Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ قَسَمَ الْأَرْزَاقَ بَيْنَ عِبَادِهِ بِحِكْمَتِهِ، وَجَعَلَ الْكَسْبَ الطَّيِّبَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْبَرَكَةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah. Marilah kita buka khutbah pekan ini dengan satu ayat yang pendek, keras, dan sangat dekat dengan apa yang sedang beredar di layar kita.
QS. Al-Mutaffifin: 1
وَيْلٌۭ لِّلْمُطَفِّفِينَ
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang."
Hanya dua kata dalam bahasa aslinya, hadirin. Tetapi dua kata itu berisi satu ancaman yang tidak main-main, dan ia dijatuhkan bukan kepada perampok, bukan kepada pembunuh, melainkan kepada orang yang mengurangi takaran. Orang yang, kalau kita temui di pasar, mungkin ramah, rajin, dan tidak pernah dicurigai siapa-siapa. Kecurangannya kecil, tersembunyi di dalam timbangan, dan justru karena kecil itulah ia bertahan lama.
Yang bisa kita ambil dari ayat ini, jamaah, adalah bahwa Allah menaruh perhatian yang sangat serius pada selisih. Bukan pada perampasan yang terang-terangan, tetapi pada selisih yang disembunyikan — bagian kecil yang diambil dari orang lain tanpa ia sadari, berulang-ulang, sampai terkumpul menjadi kekayaan. Dan kalau kita memahami ayat ini dengan tenang, kita akan melihat bahwa seluruh mesin yang sedang kita bicarakan pagi ini dibangun persis di atas prinsip itu.
Karena, jamaah, mari kita bicara jujur tentang apa yang beredar pekan ini. Dari kabar yang sampai kepada kita, satu unggahan ramai dibicarakan: usul agar sebuah pemerintah daerah membuat sendiri aplikasi judi online palsu supaya kas daerahnya bertambah, dengan alasan anggaran daerah itu jauh lebih kecil daripada daerah tetangganya. Usul itu beredar sebagai keluhan yang dijadikan lelucon, bukan sebagai kebijakan siapa pun, dan tidak seorang pun perlu kita tuding pagi ini. Yang perlu kita perhatikan adalah bahwa lelucon itu bisa lucu — bahwa cukup banyak orang merasa masuk akal membayangkan rumah judi sebagai sumber pemasukan, dan hanya mempersoalkan siapa yang memiliki mesinnya.
Di arus yang sama pekan ini, di layar yang sama, beredar pula video-video yang membandingkan bank digital mana yang paling menguntungkan. Tidak ada yang haram pada video semacam itu; menabung dan mencari tempat menyimpan yang aman adalah urusan yang wajar. Tetapi perhatikan bahwa kedua tontonan itu duduk bersebelahan di jempol yang sama, dan keduanya menjawab satu pertanyaan yang sama: di mana uang bisa bertambah paling cepat dengan usaha paling sedikit. Yang satu masih di jalur yang sah, yang satu sudah di luar; tetapi cara berpikirnya sudah bersaudara.
Dan pekan ini juga, hadirin, beredar sebuah gambar yang membuat banyak orang terdiam: seorang ibu yang mengecek kartu bantuannya lima kali dalam sehari, dan saldonya tetap kosong. Di dekatnya muncul kabar kisruh data desil dan pencabutan bantuan sosial untuk sebagian keluarga yang merasa datanya dipindahkan ke kelompok yang lebih mampu. Kalau kita letakkan dua gambar itu berdampingan — laki-laki yang menekan tombol putar tengah malam dan ibu yang menyegarkan halaman saldonya di pagi hari — kita akan menemukan sesuatu yang sangat pahit. Keduanya sedang melakukan gerakan yang sama. Menatap layar. Menunggu satu angka berubah. Tanpa ada satu pun pekerjaan di tangan mereka yang bisa mengubah angka itu.
Itulah penyakitnya, jamaah, dan penyakit itu lebih dalam daripada satu aplikasi. Yang sedang menyebar bukan sekadar perjudian; yang sedang menyebar adalah putusnya hubungan antara kerja dan hasil. Ketika seseorang sudah percaya bahwa hasil datang dari keberuntungan dan bukan dari jalan yang ditempuh, maka menabung terasa bodoh, bekerja terasa lambat, dan menunggu di depan layar terasa seperti sedang berusaha.
Dan pekan ini kita juga mendengar kemarahan publik di sekitar dorongan pengesahan aturan perampasan aset, yang dalam percakapannya tidak berhenti pada koruptor, melainkan berlanjut pada jarak — pada perasaan bahwa yang di atas dan yang di bawah seperti hidup di dua ekonomi yang berbeda. Perasaan itu nyata, jamaah, dan kita tidak perlu menyangkalnya di mimbar. Tetapi kita perlu jujur pada satu hal: rasa tertinggal adalah tanah yang paling subur bagi tawaran melompat. Ketika seseorang merasa tangganya sudah dicabut, iklan yang menjanjikan lompatan akan terdengar seperti pertolongan.
Maka pertanyaan yang ingin saya bawa sepanjang khutbah ini satu saja, jamaah: kalau nasib tidak bisa dibeli di layar, lalu di mana Islam meletakkan pintu rezeki, dan mengapa syariat begitu keras menutup pintu yang satu ini?
Mari kita mulai dari sabda Nabi ﷺ yang paling tajam gambarannya tentang permainan untung-untungan.
Sahih Muslim 2260
مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ
"Barangsiapa bermain nardasyir, seakan-akan ia mencelup tangannya di daging dan darah babi."
Perhatikan pilihan gambarnya, hadirin. Dalam riwayat ini tidak disebut jumlah uang yang hilang — padahal kerugian harta itu benar dan mudah dibuktikan. Yang disebut adalah tangan. Tangan yang tercelup. Sesuatu yang menempel di badan, yang bisa dilihat, yang membuat orang menjauh dan membuat pelakunya sendiri ingin segera mencuci diri.
Yang bisa kita renungkan dari gambaran itu, jamaah, adalah bahwa kerusakannya bukan hanya pada dompet, melainkan pada diri. Seorang yang kalah bertaruh kehilangan uang; tetapi seorang yang terus bertaruh kehilangan sesuatu yang lebih dalam — ia kehilangan rasa jijiknya. Dan ketika rasa jijik itu hilang, tangan tidak lagi terasa kotor. Itu sebabnya orang bisa memutar mesin peluang pada malam Jumat, lalu bangun subuh, lalu membuka aplikasi itu lagi seperti membuka aplikasi pesan. Bukan karena ia tidak tahu itu salah, tetapi karena tangannya sudah tidak merasa apa-apa.
Dan di sini, jamaah, kita perlu berhati-hati dengan nada kita. Riwayat ini menamai perbuatannya dengan tegas, tetapi menamai perbuatan bukan berarti membuang orangnya. Kalau ada di antara kita yang tangannya sudah tercelup — dan hampir pasti ada, karena mesin ini masuk ke telepon setiap orang tanpa mengetuk — maka gambaran hadits ini bukan hukuman untuknya, melainkan cermin, dan cermin selalu diberikan supaya orang bisa membersihkan diri, bukan supaya ia berhenti keluar rumah.
Lalu muncul pertanyaan yang sering diajukan anak-anak muda kita, dan pertanyaan ini jujur, bukan bandel: kalau bertaruh dilarang, apakah semua bentuk lomba dan hadiah juga dilarang? Kalau ada uang di dalam sebuah pertandingan, apakah otomatis ia menjadi judi? Untuk itu syariat sudah menyediakan babnya sendiri, dan kita akan membacanya sebentar.
Fath al-Qarib — كتاب أحكام السبق والرمى
وَتَصِحُّ الْمُسَابَقَةُ عَلَى الدَّوَابِّ
"Dan sah perlombaan di atas binatang-binatang tunggangan."
Kitab fiqh ini, hadirin, membuka babnya tentang perlombaan dan memanah dengan menyatakan bahwa perlombaan itu sah — sah berlomba di atas kuda, unta, gajah, bagal, dan keledai. Jadi bukan lombanya yang dipersoalkan. Islam tidak memusuhi pertandingan, tidak memusuhi kecepatan, tidak memusuhi hadiah. Tetapi bacalah kalimat berikutnya di bab yang sama:
ولا تصح المسابقة على بقر، ولا على نطاح الكباش، ولا على مهارشه الديكة، لا بعوض ولا غيره.
"Dan tidak sah perlombaan dengan menggunakan sapi, tidak pula adu tanduk antar domba jantan, tidak pula adu jago ayam — tidak sah baik dengan hadiah maupun tanpa hadiah."
Di kalimat inilah, jamaah, letak pelajaran yang paling berguna untuk pekan ini. Perhatikan bahwa adu jago dan adu domba dinyatakan tidak sah bahkan tanpa taruhan. Artinya persoalannya bukan sekadar ada-tidaknya uang; ada sesuatu pada bentuk kegiatannya sendiri yang membuatnya tidak layak menjadi arena. Dan sebaliknya, ketika kitab ini membahas munadhalah — saling memanah — ia mensyaratkan dua hal yang sangat teknis: jarak antara pemanah dan sasaran harus diketahui, dan cara penilaiannya harus diketahui. Bukan diserahkan pada keberuntungan, bukan digantung pada ketidakjelasan.
Susunan bab ini, sejauh yang bisa kita baca, memberi kita ukuran yang sederhana dan bisa dipakai orang awam: sebuah pertandingan layak ketika di dalamnya ada keterampilan nyata yang dilatih, manfaat yang bisa dijelaskan, dan aturan yang jelas bagi kedua pihak; dan ia kehilangan kelayakannya ketika hasilnya digantungkan pada sesuatu yang tidak bisa diketahui siapa pun. Ukurlah aplikasi-aplikasi yang beredar itu dengan ukuran ini, jamaah. Keterampilan apa yang dilatih ketika seseorang menekan tombol putar? Jarak berapa yang diketahui? Aturan mana yang bisa dibaca kedua belah pihak? Yang ada hanya satu pihak yang mengetahui seluruh angkanya, dan satu pihak lain yang hanya diberi tahu bahwa ia sedang beruntung.
Dan di sinilah ayat pembuka khutbah kita tadi kembali dengan sangat tajam. Keuntungan sebuah bandar tidak lahir dari kelihaiannya bermain; ia lahir dari selisih yang sudah dipasang sebelum permainan dimulai dan tidak diberitahukan kepada pemain. Itu adalah pengurangan takaran, hadirin — hanya saja dilakukan dengan cara yang lebih canggih daripada memiringkan neraca di pasar. Timbangan yang dikurangi diam-diam dan mesin yang dipasang untuk selalu menang pada akhirnya adalah satu keluarga.
Lalu bagaimana syariat menangani orang yang sudah masuk? Di sini kita akan menemukan kelembutan yang khas, jamaah. Karena pada riwayat berikut, larangan itu datang bersama obatnya.
Sahih Muslim 1647a
وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ . فَلْيَتَصَدَّقْ
"Dan barangsiapa mengatakan kepada temannya: 'Mari aku berjudi denganmu,' hendaklah ia bersedekah."
Renungkan betapa halusnya tuntunan ini, jamaah. Yang disebut di sini bahkan bukan perbuatan bertaruhnya; yang disebut adalah ucapan mengajaknya. Baru mengajak, baru satu kalimat di grup atau di pesan pribadi — "ayo main, deposit kecil aja" — dan sudah ada perbaikan yang harus dilakukan. Dan perbaikan yang diminta bukan sekadar menyesal, bukan sekadar menghapus pesan. Yang diminta adalah mengeluarkan harta.
Perhatikan arah gerakannya: ajakan bertaruh adalah gerakan menarik harta orang lain kepada diri sendiri; sedekah adalah gerakan mengeluarkan harta dari diri sendiri kepada orang lain. Yang bisa kita ambil dari susunan ini adalah bahwa penyembuhannya dibuat berlawanan arah dengan penyakitnya. Bukan dengan pengakuan di hati saja, melainkan dengan tangan yang dipaksa bergerak ke arah yang sebaliknya. Dan bagi kita hari ini, hadirin, ini bisa langsung dijalankan: setiap kali ada dorongan untuk membuka aplikasi itu, atau setiap kali kita hampir meneruskan tautan itu kepada seseorang, sisihkan uang — sekecil apa pun — dan berikan kepada yang membutuhkan sebelum dorongan itu selesai. Tangan yang biasa mengeluarkan tidak mudah dipakai untuk mencelup.
Dan sebelum kita melangkah lebih jauh, hadirin, ada satu pembedaan yang harus kita jaga baik-baik di mimbar ini. Ada jarak yang jauh antara orang yang merancang mesinnya dan orang yang terjerat di dalamnya. Yang pertama menghitung dengan tenang, menyiapkan selisihnya, dan tidak pernah ikut bermain. Yang kedua kehilangan uang belanja, menyembunyikan tagihan dari istrinya, dan tidak tidur karena menghitung tanggal jatuh tempo. Keduanya berada di dalam satu perbuatan yang dilarang, tetapi keduanya tidak berada dalam satu keadaan. Kepada yang pertama, syariat berbicara tentang harta yang dikumpulkan dari kesulitan orang banyak. Kepada yang kedua, syariat berbicara tentang jalan keluar.
Maka kalau pekan ini ada di antara kita yang datang ke masjid dengan tagihan di telepon dan rasa malu di dada, khutbah ini bukan sedang menunjuk kepadanya. Ia sedang membukakan pintu untuknya. Karena dalam Islam tidak ada satu pun kesalahan harta yang tidak punya jalan pulang: berhenti hari ini, catat yang tersisa, minta bantuan kepada orang yang bisa dipercaya, dan mulai membayar sedikit demi sedikit. Dan kepada kita yang tidak sedang terjerat, tugasnya juga jelas — jangan menjadi orang yang membuat pintu itu terasa lebih berat untuk dilewati.
Sekarang mari kita masuk ke akar yang paling dalam, jamaah, karena judi hanyalah gejala. Akarnya adalah keyakinan bahwa hasil bisa datang tanpa jalan. Imam al-Ghazali rahimahullah dalam Bidayatul Hidayah — القول في معاصى القلب / الحسد membuat sebuah perumpamaan yang terasa seperti ditulis pekan ini. Beliau membayangkan seseorang yang menginginkan harta, lalu meninggalkan bercocok tanam, meninggalkan berdagang, meninggalkan segala bentuk usaha, dan duduk berpangku tangan. Orang itu berkata: sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, milik-Nya seluruh perbendaharaan langit dan bumi, dan Dia Maha Kuasa memperlihatkan kepadaku salah satu simpanan-Nya sehingga aku tidak lagi memerlukan usaha.
Setiap kalimat dalam alasan orang itu benar, hadirin. Allah memang Maha Pemurah. Perbendaharaan langit dan bumi memang milik-Nya. Dia memang Maha Kuasa. Tetapi Imam al-Ghazali rahimahullah mengatakan bahwa siapa pun yang mendengar perkataan semacam itu akan menganggapnya bodoh dan menertawakannya — dan beliau lalu membawakan firman Allah:
وَأَن لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Dan bahwasanya tidaklah bagi manusia kecuali apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm: 39)
Inilah cermin yang paling jernih untuk pekan ini, jamaah. Orang yang menekan tombol putar tengah malam sedang mengucapkan alasan yang sama persis: Allah Maha Pemurah, rezeki bisa datang dari mana saja, siapa tahu malam ini bagianku. Semua premisnya benar, kesimpulannya keliru. Karena kemurahan Allah tidak pernah dijanjikan sebagai pengganti usaha; ia dijanjikan sebagai berkah di atas usaha. Dan kalau kita tidak berani meninggalkan usaha dalam urusan dunia — kita tetap berangkat kerja, tetap membuka warung, tetap mengantar barang — maka janganlah kita meninggalkan usaha dalam urusan rezeki yang halal lalu menyerahkannya kepada mesin peluang.
Ada satu sisi lagi yang harus kita sebut, hadirin, dan kita menyebutnya dengan hati-hati. Allah berfirman:
QS. Al-An'aam: 123
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِى كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَٰبِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا۟ فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya."
Ayat ini bukan izin bagi kita untuk menunjuk-nunjuk orang di mimbar, jamaah, dan saya tidak akan menyebut satu nama pun pagi ini. Yang diberikan ayat ini kepada kita adalah dua hal. Pertama, pengakuan bahwa tipu daya yang dirancang secara rapi memang ada di setiap negeri, di setiap zaman — jadi kita tidak perlu heran, dan tidak perlu menganggap diri hidup di zaman yang paling buruk. Kedua, dan ini bagian yang paling menenangkan: mereka yang merancang tipu daya itu, pada akhirnya, sedang menipu diri mereka sendiri tanpa menyadarinya. Uang yang dikumpulkan dari kekalahan orang banyak tidak akan menjadi ketenangan bagi siapa pun yang mengumpulkannya. Maka doa kita untuk mereka adalah doa perbaikan, bukan doa kehancuran; dan tugas kita bukan mengutuk mesinnya dari jauh, melainkan memutus rantainya di lingkungan yang bisa kita jangkau.
Ada satu lagi sisi yang jarang kita sebut di mimbar, jamaah, padahal ia yang paling sering menjerat orang baik-baik. Bukan soal orang yang bermain, melainkan soal orang yang meneruskan. Dan untuk itu ada sebuah riwayat yang sangat sederhana, hampir sepele kalau dibaca cepat, tetapi ia menyimpan satu adab yang besar.
Sahih Muslim 2614b
مَرَّ بِأَسْهُمٍ فِي الْمَسْجِدِ قَدْ أَبْدَى نُصُولَهَا فَأُمِرَ أَنْ يَأْخُذَ بِنُصُولِهَا كَىْ لاَ يَخْدِشَ مُسْلِمًا
"Bahwa seseorang lewat di masjid membawa beberapa anak panah yang telah tampak mata-mata panahnya. Maka ia diperintahkan untuk memegang ujung-ujung mata panahnya, agar tidak melukai seorang muslim."
Perhatikan kejadiannya, hadirin. Orang ini tidak sedang berbuat jahat. Ia tidak melempar panah, tidak mengancam siapa-siapa, tidak berniat melukai. Ia hanya membawa barangnya melintasi ruang yang dipakai bersama, dengan mata panah terbuka. Dan itu saja sudah cukup untuk membuatnya diperintahkan menutup ujung yang tajam dengan tangannya sendiri.
Yang bisa kita ambil dari adab ini sangat langsung untuk keadaan kita. Ruang bersama kita hari ini adalah grup keluarga, grup alumni, grup pekerjaan, grup rukun tetangga. Dan yang kita bawa melintasinya sering kali punya ujung yang tajam: tautan rujukan taruhan yang dikirim "cuma buat lucu-lucuan", tangkapan layar kemenangan seseorang yang dibagikan tanpa keterangan, nomor pemberi pinjaman kilat yang diteruskan karena kasihan pada teman yang sedang kepepet. Niat kita mungkin bersih. Tetapi ujungnya terbuka, dan di grup itu ada orang yang sedang berjuang berhenti, ada anak yang baru punya telepon, ada bapak yang sedang panik dengan tagihannya. Satu tautan yang lewat di ruang bersama bisa melukai orang yang tidak kita lihat.
Maka adab yang diperintahkan di riwayat itu berlaku untuk kita: pegang ujung tajamnya sebelum melangkah. Sebelum meneruskan apa pun yang berhubungan dengan taruhan atau pinjaman kilat, tanyakan satu hal — siapa yang paling lemah di grup ini, dan apakah ini akan melukainya? Kalau jawabannya tidak jelas, jangan diteruskan. Itu bukan kelemahan; itu adab menjaga saudara.
Dan kalau kita naikkan pandangan sedikit, jamaah, kita akan melihat bahwa seluruh urusan ini bukan urusan pribadi masing-masing orang. Syariat menjaga harta umat dan menjaga akal umat sebagai amanah bersama — dua sumbu yang keduanya sedang digerogoti oleh mesin peluang. Harta digerogoti karena selisih yang tersembunyi memindahkan uang dari banyak rumah ke satu rumah; akal digerogoti karena orang dilatih berhenti berpikir tentang sebab dan akibat, lalu mulai berpikir tentang keberuntungan. Dan pekerjaan menjaga dua sumbu ini adalah fardh kifayah atas kita — kewajiban bersama yang gugur dari masing-masing kita hanya jika ada cukup orang yang menanganinya, dan menjadi tanggungan bersama bila terbengkalai.
Itu artinya, hadirin, kita tidak bisa menyelesaikan urusan ini dengan berkata "yang penting saya sendiri tidak bermain". Selamat sendiri bukan penyelesaian ketika yang rusak adalah lingkungan. Ada tetangga yang perlu diberi tahu cara mengenali aplikasi pinjaman tak berizin, ada remaja yang perlu diajari membaca perjanjian sebelum menekan tombol setuju, ada warung yang perlu didorong berhenti menerima titipan setoran. Semuanya kecil, semuanya bisa dikerjakan orang biasa, dan semuanya akan ditanyakan pada hari perhitungan sebagai amanah yang kita pegang di tempat kita berdiri.
Maka, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita bawa pulang beberapa langkah yang bisa dikerjakan pekan ini, dan semuanya kecil supaya benar-benar dikerjakan.
Pertama, bersihkan telepon sendiri lebih dulu sebelum menasihati orang lain. Bukan hanya aplikasi taruhannya, tetapi juga kanal-kanal yang memasarkannya: grup tautan, akun yang membagikan kode rujukan, dan pesan berantai yang masih tersimpan. Hapus malam ini, sebelum tidur.
Kedua, hentikan penerusan di tangan kita. Setiap tautan taruhan atau pinjaman kilat yang kita teruskan kepada satu orang akan diteruskan lagi olehnya kepada beberapa orang. Cukup kita berhenti, dan satu cabang penyebaran mati di situ.
Ketiga, buka percakapan angka yang tenang di rumah. Bukan interogasi, bukan penggeledahan telepon anak. Cukup satu pertanyaan pada waktu makan: apakah ada utang yang belum diketahui bersama? Dan kalau ada, dengarkan sampai habis sebelum menanggapi. Rasa malu adalah alasan utama mengapa angka utang disembunyikan sampai membengkak.
Keempat, sediakan pintu keluar yang tidak mempermalukan di lingkungan kita. Satu orang yang dipercaya di rukun tetangga, yang bersedia menemani mencatat total utang, memisahkan yang berbunga dari yang tidak, dan menyusun rencana cicilan yang realistis. Tanpa pengumuman, tanpa daftar nama.
Kelima, sisihkan sedekah sebagai penebus dorongan. Setiap kali dorongan untuk bertaruh datang, keluarkan uang untuk orang lain — sekecil apa pun — sebelum dorongan itu reda. Ini tuntunan yang tadi kita baca, dan ia bekerja karena melatih tangan bergerak ke arah yang berlawanan.
Keenam, dampingi satu keluarga yang bantuan sosialnya sedang bermasalah sampai berkasnya beres. Ini kelihatan tidak berhubungan dengan judi, jamaah, tetapi hubungannya justru paling kuat: yang paling melemahkan iman seseorang pada usaha adalah pengalaman bahwa mengurus sesuatu dengan benar ternyata tidak mengubah apa-apa. Setiap satu berkas yang berhasil dibereskan adalah satu bukti bahwa jalan yang lurus masih berfungsi.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا فَاسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ التَّوْبَةَ بَابًا مَفْتُوْحًا لِعِبَادِهِ، وَجَعَلَ الرِّزْقَ الْحَلَالَ سَبَبًا لِطُمَأْنِيْنَةِ الْقُلُوْبِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, izinkan saya menggali tiga sisi yang tadi baru kita sentuh permukaannya.
Sisi pertama adalah tentang siapa yang sebenarnya sedang kita bicarakan. Mudah sekali membayangkan pemain taruhan sebagai orang yang serakah, dan sebagian mungkin memang begitu. Tetapi urutan yang paling sering terjadi bukan seperti itu. Yang paling sering terjadi adalah: seseorang kalah lebih dulu, lalu berutang untuk menutupinya, lalu berutang lagi untuk menutup utang yang pertama. Ia tidak masuk ke pinjaman kilat karena ingin bermewah-mewah; ia masuk karena sudah tersudut. Kalau kita salah membaca urutan ini, nasihat kita akan salah alamat — kita akan menceramahi orang tentang keserakahan padahal yang ia rasakan adalah ketakutan. Dan orang yang ditakut-takuti lagi akan menyembunyikan angkanya lebih dalam, bukan membukanya.
Sisi kedua adalah tentang keluarga yang duduk di sebelahnya. Di setiap satu orang yang terjerat, ada istri yang menghitung sisa uang belanja, ada anak yang tidak paham mengapa ayahnya mudah marah, ada ibu yang menahan cerita dari saudara-saudaranya. Mereka tidak melakukan apa pun, tetapi mereka menanggung. Maka kalau kita hendak menolong, jangan berhenti pada orangnya; tanyakan juga keadaan rumahnya. Kadang pertolongan yang paling nyata bukan menutup utangnya — yang sering di luar kemampuan kita — melainkan memastikan dapurnya menyala pekan ini dan anaknya tetap bersekolah.
Sisi ketiga adalah tentang tugas kita yang paling sering dilewatkan: menyediakan alternatif, bukan hanya larangan. Melarang tanpa memberi jalan hanya memindahkan orang dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Yang mengubah keadaan adalah ketika di lingkungan kita benar-benar ada tempat untuk meminjam tanpa bunga dalam jumlah kecil, benar-benar ada orang yang bisa dimintai tolong membaca perjanjian pinjaman, dan benar-benar ada pekerjaan sampingan yang bisa dikerjakan orang yang sedang menutup utang. Larangan adalah pagar; alternatif adalah pintu. Rumah yang hanya berpagar tanpa pintu akan dipanjati.
Dan sisi terakhir, jamaah, adalah tentang kesabaran kita sendiri. Kebiasaan yang dibangun berbulan-bulan tidak putus dalam satu Jumat. Akan ada yang berhenti lalu kembali, lalu berhenti lagi. Tugas kita bukan menghitung kegagalan mereka, melainkan memastikan pintu tetap terbuka pada percobaan yang keenam sebagaimana ia terbuka pada percobaan yang pertama. Begitulah Allah memperlakukan kita dalam taubat, dan begitulah semestinya kita memperlakukan saudara kita.
Marilah kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ أَيْدِيَنَا مِنْ كُلِّ كَسْبٍ حَرَامٍ، وَقُلُوْبَنَا مِنْ كُلِّ طَمَعٍ يُعْمِي الْبَصَرَ، وَبُيُوْتَنَا مِنْ كُلِّ مَالٍ لَا بَرَكَةَ فِيْهِ، وَارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا لَا نَحْتَاجُ مَعَهُ إِلٰى حَرَامٍ.
اَللّٰهُمَّ مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ إِخْوَانِنَا بِالْمَيْسِرِ وَالْقِمَارِ فَخَلِّصْهُ مِنْهُ، وَمَنْ أَثْقَلَتْهُ الدُّيُوْنُ فَاقْضِ عَنْهُ دَيْنَهُ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُ، وَلَا تَفْضَحْهُ بَيْنَ النَّاسِ، وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ مَخْرَجًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ فِتْنَةِ الشَّاشَاتِ، وَمِنْ كُلِّ لَعِبٍ يَأْكُلُ أَعْمَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ عَيْنٍ لَنَا، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْ أَوْقَاتِهِمْ وَأَرْزَاقِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقِ الضُّعَفَاءَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاكْفِ الْأَرَامِلَ وَالْأَيْتَامَ، وَمَنْ يَنْتَظِرُ عَوْنًا لَمْ يَصِلْ إِلَيْهِ فَعَجِّلْ لَهُ فَرَجَكَ، وَلَا تُخَيِّبْ رَجَاءَهُ فِيْكَ وَلَا فِيْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ مَنْ يَكْسِبُ مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ، وَاهْدِهِمْ إِلٰى كَسْبٍ يُغْنِيْهِمْ عَنْ إِفْقَارِ غَيْرِهِمْ، وَإِنْ لَمْ يَرْجِعُوْا فَاكْفِ الْمُسْلِمِيْنَ شَرَّ صَنِيْعِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَنَاعَةَ بِمَا قَسَمْتَ، وَالرِّضَا بِمَا قَدَّرْتَ، وَالْيَقِيْنَ أَنَّ مَا عِنْدَكَ خَيْرٌ وَأَبْقٰى.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
