بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِنْصَافِ وَحُسْنِ الظَّنِّ بَيْنَ النَّاسِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ عَامَلَ النَّاسَ بِالْإِنْصَافِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini lini masa kita ramai oleh nada saling curiga antar-umat beragama — mulai dari video yang membingkai perbedaan pandangan lama secara berseberangan, sampai kabar-kabar yang membuat kita gampang menyimpulkan sesuatu tentang satu kelompok hanya dari satu potongan cerita. Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan satu sikap yang menurut saya justru paling dibutuhkan pekan ini: keberanian mengatakan "saya belum tahu betul" sebelum ikut menyimpulkan atau menyebarkan sesuatu.
Siapa di sini yang pekan ini pernah baca satu unggahan, langsung emosi, langsung ingin membagikannya — padahal belum benar-benar tahu duduk perkaranya? Saya juga pernah. Dan ternyata, jamaah sekalian, sikap berhenti sejenak sebelum menyimpulkan ini justru diajarkan sebagai bagian dari adab menuntut ilmu dalam warisan ulama kita. Dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / التاسع, disebutkan sebuah adab yang sangat sederhana tapi berat untuk dipraktikkan:
لَا أَعْلَمُ — أَوْ — لَا أَدْرِي
"Aku tidak tahu", atau "aku tidak paham betul." Kitab ini menegaskan: "termasuk ilmu adalah mengatakan: aku tidak tahu." Bahkan disebutkan bahwa sebagian ulama salaf berkata:
لَا أَدْرِي نِصْفُ الْعِلْمِ
"Mengatakan 'aku tidak tahu' adalah setengah ilmu." Dan yang enggan mengucapkannya, menurut kitab ini, biasanya justru orang yang lemah ilmunya sendiri — karena takut kelihatan tidak pandai di hadapan orang lain.
Coba kita bayangkan kalau adab ini kita pakai pekan ini. Sebuah video framing perdebatan lama antara dua komunitas iman jadi seolah pertentangan — berapa banyak dari kita yang langsung ikut berkomentar keras, padahal belum menonton sampai selesai, belum mencari konteks aslinya? Sebuah kabar tentang perlakuan tidak adil di negara lain — berapa banyak dari kita yang langsung menggeneralisasi satu bangsa, padahal yang kita tahu hanya satu potongan cerita? Bukan berarti kita tidak boleh peduli atau bersuara. Yang saya maksud adalah: peduli dan bersuara itu jauh lebih kuat kalau berangkat dari pemahaman yang benar, bukan dari reaksi sesaat.
Yang bisa kita ambil dari adab ini sebenarnya sederhana: sebelum kita menyimpulkan sesuatu tentang satu kelompok, satu agama, atau satu peristiwa — apalagi sebelum kita membagikannya ke grup keluarga atau story pribadi — beri diri kita jeda untuk bertanya, "apakah saya benar-benar tahu ini, atau saya cuma ikut arus?" Prinsip yang sama juga tampak dalam QS. Al-Kaafiroon: 6, ketika Allah mengajarkan kita batas yang jelas dan lapang dada yang tegas sekaligus: "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." Ayat pendek ini mengajarkan kita bahwa meyakini kebenaran agama sendiri sepenuhnya, dan tetap lapang dada kepada yang berbeda, adalah dua sikap yang bisa berjalan bersama — tidak perlu saling menegasikan.
Malam ini, sebelum kita pulang, ada dua hal kecil yang bisa langsung kita coba. Pertama, malam ini juga, kalau ada unggahan tentang isu lintas-iman yang membuat hati kita panas, tahan dulu jarinya sebelum membagikan — cari dulu konteks lengkapnya. Kedua, besok pagi, coba sapa satu tetangga yang berbeda keyakinan dengan kita, sekadar menanyakan kabar — sesederhana itu, tapi itu sudah melawan arus kecurigaan yang sedang ramai.
Demikian yang bisa saya sampaikan malam ini. Semoga Allah memudahkan kita menjadi hamba yang berhati-hati sebelum menyimpulkan, dan lapang dada kepada siapa pun yang berbeda dengan kita.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الظَّنِّ بِالنَّاسِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَثَبَّتُ قَبْلَ أَنْ يَحْكُمَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَقُلُوْبِ جِيْرَانِنَا عَلَى اخْتِلَافِ أَدْيَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
