatkan bahwa perhitungan-Nya mencakup pula ma la tubshirun — apa yang tidak kita lihat. Niat yang sesungguhnya menggerakkan sebuah pilihan. Sumber daya yang terpakai tapi tidak tercatat di layar mana pun. Dampak yang baru terasa jauh setelah video itu selesai ditonton.
Jamaah yang dimuliakan Allah, ada satu adab yang diajarkan dalam tradisi keilmuan Islam yang sangat relevan untuk kita bawa pulang pekan ini — adab tentang kejujuran mengakui batas pengetahuan kita sendiri. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim disebutkan sebuah nasihat dari kalangan salaf:
لَا أَدْرِي نِصْفُ الْعِلْمِ
"Mengatakan 'aku tidak tahu' adalah setengah ilmu." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)
Nasihat ini datang dari tradisi menuntut ilmu, tapi maknanya menembus jauh melampaui ruang kelas. Di tengah banjir informasi — termasuk gambar dan video yang kini bisa dibuat oleh kecerdasan buatan sehingga tampak begitu meyakinkan padahal belum tentu benar — kejujuran untuk berkata "saya belum tahu pasti" atau "saya perlu memastikan dulu" bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya. Seorang yang terburu-buru menyebarkan sesuatu hanya karena tampilannya meyakinkan, tanpa memastikan kebenarannya, sedang meletakkan kepercayaan pada apa yang tubshirun — yang tampak meyakinkan di layar — dan mengabaikan kewajiban untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya benar.
Tapi, jamaah sekalian, agama ini tidak mengajarkan kita untuk curiga pada setiap alat baru atau menutup diri dari kemajuan. Ada adab lain yang perlu kita letakkan berdampingan dengan yang tadi, supaya kita tidak jatuh ke sikap yang berlebihan arahnya. Masih dalam kitab yang sama, disebutkan sebuah prinsip:
أن لا يستنكف أن يستفيد ما لا يعلمه ممن هو دونه منصبًا أو نسبًا أو سنًا، بل يكون حريصًا على الفائدة حيث كانت والحكمة ضالة المؤمن يلتقطها حيث وجدها
"Hendaknya seseorang tidak enggan mengambil faedah dari siapa pun, walau dari yang lebih rendah kedudukan, nasab, atau usianya — bahkan hendaknya ia bersemangat mengambil faedah di mana pun ia berada. Dan hikmah adalah barang hilang milik orang beriman; ia memungutnya di mana pun ia menemukannya." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)
Prinsip ini mengajarkan sesuatu yang seimbang: bahwa manfaat dan hikmah tidak punya "kemasan" yang wajib. Ia bisa datang dari sebuah alat pembayaran karya mahasiswa, dari sebuah kecerdasan buatan yang dipakai dengan benar, dari mana saja — selama ia benar-benar membawa manfaat dan kita mengambilnya dengan mata yang jernih. Yang keliru bukan memakai alat baru. Yang keliru adalah memakainya tanpa pernah bertanya apa ongkosnya, dan untuk siapa sebenarnya manfaat itu dituju.
Maka pertanyaannya bukan "boleh atau tidak boleh memakai kecerdasan buatan" — itu bukan forum untuk menjawabnya, dan kita tidak sedang mengeluarkan fatwa dari mimbar ini. Pertanyaannya lebih sederhana dan lebih personal dari itu: ketika kita memakai sebuah alat, sudahkah kita jujur pada diri sendiri tentang niat yang menggerakkan kita, dan sudahkah kita menghitung — sejauh yang kita mampu — ongkos yang tidak tampak di layar?
Ada satu prinsip lagi yang baik kita bawa pulang, jamaah yang dirahmati Allah, tentang bagaimana kita menimbang mana yang lebih layak dikejar. Dalam kitab Nashaihul Ibad, diriwayatkan dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:
حق على العاقل أن يختار سبعا على سبع :الفقر على الغني ،والذل على العز ،والتواضع على الكبر ،والجوع على الشبع ،والغم على السرور ،والدون على المرتفع ،والموت على الحياة.
"Hak atas orang yang berakal untuk memilih tujuh atas tujuh: fakir atas kaya, hina atas mulia, tawadhu' atas sombong, lapar atas kenyang, sedih atas gembira, rendah atas tinggi kedudukan, dan mati (yang baik) atas hidup (yang panjang tanpa makna)." (Nashaihul Ibad)
Riwayat ini bukan ajakan untuk membenci kemajuan atau kenyamanan. Ia adalah cara memeriksa prioritas: ketika dunia menawarkan yang serba tampak megah — panggung yang besar, sorotan yang terang, hasil yang instan — orang yang berakal tetap tahu bahwa yang lebih rendah hati, lebih substansial, dan lebih jujur pada kenyataan, sering kali lebih layak dipilih daripada yang sekadar mengesankan. Alat kecil karya mahasiswa yang menjawab kebutuhan nyata satu-dua orang bisa jadi lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada tontonan yang disorot jutaan mata tapi tidak menyelesaikan apa-apa.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, dari tiga kabar dan tiga prinsip yang kita renungkan bersama pagi ini, ada beberapa langkah nyata yang bisa kita bawa pulang pekan ini:
Pertama, biasakan bertanya "siapa yang terbantu" sebelum bertanya "seberapa canggih", setiap kali kita membaca atau membagikan berita tentang sebuah teknologi baru.
Kedua, sebelum membagikan gambar, video, atau informasi apa pun — apalagi yang terlihat begitu meyakinkan — luangkan satu menit untuk memastikan dulu kebenarannya, dan jangan malu berkata "saya belum yakin" bila memang belum yakin.
Ketiga, bagi yang berkecimpung dalam pembuatan konten, termasuk memakai bantuan kecerdasan buatan, luangkan waktu menimbang ongkos di balik prosesnya — bukan untuk berhenti berkarya, tapi untuk berkarya dengan mata yang lebih jujur.
Keempat, ajarkan pada anak-anak dan keluarga kita untuk kagum secara wajar pada kecanggihan teknologi — kagum boleh, tapi jangan sampai kekaguman itu membuat kita lupa bahwa yang benar-benar bernilai adalah manfaat yang sampai kepada manusia, bukan sekadar kecanggihan yang terlihat di layar.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan saya menegaskan kembali inti dari apa yang kita renungkan bersama tadi. Ayat yang kita baca di awal — "dan dengan apa yang tidak kamu lihat" — bukan ayat yang meminta kita curiga pada dunia. Ia meminta kita jujur pada diri sendiri: bahwa ada bagian dari setiap pilihan kita yang tidak akan pernah terlihat oleh siapa pun kecuali Allah, dan justru bagian itulah yang paling menentukan nilainya di sisi-Nya.
Kita hidup di zaman ketika satu video bisa dibuat dalam hitungan menit, satu alat bisa menjawab kebutuhan ribuan orang, dan satu pertunjukan bisa disaksikan jutaan mata dalam waktu bersamaan. Ini semua nikmat yang patut disyukuri, bukan ditolak. Tapi nikmat yang besar selalu datang bersama pertanggungjawaban yang besar pula. Yang dituntut dari kita bukan menjauhi kemajuan, melainkan menjaga kejujuran: jujur tentang niat, jujur tentang ongkos, dan jujur tentang apa yang sesungguhnya kita ketahui sebelum kita menyebarkannya kepada orang lain.
Semoga Allah memampukan kita menjadi umat yang memakai setiap kemajuan zaman dengan amanah, bukan umat yang silau oleh kecanggihan lalu lupa pada substansi. Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللّٰهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْحِصَارَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُ أَحْسَنَهُ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا وَعَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، وَجَنِّبْنَا الْغُلُوَّ فِيْ مَدْحِ مَا صَنَعَتْ أَيْدِيْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَشْكُرُوْنَ نِعْمَتَكَ بِالْأَمَانَةِ لَا بِالْغَفْلَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
