بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْعَدْلَ مِيْزَانًا لَا يَمِيْلُ، وَجَعَلَ الْبَيِّنَةَ حِرْزًا لِلضُّعَفَاءِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَلِيْمُ بِمَا فِي الصُّدُوْرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ حَكَمَ بِالْعَدْلِ وَلَمْ يَجُرْ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan yang baru saja kita lewati penuh dengan kabar perkara: sebuah polemik ijazah yang masuk ke jalur praperadilan, putusan banding dalam perkara penyiraman air keras, dan wacana hukuman mati bagi pelaku korupsi yang kembali bergema. Malam ini saya tidak ingin membahas perkaranya. Saya ingin membahas kita — orang-orang yang menontonnya.
Boleh saya mulai dengan satu pertanyaan yang jujur? Siapa di antara kita yang pekan ini pernah merasa sedikit senang ketika membaca kabar buruk tentang seseorang yang tidak kita sukai? Bukan senang yang besar. Hanya rasa hangat kecil di dada, semacam "nah, kan". Kalau ada, saudara-saudara sekalian, saya termasuk di dalamnya. Dan rasa kecil itulah yang ingin kita periksa bersama malam ini.
Imam al-Ghazali rahimahullah dalam Bidayatul Hidayah — الرياء mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
"Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri."
Perhatikan yang ketiga, para jamaah: kagum pada diri sendiri. Kelihatannya ringan, bukan? Tidak ada korban, tidak ada harta yang hilang. Tetapi Rasulullah ﷺ menempatkannya sejajar dengan kekikiran dan hawa nafsu, dalam satu daftar yang beliau namai "yang membinasakan".
Kenapa? Karena kagum pada diri sendiri adalah pintu masuknya. Orang yang kagum pada dirinya akan otomatis merasa lebih baik daripada orang yang sedang diperkarakan. Dan dari perasaan lebih baik itu lahir hal berikutnya, yang oleh Imam al-Ghazali dijelaskan panjang di halaman yang sama: hasad. Beliau menerangkan bahwa orang yang hasad merasa berat hatinya ketika Allah memberi nikmat kepada hamba-Nya yang lain — entah berupa ilmu, harta, atau tempat di hati manusia — sampai-sampai ia ingin nikmat itu hilang, walaupun ia sendiri tidak mendapat apa-apa dari hilangnya nikmat itu.
Saudara-saudara sekalian, mari kita jujur. Bukankah itu persis yang terjadi di layar kita pekan ini? Kita tidak akan mendapat sepeser pun kalau seseorang yang kita benci kalah di pengadilan. Rumah kita tidak bertambah luas. Anak kita tidak bertambah sehat. Tetapi hati kita tetap ingin melihatnya jatuh. Al-Ghazali menyebut kondisi itu dengan kalimat yang keras: puncak dari keburukan. Dan beliau menambahkan sesuatu yang membuat saya berhenti membaca: orang yang hasad adalah orang yang tersiksa dan tidak dikasihani — ia menanggung siksa yang terus-menerus di dunia sampai ia mati.
Bayangkan itu, jamaah. Orang yang kita benci sedang tidur nyenyak, dan kitalah yang tidak bisa berhenti membuka layar untuk memastikan dia sudah jatuh atau belum. Siapa sebenarnya yang sedang dihukum?
Dari titik ini saya ingin membawa kita ke satu hadits pendek yang sangat menenangkan. Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:
Sahih Muslim 1711b
قَضَى بِالْيَمِيْنِ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ
"Rasulullah ﷺ memutuskan dengan sumpah atas orang yang dituduh."
Sependek itu, para jamaah, tetapi lihat apa yang dikandungnya. Orang yang dituduh tidak diminta membuktikan bahwa dirinya bersih — beban itu tidak ada padanya. Yang menuduh harus datang membawa bukti. Kalau tidak ada bukti, yang dituduh cukup bersumpah, dan perkara berhenti di situ.
Dalam praktik peradilan, ini adalah aturan teknis. Tetapi dalam hidup kita sehari-hari, ini adalah pelajaran akhlak yang besar. Islam meletakkan beban di pundak orang yang bicara, bukan di pundak orang yang dibicarakan. Setiap kali kita meneruskan sebuah tuduhan, kitalah yang sedang mendalilkan — dan kita yang harus siap ditanya: mana buktinya?
Jamaah yang saya hormati, ada satu hal yang membuat semua ini terasa lebih dekat dari yang kita kira. Kabar yang sampai ke kita pekan ini bukan hanya tentang orang-orang besar. Ada juga kabar tentang keracunan pada program makan bergizi gratis — seorang orang tua bertanya di ruang publik, racun apa yang terdeteksi dalam ikan yang dimakan anaknya sampai ginjalnya bermasalah. Dan ada kabar tentang jerat judi online serta pinjaman daring yang menggerus penghasilan rumah tangga.
Perhatikan bedanya, saudara-saudara. Perkara yang pertama membuat kita ingin berdebat. Perkara yang kedua membuat orang menangis di rumahnya sendiri. Energi kita sering habis di yang pertama, sementara yang kedua terjadi tepat di sebelah kita. Ada tetangga kita yang anaknya sakit dan bingung harus mengadu ke mana. Ada tetangga kita yang gajinya sudah habis sebelum tanggal sepuluh karena aplikasi pinjaman.
Maka pertanyaan yang ingin saya titipkan malam ini bukan "siapa yang salah di perkara besar itu", melainkan "siapa yang sedang menunggu keadilan di jarak sepuluh langkah dari rumah kita, dan tidak ada yang datang".
Sebelum pulang, izinkan saya menawarkan tiga hal kecil yang bisa kita kerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, buka layar kita malam ini, cari satu pesan berisi tuduhan yang pernah kita teruskan, lalu tanyakan pada diri sendiri: apakah saya bisa menunjukkan sumbernya? Kalau tidak, cukup berhenti — tidak perlu diumumkan, cukup jangan diulangi.
Kedua, sebutkan satu nama orang yang selama ini membuat dada kita panas setiap kali namanya muncul, lalu doakan kebaikan untuknya malam ini juga. Cukup satu kalimat. Ini bukan soal dia; ini soal membersihkan sesuatu yang sedang menyiksa kita sendiri.
Ketiga, tanyakan besok pagi kepada satu tetangga yang anaknya bersekolah: bagaimana kabar anaknya, apakah semuanya baik-baik saja. Pertanyaan sederhana itu kadang menjadi pintu pertama bagi orang yang selama ini menahan cerita sendirian.
Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup dengan satu kesimpulan. Keadilan yang kita tuntut untuk negeri ini tidak akan pernah lebih bersih daripada keadilan yang kita jalankan di dalam dada kita sendiri. Orang yang hatinya senang melihat orang lain jatuh tidak sedang memperjuangkan keadilan — ia sedang memuaskan sesuatu yang lain, dan menamainya keadilan. Semoga Allah membersihkan kita dari penyakit itu, dan menjadikan kita orang yang menuntut bukti sebelum menuntut hukuman.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْحَسَدِ وَالْغِلِّ وَالْعُجْبِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحِبُّ لِإِخْوَانِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنْ قَوْلِ الزُّوْرِ، وَأَيْدِيَنَا مِنْ نَشْرِ الْبُهْتَانِ، وَقُلُوْبَنَا مِنْ حُبِّ سُقُوْطِ النَّاسِ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا وَأَهْلِيْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَعَافِ أَوْلَادَنَا فِيْ أَبْدَانِهِمْ وَدِيْنِهِمْ، وَنَجِّ جِيْرَانَنَا مِنَ الدُّيُوْنِ الْمُوْبِقَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
