الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita buka khutbah pekan ini dengan satu ayat yang menjadi salah satu fondasi paling tegas dalam Al-Qur'an tentang bagaimana kita hidup berdampingan dengan sesama manusia yang berbeda keyakinan.
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqara: 256: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Jamaah yang berbahagia, ayat ini sering kita dengar dipotong menjadi lima kata pertamanya saja — "tidak ada paksaan dalam agama" — seolah ia hanya berbicara soal hukum mengislamkan orang. Padahal, kalau kita baca utuh, ayat ini berbicara jauh lebih dalam: keimanan yang bernilai di sisi Allah adalah keimanan yang tumbuh dari kejernihan akal memilih jalan yang benar, bukan dari tekanan. Dan konsekuensi logisnya besar sekali bagi kita yang hidup di tengah masyarakat yang beragam ini — kalau Allah sendiri tidak menghendaki keimanan dipaksakan, maka kita sebagai hamba-Nya jelas tidak punya wewenang untuk memaksakannya lewat cara-cara yang lebih kasar: kecurigaan, permusuhan, atau tekanan sosial kepada tetangga yang berbeda keyakinan.
Indonesia bukan negeri yang baru mengenal keberagaman ini. Kita sudah ratusan tahun hidup berdampingan dengan saudara-saudara sebangsa yang memeluk agama berbeda — di kampung, di pasar, di tempat kerja, di sekolah anak-anak kita. Ini bukan ujian baru yang datang pekan ini; ini adalah kondisi hidup yang sudah kita jalani turun-temurun. Pertanyaannya bukan apakah kita akan hidup berdampingan dengan yang berbeda — itu sudah menjadi kenyataan kita — melainkan bagaimana sikap hati kita ketika menjalaninya.
Dan pekan ini, sikap hati itu diuji oleh beberapa hal yang muncul di ruang publik. Sebuah video beredar mengangkat kembali perdebatan lama seputar asal-usul manusia antara cara pandang Kristen dan Muslim, dibungkus dengan nada yang sengaja dibuat berseberangan, seolah dua komunitas iman sedang berhadap-hadapan. Nada semacam ini, jamaah sekalian, tidak pernah membawa kejernihan — ia hanya membuat orang merasa harus memilih pihak, padahal yang lebih dibutuhkan adalah ketenangan untuk memahami duduk perkara.
Kabar lain yang sampai kepada kita adalah keluhan tentang perlakuan yang dialami saudara-saudara Muslim di sejumlah wilayah India. Ini adalah keprihatinan yang wajar kita rasakan sebagai sesama Muslim — hati kita memang seharusnya tergerak ketika saudara seiman diperlakukan tidak adil di mana pun mereka berada. Tetapi keprihatinan itu perlu kita jaga agar tidak melebar menjadi tuduhan yang menggeneralisasi satu bangsa atau satu agama secara keseluruhan, karena itu bukan yang diajarkan Islam kepada kita, dan bukan pula sesuatu yang bisa kita nilai secara adil dari jarak yang sangat jauh.
Ada pula perbandingan yang beredar tentang sekolah mana yang dianggap lebih disiplin dan lebih berintegritas dalam mendidik. Jamaah yang dimuliakan Allah, izinkan saya jujur di mimbar ini: perbandingan semacam ini, siapa pun yang memenangkannya di atas kertas, tidak pernah benar-benar membangun apa pun. Kalau ada kekurangan dalam cara kita mendidik generasi Muslim, jawabannya bukan mencari pembanding untuk merasa lebih baik atau lebih buruk — jawabannya adalah kejujuran memperbaiki diri sendiri.
Dan yang terakhir, ada nada kesal yang muncul ketika pemeluk agama lain ikut melontarkan kritik kepada umat Islam. Perasaan itu manusiawi — tidak ada yang nyaman mendengar dirinya atau kelompoknya dikritik oleh pihak luar. Tetapi di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi iman kita, dan ke sanalah kita akan melangkah bersama pada bagian inti khutbah ini.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dari lima kabar yang saya sebutkan tadi, ada satu pertanyaan yang sama yang perlu kita jawab bersama: bagaimana Islam mengajarkan kita bersikap kepada orang yang berbeda dengan kita — berbeda keyakinan, berbeda posisi, bahkan berbeda niat baik atau buruknya kepada kita?
QS. Al-Mumtahana: 8 memberi jawaban yang sangat jelas. Allah berfirman:
لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
Perhatikan susunan katanya, jamaah sekalian: bukan sekadar "boleh berbuat baik", tapi "Allah tidak melarang" — sebuah penegasan yang justru menunjukkan bahwa berbuat baik dan adil kepada mereka yang tidak memusuhi kita adalah sikap yang wajar dan diharapkan, bukan sikap yang perlu dicurigai atau dianggap mengendurkan iman. Tetangga kita yang berbeda agama, rekan kerja kita yang berbeda keyakinan, teman sekolah anak kita yang berdoa dengan cara berbeda — selama mereka tidak memusuhi kita karena agama kita, ayat ini menegaskan bahwa kebaikan dan keadilan kepada mereka bukan hanya diizinkan, tapi dicintai Allah.
Sikap ini menuntut sesuatu yang lebih berat daripada sekadar bersikap netral. Coba kita renungkan QS. Al-Maaida: 8, di mana Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini, jamaah sekalian, berbicara langsung kepada kondisi yang saya sebutkan tadi — nada kesal ketika pemeluk agama lain mengkritik kita, kecurigaan yang muncul saat membaca kabar dari komunitas lain, dorongan untuk membalas dengan cara yang sama kerasnya. Allah tidak mengatakan "jangan benci". Allah tahu hati manusia bisa saja tidak suka pada suatu kaum atau suatu sikap. Yang Allah larang adalah membiarkan ketidaksukaan itu mendorong kita berlaku tidak adil. Ini adalah standar yang tinggi — adil bukan hanya kepada yang kita sukai, tapi justru diuji sesungguhnya pada saat kita berhadapan dengan yang tidak kita sukai. Dan ayat ini menutup dengan mengaitkan keadilan langsung dengan takwa: "adil itu lebih dekat kepada takwa". Bukan sekadar akhlak sosial, tapi bagian dari kedekatan kita kepada Allah.
Bagaimana konkretnya keadilan ini dicontohkan dalam sejarah umat kita? Kaum muslimin di Madinah, di bawah bimbingan Rasulullah ﷺ, hidup berdampingan dengan berbagai komunitas yang berbeda keyakinan dalam satu kesepakatan bersama yang mengatur hak dan kewajiban hidup berdampingan itu. Prinsip melindungi pihak yang telah terikat perjanjian damai itu bukan sekadar kesepakatan politik semata, tapi menjadi ajaran yang tegas dari Rasulullah ﷺ sendiri. Dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda dalam Sahih al-Bukhari 3166:
حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَمْرٍو، حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ـ رضى الله عنهما ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا ".
"Barangsiapa membunuh seorang mu'ahad (orang yang terikat perjanjian damai dengan kaum Muslimin), maka ia tidak akan mencium wangi surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun."
Bayangkan, jamaah sekalian, betapa beratnya ancaman ini. Ini bukan sekadar larangan memerangi — ini adalah peringatan keras tentang keselamatan seseorang yang telah dijamin hidup berdampingan dengan damai. Kalau standarnya setegas ini untuk urusan nyawa, apalagi untuk urusan yang jauh lebih ringan: menjaga lisan kita di media sosial, menjaga sikap kita kepada tetangga, menjaga cara kita menceritakan ulang berita tentang komunitas lain supaya tidak menambah kecurigaan yang sudah ada.
Yang bisa kita ambil dari hadits ini bukan hanya larangan membunuh secara harfiah — tapi sebuah prinsip yang lebih luas: siapa pun yang hidup damai berdampingan dengan kita berhak atas rasa aman dari kita, bukan justru menjadi sasaran kecurigaan atau permusuhan yang kita pelihara sendiri. Rasa aman itu bisa dirusak bukan hanya dengan pedang, tapi juga dengan fitnah, dengan generalisasi yang kasar, dengan seruan yang menyulut fanatisme golongan.
Dan tentang fanatisme golongan ini, jamaah sekalian, Rasulullah ﷺ punya peringatan yang tegas. Beliau bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 103a:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
"Bukan dari golongan kami, orang yang menampar pipi, merobek baju, atau menyeru dengan seruan jahiliyyah."
"Seruan jahiliyyah" di sini maksudnya adalah seruan yang membangkitkan fanatisme kesukuan atau kegolongan — memihak bukan karena kebenaran, tapi karena sekadar sesama golongan. Pekan ini kita menyaksikan bagaimana seruan semacam itu masih hidup, termasuk dalam bentuk ujaran yang merendahkan kelompok etnis tertentu. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa sikap semacam ini tidak sejalan dengan jalan yang beliau ajarkan. Bukan berarti kita tidak boleh punya identitas atau kebanggaan pada komunitas kita sendiri — tapi identitas itu tidak boleh berubah menjadi alasan untuk merendahkan atau menyerang identitas orang lain.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, semua prinsip ini — tidak ada paksaan dalam agama, berbuat baik kepada yang tidak memusuhi kita, adil sekalipun kepada yang kita benci, melindungi mereka yang hidup damai berdampingan dengan kita, dan menjauhi seruan fanatisme golongan — bermuara pada satu sikap yang paling sederhana namun paling sering kita lupakan: menghormati bahwa setiap orang punya jalannya sendiri dalam beragama. Allah mengajarkan sikap ini dengan sangat ringkas dalam QS. Al-Kaafiroon: 6:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ
"Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Ayat penutup surah ini, jamaah sekalian, bukan ayat tentang sikap masa bodoh. Ia adalah ayat tentang batas yang jelas dan lapang dada yang tegas — kita meyakini kebenaran agama kita sepenuhnya, tanpa keraguan, tapi keyakinan itu tidak mengharuskan kita menyerang, merendahkan, atau memaksa orang lain yang memilih jalan berbeda. Dua sikap ini — keyakinan yang teguh dan sikap yang lapang kepada yang berbeda — bukan sikap yang saling bertentangan. Justru keduanya adalah tanda iman yang matang.
Jamaah yang dimuliakan Allah, penting untuk kita sadari bahwa ujian keadilan ini jarang datang dalam bentuk peristiwa besar yang mudah dikenali. Ia justru lebih sering hadir dalam bentuk yang kecil dan biasa — di pasar, ketika seorang pedagang Muslim menimbang dagangannya untuk pembeli yang berbeda keyakinan; di kantor, ketika seorang karyawan Muslim menilai kinerja rekan kerjanya yang beragama lain secara jujur, bukan berdasarkan prasangka; di rumah sakit, ketika seorang perawat Muslim merawat pasiennya dengan mutu yang sama, siapa pun pasien itu. Keadilan yang diuji dalam ayat tadi bukan keadilan di forum-forum besar yang jarang kita hadiri, tapi keadilan di meja kerja, di depan timbangan, di ruang tunggu — tempat-tempat yang kita lalui setiap hari tanpa pernah merasa sedang "berdakwah".
Dan justru di situlah dakwah yang paling berpengaruh sesungguhnya terjadi. Ketika Allah memerintahkan kita menjadi "syuhada bil qist" — saksi-saksi yang menegakkan keadilan — dalam ayat yang sudah kita baca tadi, itu berarti akhlak kita sedang disaksikan, dinilai, dan diingat oleh orang-orang di sekitar kita, termasuk yang berbeda keyakinan. Tetangga yang beda agama tidak mengenal Islam dari ceramah yang kita dengarkan, tapi dari bagaimana kita memperlakukannya sehari-hari — apakah kita menyapa atau berpaling, apakah kita membantu saat mereka kesusahan atau justru menjauh karena curiga. Akhlak yang konsisten kepada siapa pun, tanpa syarat kesamaan keyakinan, adalah dakwah yang tidak butuh mimbar dan tidak butuh pengeras suara — dan justru karena itu, ia sering kali menjadi dakwah yang paling meyakinkan.
Lalu, jamaah yang dimuliakan Allah, apa yang bisa kita bawa pulang dari khutbah pekan ini? Ada beberapa hal konkret yang bisa kita mulai hari ini juga.
Pertama, sebelum kita menilai pemeluk agama lain atau membagikan kembali sebuah kabar tentang mereka, periksa dulu hati kita: apakah penilaian ini didasari fakta yang kita cek, atau sekadar kecurigaan yang kita warisi dari lini masa. Kedua, hindari menyebarkan atau meneruskan konten yang membingkai hubungan lintas-iman secara berseberangan, apalagi konten yang memuat ujaran yang merendahkan kelompok etnis atau agama tertentu — diamnya kita tidak menyebarkan sudah menjadi kebaikan tersendiri. Ketiga, rawat silaturahmi nyata dengan tetangga kita yang berbeda keyakinan, bukan hanya kesopanan di dunia maya — sapa mereka, bantu ketika mereka membutuhkan, hadir ketika mereka tertimpa musibah. Keempat, jaga lisan dan jari kita saat berkomentar tentang isu lintas-iman di media sosial; pastikan ucapan kita berangkat dari keadilan, bukan pelampiasan emosi sesaat. Kelima, kenalkan sejarah kerukunan lokal kepada anak-anak dan remaja kita — bukan hanya cerita tentang konflik, tapi juga cerita tentang bagaimana warga dari berbagai keyakinan pernah dan masih bisa hidup rukun berdampingan — supaya mereka mewarisi kesadaran untuk merawat, bukan mengulang kesalahan lama. Keenam, jadikan masjid dan majelis kita sebagai ruang belajar keadilan, bukan ruang yang justru menumpuk kecurigaan terhadap kelompok lain.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dimuliakan Allah, izinkan saya menegaskan kembali inti khutbah pekan ini dari sisi yang berbeda. Keadilan yang kita bicarakan tadi bukan keadilan yang mudah — ia diuji justru pada saat paling sulit, yaitu saat kita berhadapan dengan orang atau kelompok yang membuat kita tidak nyaman. Mudah bagi siapa pun untuk bersikap adil kepada orang yang kita sukai. Yang membedakan seorang mukmin sejati adalah kemampuannya tetap adil kepada orang yang tidak ia sukai, sebagaimana yang Allah tegaskan dalam surah Al-Maaida tadi.
Kita juga perlu jujur mengakui bahwa kerukunan bukan sesuatu yang otomatis bertahan sendiri. Sejarah bangsa kita pernah mencatat masa ketika hubungan antar-tetangga yang sudah terjalin puluhan tahun bisa retak dalam hitungan hari, dan butuh bertahun-tahun untuk mulai pulih kembali. Kita tidak perlu mengungkit siapa yang salah dalam peristiwa itu di mimbar ini — yang perlu kita ingat bersama hanyalah betapa cepat kerukunan bisa runtuh ketika kecurigaan dibiarkan menumpuk, dan betapa mahal harga yang harus dibayar sebuah masyarakat untuk membangunnya kembali. Itulah kenapa merawat kerukunan hari ini, sekecil apa pun bentuknya, jauh lebih ringan daripada memperbaikinya setelah retak.
Marilah kita jadikan rumah, tempat kerja, dan lingkungan RT kita masing-masing sebagai tempat pertama di mana prinsip keadilan ini kita praktikkan — bukan hanya kita ucapkan. Karena pada akhirnya, dakwah yang paling meyakinkan bukanlah dakwah yang diucapkan dengan lantang, melainkan akhlak yang ditunjukkan dengan konsisten kepada siapa pun yang hidup di sekitar kita, tanpa memandang keyakinan mereka.
Marilah kita tundukkan hati dan tengadahkan tangan, memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، وَمَنْ يُّسْتَضْعَفُ مِنْ إِخْوَانِنَا فِيْ أَيِّ بُقْعَةٍ مِّنْ بِقَاعِ الْأَرْضِ، اللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْخَوْفَ، وَأَبْدِلْهُمْ بَعْدَ عُسْرِهِمْ يُسْرًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ أَبْنَاءِ هٰذَا الْوَطَنِ عَلَى اخْتِلَافِ أَدْيَانِهِمْ وَقَبَائِلِهِمْ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الْعَدْلَ وَلَوْ عَلٰى أَنْفُسِهِمْ، وَجَنِّبْنَا الْفِتْنَةَ وَسُوْءَ الظَّنِّ، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا بِلَادًا آمِنَةً يَتَعَايَشُ فِيْهَا أَهْلُهَا بِالْمَحَبَّةِ وَالْإِنْصَافِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
