بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِيْ أَمْوَالِنَا حَقًّا مَعْلُوْمًا لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُوْمِ، وَوَسِعَ رِزْقُهُ كُلَّ حَيٍّ فَلَمْ يَنْسَ أَحَدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ مَا رَدَّ سَائِلًا قَطُّ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, ada satu gambar yang sulit saya lupakan: seorang ibu membuka aplikasi kartu bantuannya berkali-kali dalam sehari, dan saldonya tetap kosong. Malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sebentar di gambar itu, karena menurut saya di situ ada satu pelajaran yang tidak muncul di berita mana pun.
Coba kita bayangkan bersama. Apa yang sebenarnya dilakukan ibu itu setiap kali ia menekan layar? Ia sedang mengecek saldo, ya. Tetapi lebih dari itu, ia sedang mengecek apakah dirinya masih terlihat. Apakah namanya masih ada. Apakah keadaannya masih dianggap nyata oleh sebuah sistem yang tidak pernah bertemu wajahnya. Dan ini, jamaah, adalah rasa takut yang sangat tua — setua manusia itu sendiri. Takut menjadi orang yang terlewat.
Al-Qur'an menyebut satu golongan yang di akhirat kelak ditanya, "apa yang membuat kalian masuk ke dalam neraka Saqar?" Mereka menjawab dengan sebuah daftar, dan salah satu isi daftar itu adalah kalimat yang sangat pendek. Allah berfirman dalam QS. Al-Muddaththir: 44:
وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ
"Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin."
Perhatikan, para jamaah, betapa sederhana kalimat itu. Tidak ada penyebutan kejahatan besar di sana. Tidak ada perampokan, tidak ada pembunuhan. Hanya sebuah kelalaian: kami tidak memberi makan orang miskin. Dan kelalaian sekecil itu masuk ke dalam daftar pengakuan di hadapan Allah. Saya sering bertanya kepada diri sendiri: kalau kelalaian itu yang disebut, berapa panjang daftar saya nanti?
Sekarang mari kita ukur diri sendiri. Kita semua tahu, di sekitar rumah kita ada nama-nama yang tidak masuk daftar mana pun. Bukan karena datanya salah, tetapi karena mereka memang tidak pernah tercatat, atau terlalu malu untuk mendaftar. Tukang parkir yang sepekan ini jarang terlihat. Nenek di ujung gang yang anaknya merantau dan lama tidak mengirim. Keluarga kontrakan sebelah yang tiba-tiba tidak lagi menyalakan kompor pada jam makan malam. Mereka tidak ada di aplikasi mana pun. Mereka hanya ada di mata kita — kalau kita mau melihat.
Dan di sinilah letak pesan malam ini. Kita mudah sekali marah kepada sistem yang keliru mencatat orang miskin. Kemarahan itu wajar dan tidak salah. Tetapi ada pertanyaan yang lebih dekat dan lebih tidak enak: bagaimana dengan daftar yang kita pegang sendiri? Karena setiap kita punya daftar, jamaah. Daftar penerima santunan pengajian. Daftar orang yang kita kirimi makanan saat kita punya lebih. Daftar orang yang kita ingat ketika ada rezeki lebih di akhir bulan. Daftar itu tidak diaudit siapa pun. Tidak ada pengawas yang datang memeriksanya. Hanya Allah yang tahu siapa yang kita masukkan dan siapa yang kita lewatkan.
Saya teringat satu peristiwa di zaman Nabi ﷺ yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim 897b. Saat itu masyarakat sedang dilanda kemarau panjang. Ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah pada hari Jumat, seorang Arab Badui berdiri dan berkata dengan sangat jujur:
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ
"Wahai Rasulullah, harta binasa dan keluarga kelaparan."
Dan setelah hujan turun deras sampai orang-orang mulai kesulitan, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا
"Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami, jangan di atas kami."
Ada dua hal yang menyentuh saya dari riwayat ini, jamaah. Yang pertama, orang Badui itu tidak menyembunyikan keadaannya. Ia berdiri, di tengah orang banyak, dan berkata terus terang bahwa keluarganya kelaparan. Butuh keberanian besar untuk itu. Yang kedua, tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan ia ditertawakan atau disuruh diam. Masyarakat waktu itu adalah masyarakat yang aman untuk mengaku lapar. Dan pertanyaan saya untuk kita malam ini: apakah lingkungan kita hari ini masih seaman itu? Atau justru orang harus menunggu sampai benar-benar habis, karena mengaku kesulitan terasa memalukan?
Dan perhatikan juga doa Rasulullah ﷺ setelah hujan turun terlalu deras: bukan meminta hujan berhenti sama sekali, melainkan meminta hujan itu dipindahkan ke tempat yang membutuhkannya. Beliau meminta cukup, bukan meminta berlebih, dan tetap ingat pada orang lain di saat beliau sendiri sedang kesulitan. Itu adalah cara berpikir yang sudah lama hilang dari kita, jamaah. Kita terbiasa berdoa supaya bagian kita bertambah; jarang sekali kita berdoa supaya bagian kita cukup dan sisanya sampai kepada yang lebih membutuhkan. Padahal doa seperti itu justru yang paling menenangkan hati, karena ia melepaskan kita dari kebiasaan membandingkan.
Kalau kita ingin memperbaiki sesuatu pekan ini, mungkin di situlah titik yang paling mungkin kita sentuh. Kita tidak bisa memperbaiki basis data nasional. Tetapi kita bisa membuat lingkungan kita menjadi tempat yang aman untuk berkata "saya sedang kesulitan". Caranya sederhana. Berhenti bertanya "butuh bantuan tidak?" — karena hampir semua orang akan menjawab tidak. Ganti dengan tindakan yang tidak perlu dijawab: antarkan lauk lebih malam ini, titipkan beras tanpa banyak bicara, tanyakan kabar anaknya, bukan kabar dompetnya.
Maka saya usulkan tiga hal yang bisa kita kerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, tulis satu nama — satu saja — orang di sekitar kita yang kemungkinan besar tidak masuk daftar penerima apa pun, lalu kirimkan sesuatu kepadanya besok tanpa pengumuman. Kedua, kalau kita tahu ada tetangga yang bantuannya tiba-tiba berhenti, temani ia bertanya ke pihak yang berwenang; menemani itu sering lebih berharga daripada memberi. Ketiga, sebelum tidur nanti, periksa daftar kita sendiri, dan tanyakan siapa yang selama ini selalu terlewat.
Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang yang punya banyak daftar, tetapi tidak ada satu pun nama orang miskin di dalamnya. Mari kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهِ مِسْكِيْنًا وَيَتِيْمًا وَأَسِيْرًا، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِيْنَ عَنْ جِيْرَانِنَا. اَللّٰهُمَّ أَغْنِ فُقَرَاءَنَا، وَاكْفِ مَنْ ضَاقَ رِزْقُهُ، وَأَوْصِلْ إِلٰى كُلِّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ قَلِيْلِنَا وَكَثِيْرِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
