Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPendidikan & SDMKamis, 10 September 2026

Khutbah Jumat — "Ketika Abu Menutup Ruang Kelas"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَجَعَلَ طَلَبَ الْعِلْمِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُعَلِّمُ الْأَمِيْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقٰى.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada satu ayat yang pekan ini terasa berbeda ketika dibaca. Allah berfirman dalam QS. Hud: 114:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat."

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, perhatikan bentuk perintah dalam ayat ini. Allah tidak menyebut satu tempat. Allah menyebut waktu — dua tepi siang dan sebagian malam. Perintahnya tidak bergantung pada bangunan, tidak bergantung pada cuaca, tidak bergantung pada apakah jalan sedang bisa dilalui atau tidak. Selama masih ada pagi dan petang, perintah itu masih bisa ditegakkan. Inilah yang ingin kita renungkan bersama pekan ini: bahwa dalam agama ini ada hal-hal yang dirancang untuk tetap berjalan justru ketika keadaan sedang berhenti.

Kita membutuhkan perenungan itu, karena pekan ini kita menerima kabar-kabar yang membuat banyak keluarga di negeri kita mengubah rencana secara tiba-tiba.

Dari berita pekan ini kita ketahui bahwa aktivitas vulkanik Anak Krakatau menjadi perhatian, lengkap dengan pembaruan peta zona sebaran abunya. Rekaman erupsinya beredar luas. Foto abu yang menumpuk tebal juga sampai kepada kita. Bersamaan dengan itu, sebaran abu dan kualitas udara menjadi topik tersendiri.

Yang paling menyentuh dunia pendidikan adalah akibatnya. Ramai diperbincangkan pekan ini keputusan memindahkan kegiatan belajar ke rumah — sekolah daring, pembelajaran jarak jauh, dan di sejumlah tempat sekolah diliburkan. Dari kluster percakapan yang sama, sampai pula kabar dari negeri sebelah: seseorang menuliskan bahwa jerebu di sana makin tebal, sampai menara-menara kotanya tidak lagi terlihat, dan ia menutup kabarnya dengan satu harapan yang sangat manusiawi — semoga anak-anak kecil bisa mendapat libur sekolah.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita berhenti sejenak pada harapan sederhana itu. Ada seorang dewasa yang, ketika langit di atas kotanya memburuk, hal pertama yang ia pikirkan adalah anak-anak kecil. Itu naluri yang sehat. Tetapi di baliknya ada persoalan yang jarang kita bicarakan: ketika udara memburuk, hal pertama yang kita pindahkan ke rumah memang sekolah. Sekolah adalah penyangga yang paling mudah dilepas — dan paling sulit dipasang kembali.

Kabar kedua pekan ini datang dari arah yang sama sekali berbeda. Seorang pelajar menceritakan pengalamannya mengikuti sebuah program bimbel bahasa yang biayanya tidak sedikit. Program itu kemudian dibubarkan sebelum selesai, dan pendirinya sempat tidak bisa dihubungi. Kita tidak sedang mengadili siapa pun di mimbar ini; kita hanya mencatat bentuk peristiwanya. Ada akad. Ada uang yang sudah berpindah. Ada waktu yang sudah dialokasikan seorang murid untuk sebuah janji. Lalu janji itu berhenti di tengah jalan.

Dan kabar ketiga adalah kabar yang paling berat. Program makan bergizi gratis kembali ramai diperbincangkan pekan ini — bukan karena capaian distribusinya, melainkan karena kabar keracunan yang menyentuh anak-anak. Di antara suara-suara yang sampai kepada kita, ada satu pertanyaan dari seorang orang tua: racun apa yang terdeteksi dalam ikan yang dimakan anaknya, sehingga ginjal anaknya bermasalah. Perhatikan bentuk pertanyaannya, jamaah. Itu bukan tuduhan. Itu permintaan penjelasan dari seseorang yang sedang menunggu di samping anaknya.

Tiga kabar. Langit yang tidak bisa diajak berunding. Akad yang tidak dijaga. Dapur yang belum rapi. Dan di tengah ketiganya, satu sosok yang sama: seorang anak yang sedang belajar.

Ma'asyiral muslimin, dari sini kita masuk ke inti khutbah pekan ini. Pertanyaannya bukan "siapa yang salah". Pertanyaannya adalah: apa yang tetap menjadi tanggung jawab kita ketika penyangga-penyangga di luar kendali kita sedang meregang? Dan jawaban syariat atas pertanyaan ini jauh lebih tenang daripada yang kita duga.

Sebelum masuk lebih jauh, ada satu hal yang perlu kita luruskan lebih dulu, jamaah. Sebagian orang menganggap urusan sekolah, gizi anak, dan kualitas udara sebagai urusan dunia yang berada di luar wilayah agama. Anggapan itu keliru. Menjaga akal — hifz al-'aql — adalah salah satu maqashid syariat, dan pendidikan adalah pintu utamanya. Menjaga jiwa — hifz an-nafs — juga maqashid, dan makanan yang aman bagi anak adalah bagian paling dasarnya. Ketika seorang anak kehilangan pekan sekolahnya, yang berkurang bukan hanya nilai rapornya; yang terancam adalah salah satu tujuan pokok syariat. Dan ketika makanan seorang anak membuatnya sakit, yang terancam adalah tujuan pokok yang lain.

Maka menjaga keduanya bukan kegiatan sosial yang berdiri di luar agama. Ia fardh kifayah atas umat ini — kewajiban bersama yang gugur dari kita hanya bila ada cukup orang yang menanganinya, dan menjadi dosa bersama bila dibiarkan terbengkalai. Kita tidak sedang diminta menjadi ahli vulkanologi atau ahli gizi. Kita sedang diminta memastikan bahwa di lingkungan kita, ada orang yang mengurus jam belajar anak-anak dan ada orang yang memperhatikan apa yang mereka makan. Kalau di satu kampung tidak ada seorang pun yang mengerjakan itu, seluruh kampung ikut menanggungnya di hadapan Allah.

Dan ada satu hal lagi yang perlu kita sepakati sejak awal, jamaah. Seorang orang tua yang bertanya tentang sebab sakitnya anaknya sedang menjalankan haknya, bukan sedang membuat kegaduhan. Sikap kita sebagai umat bukan memilih antara membela sebuah program atau menyerangnya, melainkan memastikan pertanyaan orang tua itu didengar dan dijawab dengan jujur. Dakwah yang sehat selalu berdiri di sisi orang yang bertanya dengan santun — bukan di sisi orang yang menyuruhnya diam.

Mari kita mulai dari kedudukan orang yang mengajar. Imam Hasyim Asy'ari rahimahullah dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الأول / الثاني menempatkan niat sebagai perkara pertama bagi seorang pengajar: hendaknya ia menuju dengan pengajaran dan pendidikan murid-muridnya wajah Allah Ta'ala, penyebaran ilmu, hidupnya syariat, tampaknya kebenaran dan padamnya kebatilan, serta lestarinya kebaikan umat dengan banyaknya ulama. Beliau lalu menegaskan:

فإن تعليم العلم من أهم أمور الدين وأعلى درجات المؤمنين

"Sebab mengajar ilmu adalah perkara terpenting dalam agama dan derajat tertinggi orang-orang mukmin."

Dan di bagian yang sama beliau membawakan sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا يُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

"Sesungguhnya Allah Ta'ala, para malaikat-Nya, dan penghuni langit dan bumi — sampai semut di lubangnya — bershalawat (mendoakan) bagi pengajar kebaikan kepada manusia."

Jamaah yang dimuliakan Allah, renungkan gambaran ini. Seekor semut di dalam lubangnya. Makhluk yang tidak pernah masuk ke ruang kelas mana pun, tidak pernah membaca daftar hadir, tidak tahu apa itu kurikulum — ikut mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. Yang bisa kita ambil dari gambaran itu adalah satu hal: kedudukan pengajar dalam agama ini tidak ditentukan oleh gedungnya. Ia ditentukan oleh apa yang ia niatkan dan apa yang ia sampaikan. Pekan ini, ketika ruang kelas ditutup abu, kedudukan itu tidak ikut ditutup. Seorang ibu yang mengajari anaknya membaca di ruang tamu, seorang remaja masjid yang mengumpulkan anak-anak tetangga di teras sore, seorang guru yang mengirim satu suara rekaman penjelasan — mereka semua sedang berdiri di tempat yang sama mulianya.

Dan di kitab yang sama, salah satu buah yang disebutkan dari mengajar adalah ini:

ودخوله في سلسلة العلم بين رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وبينهم

"masuknya ia ke dalam mata rantai ilmu antara Rasulullah ﷺ dan mereka."

Hadirin, bayangkan gambaran rantai itu. Sebuah rantai panjang yang ujungnya berada pada diri Rasulullah ﷺ, dan setiap orang yang meneruskan satu potong ilmu menjadi satu mata di dalamnya. Guru mengaji di surau kecil adalah satu mata rantai. Ibu yang mengajarkan bacaan Al-Fatihah kepada anaknya di kamar adalah satu mata rantai. Dan mata rantai tidak pernah dinilai dari besarnya; ia dinilai dari apakah ia menyambung atau memutus.

Di sinilah pekan seperti ini menjadi ujian yang sesungguhnya. Ketika sekolah tutup, rantai itu tidak boleh ikut putus. Kalau di sebuah rumah tidak ada seorang pun yang meneruskan satu potong ilmu selama beberapa hari, yang terjadi bukan sekadar tertinggal pelajaran — ada satu mata rantai yang berhenti bekerja.

Tetapi kemuliaan itu punya syarat, dan syaratnya berat. Dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثاني, Imam Hasyim Asy'ari rahimahullah menuntut hal serupa dari sisi murid: husnu an-niyyah dalam menuntut ilmu, yaitu

حسن النية في طلب العلم بأن يقصد به وجه الله تعالى والعمل به وإحياء الشريعة

"niat yang baik dalam menuntut ilmu, yaitu ia menuju dengannya wajah Allah Ta'ala, mengamalkannya, dan menghidupkan syariat."

Beliau lalu mengutip Sufyan ats-Tsauri:

ما عالجت شيئاً أشد عليّ من نيتي

"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku."

Hadirin, kalimat Sufyan ats-Tsauri itu jujur sekali. Kita bisa memperbaiki jadwal, memperbaiki metode, memperbaiki fasilitas. Yang paling sulit diperbaiki adalah niat, karena ia tidak terlihat oleh siapa pun kecuali oleh Allah dan oleh diri kita sendiri. Dan Imam Hasyim Asy'ari melanjutkan dengan peringatan yang tepat untuk zaman kita: jangan sampai ilmu ditujukan untuk tujuan-tujuan duniawi — memperoleh kepemimpinan, kedudukan, dan harta; berbangga dengan teman sebaya; diagungkan manusia; diutamakan di majelis-majelis — sehingga seseorang menukar yang lebih rendah dengan yang lebih baik.

Mari kita jujur pada diri kita sendiri di sini, jamaah. Sebagian dari kita mengukur pendidikan anak dengan ukuran yang sepenuhnya duniawi: peringkat, sertifikat, nama lembaga yang enak disebut di grup keluarga. Ketika ukurannya seperti itu, wajar kalau pendidikan pun berperilaku seperti barang dagangan — dijual, dipasarkan dengan janji besar, dan bisa ditinggalkan penjualnya. Kita ikut membentuk pasar yang kemudian mengecewakan kita.

Kitab itu lalu membawakan ucapan Abu Yusuf rahimahullah yang sangat jujur tentang bagaimana niat bekerja di dalam diri seseorang:

يا قوم أريدوا بعلمكم الله تعالى

"Wahai kaum, inginkanlah dengan ilmu kalian — Allah Ta'ala."

Beliau lalu menceritakan pengalamannya sendiri: tidak pernah ia duduk di sebuah majelis dengan niat merendahkan diri kecuali ia berdiri dari majelis itu dalam keadaan diangkat di atas mereka, dan tidak pernah ia duduk dengan niat mengungguli mereka kecuali ia berdiri dalam keadaan dipermalukan.

Ma'asyiral muslimin, pengakuan itu datang dari seorang imam besar, bukan dari orang biasa. Artinya penyakit ini tidak hilang karena ilmu bertambah. Ia hanya berganti bentuk. Dan yang bisa kita ambil dari pengakuan itu adalah satu sikap sederhana: setiap kali kita duduk untuk mengajar atau belajar — di majelis, di ruang kelas, atau di meja makan bersama anak — sempatkan satu tarikan napas untuk bertanya, siapa yang ingin kita puaskan dengan pertemuan ini.

Ma'asyiral muslimin, sekarang mari kita masuk ke sisi yang paling melegakan dari khutbah ini. Ketika keadaan menutup jalan yang biasa, fiqih kita sudah menyiapkan jalannya sejak lama.

Perhatikan bab shalat istisqa. Dalam Fath al-Qarib — كتاب أحكام الصلاة / • صلاة الاستسقاء, Syaikh Ibn Qasim al-Ghazzi rahimahullah menjelaskan:

وصلاة الاستسقاء مسنونة) لمقيم ومسافر عند الحاجة من انقطاع غيث أو عين ماء ونحو ذلك

"Shalat istisqa disunnahkan bagi orang yang menetap maupun yang bepergian, ketika ada kebutuhan karena terputusnya hujan atau sumber air dan semisalnya."

Dan yang menarik bukan hanya shalatnya, jamaah, melainkan rangkaian yang mendahuluinya. Kitab itu menyebutkan bahwa imam memerintahkan orang-orang:

فيأمرهم الإمامُ) ونحوه (بالتوبة

"maka imam dan yang semisalnya memerintahkan mereka bertaubat" —

والصدقة، والخروج من المظالم) للعباد (ومصالحة الأعداء، وصيام ثلاثة أيام

"dan bersedekah, dan keluar dari kezaliman terhadap hamba-hamba, dan berdamai dengan musuh-musuh, dan berpuasa tiga hari."

Hadirin yang dimuliakan Allah, lihat betapa tenangnya jawaban ini. Ketika langit tidak bersahabat, agama ini tidak mengajari kita meratap dan tidak mengajari kita menyalahkan. Ia memberi kita daftar kerja: bertaubat, bersedekah, menyelesaikan kezaliman yang masih menggantung terhadap orang lain, berdamai dengan yang bermusuhan dengan kita, berpuasa tiga hari, lalu keluar bersama-sama. Perhatikan bahwa tiga dari lima langkah itu adalah urusan antarmanusia — utang yang belum dibayar, hak yang belum dikembalikan, hubungan yang masih dingin. Ketika udara di luar sedang buruk, syariat menyuruh kita membersihkan udara di dalam rumah dan di antara tetangga lebih dulu.

Dan perhatikan satu hal lagi, jamaah: langkah-langkah itu tidak menunggu siapa pun. Bertaubat tidak menunggu izin. Bersedekah tidak menunggu anggaran. Menyelesaikan hak orang lain yang masih menggantung — utang yang belum dibayar, barang pinjaman yang belum dikembalikan, ucapan yang belum diminta maaf — semuanya bisa dikerjakan sore ini juga, tanpa rapat dan tanpa pengumuman. Ketika keadaan besar berada di luar kendali kita, syariat justru mengarahkan tangan kita pada hal-hal kecil yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Itu bukan pelarian dari masalah besar; itu cara agar kita tidak lumpuh menghadapinya.

Dan agama ini juga tidak pernah menggantung ibadah kita hanya karena tubuh sedang tidak lengkap. Dalam Fath al-Qarib — كتاب أحكام الطهارة / • المسح على الجبيرة disebutkan:

وصاحب الجَبائر) - جمع جبيرة بفتح الجيم، وهي أخشاب أو قصب تسوى وتشد على موضع الكسر ليلتحم - (يمسح عليها) بالماء إن لم يمكنه نزعها لخوف ضرر مما سبق

"Pemakai jabirah — jamak dari jabirah, yaitu kayu atau bambu yang diratakan dan diikatkan di tempat yang patah agar menyatu kembali — mengusap di atasnya dengan air, bila ia tidak mungkin melepasnya karena takut mudarat."

Lalu kitab itu melanjutkan bahwa ia bertayammum,

ويصلي ولا إعادة عليه إن كان وضعها

"dan shalat, dan tidak ada kewajiban mengulang atasnya bila ia memasangnya" dalam keadaan suci.

Jamaah, inilah wajah rahmat dalam fiqih. Seseorang dengan tangan berbalut bidai tidak disuruh menunggu sembuh untuk menghadap Allah. Ia diajari cara baru: usap di atas perbannya, tayammum untuk bagian yang tidak bisa dibasuh, lalu shalat — dan tidak perlu mengulang. Ibadah disesuaikan, bukan ditinggalkan. Prinsipnya bisa kita bawa pulang pekan ini: keadaan darurat mengubah cara, bukan menghapus kewajiban. Kalau ibadah pun punya jalan cadangan yang serapi ini, maka belajar juga harus punya. Anak yang sekolahnya diliburkan bukan anak yang diliburkan dari menuntut ilmu. Cara belajarnya berubah; kewajiban belajarnya tetap.

Karena inilah bagian yang paling keras dari khutbah ini, jamaah: waktu tidak menunggu keadaan membaik. Dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثالث Imam Hasyim Asy'ari rahimahullah menasihati penuntut ilmu:

أن يبادر شبابه وأوقات عمره إلى التحصيل ولا يغتر بخدع التسويف والتأميل؛ فإن كل ساعة تمضي من عمره لا بدَلَ لها ولا عوض عنها

"Hendaknya ia bersegera dengan masa mudanya dan waktu-waktu umurnya untuk menghasilkan ilmu, dan tidak terpedaya oleh tipuan penundaan dan angan-angan; sebab setiap jam yang lewat dari umurnya — tidak ada gantinya dan tidak ada penebusnya."

Beliau lalu menyebut hal-hal yang memutus kesungguhan itu —

فإنها كقواطع الطريق

"sebab semua itu seperti perampok jalan."

Hadirin yang dimuliakan Allah, gambaran "perampok jalan" itu sangat tajam. Perampok tidak memberi tahu kedatangannya, tidak minta izin, dan yang ia ambil tidak bisa dikejar lagi. Pekan-pekan seperti ini menghadirkan perampok jalan yang jarang kita sadari: bukan hanya abu dan libur mendadak, tetapi juga layar yang menemani libur itu. Ketika sekolah pindah ke rumah, yang sering terjadi bukan belajar pindah ke rumah — yang pindah ke rumah adalah waktu kosong. Dan waktu kosong seorang anak akan selalu ada yang mengisinya.

Maka tugas kita, para orang tua dan pengurus lingkungan, bukan menunggu pengumuman sekolah dibuka kembali. Tugas kita mengisi jam-jam itu dengan sesuatu yang bernilai, sekecil apa pun bentuknya.

Dan ketika jam itu diisi, ada satu alat yang biasanya hilang saat belajar berpindah ke layar: kemampuan memastikan bahwa anak benar-benar paham. Dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / السابع disebutkan:

إذا فرغ الشيخ من شرح درس فلا بأس بطرح مسائل تتعلق به على الطلبة يمتحن بها فهمهم وضبطهم لما شرح لهم

"Bila seorang guru selesai menjelaskan sebuah pelajaran, tidak mengapa ia melemparkan beberapa masalah yang berkaitan dengannya kepada murid untuk menguji pemahaman dan hafalan mereka atas apa yang ia jelaskan."

Kitab itu kemudian menjelaskan alasannya dengan sangat memahami sifat manusia: seorang murid kadang malu mengatakan "saya belum paham" — entah karena tidak ingin membebani gurunya dengan pengulangan, karena waktu yang sempit, karena malu di hadapan yang lain, atau agar bacaan teman-temannya tidak tertunda karena dirinya. Maka disebutkan di sana bahwa tidak sepatutnya seorang guru bertanya "apakah kamu paham?" kecuali bila ia aman dari murid yang menjawab "iya" sebelum ia benar-benar paham.

Dan bagi murid yang ternyata belum paham, kitab itu memberi arahan yang lembut:

ومن لم يفهمه تلطف في إعادته له

"dan siapa yang belum memahaminya — hendaklah ia berlemah lembut dalam mengulanginya untuknya."

Jamaah yang dimuliakan Allah, dua kalimat itu menyelesaikan sebagian besar masalah belajar di rumah pekan ini. Anak yang menjawab "sudah paham" di depan layar bukan anak yang berbohong; ia anak yang sedang menjaga perasaan orang lain, atau menjaga dirinya dari malu. Yang perlu diganti bukan anaknya, melainkan pertanyaannya. Berikan satu soal kecil, dengarkan jawabannya, lalu ulangi dengan lembut bila keliru. Itu pekerjaan yang tidak menuntut gelar, tidak menuntut aplikasi, dan bisa dikerjakan malam ini juga.

Ma'asyiral muslimin, ada dua hal lagi yang perlu kita bereskan, dan keduanya menyangkut orang dewasa, bukan anak-anak.

Yang pertama soal kelayakan. Masih dalam kitab yang sama, Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الفصل الثالث في أدب العالم مع طلبته مطلقا في حلقته, ada catatan yang seharusnya membuat kita semua berhati-hati sebelum duduk di kursi guru. Disebutkan di sana bahwa hadirin dalam sebuah majelis akan kehilangan keadilan bila tidak ada yang bisa mereka rujuk ketika terjadi perselisihan, sebab pemegang kursi guru sendiri tidak tahu siapa yang benar untuk dibela dan siapa yang salah untuk ditegur. Lalu dibawakan riwayat ini:

وقيل لأبي حنيفة رحمه الله: في المسجد حلقة ينظرون في الفقه, فقال: ألهم رأس؟ قالوا: لا، قال: لا يفقه هؤلاء أبدًا

"Dikatakan kepada Abu Hanifah rahimahullah: 'Di masjid ada halaqah yang sedang membahas fiqih.' Beliau bertanya: 'Apakah mereka punya kepala?' Dijawab: 'Tidak.' Beliau berkata: 'Mereka tidak akan pernah paham fiqih.'"

Jamaah, pertanyaan Abu Hanifah rahimahullah itu pendek tetapi menyelesaikan banyak masalah: siapa yang bertanggung jawab di sini? Program apa pun — kelas bahasa, bimbel, kajian daring, pesantren kilat liburan — kalau tidak ada satu nama yang bertanggung jawab atas ilmunya dan atas jalannya, maka ketika ada masalah tidak ada yang bisa dituju. Bukan hanya soal uang yang tidak kembali; ada yang lebih mahal, yaitu peserta yang belajar tanpa ada yang mengoreksi kekeliruannya.

Yang kedua soal amanah dalam akad. Dalam Fath al-Qarib — كتاب أحكام البيوع وغيرها من المعاملات كقراض وشركة / • الجعالة kita menemukan kaidah yang sangat pas untuk kabar bimbel pekan ini. Kitab itu menyatakan:

أن يد الأجير على العين المؤجرة يدُ أمانة

"bahwa tangan orang yang disewa tenaganya atas barang yang disewakan adalah tangan amanah."

Dan karena itu penulisnya menegaskan:

لاَ ضَمَانَ عَلَى الأَجِيرِ إِلاَّ بِعُدْوَانٍ

"Tidak ada kewajiban ganti atas ajir kecuali karena pelanggaran."

Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan dua sisi dari kaidah ini, karena keduanya adil. Sisi pertama: pekerjaan yang diupah adalah amanah, bukan sekadar jual-beli jasa. Sisi kedua: kalau terjadi pelanggaran, tanggung jawab itu ada. Dalam bahasa hari ini: sebuah lembaga pendidikan yang menerima pembayaran memegang amanah, dan ketika ia berhenti di tengah jalan, urusannya belum selesai hanya karena kegiatannya sudah tutup. Dan bagi kita yang menjadi peserta atau orang tua peserta, ini juga pelajaran: akad itu perlu jelas sejak awal — apa yang dijanjikan, berapa lama, apa yang terjadi bila berhenti.

Maka, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita turunkan khutbah ini menjadi beberapa langkah yang bisa kita kerjakan mulai pekan ini.

Pertama, tetapkan satu jam belajar yang tidak bisa dibatalkan oleh keadaan. Bukan tiga jam, cukup satu jam, di waktu yang sama setiap hari, di rumah masing-masing. Ketika sekolah libur karena udara buruk, jam itu tetap berjalan. Bila anak masih kecil, isinya membaca bersama; bila sudah besar, isinya menyelesaikan satu bagian pelajaran atau satu halaman hafalan.

Kedua, sebelum membayar program pendidikan apa pun, tanyakan tiga hal dan minta jawabannya tertulis: siapa penanggung jawab materinya, berapa lama programnya, dan apa yang terjadi bila program berhenti sebelum selesai. Ini bukan sikap curiga; ini adab akad yang justru melindungi kedua pihak.

Ketiga, bagi kita yang mengajar dalam bentuk apa pun — guru, guru ngaji, orang tua, pengurus majelis — periksa niat sekali seminggu. Cukup satu pertanyaan: pekan ini saya mengajar untuk siapa? Sufyan ats-Tsauri sudah memberi tahu kita bahwa ini pekerjaan yang paling berat, jadi jangan berharap selesai sekali.

Keempat, bagi yang punya kesempatan menengok dapur dan layanan makan anak-anak di lingkungan sendiri, lakukan dengan cara yang santun: datang, lihat, catat, sampaikan baik-baik kepada yang berwenang. Menjaga jiwa anak adalah hifz an-nafs, dan itu fardh kifayah atas kita bersama — gugur dari kita hanya bila ada yang cukup mengerjakannya.

Kelima, pelajari kembali rukhsah ibadah dan ajarkan kepada keluarga: tayammum ketika air tidak memungkinkan, mengusap perban bagi yang terluka, dan shalat yang tetap ditegakkan di rumah ketika udara di luar tidak sehat. Ilmu ini biasanya kita pelajari terlambat, saat sudah dibutuhkan.

Keenam, doakan mereka yang pekan ini sedang menunggu di samping anaknya yang sakit, dan mereka yang jam sekolahnya hilang. Doa adalah pekerjaan, bukan pelarian dari pekerjaan.

Ketujuh, selesaikan satu hak orang lain yang masih menggantung pada diri kita sebelum pekan ini berakhir — satu pinjaman yang belum dikembalikan, satu janji yang belum ditepati, satu hubungan yang masih dingin. Bab istisqa tadi menempatkan langkah ini sebelum orang-orang keluar berdoa bersama, dan urutan itu bukan kebetulan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita tutup khutbah pertama ini dengan satu kesadaran. Abu akan turun, angin akan berganti arah, dan sekolah akan dibuka kembali. Yang tidak otomatis kembali adalah jam-jam yang sudah lewat, akad yang sudah dikhianati, dan kepercayaan yang sudah patah. Ketiganya hanya bisa dijaga oleh manusia — oleh niat orang yang mengajar, oleh kelayakan orang yang duduk di kursi guru, dan oleh kejujuran orang yang memegang amanah. Itu bagian kita. Dan bagian itu tidak pernah diliburkan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ لِعِبَادِهِ فِيْ كُلِّ عُسْرٍ يُسْرًا، وَفِيْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ. أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan khutbah kedua ini menggali lebih dalam satu sisi yang tadi baru disinggung: bahwa rukhsah dalam syariat bukan kelonggaran yang menurunkan mutu ibadah, melainkan bukti bahwa Allah menghendaki hamba-Nya tetap sampai. Orang yang bertayammum bukan orang yang beribadah setengah. Orang yang mengusap perbannya bukan orang yang shalatnya kelas dua. Mereka orang-orang yang jalannya diubah supaya tidak berhenti. Ini pelajaran besar bagi cara kita memandang anak yang belajar dari rumah pekan ini: pembelajaran yang disesuaikan bukan pembelajaran yang direndahkan — selama ia benar-benar berjalan.

Sisi kedua yang perlu kita gali adalah urutan langkah dalam bab istisqa. Ketika hujan terputus, langkah pertama bukan berkumpul, melainkan bertaubat dan menyelesaikan kezaliman terhadap orang lain. Ada pesan yang halus di situ: syariat menganggap hubungan kita dengan manusia sebagai bagian dari cara kita berhadapan dengan langit. Kita sering ingin cuaca berubah tanpa mau mengubah apa pun di dalam rumah dan di antara tetangga. Bab ini mengajari kita urutan yang sebaliknya.

Sisi ketiga adalah soal kedudukan pengajar. Kalau semut di lubangnya pun ikut mendoakan pengajar kebaikan, maka setiap orang tua yang pekan ini duduk mendampingi anaknya belajar sedang berada di dalam lingkaran doa itu. Ini penting dikatakan, karena banyak orang tua merasa dirinya hanya "menggantikan sementara" peran guru. Bukan menggantikan; itu peran yang aslinya memang milik mereka.

Sisi keempat berkaitan dengan cara kita menilai orang yang mengajar. Kitab-kitab adab menempatkan tanggung jawab yang berat di pundak orang yang duduk di kursi guru, tetapi tanggung jawab itu tidak berarti pengajarnya harus sempurna. Yang dituntut adalah kelayakan pada bidang yang ia ajarkan dan kejujuran mengakui batas dirinya. Seorang ibu yang mengaku tidak menguasai satu pelajaran lalu mencarikan orang yang menguasainya sedang menjalankan adab itu dengan benar — jauh lebih benar daripada bertahan menjelaskan sesuatu yang ia sendiri tidak pahami.

Sisi kelima, dan ini yang paling perlu kita jaga: menuntut penjelasan bukan kezaliman. Seorang orang tua yang bertanya tentang penyebab sakit anaknya sedang menjalankan hak yang wajar. Tugas kita sebagai komunitas bukan memilih antara membela program atau menyerang program, melainkan memastikan pertanyaan orang tua itu dijawab. Dakwah kita berada di sisi yang bertanya dengan santun, bukan di sisi yang menyuruh diam.

Akhirnya, jamaah, mari kita tundukkan hati dan berdoa bersama.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعِلْمَ النَّافِعَ، وَالْقَلْبَ الْخَاشِعَ، وَالْعَمَلَ الْمُتَقَبَّلَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ نِيَّةٍ لَا تَخْلُصُ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَوْقَاتِنَا، وَلَا تَجْعَلْ سَاعَاتِنَا تَمْضِيْ فِيْ غَفْلَةٍ، وَاجْعَلْ أَعْمَارَنَا زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاحْفَظْ طُلَّابَ الْعِلْمِ فِيْ بِلَادِنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِمَّنْ يَتَعَلَّمُوْنَ فَيَعْمَلُوْنَ، وَيَعْلَمُوْنَ فَيُعَلِّمُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَاشْفِ كُلَّ طِفْلٍ مَرِيْضٍ فِيْ بُيُوْتِ الْمُسْلِمِيْنَ وَفِيْ مُسْتَشْفَيَاتِهِمْ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ طَهُوْرًا وَرِفْعَةً، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِمُعَلِّمِيْنَا وَمُعَلِّمَاتِنَا، وَأَجْزِلْ ثَوَابَهُمْ، وَاجْعَلْ أَمَانَةَ التَّعْلِيْمِ فِيْ أَيْدٍ أَمِيْنَةٍ.

اَللّٰهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا كُلَّ ضَرَرٍ فِيْ هَوَائِنَا وَمَائِنَا وَطَعَامِنَا، وَاسْقِنَا غَيْثًا يُطَهِّرُ سَمَاءَنَا، وَاجْعَلْهُ غَيْثًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاحْفَظْ أَطْفَالَهُمْ، وَافْتَحْ لِمَدَارِسِهِمْ أَبْوَابًا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رُفَقَاءَ بِرَعِيَّتِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan