Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKesehatan & KehidupanKamis, 10 September 2026

Kultum — "Sebutir Kurma yang Tidak Dimakan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الطَّعَامَ نِعْمَةً وَالْعَافِيَةَ أَمَانَةً، وَعَلَّمَنَا أَنَّ التَّقْوٰى تَبْدَأُ مِنْ لُقْمَةٍ طَيِّبَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ تَوَرَّعَ عَنْ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, hampir setiap hari kita membaca kabar tentang anak-anak sekolah yang mengeluh mual dan muntah setelah menerima makanan dari program makan bergizi gratis. Malam ini saya tidak ingin mengajak kita ikut marah. Saya ingin mengajak kita pulang membawa satu kebiasaan kecil yang, kalau kita rawat, akan menjaga banyak nyawa.

Saudara-saudara sekalian, coba jawab dalam hati saja: kapan terakhir kali kita benar-benar melihat apa yang kita masukkan ke mulut kita? Bukan melihat rasanya. Melihat asal-usulnya. Kita hidup di zaman ketika makanan datang sudah terbungkus rapi, sudah hangat, sudah tersaji — dan kita hampir tidak pernah bertanya lagi: ini dari mana, siapa yang memegangnya, sudah berapa lama ia menunggu?

Allah berfirman tentang makanan penghuni neraka:

لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِى مِن جُوعٍۢ

QS. Al-Ghaashiya: 7 — "yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar."

Ayat ini, para jamaah, berbicara tentang makanan di akhirat bagi mereka yang berpaling. Tetapi perhatikan cara Allah menggambarkannya. Allah tidak berkata makanan itu pahit atau busuk. Allah menyebut kegagalan fungsinya: ia tidak menggemukkan, ia tidak menghilangkan lapar. Ia berbentuk makanan, tetapi tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan makanan. Dan itulah gambaran paling menyeramkan tentang sesuatu yang kosong — ia tampak seperti nikmat, tetapi tidak membawa satu pun manfaat.

Sekarang bawa cermin itu ke dunia kita. Berapa banyak yang kita sebut makanan hari ini, yang sebetulnya hanya berbentuk makanan? Kenyang, tapi tidak menguatkan. Manis, tapi tidak menyehatkan. Ada label bergizi di kemasannya, tapi tubuh yang memakannya justru bermasalah. Kita tidak sedang membicarakan akhirat di sini — kita sedang membicarakan meja makan kita sendiri, dan kotak makanan yang dibawa anak kita ke sekolah.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita mendengar kabar yang berlapis-lapis. Ada anak-anak dari berbagai daerah yang jatuh sakit setelah menerima makanan program. Ada seorang orang tua yang bertanya secara terbuka — bukan menuntut, hanya bertanya — racun apa yang terdeteksi dalam ikan yang dimakan anaknya, sampai ginjal anak itu bermasalah. Ada pula kabar tentang penghentian sementara dapur penyedia dan evaluasi yang sedang berjalan di tingkat pengelola. Dan di langit, abu vulkanik Anak Krakatau serta kabut asap dari Sumatra dan Kalimantan membuat kita sadar bahwa bahkan udara dan air di tandon pun perlu dijaga.

Kalau semua kabar ini kita tumpuk, ada satu pertanyaan yang muncul: apa yang bisa dilakukan orang biasa seperti kita? Kita tidak mengelola dapur besar. Kita tidak menyusun kebijakan. Jawabannya ada pada sebuah kisah yang sangat kecil, yang justru karena kecilnya jadi tak terlupakan.

Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim menceritakan sesuatu yang sangat kecil, pada bab berikut:

الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثامن

Rasulullah ﷺ pernah menemukan sebutir kurma tergeletak di jalan. Beliau tidak memakannya. Alasannya: khawatir kurma itu termasuk harta sedekah, padahal kemungkinannya sangat kecil. Satu butir kurma, para jamaah. Bukan sekarung. Dan kemungkinannya pun kecil. Tetapi beliau menahan tangannya.

Kitab itu lalu menutup dengan kalimat yang membuat saya sendiri terdiam: "Karena ahli ilmu itu diikuti dan diambil darinya — jika mereka tidak mengamalkan wara', siapa yang akan mengamalkannya?" Artinya: sikap hati-hati itu menular. Kalau orang yang dilihat orang banyak sudah tidak hati-hati, maka tidak ada lagi yang tersisa untuk dicontoh.

Saya jadi ingat kebiasaan kita di rumah. Ada sayur sisa kemarin yang baunya sudah agak berubah, tapi kita hangatkan lagi karena sayang dibuang. Ada bahan yang sudah lewat tanggalnya sedikit, tapi kita pikir "ah, masih aman kok". Ada minyak yang sudah dipakai berkali-kali, sudah hitam, tapi masih kita tuang. Kita semua pernah, termasuk saya. Dan biasanya alasannya sama: sayang, mubazir, nanti rugi. Padahal Nabi kita menahan diri dari satu butir kurma yang bahkan belum tentu haram.

Di sinilah letak pesan malam ini, saudara-saudara sekalian. Hati-hati pada apa yang masuk ke tubuh bukanlah sikap berlebihan atau paranoid. Ia adalah bagian dari iman. Karena tubuh ini bukan milik kita — ia titipan. Dan tubuh anak kita, yang belum bisa menolak apa pun yang kita sodorkan, adalah titipan yang paling rapuh.

Kalau kita masih bisa memilih apa yang kita makan, kita sedang memegang sesuatu yang tidak dimiliki anak-anak yang menerima makanan dari dapur besar. Mereka tidak bisa memilih. Kita bisa. Dan kemampuan memilih itu sendiri adalah nikmat yang harus disyukuri dengan cara dipakai, bukan disia-siakan.

Lalu apa yang bisa kita kerjakan sebelum tidur malam ini? Tiga hal saja, dan semuanya sederhana. Pertama, buka lemari dan kulkas kita, ambil satu bahan yang sudah kita ragukan, lalu buang tanpa menawar — hitung itu sebagai amal, bukan sebagai kerugian. Kedua, pastikan tandon dan wadah air di rumah kita tertutup rapat; selama abu dan asap masih beredar, tutup itu bukan formalitas. Ketiga, besok pagi tengok satu keluarga tetangga yang punya balita atau lansia, tanyakan apakah mereka butuh masker atau air bersih — cukup satu keluarga, tidak perlu satu kampung.

Para jamaah, kita tidak bisa memperbaiki seluruh rantai makanan negeri ini malam ini. Tetapi kita bisa memperbaiki satu meter yang ada di depan kita: dapur kita, wadah kita, dan satu rumah tetangga di sebelah. Dan kalau setiap orang menjaga satu meter di depannya, tidak akan ada lagi celah yang cukup besar untuk dimasuki kelalaian.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا شَرَّ مَا يَدْخُلُ أَجْوَافَنَا، وَاجْعَلْ طَعَامَنَا عَوْنًا لَنَا عَلٰى طَاعَتِكَ. اَللّٰهُمَّ عَافِ أَبْدَانَنَا وَأَبْدَانَ أَوْلَادِنَا، وَاشْفِ كُلَّ طِفْلٍ مَرِيْضٍ فِيْ بِلَادِنَا، وَاحْفَظْ أَنْفَاسَنَا مِنْ كُلِّ دُخَانٍ وَرَمَادٍ يَضُرُّ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan