Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPatologi Sosial DigitalKamis, 10 September 2026

Kultum — "Menukar Jam Malam dengan Sujud"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بَارَكَ فِي السَّعْيِ الْحَلَالِ، وَجَعَلَ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, saudara-saudara sekalian yang baru saja menyelesaikan sholat berjamaah. Pekan ini, dari kabar yang sampai kepada kita, ada satu gambar yang beredar dan membuat banyak orang terdiam: seorang ibu mengecek kartu bantuannya lima kali dalam sehari, dan saldonya tetap kosong. Malam ini saya ingin membicarakan satu hal saja, dan hanya satu, yang menghubungkan gambar itu dengan sesuatu yang mungkin ada di telepon sebagian kita.

Saya mulai dengan sebuah pertanyaan yang mohon dijawab di dalam hati saja, tidak usah diucapkan. Siapa di antara kita yang pekan ini pernah membuka telepon pada jam yang tidak masuk akal — jam satu, jam dua pagi — bukan karena ada urusan penting, tetapi karena ada sesuatu di layar yang menahan jempol kita?

Kalau jawabannya iya, kita tidak sendirian, dan saya tidak sedang menghakimi siapa pun. Saya hanya ingin kita melihat satu hal bersama: jam-jam itu sebetulnya milik siapa, dan sedang kita berikan kepada siapa.

QS. Hud: 114

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat."

Perhatikan susunan ayat ini, jamaah. Allah menyebut waktu lebih dulu — dua tepi siang dan sebagian malam — baru kemudian menyebut penghapusan. Seolah-olah kita diberi tahu bahwa yang menghapus keburukan itu bukan penyesalan yang mengambang, melainkan amal yang punya jam. Dan jam-jam yang disebut di ayat ini justru jam-jam rawan kita: pagi ketika baru bangun dan tangan langsung mencari telepon, petang ketika lelah dan ingin hiburan apa saja, dan permulaan malam ketika rumah sudah sepi dan tidak ada yang mengawasi.

Kabar baiknya, ayat ini tidak menyuruh kita menjadi orang lain. Ia hanya menyuruh kita mengisi jam yang sudah ada dengan sesuatu yang lain.

Sekarang izinkan saya membacakan satu riwayat yang gambarannya sangat pas untuk apa yang beredar pekan ini.

Sahih Muslim 1954a

يَنْهَى عَنِ الْخَذْفِ فَإِنَّهُ لاَ يُصْطَادُ بِهِ الصَّيْدُ وَلاَ يُنْكَأُ بِهِ الْعَدُوُّ وَلَكِنَّهُ يَكْسِرُ السِّنَّ وَيَفْقَأُ الْعَيْنَ

"...membenci — atau melarang — khadzaf (melempar kerikil dengan jari), karena ia tidak dapat menangkap buruan dan tidak melukai musuh, tetapi ia bisa memecahkan gigi dan mencongkel mata."

Saya suka riwayat ini karena cara menimbangnya sangat jujur, jamaah. Larangannya tidak berhenti pada kata "jangan"; alasannya ikut disebutkan, dan alasan itu berbentuk timbangan — apa hasilnya, dan apa risikonya. Hasilnya nol: tidak ada buruan yang tertangkap, tidak ada musuh yang terluka. Risikonya besar: gigi bisa pecah, mata bisa buta.

Sekarang letakkan timbangan yang sama pada tombol putar di aplikasi taruhan. Apa yang tertangkap? Tidak ada. Dalam jangka panjang pemain sebagai kelompok selalu kalah, karena mesinnya memang tidak dirancang untuk membuat mereka menang. Lalu apa yang bisa pecah? Uang belanja pekan depan. Kepercayaan orang rumah yang dibangun bertahun-tahun. Nama baik di depan anak. Gigi dan mata yang disebut dalam riwayat tadi punya padanannya masing-masing di rumah kita.

Dan yang paling perlu kita sadari, jamaah, adalah bahwa jarang sekali orang masuk ke sana karena serakah. Yang paling sering terjadi urutannya begini: seseorang kalah dulu, lalu berutang untuk menutup kekalahannya, lalu berutang lagi untuk menutup utang yang pertama. Ia tidak sedang mengejar kemewahan. Ia sedang menghindari malu. Kalau kita lupa urutan ini, nasihat kita akan salah alamat — kita akan menceramahi orang tentang keserakahan padahal yang ia rasakan adalah ketakutan.

Ada satu kabar lain pekan ini yang menurut saya menunjukkan seberapa jauh cara berpikir ini sudah masuk. Beredar sebuah unggahan yang mengusulkan agar sebuah pemerintah daerah membuat sendiri aplikasi judi palsu supaya kasnya bertambah, karena anggaran daerahnya kecil. Unggahan itu beredar sebagai keluhan yang dijadikan lelucon, bukan kebijakan siapa pun, dan saya tidak akan menyebut siapa-siapa. Tetapi lelucon selalu memberi tahu kita apa yang sudah terasa masuk akal. Dan di lini masa yang sama, di jempol yang sama, beredar juga video yang membanding-bandingkan bank digital mana yang paling menguntungkan. Dua tontonan itu tidak sama hukumnya — yang satu masih di jalur yang sah — tetapi keduanya menjawab pertanyaan yang persis sama: di mana uang bertambah paling cepat dengan usaha paling sedikit. Pertanyaan itulah, jamaah, yang sebenarnya sedang melatih kita.

Maka apa yang menghentikan lingkaran itu? Bukan tekad yang diucapkan sekali di malam Jumat. Yang menghentikannya adalah jam yang diisi ulang. Ini yang tadi diajarkan ayat pembuka kita: keburukan tidak dihapus oleh niat kosong, tetapi oleh kebaikan yang menempati waktunya.

Jadi malam ini, sebelum kita pulang, saya mengajak kita mengerjakan tiga hal kecil dalam dua puluh empat jam ke depan, dan ketiganya benar-benar kecil supaya benar-benar dikerjakan.

Yang pertama, hapus satu aplikasi malam ini juga — bukan besok, malam ini, sebelum tidur — dan hapus juga satu grup atau satu akun yang selama ini mengirimi kita tautan taruhan atau pinjaman kilat. Sumbernya dulu, baru kebiasaannya.

Yang kedua, pindahkan jam rawan kita. Kalau jam dua pagi adalah jam yang paling sering bocor, pasang alarm untuk bangun sedikit lebih awal dan kerjakan dua rakaat. Ayat tadi menyebut permulaan malam; pilih satu jam di antaranya dan berikan kepada Allah, supaya jam itu tidak lagi kosong menunggu diisi oleh yang lain.

Yang ketiga, buka satu percakapan yang menakutkan tetapi menyembuhkan: sebutkan angka utang kita kepada satu orang yang bisa dipercaya. Boleh istri, boleh kakak, boleh teman yang tidak akan menceritakannya kembali. Angka yang disimpan sendirian selalu tumbuh; angka yang diucapkan mulai bisa dikerjakan.

Dan kalau ada di antara kita yang malam ini merasa sudah terlalu jauh, tolong dengarkan ini baik-baik. Pintu taubat dalam urusan harta tidak pernah ditutup, dan tidak ada satu pun angka yang terlalu besar untuk dimulai dari nol lagi. Berhenti hari ini, catat yang tersisa, bayar sedikit demi sedikit, dan jangan menghukum diri sendiri dengan kesendirian. Kita ini jamaah; kita ada supaya tidak ada yang menanggung sendirian.

اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ أَيْدِيَنَا مِنْ كُلِّ كَسْبٍ حَرَامٍ، وَاقْضِ عَنَّا وَعَنْ إِخْوَانِنَا الدُّيُوْنَ، وَأَغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَوْقَاتِنَا، وَاجْعَلْ لَيْلَنَا عَامِرًا بِذِكْرِكَ، وَاحْفَظْ بُيُوْتَنَا وَأَوْلَادَنَا مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ ظَهَرَتْ وَمَا بَطَنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan