Pekan ini percakapan publik banyak berisi orang-orang yang sedang berusaha keluar dari jerat pinjaman dan permainan untung-untungan, dan hampir selalu pertanyaannya sama: bagaimana cara menghentikan seseorang tanpa mempermalukannya. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 25- باب ما جاء في إدام رسول الله صلى الله عليه وسلم, menghimpun riwayat-riwayat pendek tentang lauk dan kebiasaan makan Nabi ﷺ. Satu di antaranya terjadi di rumah seorang perempuan Anshar, dan panjangnya hanya beberapa baris.
Namanya Salamah binti Qais bin 'Amr. Orang-orang Madinah memanggilnya Ummu al-Mundzir. Ia seorang sahabiyah.
Suatu hari ada tamu di rumahnya. Rasulullah ﷺ masuk, dan bersama beliau ada Ali radhiyallahu 'anhu.
Di rumah itu tergantung dawali. Tandan-tandan kurma yang dipotong saat masih busr — masih keras, masih muda — lalu digantung supaya matang sendiri. Cara lama menyimpan kurma: biarkan waktu yang mengerjakan sisanya. Ketika tandan itu sudah menjadi ruthab, kurma basah yang manisnya berat, siapa pun boleh mengambilnya.
Tandan-tandan itu tergantung persis di ketinggian tangan.
Rasulullah ﷺ mulai makan. Ali makan bersama beliau.
Lalu, di tengah makan itu, Rasulullah ﷺ berkata kepada Ali:
مه يا علي؛ فانك ناقة
"Tahan, Ali. Engkau baru sembuh."
Satu kata pertama itu — mah — dalam bahasa Arab adalah kata perintah yang artinya: sudah, cukupkan. Bukan penjelasan, bukan ceramah. Sepatah kata perintah, lalu alasannya: engkau naqih, orang yang baru saja lepas dari sakit.
Ummu al-Mundzir menceritakan apa yang terjadi berikutnya dengan satu kalimat yang sangat sederhana: Ali duduk.
Tidak ada perdebatan yang diriwayatkan. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada satu tandan lagi, tidak ada "sedikit saja". Ali duduk, dan Nabi ﷺ meneruskan makan beliau.
Bayangkan ruangan itu untuk sesaat. Udara Madinah yang panas dan kering. Bau kurma matang yang manis dan berat, jenis bau yang membuat perut bangun sendiri. Tandan-tandan tergantung di sekeliling, dalam jangkauan. Seorang lelaki yang baru pulih dari sakit duduk di dekatnya, mendengar suara orang makan, dengan semua yang ia inginkan tergantung sejengkal di atas kepalanya.
Dan yang menahan tangannya bukan pagar. Bukan tandan yang diturunkan dan disembunyikan. Hanya sepatah dua patah kata dari orang yang ia percayai.
Dan yang menarik, Nabi ﷺ tidak berhenti makan. Beliau tidak menurunkan tandan itu, tidak menyuruh menyingkirkannya, tidak membuat suasana menjadi berat demi menghormati satu orang yang tidak boleh ikut. Kurma tetap kurma, meja tetap meja. Yang diatur hanya tangan yang sedang tidak kuat.
Ummu al-Mundzir tidak berhenti di situ. Ia bangkit dan pergi ke belakang.
قالت فجعلت لهم سلقا وشعيرا،
"Ia berkata: lalu aku buatkan untuk mereka silq dan gandum."
Silq — sayur berdaun lebar yang tumbuh di kebun-kebun Madinah, direbus dengan gandum jelai. Makanan yang lembut, hangat, tidak manis, tidak berat. Makanan yang dimasak untuk orang yang perutnya baru belajar bekerja lagi.
Ketika masakan itu diletakkan, Rasulullah ﷺ berkata kepada Ali:
من هذا فأصب فان هذا أوفق لك
"Dari yang ini, ambillah. Yang ini lebih cocok untukmu."
Riwayatnya berakhir di situ. Tidak ada penutup yang dramatis, tidak ada pelajaran yang diucapkan, tidak ada yang menangis. Seorang lelaki ditahan dari satu meja, lalu dipindahkan ke meja yang lain, dan makan sampai selesai.
Riwayat ini, dalam catatan takhrij-nya, juga dikeluarkan oleh Abu Dawud rahimahullah — dan ia meletakkannya di kitab tentang pengobatan. Sebuah percakapan singkat di ruang tamu, dicatat sebagai resep.
Para ulama yang mencatat riwayat ini menuliskan di catatan pinggirnya bahwa dari hadits ini diambil pelajaran tentang himyah — menahan diri dari makanan tertentu — bagi orang yang sedang sakit dan bagi orang yang baru sembuh.
Pelajaran
Yang paling mudah dilewatkan dari kisah pendek ini adalah bahwa larangan Nabi ﷺ kepada Ali berjarak hanya beberapa menit dari penggantinya. Ali ditahan dari kurma, lalu diberi silq dan gandum. Kata "tahan" itu tidak dibiarkan berdiri sendirian; ia diikuti oleh sepiring makanan yang hangat dan lebih cocok, dan bahkan diantar dengan kalimat yang menjelaskan alasannya — ini lebih cocok untukmu. Orang yang baru pulih tidak dibiarkan lapar demi menaati sebuah larangan.
Dan Ummu al-Mundzir, yang tidak diriwayatkan mengucapkan sepatah kata pun tentang penyakit Ali, adalah orang yang mengerjakan bagian yang paling berat: ia pergi ke dapur dan memasak. Rumah itu tidak hanya menahan; rumah itu menyediakan.
Bagi siapa pun yang pekan ini sedang menemani seseorang lepas dari kebiasaan yang merusak keuangan atau kesehatannya, urutan di rumah Ummu al-Mundzir layak dihafal: sebut yang harus dihentikan dengan singkat, jangan diulang-ulang, lalu segera letakkan penggantinya di depan orang itu. Larangan tanpa pengganti hanya memindahkan lapar; larangan dengan pengganti menyembuhkan.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 25- باب ما جاء في إدام رسول الله صلى الله عليه وسلم
«دخل عليّ رسول الله صلى الله عليه وسلم ومعه عليّ ولنا دوال «7» معلقة، قالت: فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكل وعليّ معه يأكل، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي: مه «8» يا علي؛ فانك ناقة «9» ، قالت فجلس علي والنبي صلى الله عليه وسلم يأكل، قالت فجعلت لهم سلقا وشعيرا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم لعلي: من هذا فأصب فان هذا أوفق لك»
