بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ada satu kabar yang rasanya tidak enak dibaca sambil makan: sejumlah anak jatuh sakit setelah menyantap makanan yang dibagikan di sekolah. Malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sebentar pada satu kata yang biasanya kita anggap selesai — kata "kenyang".
Siapa di sini yang pekan ini pernah bertanya kepada anaknya, "sudah makan belum?" — lalu merasa lega ketika dijawab "sudah"? Saya juga. Pertanyaan itu keluar otomatis dari mulut orang tua, dan jawabannya biasanya kita terima tanpa lanjutan. Tetapi Al-Qur'an ternyata mengenal satu kategori yang tidak pernah masuk ke percakapan meja makan kita.
Allah berfirman dalam surah Al-Ghasyiyah, menyebut satu jenis makanan dengan sifat yang tidak biasa:
لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِى مِن جُوعٍۢ
"yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar." (QS. Al-Ghaashiya: 7)
Saya tidak akan menarik ayat ini untuk menghakimi makanan siapa pun, jamaah. Tetapi ada satu hal dari cara Allah memilih kata yang bisa kita bawa pulang dengan aman. Perhatikan: Allah tidak menyebut makanan itu "tidak enak" atau "sedikit". Allah menyebutnya dengan ukuran fungsinya — ia tidak menguatkan tubuh, dan ia tidak menghilangkan lapar. Artinya, dalam timbangan Al-Qur'an, sesuatu bisa berbentuk makanan sepenuhnya, tersaji rapi di piring, dimakan sampai habis, dan tetap gagal menjadi makanan. Ukurannya bukan bentuknya. Ukurannya akibatnya.
Sekarang mari kita bawa ukuran itu pulang.
Pekan ini kita dengar kabar tentang anak-anak yang dirawat setelah makan. Kita juga dengar satu pertanyaan dari seorang tua yang saya kira tidak akan mudah dilupakan siapa pun yang membacanya: racun apa yang ada di dalam ikan yang dimakan anaknya, sampai ginjal anak itu bermasalah. Perhatikan bahwa orang tua ini tidak sedang menuduh siapa-siapa. Ia sedang bertanya. Dan pertanyaan itu, kalau kita renungkan, adalah versi paling pedih dari ayat tadi: piringnya penuh, anaknya makan, dan justru dari situ datang sakitnya.
Kita juga dengar kabar lain pekan ini, jamaah. Ada bantuan sumur bor untuk warga di dua kabupaten yang kemaraunya panjang. Ada beras yang disalurkan supaya harga tidak melonjak. Ada rapat yang membahas asumsi ekonomi kita. Semua itu berjalan. Tetapi ada juga seseorang yang menuliskan satu kalimat pendek pekan ini, dan kalimat itu terus terngiang di kepala saya: jika penanganan suatu persoalan dijadikan konten untuk menggugurkan kewajiban, maka yang selesai adalah beritanya.
Sekarang perhatikan, jamaah — kalimat itu dan ayat tadi sebenarnya sedang mengatakan hal yang sama, hanya dengan bahasa yang berbeda. Ayat tadi berbicara tentang makanan yang berbentuk makanan tetapi tidak menguatkan. Kalimat itu berbicara tentang penanganan yang berbentuk penanganan tetapi tidak menyelesaikan. Keduanya menunjuk penyakit yang sama: bentuk yang lengkap, fungsi yang kosong.
Dan sebelum kita terlanjur nyaman menunjuk ke luar, izinkan saya menaruh cermin di depan kita sendiri. Ada satu perumpamaan yang dibawakan dalam kitab Bidayatul Hidayah tentang orang yang menginginkan harta tetapi meninggalkan bercocok tanam, meninggalkan berdagang, dan meninggalkan seluruh usaha, lalu duduk berpangku tangan sambil berkata bahwa Allah Maha Pemurah dan pasti akan membukakan simpanan untuknya. Kitab itu menyebut, kalau kita mendengar orang seperti itu, kita akan menertawakannya — padahal yang ia katakan tentang kemurahan dan kekuasaan Allah itu benar dan haq. Lalu cerminnya dibalik ke pembaca: begitu pulalah para pemilik mata batin dalam agama akan melihat kita, ketika kita mencari ampunan tanpa usaha untuk meraihnya. Perumpamaan itu ditutup dengan ayat:
وَأَن لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Dan bahwasanya tidaklah bagi manusia kecuali apa yang telah diusahakannya." (Bidayatul Hidayah — القول في معاصى القلب / الحسد)
Jamaah yang saya hormati, kita sering mengeluh bahwa yang di atas tidak bekerja. Tetapi bentuk yang lengkap dan fungsi yang kosong itu bisa juga terjadi di tangan kita sendiri, dalam ukuran yang lebih kecil dan karena itu lebih mudah diabaikan. Kita hadir di rapat lingkungan tetapi tidak mengerjakan apa pun sesudahnya — itu kehadiran yang tidak menguatkan. Kita membagikan tautan berita tentang anak yang sakit dengan tanda pagar panjang, tetapi tidak pernah mengetuk pintu tetangga yang anaknya juga sedang dirawat — itu simpati yang tidak mengenyangkan. Kita menyisihkan uang untuk sedekah tetapi menundanya berbulan-bulan sampai lupa — itu niat yang tidak menumbuhkan. Semuanya berbentuk lengkap. Semuanya kosong fungsinya.
Lalu apa yang bisa kita kerjakan setelah pulang dari sini malam ini? Tiga hal saja, dan semuanya bisa dilakukan dalam dua puluh empat jam ke depan.
Yang pertama, malam ini juga, pikirkan satu rumah di lingkungan kita yang kita tahu sedang tipis. Besok pagi, saat memasak, tambahkan satu porsi dan antarkan. Bukan uang, bukan janji — makanan matang yang bisa dimakan hari itu.
Yang kedua, kalau di antara kita ada yang memegang amanah kecil — uang kas pengajian, jadwal ronda, kunci gudang beras lingkungan — periksa satu hal saja malam ini: adakah yang tertunda di tangan kita dan belum kita selesaikan. Selesaikan besok, sebelum ada yang menanyakannya.
Yang ketiga, kalau kita mengenal keluarga yang anaknya sedang sakit atau yang sedang menunggu jawaban dari sebuah urusan, kirimkan satu pesan yang isinya bukan nasihat, melainkan tawaran yang konkret: menemani ke rumah sakit, membantu mengurus berkas, menjaga anak yang lain. Orang yang sedang menunggu jawaban tidak butuh dihibur; ia butuh ditemani.
Jamaah, izinkan saya menutup dengan satu kalimat. Kenyang adalah keadaan perut, dan kita semua sudah cukup pandai mengurusnya. Kuat adalah keadaan hidup, dan itu yang sedang diuji pekan ini — pada anak yang piringnya penuh tetapi tubuhnya lemah, pada rumah yang keran airnya ada tetapi kering, pada pekerja yang gajinya turun tetapi tidak cukup. Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang yang menerima banyak lalu tidak tumbuh apa-apa darinya.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْ طَعَامَنَا قُوَّةً لِأَبْدَانِنَا وَعَوْنًا عَلٰى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهُ سَبَبًا لِسُقْمٍ وَلَا غَفْلَةٍ.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ أَطْفَالَنَا وَأَطْفَالَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَعَافِ أَبْدَانَهُمْ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَمْسَكَ فِيْ يَدِهِ أَمَانَةٌ أَدَّاهَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
