بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ يَعْلَمُ مَا تُخْفِيْ الصُّدُوْرُ، وَلَا تَغِيْبُ عَنْهُ نِيَّةُ عَبْدٍ فِيْ سِرِّهِ وَلَا فِيْ عَلَانِيَتِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ قَالَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan yang baru saja kita lewati adalah pekan yang aneh. Tidak ada peristiwa besar yang benar-benar milik kita, tapi layar kita penuh sepanjang hari — rumah pensiun seorang presiden, potongan kalimat dua kepala negara, pertanyaan apakah negeri ini akan jadi pabrik kecerdasan buatan dunia. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesannya berangkat dari kebiasaan kecil yang mungkin tidak pernah kita sadari.
Siapa di sini yang pekan ini pernah menonton kabar tentang orang lain, lalu tanpa sengaja langsung mengukur diri sendiri? Membandingkan rumah, membandingkan pencapaian, membandingkan anak, membandingkan gaji. Atau sebaliknya: merasa lega karena ternyata kita masih lebih baik daripada orang di layar itu. Dua-duanya sama-sama pengukuran. Dan pengukuran itulah pintu yang paling sering dilewati oleh penyakit hati.
Allah berfirman dalam QS. At-Takwir: 26 dengan satu pertanyaan yang sangat pendek:
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
"Maka ke manakah kamu akan pergi?"
Empat kata dalam terjemahan kita, dua kata dalam bahasa aslinya. Tapi pertanyaan itu menggantung di udara dan tidak bisa dijawab dengan cepat. Ke mana kita sedang pergi? Bukan ke mana rombongan sedang pergi, bukan ke mana orang-orang di layar sedang pergi — ke mana kita. Ayat ini seperti seseorang yang menepuk bahu kita di tengah keramaian, lalu bertanya dengan tenang: kamu sendiri mau ke mana?
Para jamaah, di sinilah kita perlu jujur. Sebagian besar waktu kita pekan ini habis untuk mengetahui arah perjalanan orang lain. Kita tahu ke mana pejabat itu akan pensiun. Kita tahu apa yang mungkin terjadi pada industri teknologi negeri ini lima tahun lagi. Kita bahkan ikut memperkirakan arah keputusan rumah tangga orang lain — pekan ini ramai perdebatan tentang childfree, lengkap dengan hitungan untung-ruginya bagi ekonomi negara. Kita jadi ahli tentang arah semua orang, kecuali arah kita sendiri.
Imam al-Ghazali rahimahullah menulis satu pasal pendek yang menurut saya sangat mengena untuk zaman kita. Dalam Bidayatul Hidayah — العجب والكبر والفخر / حديث جامع في معاصي القلب, beliau menulis:
وأما العجب والكبر والفخر: فهو الداء العضال، وهو نظر العبد إلى نفسه بعين العز والاستظام، وإلى غيره بعين الاحتقار والذل، ونتيجته على اللسان أن يقول: أنا وأنا
"Adapun 'ujub, kibr, dan fakhr — maka itu adalah penyakit yang ganas dan sukar disembuhkan. Hakikatnya adalah seorang hamba memandang dirinya sendiri dengan pandangan kemuliaan dan keagungan, sementara memandang orang lain dengan pandangan rendah dan hina. Hasilnya pada lisan ialah ucapannya: 'Aku begini dan aku begitu.'"
Perhatikan diagnosisnya, jamaah. Beliau tidak menyebut penyakit ini sebagai kesalahan kecil. Beliau menyebutnya ad-dā' al-'udhāl — penyakit yang ganas dan sukar disembuhkan. Dan gejalanya beliau sebutkan dengan sangat spesifik: mata yang memandang diri sendiri dengan takjub, mata yang memandang orang lain dengan rendah, dan lidah yang akhirnya berbunyi "aku begini, aku begitu."
Yang membuat saya merinding adalah betapa akrabnya gejala itu dengan kehidupan kita hari ini. Kita tidak perlu naik mimbar untuk berkata "aku begini, aku begitu". Cukup dengan satu unggahan yang disusun rapi. Cukup dengan satu kalimat di grup keluarga yang sebenarnya tidak perlu ditulis. Cukup dengan satu komentar di bawah kabar orang lain yang isinya sebenarnya bukan tentang orang itu, melainkan tentang kita.
Dan yang lebih halus lagi, jamaah — kadang penyakit ini muncul dalam bentuk terbalik. Bukan "aku lebih baik", melainkan "kasihan sekali orang itu". Nada suaranya seperti empati, tapi isinya perbandingan juga. Kita menonton kesulitan orang lain lalu diam-diam merasa lebih beruntung. Al-Ghazali menyebut dua-duanya dengan satu nama, karena akar keduanya sama: kita menjadikan orang lain sebagai cermin untuk mengukur diri, padahal cermin kita bukan mereka.
Saya ingin mengembalikan kita ke pertanyaan ayat tadi. Ke manakah kita akan pergi? Kalau seluruh arah hidup kita ditentukan oleh perbandingan dengan orang lain, maka arah kita akan selalu berubah setiap kali muncul orang baru di layar. Hari ini kita ingin seperti si A, pekan depan seperti si B. Kita akan berjalan terus tanpa pernah sampai, karena garis finisnya dipindahkan oleh orang lain setiap hari.
Ada satu detail kecil dari pekan ini yang justru memberi kita jalan keluar. Ketika abu vulkanik menyebar dan orang-orang panik, seseorang menulis bahwa ia tahu jangkauan sebaran abu itu dari sebuah akun penggemar rute bus kota. Akun itu tidak sedang membangun citra. Ia hanya rajin dan kebetulan ada di sana. Dan justru karena tidak sibuk mengurus citranya sendiri, ia sempat berguna bagi ribuan orang.
Itulah obatnya, jamaah, dan obatnya sederhana: sibukkan diri dengan berguna, bukan dengan diukur. Orang yang sedang benar-benar bekerja tidak punya waktu untuk membandingkan dirinya. Perbandingan itu penyakit orang yang sedang menganggur secara batin.
Maka sebelum kita pulang malam ini, saya ingin menitipkan tiga hal yang bisa kita kerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, pilih satu orang yang pekan ini kita bandingkan dengan diri kita — lalu doakan dia diam-diam, sebut namanya, tanpa memberi tahu siapa pun. Doa adalah lawan langsung dari perbandingan. Kedua, kerjakan satu kebaikan malam ini yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun, sekecil apa pun: cuci piring yang bukan bagian kita, transfer sedikit ke orang yang kita tahu sedang sempit, kirim pesan ke guru lama. Ketiga, sebelum tidur, ganti kalimat "aku begini, aku begitu" dengan satu pertanyaan pendek dari ayat tadi: saya sendiri mau ke mana?
Jamaah yang saya hormati, kalau malam ini kita pulang dengan satu kalimat saja, biarlah kalimat itu adalah ini: yang paling menentukan nasib kita bukan seberapa jauh kita di depan orang lain, melainkan ke arah mana kaki kita sedang melangkah. Orang yang berjalan pelan ke arah yang benar akan sampai. Orang yang berlari kencang sambil menoleh ke kiri dan ke kanan akan kelelahan tanpa pernah tiba.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْعُجْبِ وَالْكِبْرِ وَالْفَخْرِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرٰى فَضْلَ غَيْرِهِ عَلٰى نَفْسِهِ.
اَللّٰهُمَّ اشْغَلْنَا بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ عَنْ مُقَارَنَةِ أَنْفُسِنَا بِهِمْ، وَاجْعَلْ لَنَا عَمَلًا صَالِحًا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا أَنْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَهْلِنَا وَبُيُوْتِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
