أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini lini masa kita kembali penuh oleh kabar perang — dari kawasan Selat Hormuz, dari Teheran, dari Gaza. Ada satu hal kecil yang ingin saya bagikan malam ini, dan ini soal kita sendiri, bukan soal mereka yang berperang.
Coba kita jawab dalam hati, jujur saja, tidak usah diucapkan. Berapa jam pekan ini kita habiskan menonton kabar perang? Dan berapa rupiah, berapa menit, berapa telepon yang benar-benar kita keluarkan untuk saudara-saudara kita yang sedang tertimpa? Kalau angka yang pertama jauh lebih besar dari yang kedua — dan saya menduga begitu, termasuk pada diri saya sendiri — maka ada sesuatu yang perlu kita bereskan malam ini.
Al-Imam al-Ghazali rahimahullah dalam Bidayatul Hidayah — القول في معاصى القلب / الحسد membuat sebuah perumpamaan yang lucu tetapi menampar. Beliau berkata: bayangkan seseorang yang menginginkan harta, lalu ia meninggalkan bercocok tanam, meninggalkan berdagang, meninggalkan segala bentuk usaha, kemudian duduk berpangku tangan. Ia berkata, "Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, milik-Nya seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Dia Mahakuasa memperlihatkan kepadaku salah satu simpanan-Nya sehingga aku tidak perlu lagi berusaha." Semua yang ia ucapkan itu benar. Allah memang Maha Pemurah. Tetapi, kata al-Ghazali, kalau kita mendengar orang berbicara begitu, kita akan menganggapnya bodoh dan menertawakannya. Lalu beliau membalikkan cermin itu ke arah kita: demikian pulalah para pemilik mata batin akan menertawakan kita ketika kita mencari ampunan tanpa usaha meraihnya. Beliau lalu membawakan firman Allah:
وَأَن لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Dan bahwasanya tidaklah bagi manusia kecuali apa yang telah diusahakannya." Demikian ayat yang dikutip al-Ghazali dari surat an-Najm ayat tiga puluh sembilan.
Para jamaah, saya ingin kita memindahkan perumpamaan itu ke keadaan kita pekan ini. Kita duduk berjam-jam menonton kabar perang. Dada kita panas. Mata kita basah. Kita membagikan tiga, empat, lima unggahan. Lalu kita tidur, dan besok kita ulangi. Dan di dalam hati kita tumbuh satu perasaan yang berbahaya: perasaan bahwa kita sudah berbuat sesuatu. Padahal yang kita lakukan hanyalah menonton dengan penuh perasaan. Menonton dengan penuh perasaan itu tetap menonton. Ia tidak mengangkat satu batu pun dari atas tubuh yang tertimbun, tidak membelikan satu bungkus makanan pun, tidak menyembuhkan satu luka pun.
Pekan ini kita dengar kabar dari Gaza: seratus jenazah diangkat dari bawah reruntuhan rumah dan bangunan yang dihancurkan, lalu dilepas sebagai syuhada setelah tiga tahun terkubur. Tiga tahun, jamaah. Dan yang menarik — atau lebih tepatnya yang menyedihkan — kabar seberat itu justru hampir tidak beredar. Yang beredar jauh lebih luas adalah rekaman seorang tentara bayaran yang merekam tank melintas untuk akun pribadinya. Kita, sebagai umat, memilih yang seru di atas yang berat. Dan pilihan itu bukan pilihan algoritma; algoritma hanya membaca jempol kita.
Ada satu lagi yang beredar pekan ini: candaan agar orang berlatih membuat drone atau bom rakitan untuk persiapan melawan Israel. Saya tidak akan memarahi yang menulisnya. Saya hanya ingin kita melihat pola yang sama di baliknya. Kalimat itu terdengar berani, tetapi tidak menuntut apa-apa. Ia gratis. Dan segala yang gratis di ruang percakapan biasanya juga tidak berharga di timbangan amal.
Lalu apa yang berharga? Al-Ghazali dalam bagian lain kitab yang sama, Bidayatul Hidayah — آداب العلاقة بالمعارف, membawakan sabda Nabi ﷺ:
مَا اصْطَحَبَ اثْنَانِ قَطُّ إِلَّا وَكَانَ أَحَبُّهُمَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَرْفَقَهُمَا بِصَاحِبِهِ
"Tidaklah dua orang bersahabat melainkan yang paling Allah cintai di antara keduanya adalah yang paling lembut kepada sahabatnya."
Jamaah yang saya hormati, perhatikan ukurannya. Bukan yang paling banyak bicara. Bukan yang paling keras membela. Yang paling lembut, yang paling banyak menolong, yang paling dahulu bergerak. Dan pada bagian yang sama kitab itu merinci adab persahabatan: mengutamakan saudara dengan harta; kalau belum sanggup, memberikan kelebihan harta ketika saudara membutuhkan; menolong dengan diri sendiri dalam berbagai kebutuhan, dengan cara bergegas, tanpa perlu saudara itu meminta lebih dulu. Tanpa perlu diminta. Itu kuncinya.
Maka malam ini, sebelum kita pulang, saya mengajak kita menetapkan tiga hal yang bisa dikerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan.
Pertama, keluarkan sesuatu malam ini juga. Sekecil apa pun. Lewat lembaga yang jelas laporannya, bukan lewat tautan yang muncul di kolom komentar. Kalau kita sanggup menonton satu jam, kita sanggup menyisihkan seharga satu gelas kopi.
Kedua, potong satu rantai kabar. Besok pagi, ketika ada kabar perang masuk ke grup kita tanpa sumber yang jelas, jangan diteruskan. Cukup tulis satu kalimat: "Sumbernya dari mana ya?" Satu pertanyaan itu sering menghentikan puluhan penerusan berikutnya.
Ketiga, telepon satu orang. Bukan tokoh, bukan pejabat — tetangga kita sendiri, atau saudara kita yang sudah lama tidak kita hubungi. Karena orang yang tidak sanggup lembut kepada tetangganya, biasanya juga tidak sedang benar-benar mencintai saudaranya yang jauh; ia hanya sedang menikmati perasaannya sendiri.
Para jamaah, semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang yang banyak menonton, banyak berkomentar, lalu berdiri di hari perhitungan dengan tangan kosong. Marilah kita berdoa.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْحَسَدِ وَالْغِلِّ وَالْعُجْبِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحِبُّ لِإِخْوَانِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَيْدِيَنَا مِنْ نَشْرِ مَا لَا نَعْلَمُ، وَقُلُوْبَنَا مِنَ الظَّنِّ السَّيِّئِ بِعِبَادِكَ
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ ضُعْفَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِنَا وَدُنْيَانَا وَأَهْلِيْنَا وَأَمْوَالِنَا، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
