Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِيَدِهِ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ، خَلَقَ الْأَرْضَ وَالْجِبَالَ وَالْبِحَارَ، وَجَعَلَ فِيْ تَقَلُّبِ الْأَحْوَالِ آيَاتٍ لِلْمُتَفَكِّرِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ زَادٍ وَأَوْثَقُ حِصْنٍ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Allah berfirman dalam surah Al-Mursalat, ayat kesepuluh:
وَإِذَا ٱلْجِبَالُ نُسِفَتْ
"Dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu." (QS. Al-Mursalaat: 10)
Hadirin yang dimuliakan Allah, kita mendengar ayat ini pekan ini dengan telinga yang berbeda. Selama bertahun-tahun ayat ini kita baca sebagai gambaran hari kiamat yang jauh, sesuatu yang kita bayangkan dengan mata terpejam. Pekan ini, sebagian dari kita membacanya sambil menyeka lapisan abu dari kaca mobil di halaman rumah. Gunung yang berdiri di tengah Selat Sunda melepaskan isinya ke udara, dan debu itu sampai ke tempat-tempat yang tidak pernah merasa dekat dengan gunung mana pun. Ayat tentang gunung yang dihancurkan menjadi debu tiba-tiba tidak lagi terasa sebagai puisi tentang masa depan yang jauh. Ia terasa seperti latihan kecil yang diperlihatkan Allah kepada kita di depan pintu rumah.
Dari kabar yang sampai kepada kita pekan ini, kita ketahui bahwa aktivitas Anak Krakatau meningkat dan pemantauan Badan Geologi menempatkan statusnya pada level tiga. Peta sebaran abu diperbarui berjam-jam sekali, dan orang membagikannya seperti membagikan jadwal keberangkatan. Penerbangan dibatalkan, sejumlah bandara ditutup, dan jalur udara di atas Selat Sunda tertutup sebaran abu yang jauh lebih luas daripada yang diperkirakan banyak orang. Anak-anak di beberapa daerah tidak jadi berangkat sekolah pagi itu; kelas berpindah ke layar telepon genggam orang tua yang sebetulnya juga sedang bingung. Dan sementara itu, di dua pulau lain, api dan asap terus bekerja tanpa perlu diliput: titik panas di Sumatra dan Kalimantan menyalakan kabut asap yang sudah kita kenal berulang-ulang, tapi yang pekan ini kalah ramai oleh gunung yang lebih fotogenik.
Kabar yang paling menusuk justru datang dari sisi yang paling sunyi. Seorang jurnalis dilaporkan hilang di Selat Sunda saat sedang meliput peristiwa ini. Ada manusia yang mendekat ke arah bahaya supaya kita yang jauh bisa tahu apa yang sedang terjadi, dan sebagian dari kita menerima hasil kerjanya sambil berbaring, lalu melanjutkan gulir jari ke video berikutnya. Mari kita berhenti sejenak di titik ini dan mendoakannya, karena doa adalah bentuk pengakuan paling jujur bahwa kita berutang kepada orang-orang yang tidak kita kenal.
Dan di Nusa Tenggara Timur, pemulihan setelah gempa masih berjalan. Pekan ini beredar kesaksian seorang warga tentang rumahnya yang tetap berdiri kokoh setelah diterjang banjir bandang — padahal pemiliknya sudah sempat mengucapkan selamat tinggal kepada rumah itu. Kalimat "selamat tinggal" yang diucapkan seseorang kepada rumahnya sendiri adalah kalimat yang seharusnya menghentikan kita lebih lama daripada rekaman letusan mana pun. Itu adalah suara manusia yang sudah selesai berharap, lalu diberi kejutan oleh Allah berupa harapan yang kembali.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, dari empat kabar itu kita bisa menarik satu pertanyaan yang jujur: apa sebenarnya yang sedang Allah ajarkan kepada kita lewat bumi yang bergerak? Ada dua jawaban keliru yang beredar luas pekan ini, dan keduanya sama-sama menjauhkan kita dari maksud ayat. Jawaban keliru yang pertama datang dari sikap terlalu berani menafsir: ada yang membaca rangkaian bencana ini sebagai hukuman yang ditujukan kepada golongan tertentu, sebagai "reset" yang dikirim alam karena rakyat dianggap gagal mengubah keadaan. Jawaban keliru yang kedua datang dari sikap terlalu pasrah: menganggap semua ini takdir yang tidak perlu direspons dengan persiapan apa pun, cukup diterima sambil beristighfar.
Keduanya salah bukan karena kurang religius, melainkan karena keduanya sama-sama memotong separuh ajaran. Yang pertama memotong adab kita terhadap ilmu Allah; yang kedua memotong perintah Allah untuk berusaha. Khutbah kita hari ini ingin meluruskan dua hal itu sekaligus, lalu menurunkannya menjadi amal yang bisa kita kerjakan sepulang dari masjid ini.
Mari kita mulai dari yang pertama. Dalam riwayat Bukhari, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, disebutkan bahwa ketika terjadi gerhana matahari, Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat dengan bacaan yang panjang, rukuk yang panjang, dan sujud yang panjang. Setelah selesai dan matahari sudah terang kembali, beliau berkhutbah di hadapan orang-orang dan bersabda:
Sahih al-Bukhari 1047
إِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ
"Sesungguhnya keduanya adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah; keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena kelahirannya."
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita perhatikan konteks turunnya sabda itu. Pada masa itu, orang Arab terbiasa membaca peristiwa langit sebagai kode tentang nasib tokoh besar. Gerhana dianggap sebagai pertanda kematian seorang pembesar atau kelahiran seorang penting. Dan kebetulan, gerhana itu terjadi pada hari wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah ﷺ. Semua bahan untuk membuat tafsir yang menggetarkan sudah tersedia. Nabi ﷺ hanya perlu diam, dan orang-orang akan menyimpulkan sendiri bahwa langit sedang berkabung atas putranya. Beliau tidak melakukannya. Beliau justru berdiri dan memutus rantai tafsir itu dengan satu kalimat: gerhana bukan tentang si fulan, hidup atau matinya.
Inilah pelajaran adab yang sedang kita butuhkan pekan ini. Ketika bumi bergerak, godaan terbesar kita bukan kufur — godaan terbesar kita adalah menjadikan musibah sebagai amunisi untuk menuding pihak yang tidak kita sukai. Menjadikan gunung sebagai juru bicara opini politik kita. Menjadikan asap sebagai stempel kutukan atas satu wilayah atau satu kelompok. Rasulullah ﷺ menutup pintu itu rapat-rapat, dan beliau menutupnya justru ketika keadaan sedang paling menguntungkan bagi dirinya sendiri.
Tetapi perhatikan, hadirin, beliau tidak berhenti pada penolakan. Beliau tidak berkata "ini fenomena alam biasa, kembalilah bekerja." Kalimat berikutnya justru memerintahkan segera menuju shalat. Artinya, membatalkan tafsir yang salah bukan berarti membatalkan makna. Gerhana tetap ayat. Erupsi tetap ayat. Gempa, banjir bandang, dan asap yang menutup langit tetap ayat. Bedanya, ayat itu tidak ditujukan untuk menjelaskan aib orang lain; ia ditujukan untuk menggerakkan kaki kita sendiri menuju Allah. Tanda-tanda itu bukan berita tentang mereka. Tanda-tanda itu surat untuk kita.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sekarang kita masuk ke kekeliruan yang kedua, yaitu pasrah yang membatalkan usaha. Imam al-Ghazali rahimahullah dalam Bidayatul Hidayah — القول في معاصى القلب / الحسد memberikan perumpamaan yang tajam sekali. Beliau menggambarkan seseorang yang menginginkan harta, lalu meninggalkan bercocok tanam, meninggalkan perdagangan, meninggalkan segala bentuk usaha, dan duduk berpangku tangan sambil berkata: sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, milik-Nya seluruh perbendaharaan langit dan bumi, dan Dia Maha Kuasa memperlihatkan kepadaku salah satu simpanan-Nya sehingga aku tidak lagi memerlukan usaha. Al-Ghazali lalu berkata: seandainya kita mendengar ucapan orang seperti ini, kita pasti menganggapnya bodoh dan menertawakannya — padahal semua yang ia sebutkan tentang kemurahan dan kekuasaan Allah itu benar. Kalimatnya benar; posisi duduknya yang salah. Kemudian beliau membawakan firman Allah:
«وَأَن لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى»
"Dan bahwasanya tidaklah bagi manusia kecuali apa yang telah diusahakannya."
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita jujur mengukur diri. Berapa banyak dari kita yang, ketika bicara tentang bencana, berperilaku persis seperti orang dalam perumpamaan itu? Kita mengucapkan kalimat-kalimat yang benar — Allah Maha Melindungi, Allah yang menentukan ajal, tidak ada yang terjadi kecuali dengan izin-Nya — lalu kita gunakan kalimat-kalimat benar itu sebagai alasan untuk tidak menyiapkan apa pun. Tidak tahu ke mana harus berkumpul jika terjadi sesuatu di malam hari. Tidak punya satu pun masker layak di rumah ketika udara memburuk. Tidak tahu di mana surat-surat penting keluarga disimpan. Tidak pernah sekali pun membicarakan dengan anak-anak apa yang harus mereka lakukan jika mereka sedang sendirian di rumah.
Iman tidak pernah mengajarkan kita duduk. Iman mengajarkan kita bergerak dengan hati yang tenang. Orang yang menyiapkan tas siaga bukan orang yang kurang tawakal; ia justru orang yang memahami bahwa Allah menitipkan sebab-sebab kepada kita untuk dipakai. Nabi ﷺ menyuruh mengikat unta lebih dahulu sebelum bertawakal, dan itu bukan pengurangan iman, melainkan bentuk iman yang matang. Menyiapkan diri terhadap musibah adalah ibadah yang belum banyak kita hitung sebagai ibadah.
Ma'asyiral muslimin, ada lapisan ketiga yang tidak boleh kita lewatkan, dan lapisan ini justru yang paling merusak diam-diam pekan ini. Yaitu lidah dan jempol kita. Pekan ini ada keluhan yang sangat jujur beredar di ruang publik: informasi tentang sejauh mana abu vulkanik menyebar justru lebih dahulu sampai ke warga lewat akun penggemar rute transportasi kota, bukan lewat kanal yang seharusnya menjadi rujukan. Ketika kanal resmi terasa lambat, ruang kosong itu tidak pernah tetap kosong. Ia diisi oleh judul-judul yang dibuat semenakutkan mungkin, oleh potongan rekaman lama yang diedarkan sebagai kejadian hari ini, dan oleh kesimpulan-kesimpulan besar yang dibuat orang yang tidak pernah membaca satu pun laporan pemantauan.
Dalam riwayat Muslim, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu memberikan kaidah yang seharusnya kita tempel di layar telepon genggam kita masing-masing. Ketika beliau diberi tahu bahwa ada orang di masjid yang menafsirkan Al-Quran dengan pendapatnya sendiri, beliau berkata:
Sahih Muslim 2798b
مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ
"Siapa yang memiliki ilmu, hendaklah ia berbicara dengan ilmunya; dan siapa yang tidak tahu, hendaklah ia berkata: Allah lebih tahu."
Lalu beliau menambahkan kalimat yang lebih tajam lagi: sesungguhnya termasuk kefaqihan seseorang adalah ketika ia tidak tahu, ia berkata "Allah lebih tahu". Hadirin, mari kita renungkan kalimat itu baik-baik. Ibnu Mas'ud tidak menyebut kejujuran mengakui ketidaktahuan sebagai kelemahan yang bisa dimaafkan. Beliau menyebutnya sebagai bagian dari fiqih — bagian dari kedalaman pemahaman agama seseorang. Artinya, dalam timbangan sahabat, orang yang berani berkata "saya tidak tahu" itu sedang menunjukkan ilmunya, bukan menyembunyikan kebodohannya.
Sekarang mari kita bandingkan dengan kebiasaan kita. Ketika sebuah kabar bencana masuk ke grup keluarga, berapa detik jarak antara membaca dan meneruskan? Sering kali kurang dari lima detik. Kita tidak sempat memeriksa, tidak sempat bertanya, tidak sempat menimbang. Dan kita meneruskannya dengan niat yang kita anggap baik: supaya orang lain waspada. Padahal kabar yang salah di tengah bencana bukan sekadar keliru — ia memindahkan orang ke arah yang salah, membuat orang menimbun barang yang tidak perlu, dan membuat orang tidak lagi percaya pada peringatan yang benar ketika peringatan itu akhirnya datang.
Menahan satu kabar yang belum jelas adalah sedekah. Menulis "saya belum tahu kebenarannya" di bawah pesan yang kita teruskan adalah amal. Dan mengganti satu pesan berantai dengan satu tautan pemantauan resmi adalah dakwah, meskipun tidak seorang pun akan memuji kita karenanya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, setelah adab terhadap ilmu dan adab terhadap usaha, syariat kita ternyata menyediakan perangkat yang lebih dari sekadar sikap. Ia menyediakan ibadah yang khusus dirancang untuk keadaan seperti pekan ini. Dalam Fath al-Qarib — كتاب أحكام الصلاة / • صلاة الاستسقاء disebutkan:
وصلاة الاستسقاء مسنونة لمقيم ومسافر عند الحاجة من انقطاع غيث أو عين ماء ونحو ذلك
"Shalat istisqa itu disunnahkan, baik bagi yang bermukim maupun yang sedang bepergian, ketika ada kebutuhan berupa terputusnya hujan atau keringnya sumber air dan semisalnya."
Perhatikan susunan amal yang disebutkan setelahnya, hadirin, karena di sinilah letak kedalaman fiqih kita. Sebelum orang-orang keluar untuk shalat meminta hujan, imam memerintahkan mereka bertaubat. Lalu disebutkan rangkaiannya:
والصدقة، والخروج من المظالم للعباد ومصالحة الأعداء، وصيام ثلاثة أيام
"Bersedekah, keluar dari kezaliman terhadap sesama hamba, mendamaikan permusuhan, dan berpuasa tiga hari."
Ma'asyiral muslimin, mari kita baca daftar itu pelan-pelan. Untuk meminta hujan, syariat tidak menyuruh kita memperbanyak bacaan saja. Syariat menyuruh kita membereskan hubungan. Keluar dari kezaliman terhadap sesama hamba — artinya mengembalikan hak orang yang pernah kita ambil, meminta maaf atas tanah yang kita geser patoknya, melunasi upah yang kita tunda. Mendamaikan permusuhan — artinya menelepon saudara yang sudah bertahun-tahun tidak kita sapa. Bersedekah — artinya mengeluarkan harta pada saat kita sendiri sedang merasa terancam.
Betapa jauhnya ini dari cara kita biasa membayangkan doa. Kita biasa membayangkan doa sebagai permintaan yang naik ke atas. Syariat mengajarkan bahwa sebelum permintaan itu naik, ada beban yang harus kita turunkan lebih dahulu. Dan jika kita sedang membicarakan asap yang menutup langit Sumatra dan Kalimantan setiap tahun, maka "keluar dari kezaliman" bukan sekadar urusan pribadi. Ia menyentuh cara kita memperlakukan lahan, cara kita membuang sisa, cara kita memilih jalan pintas yang murah bagi kita dan mahal bagi tetangga sebelah pulau.
Hadirin yang dimuliakan Allah, hal yang sama disebutkan pula dalam Fath al-Qarib — كتاب أحكام الصلاة / • صلاة الكسوف والخسوف tentang khutbah setelah shalat gerhana:
ويحث الناسَ في الخطبتين على التوبة من الذنوب وعلى فعل الخير من صدقة وعتق
"Dan ia mendorong orang-orang dalam dua khutbah itu untuk bertaubat dari dosa-dosa dan mengerjakan kebaikan berupa sedekah dan pembebasan budak."
Polanya sama persis, hadirin. Setiap kali langit menunjukkan sesuatu yang tidak biasa, arah yang diajarkan syariat selalu sama: taubat dan sedekah. Bukan tebak-tebakan tentang siapa yang bersalah. Bukan perlombaan menafsirkan tanda. Tetapi dua gerakan sederhana — memperbaiki hubungan dengan Allah, dan melepaskan sebagian harta untuk manusia. Empat belas abad sebelum kita mengenal istilah manajemen kebencanaan, syariat sudah menempatkan solidaritas material sebagai respons wajar terhadap guncangan alam.
Ma'asyiral muslimin, izinkan kita berhenti sebentar pada satu kata dalam susunan tadi: keluar dari kezaliman terhadap sesama hamba. Kalau kita membacanya hanya sebagai urusan utang-piutang antartetangga, kita telah memperkecilnya. Kezaliman terhadap sesama hamba juga terjadi ketika seseorang membakar lahan demi biaya yang lebih murah, lalu asapnya masuk ke paru-paru anak orang lain yang tidak pernah ikut menikmati keuntungannya. Ia terjadi ketika sampah dibuang ke saluran air, lalu air itu meluap ke rumah orang di ujung gang. Ia terjadi ketika pohon ditebang tanpa perhitungan, lalu tanah longsor menimpa kampung di bawahnya. Semua itu adalah kezaliman yang pelakunya jarang merasa sedang berbuat zalim, karena korbannya tidak berhadapan langsung dengannya. Dan justru kezaliman semacam inilah yang paling sulit ditaubati — sebab kita tidak tahu kepada siapa harus meminta maaf.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu hal lagi yang perlu kita akui dengan rendah hati pekan ini. Perhatian kita tidak adil. Satu gunung menyerap hampir seluruh mata kita, sementara asap yang membakar pernapasan warga di dua pulau berjalan hampir tanpa penonton. Ini bukan dosa yang disengaja; ini cara kerja perhatian manusia yang selalu tertarik pada yang paling terang dan paling cepat. Tetapi iman datang justru untuk memperbaiki kecenderungan itu. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita perhatian yang mencari yang tidak terlihat: beliau menanyakan seorang perempuan yang biasa membersihkan masjid ketika ia beberapa hari tidak tampak, dan ketika tahu ia telah wafat dan dimakamkan tanpa memberi tahu beliau, Rasulullah ﷺ mendatangi kuburnya lalu menyalatkannya. Beliau tidak menunggu berita besar untuk peduli. Beliau mencari yang hilang dari pandangan. Dan itulah standar yang seharusnya kita pakai pekan ini: bukan siapa yang paling ramai diberitakan, melainkan siapa yang paling jarang ditanyakan.
Dan di sinilah kita menemukan makna amanah yang sesungguhnya. Bumi ini bukan milik kita; ia titipan. Kita bukan pemilik, kita khalifah yang dititipi. Menjaga udara agar layak dihirup anak-anak, menjaga air agar tetap bisa diminum, menjaga hutan agar tidak dibakar demi keuntungan yang sebentar — semuanya bukan urusan tren global, melainkan amanah yang akan ditanya di yaumil hisab. Dan menjaga itu adalah fardhu kifayah: kewajiban bersama yang gugur dari kita masing-masing hanya jika ada cukup orang yang mengerjakannya, dan menjadi dosa bersama jika kita semua saling menunggu.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita turunkan semua ini menjadi amal yang bisa kita kerjakan mulai hari ini.
Pertama, mari kita periksa kesiapan rumah kita masing-masing pekan ini. Satu tas berisi dokumen penting, obat rutin keluarga, air, senter, dan masker; satu titik kumpul yang disepakati bersama anak-anak; satu nomor keluarga di luar kota yang bisa dihubungi kalau jaringan lokal padat. Ini pekerjaan satu jam, dan kita sudah menundanya bertahun-tahun.
Kedua, mari kita sepakati di dalam keluarga dan lingkungan kita satu kanal rujukan untuk kabar bencana, lalu berkomitmen tidak meneruskan apa pun yang tidak terkonfirmasi di sana. Kalau kita ragu, cukup tulis "belum jelas sumbernya" dan biarkan pesan itu berhenti pada kita. Menghentikan kabar palsu adalah amal yang tidak terlihat, dan justru karena tidak terlihat, ia bersih dari riya.
Ketiga, mari kita alihkan sebagian perhatian kita ke saudara-saudara di daerah berasap. Mereka tidak mendapatkan sorotan sebesar gunung, tetapi paru-paru anak-anak mereka sedang bekerja lebih keras setiap hari. Masker layak, penyaring udara sederhana untuk satu ruangan, atau sekadar biaya berobat — semuanya lebih berguna daripada satu unggahan simpati.
Keempat, mari kita hidupkan kembali shalat istisqa di lingkungan kita ketika kemarau menekan dan air menipis, dengan susunan yang lengkap sebagaimana diajarkan: bertaubat, bersedekah, menyelesaikan sengketa dengan tetangga, dan berpuasa. Jangan hanya diambil bagian shalatnya lalu ditinggalkan bagian yang paling berat.
Kelima, mari kita jadwalkan perhatian kita. Simpati pekan ini akan mereda dalam sepuluh hari; pemulihan di Nusa Tenggara Timur akan berjalan berbulan-bulan. Tulis di kalender: satu kunjungan atau satu kiriman terjadwal setiap dua pekan selama tiga bulan ke depan. Kebaikan yang dijadwalkan mengalahkan kebaikan yang diserahkan pada suasana hati.
Keenam, mari kita ajarkan kepada anak-anak kita cara membaca peristiwa ini. Bukan sebagai kutukan atas siapa pun, bukan pula sebagai kebetulan tanpa makna, melainkan sebagai panggilan yang lembut dari Allah agar kita kembali. Anak yang diajari membaca tanda sejak kecil tidak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang panik atau orang dewasa yang sinis.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ، وَجَعَلَ فِيْ كُلِّ آيَةٍ عِبْرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan kita menggali satu sisi yang belum sempat kita bahas tadi. Kita hidup di negeri yang berdiri di atas pertemuan lempeng bumi dan barisan gunung berapi. Itu bukan kemalangan; itu identitas geografis yang Allah pilihkan untuk kita. Tanah yang subur di Jawa dan Sumatra adalah hadiah dari abu vulkanik yang sama, yang pekan ini membuat kita menutup pintu dan jendela. Nikmat dan ujian datang dari satu sumber yang sama, hanya berbeda waktu penyampaian. Orang yang memahami ini tidak akan pernah bertanya "kenapa harus kami?", karena ia sudah tahu bahwa kesuburan yang ia nikmati bertahun-tahun berasal dari mesin yang sama dengan yang hari ini menggetarkan rumahnya.
Sisi kedua yang perlu kita gali adalah ketimpangan perhatian kita sendiri. Pekan ini, sebuah gunung menyerap hampir seluruh mata publik, sementara asap yang membakar pernapasan warga di dua pulau lain berjalan hampir tanpa penonton. Ini bukan kesalahan siapa-siapa secara pribadi; ini cara kerja perhatian manusia. Yang meledak menarik mata; yang menyiksa pelan-pelan tidak. Tetapi justru karena itulah kita perlu iman — sebab iman adalah kemampuan untuk peduli pada apa yang tidak sedang menarik perhatian. Malaikat pencatat tidak menghitung berapa banyak yang kita tonton; ia mencatat kepada siapa kita datang.
Sisi ketiga adalah pertanyaan tentang setelahnya. Dalam waktu sepuluh hari, abu akan disapu, penerbangan akan normal, anak-anak akan kembali ke sekolah, dan lini masa kita akan penuh hal lain. Tetapi keluarga yang rumahnya rusak masih akan tidur di tempat yang bukan rumahnya. Warga yang kehilangan sumber penghidupannya masih akan menghitung ulang dari nol. Di sinilah ujian kita yang sebenarnya berada — bukan pada pekan ketika semua orang peduli, melainkan pada pekan kelima ketika tidak ada lagi yang bertanya. Kebaikan yang bertahan setelah lampu sorot padam adalah kebaikan yang paling menyerupai keikhlasan.
Dan sisi keempat, jamaah, adalah tentang lidah kita. Sebagian dari kita pekan ini merasa telah berbuat sesuatu karena telah membagikan seruan mendoakan negeri ini. Doa itu baik dan jangan sekali-kali kita remehkan. Tetapi mari kita jujur: doa yang tidak diikuti langkah apa pun perlahan berubah menjadi cara yang sopan untuk merasa selesai. Nabi ﷺ berdoa, dan beliau juga mengirim, menampung, menggalang, dan mendampingi. Mari kita satukan keduanya pekan ini — mulut yang memohon kepada Allah, dan tangan yang bergerak untuk manusia.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هٰذِهِ الرِّيَاحِ وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنَ الزَّلَازِلِ وَالْبَرَاكِيْنِ وَالْحَرَائِقِ وَالدُّخَانِ وَالْفَيَضَانَاتِ، وَاصْرِفْ عَنَّا مَا لَا نُطِيْقُ مِنَ الْبَلَاءِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُتَضَرِّرِيْنَ فِيْ سَاحِلِ سُونْدَا وَفِيْ فُلُوْرِيْسَ وَفِيْ كُلِّ أَرْضٍ أَصَابَهَا الْبَلَاءُ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاخْلُفْ عَلَيْهِمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوْا.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ صُدُوْرَ الْمُصَابِيْنَ بِالدُّخَانِ وَالْغُبَارِ، وَاحْفَظْ أَطْفَالَنَا وَشُيُوْخَنَا وَمَرْضَانَا، وَطَهِّرْ هَوَاءَنَا وَمَاءَنَا وَأَرْضَنَا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ مَنْ خَرَجَ لِإِنْقَاذِ النَّاسِ وَلِنَقْلِ الْخَبَرِ الصَّادِقِ، وَرُدَّ الْغَائِبِيْنَ إِلٰى أَهْلِيْهِمْ سَالِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ، وَأَطْفِئْ بِهِ الْحَرَائِقَ، وَأَنْبِتْ بِهِ الزَّرْعَ، وَأَحْيِ بِهِ الْأَرْضَ الْمَيْتَةَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحْفَظُوْنَ أَمَانَتَكَ فِيْ أَرْضِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ فِيْهَا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَيْدِيَنَا مِنْ نَشْرِ مَا لَا نَعْلَمُ، وَقُلُوْبَنَا مِنَ الظَّنِّ السَّيِّئِ بِعِبَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فُكَّ أَسْرَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَعِنْهُمْ عَلٰى حِفْظِ الْأَرْوَاحِ وَالْأَمْوَالِ وَالْبِيْئَةِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.
