Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPekerja & Pertanian RakyatKamis, 10 September 2026

Khutbah Jumat — "Hujan Turun, Bumi Tidak Menumbuhkan"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا، فَأَنْبَتَ بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيْدِ، وَجَعَلَ رِزْقَ عِبَادِهِ أَمَانَةً فِيْ أَيْدِيْ بَعْضِهِمْ عَلٰى بَعْضٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ زَادٍ وَأَبْقٰى أَثَرًا.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah kita buka khutbah pekan ini dengan satu ayat yang biasanya kita lewati cepat, padahal ia berbicara tentang hal yang paling kita anggap pasti. Allah berfirman dalam surah Al-Kahfi:

أَوْ يُصْبِحَ مَآؤُهَا غَوْرًۭا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبًۭا

"atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi". (QS. Al-Kahf: 41)

Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan bentuk peringatan dalam ayat ini. Yang disebut bukan tanamannya yang hangus, bukan pula buahnya yang gagal. Yang disebut adalah airnya — air yang selama ini menghidupi kebun itu — bisa surut ke dalam tanah, dan sesudah itu tidak akan sanggup dikejar lagi. Yang bisa kita ambil darinya: kepastian yang kita rasakan setiap pagi sebenarnya bersandar pada sesuatu yang bisa ditarik, dan kita jarang memeriksanya sampai ia benar-benar hilang.

Kita membaca ayat ini pekan ini dengan telinga yang berbeda. Dari kabar yang sampai kepada kita, sebagian saudara kita di dua kabupaten menerima bantuan sumur bor karena sumber air yang biasa mereka andalkan tidak lagi mencukupi di musim kering ini. Kita mendengar kalimat "krisis air bersih" seperti mendengar berita cuaca — sesuatu yang jauh, musiman, dan akan berlalu. Padahal untuk keluarga yang mengalaminya, kalimat itu berarti antre, berarti menghitung ember, berarti memilih antara mencuci dan memasak. Ayat tentang air yang surut ke dalam tanah bukan lagi perumpamaan sastra bagi mereka. Ia deskripsi.

Ma'asyiral muslimin, tetapi khutbah ini tidak akan berhenti pada air. Sebab pekan ini memperlihatkan sesuatu yang lebih halus dan lebih perlu kita namai. Kabar yang sampai kepada kita bukan kabar tentang tidak adanya usaha. Justru sebaliknya. Makanan dibagikan ke anak-anak sekolah lewat sebuah program besar. Sumur dibor. Beras disalurkan untuk menahan harga. Rapat kerja digelar untuk membahas asumsi dasar ekonomi kita. Semua itu berjalan, dan sebagian besarnya dikabarkan dengan nada baik. Yang mengganjal justru bukan ketiadaan hujan. Yang mengganjal adalah hasilnya.

Dari berita pekan ini kita ketahui, sejumlah anak jatuh sakit setelah menyantap makanan yang dibagikan lewat program itu. Seorang tua menuliskan satu pertanyaan pendek di ruang publik: racun apa yang terdeteksi di dalam ikan yang dimakan anaknya, sampai ginjal anak itu bermasalah. Perhatikan bentuk kalimatnya, hadirin. Itu bukan tuduhan. Itu bukan seruan untuk menghukum siapa pun. Itu pertanyaan seorang tua yang anaknya sakit dan yang sampai hari itu belum mendapat penjelasan. Dan justru karena bentuknya pertanyaan, ia menusuk lebih dalam daripada seribu kecaman.

Kita juga mendengar pekan ini keluhan yang dilontarkan dengan cara paling sederhana yang bisa dipakai orang biasa untuk mengukur rasa adil: membandingkan slip gaji. Seseorang menyandingkan penghasilan bulanan seorang guru honorer dengan penghasilan bulanan jajaran direksi sebuah badan usaha milik negara, lalu menyebutnya ketimpangan sosial. Kita bisa berdebat tentang angka dan tentang perbandingan yang adil. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa kita bantah: seseorang yang setiap hari berdiri di depan kelas merasa hasil kerjanya tidak sebanding dengan hidupnya. Perasaan itu nyata, dan perasaan seperti itu tidak pernah hanya tinggal di dada satu orang.

Dan di lapisan paling ramai ditonton pekan ini, ada keluhan lain lagi: bahwa negeri yang hidup di atas cincin api, yang bencananya bukan kemungkinan melainkan kepastian, justru menempatkan mitigasi pada anggaran yang tipis. Berdampingan dengan itu, seseorang menuliskan kalimat yang layak kita bawa pulang: jika penanganan bencana dijadikan konten untuk menggugurkan kewajiban, maka yang selesai adalah beritanya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Empat kabar itu — makanan yang membuat sakit, air yang harus diantar, upah yang terasa timpang, dan penanganan yang berhenti bersama beritanya — kelihatannya empat urusan yang berbeda. Sesungguhnya ia satu penyakit dengan empat wajah. Dan Rasulullah ﷺ sudah memberi nama untuk penyakit itu, empat belas abad lebih awal, dalam satu hadits yang pendek dan sangat tajam. Beliau ﷺ bersabda:

لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لاَ تُمْطَرُوا وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا وَلاَ تُنْبِتُ الأَرْضُ شَيْئًا

"Tahun paceklik (sanah) bukanlah dengan tidak diturunkan hujan, melainkan paceklik adalah ketika kalian diberi hujan dan terus diberi hujan, namun bumi tidak menumbuhkan apa pun." (Sahih Muslim 2904)

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita berhenti sejenak di hadits ini, karena di sinilah letak seluruh khutbah kita hari ini. Orang Arab menyebut tahun kesulitan dengan kata sanah — kata yang secara harfiah berarti "tahun", tetapi dipakai untuk menandai tahun yang mencekik. Yang mereka bayangkan tentu langit yang tertutup dan tanah yang retak. Rasulullah ﷺ mengoreksi bayangan itu. Beliau ﷺ berkata: paceklik yang sesungguhnya bukan ketika hujan tidak turun. Paceklik yang sesungguhnya adalah ketika hujan turun, turun lagi, turun terus — dan tanah tetap tidak menumbuhkan apa pun.

Renungkan betapa mengganggunya definisi itu. Kekeringan yang biasa masih bisa kita terima, karena ia jelas: tidak ada air, maka tidak ada tanaman. Tetapi paceklik yang digambarkan Rasulullah ﷺ jauh lebih membingungkan, karena semua tanda kelimpahan hadir. Awan datang. Air jatuh. Tanah basah. Semua yang seharusnya menghasilkan sudah tersedia. Yang hilang justru penghubung antara curah dan tumbuh. Dan justru karena semua tanda lahiriahnya baik, orang jadi sulit menjelaskan mengapa hidupnya tetap sempit.

Bukankah itu persis bentuk kesulitan yang kita dengar pekan ini, hadirin? Makanan dibagikan — itu hujannya. Anak yang sakit — itu bumi yang tidak menumbuhkan. Sumur dibor — itu hujannya. Keluarga yang tetap menghitung ember di musim berikutnya — itu bumi yang tidak menumbuhkan. Beras disalurkan, asumsi ekonomi dibahas, alat berat didaftar dalam pernyataan resmi — semua itu hujan. Dan yang belum tumbuh adalah rasa aman di dapur orang biasa.

Saya perlu berhati-hati di sini, dan mari kita berhati-hati bersama. Hadits ini tidak sedang mengajari kita untuk mencurigai setiap program. Rasulullah ﷺ tidak sedang berbicara tentang siapa yang bersalah. Beliau ﷺ sedang mengajari kita cara membaca keadaan. Beliau ﷺ menggeser pertanyaan kita dari "apakah bantuannya ada?" menjadi "apakah bantuannya menumbuhkan sesuatu?" Itu pergeseran yang sangat besar. Karena ukuran pertama bisa dipenuhi dengan pengumuman, sedangkan ukuran kedua hanya bisa dipenuhi dengan kejujuran sepanjang rantai.

Dan apa yang bisa kita ambil dari sini untuk diri kita sendiri, hadirin? Prinsipnya sederhana dan berlaku ke bawah, bukan hanya ke atas. Setiap kita memegang sepotong rantai. Ada yang memegang dapur. Ada yang memegang uang kas. Ada yang memegang jadwal. Ada yang memegang timbangan di pasar. Ada yang memegang kunci gudang. Jika di setiap sambungan rantai itu ada sedikit yang bocor — sedikit yang dikurangi, sedikit yang ditunda, sedikit yang ditutupi — maka pada ujungnya hujan yang deras pun tidak akan menumbuhkan apa-apa. Bukan karena hujannya kurang, melainkan karena tanahnya sudah tidak sanggup menahan.

Ma'asyiral muslimin, lalu apa yang membuat tanah kembali sanggup menumbuhkan? Al-Qur'an menjawabnya dengan sesuatu yang mungkin tidak kita duga: dengan makanan yang sampai ke mulut orang yang lapar. Allah berfirman dalam surah Al-Balad, ketika Dia berbicara tentang jalan yang mendaki dan sulit yang jarang ditempuh manusia:

أَوْ إِطْعَٰمٌۭ فِى يَوْمٍۢ ذِى مَسْغَبَةٍۢ

"atau memberi makan pada hari kelaparan," (QS. Al-Balad: 14)

Lalu Allah menyebutkan siapa yang diberi makan itu:

أَوْ مِسْكِينًۭا ذَا مَتْرَبَةٍۢ

"atau kepada orang miskin yang sangat fakir." (QS. Al-Balad: 16)

Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan pemilihan kata Allah di sini. Bukan "memberi makan" saja, tetapi "memberi makan pada hari kelaparan". Ada waktunya. Ada momentumnya. Sedekah yang sama, jika diberikan pada hari orang kenyang, nilainya tidak sama dengan sedekah yang diberikan pada hari orang tidak punya apa-apa untuk dimasak. Dan orang yang dituju pun disebut dengan sangat spesifik: miskinan dza matrabah, orang miskin yang sampai menempel di tanah karena tidak punya apa pun untuk mengangkatnya. Al-Qur'an tidak memakai bahasa yang mengambang. Ia menunjuk orang yang bisa kita lihat wajahnya.

Dan Allah menegaskan sisi sebaliknya dengan cara yang membuat bulu roma berdiri. Ayat berikut berbentuk sebuah pengakuan yang diucapkan ketika semuanya sudah terlambat:

وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ

"dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," (QS. Al-Muddaththir: 44)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Perhatikan bunyinya. Ini bukan pengakuan orang yang merampok. Kalimatnya bukan "kami merampas makanan orang miskin", melainkan "kami tidak memberi makan orang miskin". Yang bisa kita ambil darinya: ada catatan kerugian yang tidak disusun dari apa yang dikerjakan, melainkan dari apa yang dibiarkan. Dan di pekan ketika kita mendengar seorang tua bertanya tentang isi piring anaknya, ayat ini menempatkan kita semua di depan cermin yang jujur.

Hadirin, mari kita masuk ke soal air, karena syariat kita juga sangat rinci di sana. Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يُبَاعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُبَاعَ بِهِ الْكَلأُ

"Janganlah dijual kelebihan air agar (dengannya) dijual (akses ke) padang rumput." (Sahih Muslim 1566c)

Perhatikan mekanismenya, hadirin. Yang dilarang di sini bukan sekadar berdagang air. Yang dilarang adalah memakai penguasaan atas kelebihan air — air yang sudah melebihi kebutuhan pemiliknya — sebagai alat untuk mengendalikan sesuatu yang lain di belakangnya, yaitu akses ke padang rumput tempat ternak orang lain hidup. Jadi larangan ini menyasar satu pola: menjadikan kebutuhan dasar sebagai gerbang. Siapa yang memegang gerbang, dia memegang hidup orang banyak, dan dari situ ia bisa menekan harga apa saja.

Ma'asyiral muslimin, pola itu tidak berhenti di padang rumput abad ketujuh. Ia hidup di mana pun ada satu simpul yang menentukan apakah air, pangan, atau bahan bakar sampai ke rumah orang atau tidak. Pekan ini kita mendengar keluhan yang menautkan krisis lingkungan dan air di sebuah wilayah dengan ketimpangan fiskal antara daerah dan pusat, serta dengan laju pengolahan hasil tambang di sana. Kita tidak perlu memutuskan benar atau salahnya sebuah kebijakan dari mimbar ini — itu bukan tempat kita. Yang perlu kita catat adalah bahwa syariat sudah lama menaruh perhatian besar pada siapa yang memegang gerbang kebutuhan dasar, dan pada godaan yang selalu menyertai posisi itu.

Dan Rasulullah ﷺ menaruh kekhawatiran terbesarnya bukan pada kemiskinan umatnya, melainkan pada kelimpahannya. Beliau ﷺ bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا

"Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah apa yang Allah keluarkan untuk kalian dari bunga-bunga dunia." (Sahih Muslim 1052b)

Para sahabat bertanya apa yang dimaksud bunga-bunga dunia, dan beliau ﷺ menjawab: berkah-berkah bumi. Mereka bertanya lagi, apakah kebaikan bisa mendatangkan keburukan, dan beliau ﷺ menegaskan tiga kali bahwa kebaikan tidak datang kecuali dengan kebaikan. Lalu beliau ﷺ menutupnya dengan kalimat yang menjadi kunci:

إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ

"Sungguh harta ini hijau dan manis."

Dan dalam lanjutan hadits itu beliau ﷺ menerangkan bahwa siapa yang mengambil harta dengan haknya dan meletakkannya pada haknya, harta itu menjadi sebaik-baik penolong baginya; sedangkan siapa yang mengambilnya tanpa hak, ia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang.

Hadirin yang dimuliakan Allah, inilah diagnosis yang kita cari. Bumi negeri kita bukan bumi yang miskin. Berkahnya banyak. Yang menentukan bukan berapa banyak yang keluar dari tanah, melainkan dua hal: diambil dengan haknya dan diletakkan pada haknya. Kalau dua syarat itu terpenuhi, kelimpahan menjadi penolong. Kalau satu saja gagal, kelimpahan berubah menjadi makanan yang tidak mengenyangkan — persis gambaran yang beliau ﷺ pakai. Dan gambaran "makan tapi tidak kenyang" itu bukan kiasan yang jauh dari kita pekan ini, ketika kabar yang paling menyakitkan justru datang dari anak-anak yang sudah makan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sebelum kita masuk ke tindakan, izinkan saya menempatkan satu hal supaya kita tidak salah berdiri. Kita tidak sedang berkhutbah untuk menyalahkan orang yang bekerja di dapur program, di kantor, atau di lapangan. Sebagian besar mereka adalah saudara kita sendiri, dan sebagian bekerja dengan upah yang sangat tipis. Yang sedang kita periksa adalah rantainya, bukan orangnya. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita membenci kerusakan tanpa membenci manusia. Maka nada kita hari ini bukan nada penuduh, melainkan nada orang yang ikut memikul.

Ma'asyiral muslimin, ada satu hal lagi yang perlu kita letakkan sebelum berbicara tentang tindakan, dan ini menyangkut cara kita memandang saudara-saudara kita yang hidupnya paling tipis. Di dalam kitab Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah, Imam at-Tirmidzi rahimahullah membuka satu bab khusus tentang cara hidup Rasulullah ﷺ — bab yang isinya bukan tentang kemewahan beliau ﷺ, melainkan tentang laparnya. Di antara riwayat yang beliau kumpulkan di sana ada kesaksian Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

لقد رأيتني وإني لأخرّ فيما بين منبر رسول الله صلى الله عليه وسلم وحجرة عائشة رضي الله عنها مغشيا عليّ «6» ، فيجيء الجائي فيضع رجله على عنقي، يرى أن بي جنونا، وما بي جنون وما هو إلّا الجوع

"Sungguh aku pernah melihat diriku terjatuh pingsan di antara mimbar Rasulullah ﷺ dan kamar 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Lalu datang seseorang dan meletakkan kakinya di leherku; ia mengira aku gila. Padahal aku tidak gila — itu tidak lain karena lapar." (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم)

Hadirin yang dimuliakan Allah, bacalah kembali kalimat terakhir itu dengan pelan. Seorang sahabat besar, penghafal ribuan hadits, tergeletak di jalan antara mimbar dan rumah, dan orang yang lewat menyangkanya kehilangan akal. Yang membuat riwayat ini menusuk bukan laparnya, melainkan salah pahamnya. Orang yang menderita karena lapar sering kali tidak terbaca sebagai orang lapar. Ia terbaca sebagai orang aneh, orang malas, orang yang mengeluh berlebihan, orang yang mencari perhatian. Dan justru karena itulah Imam at-Tirmidzi rahimahullah meletakkan riwayat ini di bab tentang cara hidup Nabi ﷺ: untuk memberi tahu kita bahwa jika para sahabat sampai seperti itu, tentu tidak ada makanan di rumah beliau ﷺ yang bisa beliau bagikan kepada mereka.

Yang bisa kita ambil dari sini, hadirin, adalah satu kewaspadaan terhadap diri sendiri. Pekan ini, ketika seorang tua bertanya tentang racun di dalam ikan yang dimakan anaknya, ada dua cara membaca pertanyaan itu. Cara pertama: menganggapnya sebagai orang yang berlebihan, yang mencari sensasi, yang menggoreng isu. Cara kedua: menganggapnya sebagai orang yang anaknya sedang sakit dan yang belum diberi penjelasan. Riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu melatih kita memilih cara kedua. Kaki yang menginjak leher orang yang tergeletak itu bukan kaki orang jahat; itu kaki orang yang salah membaca. Dan kita bisa menjadi kaki itu tanpa pernah merasa berbuat salah.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dan tidakkah kita perhatikan bagaimana Allah menggambarkan kenikmatan yang Dia janjikan? Ketika Allah melukiskan tempat kembali golongan kanan, Dia menyebut satu hal yang di zaman kita sudah dianggap sepele:

وَمَآءٍۢ مَّسْكُوبٍۢ

"dan air yang tercurah," (QS. Al-Waaqia: 31)

Air yang tercurah, hadirin. Bukan istana, bukan perhiasan — air yang mengalir terus dan tidak putus. Bagi kita yang tinggal di kota dengan keran yang selalu menyala, gambaran ini terdengar biasa. Tetapi bagi saudara kita yang pekan ini mengantre untuk mengisi jeriken, ayat ini berbicara langsung ke tulang. Allah menempatkan air yang mengalir sebagai bagian dari kenikmatan yang paling layak dirindukan. Kalau begitu, memastikan air mengalir ke rumah tetangga kita bukan urusan teknis kecil. Ia pekerjaan yang menyentuh sesuatu yang oleh Allah sendiri diletakkan di antara gambaran-gambaran kenikmatan.

Dan sebaliknya, Allah juga memberi kita gambaran tentang makanan yang gagal menjadi makanan. Dalam surah Al-Ghasyiyah disebutkan satu jenis makanan dengan sifat yang membuat kita berhenti membaca:

لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِى مِن جُوعٍۢ

"yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar." (QS. Al-Ghaashiya: 7)

Hadirin, kita tidak boleh menarik ayat ini menjadi vonis atas makanan siapa pun di dunia. Tetapi ada satu pelajaran bahasa yang bisa kita ambil dengan aman: Al-Qur'an mengenal kategori "sesuatu yang berbentuk makanan tetapi tidak menjalankan fungsi makanan". Artinya, dalam timbangan Al-Qur'an, ukuran sebuah makanan bukan sekadar bahwa ia tersaji di piring. Ukurannya adalah apakah ia benar-benar menguatkan yang memakannya. Kalau ukuran itu kita bawa ke dapur kita sendiri, ke dapur bersama di lingkungan kita, dan ke setiap tempat kita menyiapkan makanan untuk orang lain, maka pertanyaan yang kita ajukan berubah. Bukan lagi "sudah dapat berapa porsi", melainkan "apakah yang kita sajikan benar-benar menguatkan tubuh yang memakannya".

Lalu apa yang bisa kita kerjakan mulai pekan ini, hadirin? Ada enam hal, dan semuanya berada dalam jangkauan tangan kita sendiri.

Pertama, tambahkan satu piring. Setiap kali memasak untuk keluarga pekan ini, tambahkan satu porsi, lalu antar ke rumah yang kita tahu sedang tipis. Bukan sembako bulanan yang formal, tetapi makanan matang yang bisa dimakan malam itu juga. Inilah bentuk paling sederhana dari "memberi makan pada hari kelaparan" — dan ia satu-satunya bentuk yang tidak bisa didelegasikan ke siapa pun.

Kedua, jaga sambungan rantai yang kita pegang. Bagi kita yang memegang kas pengajian, gudang beras lingkungan, dapur bersama, atau kotak amal, buka catatannya sekali sebulan di hadapan orang banyak — tanpa diminta. Bukan karena kita dicurigai, tetapi karena keterbukaan yang sukarela adalah cara paling murah untuk menjaga tanah tetap subur.

Ketiga, buka gerbang air. Bagi kita yang memiliki sumur, tandon, atau pompa yang kapasitasnya berlebih dari kebutuhan rumah, buka aksesnya untuk tetangga selama musim kering ini tanpa syarat dagang. Cukup satu keran di depan pagar dan satu jadwal yang jelas. Ini penerapan langsung dari larangan menjadikan kelebihan air sebagai alat menekan.

Keempat, dampingi yang sedang menunggu jawaban. Di sekitar kita mungkin ada keluarga yang anaknya dirawat, atau pekerja yang upahnya tertahan, atau warga yang laporannya belum ditanggapi. Menemani mereka mengurus surat, mengantar ke rumah sakit, atau sekadar hadir agar mereka tidak merasa sendirian — itu khidmah yang nilainya besar dan hampir selalu kosong pengurusnya.

Kelima, periksa upah yang kita bayarkan. Bagi kita yang mempekerjakan orang — asisten rumah tangga, tukang, guru ngaji, marbot, pegawai warung — periksa satu hal saja: apakah yang kita bayarkan cukup untuk makan sebulan. Memperbaiki satu upah yang timpang di lingkaran terdekat lebih berbobot daripada seratus keluhan tentang ketimpangan yang jauh.

Keenam, kunci komitmen di kalender. Persoalan air, pangan, dan upah tidak selesai dalam sepekan. Maka pilih satu isu, lalu tetapkan satu agenda tetap setiap dua pekan selama tiga bulan ke depan. Perhatian yang dijadwalkan mengalahkan perhatian yang meledak, dan hanya perhatian yang bertahanlah yang menumbuhkan sesuatu dari tanah.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita tutup khutbah pertama ini dengan mengingat kembali gambaran Rasulullah ﷺ. Paceklik bukan langit yang menahan air. Paceklik adalah air yang tercurah tetapi tidak menumbuhkan. Doa kita pekan ini bukan sekadar meminta hujan, tetapi meminta tanah yang sanggup menerimanya — hati yang jujur, tangan yang tidak mengurangi, dan mata yang tidak berpaling dari tetangga yang piringnya kosong.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِي الْأَرْضِ رِزْقًا لِلسَّائِلِيْنَ، وَقَسَمَ الْأَقْوَاتَ بِحِكْمَتِهِ بَيْنَ الْعِبَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu sisi dari hadits tentang paceklik yang belum sempat kita gali di khutbah pertama, dan sisi itu justru yang paling menghibur. Rasulullah ﷺ tidak berkata bahwa bumi tidak bisa menumbuhkan. Beliau ﷺ berkata bumi tidak menumbuhkan. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Yang pertama adalah takdir yang tertutup; yang kedua adalah keadaan yang sedang berlangsung dan karena itu bisa berubah. Selama air masih turun, selama tanah masih ada, kemungkinan untuk kembali tumbuh belum ditutup. Yang dituntut dari kita bukan mendatangkan hujan, melainkan merawat tanah.

Sisi kedua yang perlu kita amplifikasi adalah tentang skala. Sebagian dari kita pulang dari Jumat seperti ini dengan perasaan tidak berdaya, karena persoalan yang dibicarakan terasa terlalu besar: rantai pangan nasional, anggaran mitigasi, ketimpangan upah antar-lapisan. Tetapi perhatikanlah, hadirin — tidak satu pun dari enam tindakan yang kita sebut tadi membutuhkan izin dari siapa pun. Menambah satu piring, membuka catatan kas, membuka keran untuk tetangga, menemani orang yang sedang mengurus surat, memperbaiki satu upah, dan menjadwalkan satu agenda — semuanya berukuran rumah tangga. Dan justru rantai yang berukuran rumah tangga inilah yang paling jarang diperiksa, karena kita mengira ia terlalu kecil untuk berpengaruh.

Sisi ketiga menyangkut cara kita berdoa. Kita sering meminta kepada Allah tambahan rezeki, dan itu doa yang baik. Tetapi pekan ini mengajarkan kita untuk menambahkan satu permintaan lagi: meminta agar rezeki yang sudah turun benar-benar menjadi rezeki. Meminta agar makanan yang kita sajikan menguatkan, agar air yang kita alirkan sampai, agar upah yang kita terima cukup, dan agar apa yang kita pegang tidak bocor di tangan kita sendiri. Itulah bentuk doa yang cocok untuk zaman ketika hujan tidak lagi menjadi masalah utama.

Dan sisi keempat, hadirin, adalah tentang kesabaran yang benar. Keluarga yang anaknya sakit karena makanan bukan sedang diuji supaya diam. Mereka sedang diuji supaya bertahan sambil tetap menuntut penjelasan dengan cara yang baik. Kita yang berada di sekitarnya punya tugas yang berbeda: menjaga agar pertanyaan mereka tidak dianggap kebisingan, dan menjaga agar mereka tidak ditinggal sendirian setelah kabarnya reda. Musibah yang menimpa seorang mukmin adalah ujian dan penghapus dosa baginya, bukan vonis bahwa ia layak menerimanya — dan siapa pun yang memakai musibah orang lain sebagai bahan menyalahkan, ia sedang menambah beban di atas beban.

Dan sisi kelima, hadirin, adalah tentang siapa yang kita jadikan ukuran. Kita terbiasa mengukur kemajuan dengan melihat ke atas — ke angka pertumbuhan, ke daftar program, ke pengumuman yang megah. Syariat mengajarkan ukuran yang berlawanan arah: lihatlah ke bawah, ke rumah yang paling tipis di lingkungan kita, dan tanyakan apakah keadaannya berubah. Jika rumah itu tidak bergerak, maka semua angka di atas belum berarti apa-apa. Ukuran ini tidak memerlukan data besar. Ia hanya memerlukan kesediaan berjalan sampai ujung gang.

Marilah kita tutup dengan berdoa.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ رِزْقٍ يَكْثُرُ فَلَا يَنْفَعُ، وَمِنْ طَعَامٍ يُؤْكَلُ فَلَا يُقَوِّيْ، وَمِنْ مَالٍ يُجْمَعُ فَلَا يُبَارَكُ فِيْهِ.

اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ ثِمَارِنَا وَحُقُوْلِنَا وَبِحَارِنَا، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ عَلَيْنَا رَحْمَةً لَا عَذَابًا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ عِبَادَكَ الَّذِيْنَ قَلَّ عِنْدَهُمُ الْمَاءُ، وَاكْشِفْ عَنْهُمُ الْجَدْبَ وَالْعَطَشَ، وَيَسِّرْ لَهُمْ سُبُلَ الشُّرْبِ وَالطَّهَارَةِ، وَاجْعَلْ فِيْ أَرْضِهِمْ عُيُوْنًا مُبَارَكَةً.

اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَخُصُوْصًا الْأَطْفَالَ الَّذِيْنَ اشْتَكَوْا مِمَّا أَكَلُوْا، اَللّٰهُمَّ عَافِ أَبْدَانَهُمْ، وَاحْفَظْ كُلَاهُمْ وَأَكْبَادَهُمْ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِلْفَلَّاحِيْنَ فِيْ زَرْعِهِمْ، وَلِلصَّيَّادِيْنَ فِيْ بِحَارِهِمْ، وَلِلْعُمَّالِ فِيْ أُجُوْرِهِمْ، وَلِلْمُعَلِّمِيْنَ فِيْ مَا يُنْفِقُوْنَ، وَلَا تَجْعَلْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَبِيْتُ جَائِعًا وَجَارُهُ شَبْعَانُ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاسْقِ عَطْشَانَهُمْ، وَاشْفِ جَرِيْحَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ كُلَّ أَمَانَةٍ فِيْ أَيْدِيْهِمْ مُؤَدَّاةً إِلٰى أَهْلِهَا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan