Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumAqidah & IbadahKamis, 10 September 2026

Kultum — "Iman yang Sampai ke Sajadah"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, hampir semua percakapan keagamaan di ruang publik berkisar pada satu pertanyaan yang sama: Islam siapa yang benar. Sebuah buku yang membingkai keislaman seorang figur publik beredar, sanggahan dari sebagian kalangan ulama bermunculan, dan dalam beberapa hari saja nada percakapannya mengeras. Malam ini saya tidak akan mengajak kita ikut menilai siapa pun. Saya justru ingin mengajak kita melakukan hal yang jauh lebih sepi dan jauh lebih berguna: menengok timbangan kita sendiri.

Coba kita jawab dalam hati, tidak perlu diucapkan. Pekan kemarin, berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk membaca perdebatan agama di layar? Dan pada pekan yang sama, berapa banyak sholat kita yang tertunda sampai hampir habis waktunya? Kalau angka pertama jauh lebih besar dari angka kedua, itu bukan aib yang perlu kita sembunyikan. Itu hanya sebuah temuan. Dan setiap temuan adalah pintu.

Allah berfirman dalam QS. Al-Qiyaama: 31:

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ

"Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat."

Ayat ini pendek sekali, para jamaah — hanya empat kata dalam bahasa aslinya. Tetapi perhatikan apa yang dipasangkan di dalamnya. Membenarkan, lalu sholat. Yang di dalam dada, lalu yang di atas sajadah. Ayat ini sedang menggambarkan orang yang tidak melakukan keduanya, dan gambaran itu memberi kita satu pelajaran dari arah sebaliknya: dua hal ini memang sepasang. Yang satu adalah pengakuan, yang satu adalah pembuktian. Dan Allah menyebut keduanya bergandengan, seolah hendak berkata bahwa pengakuan yang tidak pernah sampai ke gerak badan adalah pengakuan yang belum selesai.

Saudara-saudara sekalian, di sinilah letak keanehan pekan ini kalau kita jujur. Kita berdebat panjang tentang siapa yang lebih benar keislamannya, sementara alat ukur yang paling sederhana justru terletak di dekat kita — sedekat sajadah yang tergulung di sudut kamar. Sholat itu tidak bisa diperdebatkan di kolom komentar. Ia tidak bisa diwakilkan. Ia tidak bisa dimenangkan dengan argumen. Ia hanya bisa dikerjakan, atau tidak dikerjakan. Dan justru karena itulah ia jujur.

Ada satu hal lagi yang membuat saya lama merenung. Perdebatan tentang agama itu menyenangkan — mari kita akui saja. Ada rasa puas ketika kita menemukan argumen yang tepat, ada rasa bangga ketika komentar kita disukai banyak orang, dan ada perasaan sedang membela agama yang membuat semua itu terasa mulia. Padahal perasaan itu sendiri bukanlah amal. Yang menjadi amal adalah sholat yang kita tegakkan, sedekah yang kita keluarkan, dan lisan yang kita jaga. Selebihnya hanyalah rasa — dan rasa, betapapun kuatnya, tidak menggantikan satu pun dari ketiganya.

Pekan ini kita juga mendengar kabar dari arah lain. Anak Krakatau erupsi dan peta zona merah abu vulkaniknya diperbarui lengkap dengan penanda jam, kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti sebagian Sumatra dan Kalimantan, dan sejumlah daerah menghadapi kekeringan serta krisis air bersih di musim kemarau. Sebagian saudara kita merespons dengan seruan doa yang tulus. Sebagian lain merespons dengan pertanyaan getir: kalau negeri ini tidak bisa diperbaiki oleh rakyatnya sendiri, apakah alam yang akan mengurusnya. Saya ingin kita hati-hati dengan pertanyaan kedua itu, para jamaah. Musibah yang menimpa orang beriman adalah ujian dan penghapus dosa, bukan pengumuman bahwa yang tertimpa sedang dihukum. Ibu yang menutup hidung anaknya dari asap malam ini tidak sedang diadili oleh siapa pun. Ia sedang diuji, dan tugas kita bukan menafsirkan ujiannya, melainkan menolongnya.

Lalu apa hubungannya dengan sholat kita? Hubungannya sangat dekat. Orang yang terbiasa berdiri di hadapan Allah lima kali sehari punya kebiasaan yang tidak dimiliki orang yang hanya berdiri di hadapan layar: ia terbiasa merasa kecil. Dan orang yang terbiasa merasa kecil tidak gampang menjatuhkan vonis, baik kepada saudaranya yang berbeda pendapat, maupun kepada saudaranya yang sedang tertimpa musibah. Sholat itu, di antara sekian banyak faedahnya, adalah latihan harian untuk tidak merasa menjadi hakim.

Dalam Bidayatul Hidayah — توطئة terdapat perumpamaan yang sangat membumi tentang hal ini:

اعلم أن أوامر الله تعالى فرائض ونوافل؛ فالفرض رأس المال، وهو أصل التجارة وبه تحصل النجاة، والنفل هو الربح وبه الفوز بالدرجات

"Ketahuilah bahwa perintah-perintah Allah Ta'ala terbagi menjadi yang fardhu dan yang sunnah. Maka yang fardhu itu ibarat modal pokok, ialah dasar perniagaan, dan dengannya tercapai keselamatan. Sedangkan yang sunnah itu ibarat laba, dan dengannya diraih derajat-derajat yang tinggi."

Perumpamaan pedagang ini terasa akrab bagi kita semua. Tidak ada pedagang yang menghitung labanya sambil membiarkan modalnya habis. Kalau modal ludes, laba tidak punya tempat berpijak. Begitu pula dalam beragama: yang fardhu adalah modalnya. Sholat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat bila sudah wajib. Semua amalan lain — dzikir tambahan, kajian, sedekah sunnah, bahkan pembelaan kita terhadap kebenaran di ruang publik — adalah laba yang indah, tetapi ia hanya bermakna bila modalnya utuh. Pekan ini banyak dari kita, termasuk saya, sibuk mengurus laba dan lupa memeriksa modal.

Maka apa yang bisa kita kerjakan malam ini juga, sebelum tidur? Tiga hal saja, dan ketiganya kecil. Pertama, pilih satu waktu sholat yang paling sering kita tunda — biasanya Ashar atau Isya — lalu pasang pengingat untuk besok, dan tunaikan di awal waktunya. Satu waktu saja, jangan lima sekaligus, supaya tidak berhenti di hari ketiga. Kedua, buka riwayat percakapan kita di layar, dan hapus satu komentar yang kita tulis dalam keadaan marah pekan ini. Kalau sudah terlanjur dibaca orang, cukup istighfar. Ketiga, sisihkan sesuatu yang nyata untuk saudara kita yang terdampak asap dan kekeringan — masker, air kemasan, atau uang seadanya lewat kotak masjid — dan lakukan malam ini sebelum niatnya menguap.

Para jamaah yang saya hormati, kita menutup dengan satu kalimat. Keislaman kita tidak diukur oleh seberapa keras kita membela agama di hadapan orang, melainkan oleh seberapa setia kita berdiri di hadapan Allah ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Perdebatan pekan ini akan reda dan dilupakan dalam sebulan. Sajadah kita akan tetap di sana, menunggu, setiap hari, lima kali.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَغْرَمِ وَالْمَأْثَمِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan