Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا مَنْ فَقَدَهَا، وَرَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَحْفَظُوْا مَا اسْتُوْدِعُوْا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah Ta'ala menyebutkan dalam Kitab-Nya satu sifat yang, kalau kita renungkan pelan-pelan, terasa sangat dekat dengan pekan yang baru saja kita lewati:
ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
QS. Ash-Shu'araa: 152 — "yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan."
Perhatikan susunan kalimatnya, hadirin yang dimuliakan Allah. Ayat ini tidak berhenti pada "membuat kerusakan". Ia menambahkan satu bagian kedua yang sering kita lewati: "dan tidak mengadakan perbaikan". Seolah-olah Allah hendak mengajarkan kepada kita bahwa dosa yang disebut di sini punya dua sisi. Sisi pertama adalah tangan yang merusak. Sisi kedua adalah tangan yang tahu ada kerusakan, mampu ikut memperbaiki, tetapi memilih diam dan berkata: itu bukan bagian saya.
Kita hidup pada zaman ketika sisi kedua jauh lebih umum daripada sisi pertama. Hampir tidak ada orang yang bangun pagi dengan niat meracuni anak orang lain. Tetapi ada banyak sekali tangan yang menyentuh sepiring makanan sebelum makanan itu sampai ke mulut seorang anak — tangan yang memilih bahan, tangan yang menyimpan, tangan yang memasak, tangan yang mengangkut, tangan yang mengawasi, tangan yang menandatangani. Dan bila setiap tangan itu merasa dirinya terlalu kecil untuk disebut bertanggung jawab, maka kerusakan bisa terjadi tanpa ada satu pun pelaku yang merasa merusak.
Ma'asyiral muslimin,
Dari berita pekan ini kita ketahui bahwa program makan bergizi gratis — sebuah program yang lahir dari niat baik untuk memperbaiki gizi anak-anak Indonesia — justru menjadi sumber kabar keracunan massal di banyak daerah sekaligus. Anak-anak sekolah, yang datang pagi hari dengan seragam rapi dan perut kosong, pulang dengan keluhan sakit setelah menyantap makanan yang dibagikan. Kabar itu tidak datang dari satu tempat. Ia datang berlapis-lapis, dari daerah yang berjauhan, dalam rentang hari yang berdekatan.
Yang paling menusuk dari kabar pekan ini bukan angkanya, jamaah Jumat. Yang paling menusuk adalah bentuk pertanyaan orang tuanya. Ada seorang orang tua yang menuliskan pertanyaannya secara terbuka: racun apa yang terdeteksi dalam ikan yang dimakan anaknya, sehingga ginjal anak itu menjadi bermasalah. Dengarkan sekali lagi kalimat itu. Ia tidak sedang berorasi. Ia tidak sedang menuntut jabatan siapa pun. Ia hanya ingin tahu apa yang sudah masuk ke dalam tubuh anaknya. Dan pertanyaan sesederhana itu, sampai hari ini, adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab dengan cepat.
Kabar yang sampai kepada kita juga memuat sisi lain yang sama ramainya: penghentian sementara sejumlah dapur penyedia, evaluasi di tingkat badan pengelola program, dan kritik atas desain kebijakannya. Di sini saya ingin mengajak kita berhati-hati, hadirin yang dimuliakan Allah. Dua hal ini nyata, tetapi bukan satu hal yang sama. Anak yang muntah di ruang kelas adalah persoalan kesehatan. Dapur yang dihentikan dan kebijakan yang dievaluasi adalah persoalan tata kelola. Keduanya perlu diselesaikan, tetapi dengan cara yang berbeda dan oleh pihak yang berbeda. Ketika kita meleburkan keduanya menjadi satu bola kemarahan, yang paling dirugikan justru keluarga korban — mereka terseret ke dalam pertengkaran besar, sementara yang mereka butuhkan hanyalah kepastian tentang kondisi anaknya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada pekan yang sama, langit di atas kita juga sedang tidak tenang. Abu vulkanik dari Anak Krakatau menyebar dan menutup permukaan-permukaan yang selama ini tidak pernah kita perhatikan: genteng rumah, jemuran, tutup tandon air, daun-daun di halaman. Peta zona merah beredar dari tangan ke tangan, diperbarui setiap beberapa jam. Dan ada satu keluhan warga yang beredar luas dengan nada getir — bahwa informasi tentang jangkauan sebaran abu justru lebih dulu sampai lewat kanal-kanal warga yang informal daripada lewat saluran yang seharusnya. Di saat yang sama, dari Sumatra dan Kalimantan, kabut asap karhutla menambah beban pada saluran napas yang sama. Seruan agar masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan memang telah disampaikan. Tetapi ketenangan tidak lahir dari imbauan, jamaah. Ketenangan lahir dari informasi yang datang lebih cepat daripada rasa takut.
Dan dari arah timur, kabar yang lain: pemulihan pascagempa di Flores dan penanganan banjir bandang di Nusa Tenggara Timur masih berjalan. Ada kesaksian warga tentang sebuah rumah yang tetap berdiri kokoh meski diterjang banjir bandang, sementara pemiliknya sempat mengucapkan selamat tinggal karena mengira tidak akan selamat. Rapat penanganan bencana digelar di tingkat pemerintahan. Dan di tengah semua ini, muncul refleks yang sangat manusiawi: pembelian masker melonjak, harganya ikut naik.
Ma'asyiral muslimin,
Kalau kita jajarkan semua kabar itu — makanan, udara, air, tanah yang bergetar — kita akan menemukan satu kata yang tidak pernah disebut di lini masa mana pun, tetapi hadir di semua ceritanya. Kata itu adalah titipan. Makanan yang dimasak tangan orang lain adalah titipan. Udara yang dihirup satu kampung bersama-sama adalah titipan. Air di tandon yang dipakai berwudhu dan memasak adalah titipan. Dan tubuh seorang anak kelas dua sekolah dasar, yang belum punya kemampuan menolak apa pun yang disodorkan kepadanya, adalah titipan yang paling rapuh dari semuanya.
Inilah yang dalam bahasa para ulama disebut hifz an-nafs — menjaga jiwa. Ia bukan tema pinggiran dalam syariat kita. Ia adalah salah satu tujuan pokok yang karenanya seluruh hukum ini diturunkan. Dan bersamanya berjalan hifz al-bi'ah — menjaga lingkungan hidup yang menopang jiwa itu: udara yang dihirup, air yang diminum, tanah yang ditanami. Umat Islam tidak menjaga udara dan air karena mengikuti tren dunia. Kita menjaganya karena syariat telah memerintahkannya empat belas abad lebih awal, dan karena kelak akan ada hisab atas setiap amanah yang kita pegang.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita masuk lebih dalam. Kalau tema pekan ini adalah nyawa yang dititipkan lewat makanan dan udara, maka pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: sejauh mana Islam mengurus perkara sekecil tutup panci?
Jawabannya mungkin akan mengejutkan sebagian kita. Diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim, Sahih Muslim 2014a:
«غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ»
"Tutuplah bejana dan ikatlah siqa' (wadah air dari kulit). Sebab dalam setahun ada satu malam, di mana turun di dalamnya wabah; dan wabah itu tidak melewati bejana yang tidak tertutup atau siqa' yang tidak terikat, melainkan akan turun sebagian dari wabah itu ke dalamnya."
Renungkanlah, hadirin. Ini adalah sabda seorang Nabi yang sedang membangun peradaban, yang sedang mengatur negara, yang sedang memimpin pasukan — dan beliau menyempatkan diri memerintahkan umatnya untuk menutup panci dan mengikat kantong air. Bagi sebagian orang, ini terdengar terlalu remeh untuk masuk ke dalam wahyu. Tetapi justru di situlah letak keagungannya. Syariat ini tidak memisahkan perkara besar dari perkara kecil, karena nyawa manusia sering hilang bukan lewat pintu besar, melainkan lewat celah kecil yang tidak dijaga.
Para ulama menjelaskan perintah ini dari dua sisi. Sisi pertama adalah sisi ghaib: ada ketetapan Allah yang tidak kita ketahui hakikatnya, dan tugas kita adalah taat. Sisi kedua adalah sisi hikmah yang bisa kita cerna: bahwa wadah yang terbuka adalah pintu masuk bagi apa pun yang mengotori. Debu, serangga, tangan yang belum dicuci, udara yang membawa partikel. Nabi ﷺ tidak sedang mengajarkan takhayul; beliau sedang mengajarkan disiplin. Dan disiplin itulah yang hari ini kita sebut dengan istilah modern: keamanan pangan.
Sekarang bawalah hadits ini ke dapur-dapur yang memasak untuk ribuan anak. Berapa banyak wadah yang berpindah tangan? Berapa jam makanan itu menunggu sebelum dimakan? Berapa panjang jarak antara panci dan meja kelas? Berapa banyak mata yang sempat memastikan tutupnya rapat? Kalau Rasulullah ﷺ memerintahkan menutup satu bejana di satu rumah, apa yang beliau perintahkan seandainya beliau melihat seribu wadah yang berjalan dari satu dapur ke dua puluh sekolah? Perintah itu tidak berkurang, jamaah — ia berlipat, sebanyak jumlah nyawa yang bergantung padanya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari perkara wadah, mari kita naik satu tingkat: ke perkara apa yang kita masukkan ke dalamnya. Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim membawakan firman Allah, pada bab berikut:
الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / السابع
{وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا}
"Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan." Lalu kitab itu mengutip perkataan sebagian ulama yang sangat masyhur: "Allah mengumpulkan dalam kalimat-kalimat ini seluruh ilmu kedokteran."
Kalimat itu bukan hiperbola, hadirin. Sebagian besar penyakit yang menghantui kita hari ini — yang menumpuk di ruang tunggu rumah sakit, yang menghabiskan tabungan keluarga — bermuara pada satu kata: berlebihan. Berlebihan gula, berlebihan garam, berlebihan minyak, berlebihan porsi, berlebihan larut malam. Islam tidak menunggu penelitian modern untuk mengatakannya. Ia sudah menuliskannya dalam satu ayat pendek yang kita baca sejak kecil tanpa benar-benar mendengarnya.
Dan kitab yang sama melanjutkan dengan satu prinsip yang jauh lebih dalam dari sekadar takaran: hendaklah seorang penuntut ilmu mengambil sikap wara' dalam seluruh urusannya, mencari yang halal dalam makanannya, minumannya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dan seluruh yang ia butuhkan bersama keluarganya — agar hatinya bercahaya dan layak menerima ilmu. Perhatikan urutannya, jamaah: makanan disebut lebih dulu, baru cahaya hati. Bukan sebaliknya. Ini adalah pengakuan syariat bahwa ada hubungan langsung antara apa yang masuk ke perut dengan apa yang tumbuh di hati. Dapur bukan wilayah netral. Dapur adalah wilayah tarbiyah.
Ma'asyiral muslimin,
Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim menuliskan satu contoh yang membuat kita semua kecil, pada bab berikut:
الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثامن
Yang paling layak diteladani dalam sikap wara' adalah junjungan kita Rasulullah ﷺ — ketika beliau tidak memakan sebutir kurma yang beliau dapati tergeletak di jalan, karena khawatir kurma itu termasuk harta sedekah, padahal kemungkinannya sangat kecil.
Satu butir kurma, hadirin. Bukan satu karung. Beliau menahan tangannya karena ada keraguan sebesar debu tentang asal-usulnya. Dan kitab itu menutup dengan kalimat yang menusuk: "Karena ahli ilmu itu diikuti dan diambil darinya — jika mereka tidak mengamalkan wara', siapa yang akan mengamalkannya?"
Kalimat itu, hadirin yang dimuliakan Allah, bukan hanya untuk ulama. Ia untuk setiap orang yang tangannya menyentuh makanan orang lain. Untuk juru masak. Untuk pengelola dapur. Untuk pemilik warung di depan sekolah. Untuk panitia yang menghitung anggaran konsumsi. Untuk ibu-ibu yang menyiapkan hidangan pengajian. Kalau Nabi ﷺ menahan diri dari satu butir kurma yang mungkin sedekah, bagaimana sikap kita terhadap satu bahan yang sudah kita ragukan kesegarannya, tetapi kita masukkan juga karena sayang dibuang, karena sudah terlanjur dibeli, karena besok belum tentu ada anggaran lagi?
Sikap wara' itu, dalam bahasa yang paling praktis, berbunyi begini: kalau ragu, jangan disajikan. Selesai. Tidak perlu perdebatan panjang. Satu keputusan kecil di dapur bisa menyelamatkan puluhan nyawa di ruang kelas.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekarang kita berpindah ke langit. Bagaimana Islam mengajarkan kita bersikap ketika sebuah wilayah terpapar sesuatu yang membahayakan — entah wabah, entah abu, entah asap?
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim, Sahih Muslim 2218d:
«هُوَ عَذَابٌ أَوْ رِجْزٌ أَرْسَلَهُ اللَّهُ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ نَاسٍ كَانُوا قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا عَلَيْهِ وَإِذَا دَخَلَهَا عَلَيْكُمْ فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا فِرَارًا»
"Ia adalah azab atau rijz yang Allah kirimkan atas suatu kaum dari Bani Israil — atau orang-orang yang sebelum kalian. Apabila kalian mendengarnya di suatu negeri, jangan kalian masuk kepadanya. Dan apabila ia masuk pada kalian di negeri kalian, jangan kalian keluar darinya lari."
Hadirin yang dimuliakan Allah, hadits ini adalah salah satu warisan paling menakjubkan dari Nabi kita. Empat belas abad sebelum dunia mengenal istilah karantina, beliau sudah meletakkan dua prinsipnya sekaligus, dalam satu kalimat pendek. Prinsip pertama: jangan mendatangi wilayah terdampak tanpa keperluan. Prinsip kedua: jangan lari keluar dari wilayah terdampak dalam keadaan panik. Yang pertama menjaga diri sendiri. Yang kedua menjaga orang lain — karena orang yang lari panik membawa serta apa yang ada padanya ke tempat yang masih bersih.
Dan perhatikan kata yang dipakai: firāran — melarikan diri. Yang dilarang bukan berpindah dengan tertib atas arahan yang berwenang. Yang dilarang adalah kabur karena panik, tanpa perhitungan, tanpa koordinasi. Islam tidak melarang evakuasi; Islam melarang kepanikan yang menular.
Bawa prinsip ini ke pekan kita. Ketika peta zona merah abu vulkanik beredar, sikap seorang mukmin bukanlah dua ekstrem yang sama-sama keliru: bukan menyepelekan dengan berkata "ah, cuma debu", dan bukan pula menyebarkan kepanikan dengan meneruskan setiap kabar yang belum jelas sumbernya. Sikap yang diajarkan adalah di tengah: taati arahan zona, lindungi yang rentan, jangan tambah kegaduhan. Inilah makna sesungguhnya dari tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Tenang bukan berarti lalai; waspada bukan berarti panik.
Ma'asyiral muslimin,
Ada satu ayat lagi yang ingin saya bacakan, dan ayat ini akan mengubah cara kita memandang seluruh persoalan pekan ini. Allah Ta'ala menceritakan pengakuan penghuni neraka ketika mereka ditanya apa yang memasukkan mereka ke dalamnya. Di antara jawaban mereka:
وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ
QS. Al-Muddaththir: 44 — "dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin."
Perhatikan, hadirin. Yang disebut di sini bukan "kami merampas makanan orang miskin". Bukan "kami menipu orang miskin". Yang disebut adalah: kami tidak memberi makan. Sebuah kelalaian. Sebuah ketiadaan tindakan. Dan kelalaian itu disebut sebagai salah satu sebab yang mereka akui sendiri.
Kalau tidak memberi makan saja sudah seberat itu timbangannya, bagaimana dengan memberi makan tetapi tidak menjaganya? Bagaimana dengan memegang amanah menyuapi ribuan anak, lalu lalai pada rantai yang menghubungkan dapur ke meja? Saya tidak sedang menghakimi siapa pun dari mimbar ini, jamaah — itu bukan wewenang kita, dan proses pemeriksaan sedang berjalan pada pihak yang berwenang. Yang sedang saya ajak renungkan adalah bobot syar'i dari pekerjaan memberi makan. Ia bukan pekerjaan administratif. Ia pekerjaan yang disebut namanya di hadapan neraka.
Dan di sisi lain ayat ini ada kabar gembira yang sepadan. Kalau kelalaian memberi makan seberat itu, maka ketekunan memberi makan — sepiring nasi untuk tetangga yang sakit, sebotol air bersih untuk keluarga yang tandonnya tertutup abu, sekantong lauk untuk lansia yang tinggal sendirian — juga punya bobot yang sepadan di sisi Allah. Ini pekerjaan yang tersedia untuk kita semua, mulai hari ini, tanpa perlu jabatan, tanpa perlu anggaran negara.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Maka apa yang bisa kita kerjakan pekan ini? Izinkan saya menyebut beberapa hal yang konkret, yang bisa kita mulai bahkan sebelum matahari terbenam hari ini.
Pertama, periksa dapur kita sendiri lebih dulu. Sebelum kita bicara tentang dapur besar milik orang lain, mari kita tengok wadah-wadah di rumah kita: apakah tertutup, apakah tandon air kita bertutup rapat terutama saat abu dan asap sedang beredar, apakah bahan yang sudah kita ragukan masih kita simpan dengan alasan sayang dibuang. Perubahan besar selalu dimulai dari meja makan sendiri.
Kedua, bereskan mutu konsumsi masjid dan pengajian kita. Setiap masjid punya jadwal konsumsi: pengajian rutin, buka bersama, acara tahlil, kegiatan remaja. Tunjuk satu atau dua orang sebagai penanggung jawab keamanan makanan — bukan jabatan formal, cukup kesepakatan. Tugasnya sederhana: memastikan makanan tidak menunggu terlalu lama, wadah tertutup, dan tidak ada bahan meragukan yang dipaksakan masuk.
Ketiga, jaga saluran napas yang paling rapuh di lingkungan kita. Selama abu dan asap masih beredar, ada tiga kelompok yang paling perlu dilindungi: balita, lansia, dan saudara kita yang punya riwayat gangguan pernapasan. Kenali siapa mereka di RT kita — biasanya tidak lebih dari lima sampai sepuluh keluarga. Pastikan mereka punya masker dan air bersih. Ini pekerjaan satu sore, bukan satu proyek.
Keempat, jadilah penyalur informasi yang menenangkan, bukan yang menggandakan kecemasan. Sebelum meneruskan kabar tentang zona terdampak, tanyakan dua hal: apakah sumbernya jelas, dan apakah orang yang menerima ini akan lebih siap atau justru lebih takut. Kalau jawabannya "lebih takut tanpa menjadi lebih siap", tahan jempol kita. Menahan satu kabar yang belum jelas adalah sedekah yang tidak terlihat.
Kelima, dampingi keluarga yang anaknya terdampak dengan cara yang benar. Yang mereka butuhkan bukan analisis kita tentang kebijakan, dan bukan ajakan untuk ikut marah. Yang mereka butuhkan adalah kehadiran: menemani ke fasilitas kesehatan, menjaga anak yang lain di rumah, mengantar makanan yang aman, dan mendoakan tanpa banyak berkomentar. Jangan jadikan musibah keluarga orang sebagai bahan perdebatan kita.
Keenam, salurkan kritik lewat jalur yang benar dan catat. Kalau kita menemukan kejanggalan pada layanan yang menyentuh nyawa orang banyak, sampaikan lewat kanal resmi yang tersedia dan simpan catatannya. Kritik yang tercatat memperbaiki sistem; kritik yang hanya menumpuk di grup pesan hanya memperberat dada kita sendiri.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Pekerjaan menjaga jiwa, menjaga makanan, menjaga udara, dan menjaga air ini bukan pekerjaan sukarela yang boleh kita ambil atau tinggalkan sesuka hati. Dalam bahasa para fuqaha, ia fardh kifayah — kewajiban kolektif yang gugur dari kita hanya jika sudah ada cukup orang yang menanganinya dengan baik. Kalau tidak ada yang cukup menanganinya, dosanya ditanggung bersama-sama. Dan pekan ini, kabar demi kabar seperti sedang bertanya kepada kita: apakah sudah cukup orang yang menanganinya?
Semoga Allah menyembuhkan anak-anak yang sedang terbaring, meneguhkan hati orang tua mereka, memperbaiki setiap tangan yang memegang amanah makanan umat, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperbaiki, bukan orang-orang yang berdiri menonton kerusakan sambil merasa bukan bagiannya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَافَانَا مِمَّا ابْتَلَى بِهِ كَثِيْرًا مِنْ خَلْقِهِ تَفْضِيْلًا، وَجَعَلَ حِفْظَ النُّفُوْسِ مِنْ مَقَاصِدِ شَرِيْعَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu hal yang ingin saya gali lebih dalam dari khutbah pertama tadi, dan ia berkaitan dengan cara kita memaknai musibah yang menimpa orang banyak. Ketika Rasulullah ﷺ menyebut wabah sebagai sesuatu yang pernah Allah kirimkan atas umat sebelum kita, beliau tidak sedang mengajarkan kita untuk menunjuk siapa yang berdosa sehingga musibah ini datang. Justru sebaliknya. Beliau langsung melanjutkan dengan perintah teknis: jangan masuk, jangan lari. Artinya, respons pertama seorang mukmin terhadap musibah kolektif bukan tafsir teologis, melainkan tindakan yang tertib. Menafsirkan lebih dulu, bertindak belakangan, adalah urutan yang terbalik — dan urutan terbalik itulah yang sering membuat umat sibuk berdebat sementara yang sakit belum tertangani.
Hal kedua yang perlu kita gali adalah soal kepercayaan. Sebuah masyarakat berjalan di atas ribuan kepercayaan kecil yang tak pernah ditulis dalam kontrak apa pun. Kita percaya air yang keluar dari keran tidak beracun. Kita percaya orang yang memasak untuk anak kita mencuci tangannya. Kita percaya bahwa ketika ada bahaya di udara, kita akan diberi tahu tepat waktu. Kepercayaan-kepercayaan ini tidak terlihat sampai ia patah. Dan ketika ia patah, yang rusak bukan hanya satu layanan — yang rusak adalah kesediaan orang untuk saling menitipkan diri. Memperbaiki kepercayaan jauh lebih lama daripada memperbaiki dapur. Karena itu, setiap dari kita yang memegang bahkan satu titik kepercayaan orang lain sedang memegang sesuatu yang jauh lebih mahal daripada yang terlihat.
Hal ketiga adalah soal siapa yang paling menanggung. Dalam setiap musibah yang menyentuh makanan, air, dan udara, ada satu golongan yang selalu paling akhir dilihat dan paling awal terdampak: mereka yang tidak punya pilihan. Anak yang hanya bisa makan apa yang disediakan. Lansia yang tidak punya tenaga mengantre masker. Keluarga yang tandon airnya terbuka karena tidak ada dana untuk menutupnya. Syariat kita menempatkan golongan ini bukan di pinggir, melainkan di pusat perhatian. Ukuran kesehatan sebuah masyarakat Muslim bukanlah seberapa baik keadaan yang paling kuat, melainkan seberapa cepat yang paling lemah tertolong.
Dan hal keempat: pekerjaan menjaga ini tidak pernah selesai dalam satu pekan. Abu akan reda, asap akan hilang, berita akan berganti. Yang tidak boleh ikut hilang adalah kebiasaan yang kita bangun selama pekan yang berat ini — menutup wadah, memeriksa mutu, menengok tetangga, menahan kabar yang belum jelas. Musibah yang berlalu tanpa meninggalkan kebiasaan baru adalah musibah yang terbuang sia-sia. Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang yang lupa secepat itu.
Marilah kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِنَا وَدُنْيَانَا وَأَهْلِيْنَا وَأَمْوَالِنَا، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَخُصُوْصًا أَطْفَالَنَا الَّذِيْنَ أَصَابَهُمُ الضَّرَرُ مِنْ طَعَامِهِمْ، اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الشَّافِيْ لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا، وَعَافِ أَبْدَانَهُمْ وَقُلُوْبَ آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ رِفْعَةً فِيْ دَرَجَاتِهِمْ وَتَكْفِيْرًا لِخَطَايَا وَالِدِيْهِمْ.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ طَعَامِنَا وَشَرَابِنَا، وَاحْفَظْ أَيْدِيَ الَّذِيْنَ يَصْنَعُوْنَ طَعَامَ النَّاسِ مِنَ الْغَفْلَةِ وَالْخِيَانَةِ، وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدَهُمْ وَأَمَانَتَهُمْ، وَاجْعَلْ فِيْ كُلِّ يَدٍ تَلْمِسُ قُوْتَ الضُّعَفَاءِ خَشْيَةً مِنْكَ وَمُرَاقَبَةً لَكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْوَبَاءَ وَالْبَلَاءَ، وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا نَزَلَ مِنَ السَّمَاءِ، وَطَهِّرْ هَوَاءَنَا وَمَاءَنَا وَتُرْبَتَنَا، وَاحْفَظْ صُدُوْرَ الصِّغَارِ وَالْكِبَارِ وَأَنْفَاسَهُمْ، وَاكْفِ عِبَادَكَ شَرَّ الدُّخَانِ وَالرَّمَادِ، يَا مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ.
اَللّٰهُمَّ الْطُفْ بِإِخْوَانِنَا الْمَنْكُوْبِيْنَ فِيْ كُلِّ أَرْضٍ زُلْزِلَتْ أَوْ غَرِقَتْ أَوِ احْتَرَقَتْ، اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ بُيُوْتَهُمْ وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوْا، وَثَبِّتْ قُلُوْبَهُمْ بِالصَّبْرِ الْجَمِيْلِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاسْقِ عَطْشَانَهُمْ، وَدَاوِ جَرِيْحَهُمْ، وَارْحَمْ شَهِيْدَهُمْ، وَاكْشِفْ كَرْبَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلٰى رَعِيَّتِهِمْ، وَأَعِنْهُمْ عَلٰى حِفْظِ أَرْوَاحِ النَّاسِ وَأَقْوَاتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا عَامِرَةً بِذِكْرِكَ، وَأَوْلَادَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
